MEMBANGUN GERAKAN PEMBERANTASAN BUTA BACA AL-QUR’AN Oleh : Dr. Hj. Hadidjah Selman, M.Pd. (Dosen FKIP dan FAI UM Kendari)

Adakah kebutuhan manusia yang melebihi kebutuhan makan dan minum ? Jawabnya: ada, yaitu kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membaca, memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Al-Qur-an adalah pedoman hidup untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat, petunjuk kepada jalan yang lurus, obat bagi penyakit hati manusia, penyubur keimanan dan fungsi-fungsi kebaikan lain yang dibutuhkan oleh manusia untuk kebahagiaan hidup mereka, dan ini jelas lebih dari fungsi makanan dan minuman bagi manusia.

Coba renungkan makna firman-firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut ini:

“Sesungguhnya al-Qur-an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’).

Gerakan pemberantasan buta baca Al-Qur’an yang pernah dikembangkan Angkatan Muda Muhammadiyah – AMM diera tahun 90-an,  saat itu mampu mengubah wajah kegiatan mengaji anak-anak menjadi lebih berwarna.Waktu berjalan terus seiring memudarnya girah teman-teman AMM yang tampaknya kurang tertarik lagi dengan pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Qur’an – TPA/TPQ. Tentu kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut sebab kemana lagi ummat akan menimba ilmu membaca Al-Qur’an kalau bukan dari kita ummat islam yang melakukannya.

Menjawab kemana kiprah Angkatan Muda Muhammadiyah – AMM yang tidak lagi tertarik mengelola TPA/TPQ di Masjid-Masjid, maka saya selaku kader Persyarikatan Muhammadiyah merasa terpanggil dan tertantang untuk membangun kembali langkah pemberantasan buta baca Al-Qur’an yang tidak hanya dikalangan anak-anak tetapi juga kalangan ibu-ibu.

Langkah saya ini bermula, saat naik angkutan kota sepulang dari pasar tepatnya di Kota Kendari ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Saat itu Allah SWT mempertemukan saya dengan ibu-ibu penjual ikan yang dikenal di Kendari dengan panggilan ina-ina (panggilan untuk perempuan paruh baya dalam bahasa yang ada di Sulawesi Tenggara) . Saat itu perjalanan saya bersama ina-ina berlangsung kurang lebih 15 menit, dan selama dalam perjalanan kami berbincang dengan mereka tentang kehidupan. Tiba-tiba saya melontarkan pertanyaan kepada ibu-ibu penjual ikan ( ina-ina), “ ina” apa sesungguhnya yang kamu inginkan saat ini. Sontak membuat mereka sejenak saling menatap dan salah seorang diantara mereka mengatakan “ SAYA INGIN MENGAJI”. Jawaban itu langsung membuat saya terharu, sebab diera saat ini, umumnya mereka yang hidupnya pas-pasan dan sangat sederhana tentu akan menjawab saya mau uang.

Sesampai dirumah, saya langsung menghubungi teman-teman Pengurus Aisyiyah Sulawesi Tenggara, sejumlah mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Kendari, adik-adik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah – IMM serta sahabat saya Hajjah Heliana untuk menyiapkan buku Iqra’. Tidak menunggu waktu lama, hanya kurang lebih dua hari kami langsung mendatangi tempat tinggal ina-ina atau ibu-ibu yang berprofesi sebagai penjual ikan di lorong ilmiah Kota kendari dan inilah tempat pertama kami bukan sebagai ajang pembelajaran TPA ibu-ibu.Langkah kami tersebut terjadi sekitar tahun 2018 silam atau kurang lebih setahun yang lalu, dan bukan hanya ditempat itu, hanya berselang beberapa waktu yakni tidak membutuhkan waktu bulanan kami mendekati keluarga pemulung yang tempat atau markasnya di depan pasar buah Kota Kendari. Mereka juga menyambut baik upaya kami untuk melakukan pemberantasan but abaca Al-Qur’an yang tidak hanya bagi anak-anak mereka melainkan orang tua terutama kaum ibu-ibu tertarik juga untuk belajar membaca Al-Qur’an melalui Metode IQRA.

Alhamdulillah saat ini sudah ada 7 TPA yang terbentuk dan akan menyusul di dua tempat lagi dengan membina kurang lebih 200 orang ibu-ibu dan anak-anak yang tersebar pada berbagai tempat di Kota Kendari.

Niat awal ingin membumikan Al-Qur’an di Bumi Anoa Sulawesi Tenggara khususnya di Kota Kendari mendapat sambutan dari berbagai kelangan terutama kalangan ibu-ibu dan anak-anak ummt islam yang bukan mereka tidak mau belajar mengaji melainkan terkadang terbentur pada siapa yang akan mengajr, masalah pembayaran serta wadah atau tempat dimana mereka harus belajar.

Menyikapi kondisi tersebut Aisyiyah Sulawesi Tenggara dibawah kepemimpinan ibu Dra.Marlina Gazali,M.Pdi sangat mendukung langkah pemberantasan buta baca Al-Qur’an di Sulawesi Tenggara. Bukan hanya Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Tenggara, tetapi Pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari yang dipimpin Rektor Amir Mahmud,S.P.,M.P. Dekan Fakultas Agama Islam UMK, Muhammad Yusuf,S.Ag.,M.Pdi juga sangat mendukung upaya ini sehingga menambah semangat kami untuk terus melangkah melakukan pemberantasan but abaca Al-Qur’an di Sulawesi Tenggara, terutama di wilayah Kota Kendari.

 

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

CSpR Dekontruksi CSR dengan Teologi Al-Ma’Un

Dalam melakukan penelitian, minimal ada tiga motivasi agar penelitian dapat berjalan dengan baik, yaitu kesadaran diri, Gairah Islamisasi Pengetahuan, dan Pengalaman Penelitian. Demikian paparan Dr Rismawati Sudirman saat menjelaskan hasil penelitiannya yang berjudul “Konsep Coorporate Spiritual Responsibility: Sebuah Dekonstruksi atas Konsep Coorporate Social Responsibility dengan Teologi Al-Ma’un” di Gedung PP Muhammadiyah Cik Ditiro, Rabu (23/01).

Berbeda dengan konsep CSR lainnya, Dr Rismawati berani melahirkan konsep baru dengan nuansa spirutual. “Adanya nilai kapitalistik dalam CSR ini menjadi salah satu tujuan saya untuk memperdalam penelitian ini.” Baginya, CSR saat ini hanya menjadi voluntary sehingga nilai kapitalis ini membelokan arah CSR sebagai tanggung jawab sosial menjadi upaya iklan dalam mem-branding perusahaan atau institusi yang berkaitan.

Ketertarikannya terhadap ruh yang dibawa Muhammadiyah yaitu surah Al-Ma’un, Dr Rismawati memulai penelitiannya dengan satu pertanyaan Bagaimana Konsep CSR berbasis Teologi Al-Ma’un?. “Informan saya ambil dari tiga amal usaha Muhamamdiyah, yaitu Panti Asuhan Muhammadiyah (sosial base), Rumah Sakit ‘Aisyiyah Klojen Malang (Sosial Profit Base), dan PT Tiga Cahaya Utama (Profit Oriented).”

Tujuan dari penelitian ini yaitu menjadikan Al-Ma’un sebagai bahan baku untuk membangun satu konsep yang baru dengan alat ulil albab yang membangun Corporate Spiritual Responsibility. “Konsep Al-Ma’un ini akan melahirkan keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial, karena orang yang hanya melakukan ibadah ritual saja itu juga dianggap sebagai pendusta agama,” pungkas dosen Universitas Muhammadiyah Palopo ini.

Konsep CSR berbasis Teologi Al Ma’un ini kemudian disebut dengan Konsep Corporate Spiritual Responsibility (CSpR). “Penelitian ini memformulasikan konsep CSpR sebagai tanggung jawab perusahaan untuk hidup dan menghidupi dirinya, manusia dan alam semesta dalam aktivitas bisnis yang berakhlakul karimah sebagai jalan kembali kepada Allah SWT dan wujud conta kepadaNya”.

Diakhir, Dr Rismawati ingin kembali menyadarkan bahwa konsep CSpR ini menjadi panduan dalam menjalani kehidupan yang diridhoi Allah. “Al Quran memberikan inspirasi dan panduan dalam berkehidupan, tentang diri, tentang tuhan, kenabian, kerasulan, kebijakan, kejahatan serta hal lain seputar kehidupan manusia”.

Turut hadir, Prof Lincolin Arsyad selaku ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Nurhadi S.Sos MSi PhD selaku penanggap dari Wakil Dekan Fisipol UGM, dan Ahmad Ma’ruf SE MSi selaku Moderator sebagai Wakil Ketua MPM PP Muhamamdiyah serta 20 peserta diskusi.

ITB Ahmad Dahlan Bersama MUI Gelar Seminar Ekonomi Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII 2020

Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan Seminar Ekonomi Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII tahun 2020. Bertemakan Arus Baru Ekonomi Indonesia : Problematika, Cita-Cita, dan Strategi Ekonomi Dalam Penguatan Arus Baru Ekonomi Umat Islam di Era Revolusi Industri 4.0. Kegiatan tersebut bertempat di Ruang Syahrir Nurut, ITB-AD Kampus Ciputat pada Senin (20/01).

Dalam pidatonya Dr. H. Anwar Abbas mengatakan, “Hubungan umat Islam dan negara selalu ada masalah, hal ini terjadi karena masih ada ketidakadilan. Umat Islam harus maju, sejahtera, dan kaya. Persoalan hari ini adalah mental, mentality umat Islam harus berubah, umat Islam harus hijrah, jangan bermental karyawan, harus berpikir bagamaina mampu membuka lapangan pekerjaan dengan menjadi entrepreneur, hijrah umat Islam bukan sekedar hijrah dari mekkah ke madinah, bukan secara geografis tapi secara mental. Kenapa umat Islam terbelakang? Karena umat Islam meninggalkan agamanya. Untuk menjadi negara yang maju dan beradab maka umat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak boleh meninggalkan agama dalam setiap aktivitasnya.”

Dalam pemaparannya, Dr. Hendri Saparini mengatakan bahwa Indonesia memiliki permasalahan nasional yang harus segera diselesaikan terlebih lagi soal kesejahteraan dan itu harus menjadi agenda bersama. “Harus ada keberpihakan pemerintah, apa yang selama ini telah dilakukan pemerintah, perlu ada kebijakan-kebijakan keberlanjutan untuk bisa menyelesaikan permasalahan kesejahteraan bagi masyarakat,” terangnya.

Dr. Arif Budimanta menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia harus bertransformasi untuk mewujudkan cita-cita tahun 2045, satu abad Indonesia merdeka. “Saat ini Indonesia telah menjadi negara maju, memiliki pendapatan mencapai Rp. 320 Jt per kapita per tahun, produk domestic bruto (PDB) Indonesia mencapai US$ 7 Triliun dan masuk 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. Momentum kemajuan ekonomi Indonesia sudah ada dan akan terus diupayakan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Arif mengatakan, “Setidaknya ada 5 pilar utama kebijakan transformasi ekonomi yang harus dilakukan. Pertama, optimalisasi pembangunan infrastruktur kedua, minimalisasi ketergantungan terhadap modal asing jangka pendek ketiga, konfigurasi investasi untuk mendukung pertumbuhan. Keempat, penguatan implementasi kebijakan pemerataan ekonomi dan yang terakhir efisiensi pasar tenaga kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).”

Dr. Mukhaer Pakkanna menyampaikan bahwa terjadinya intoleransi dan ketidakadilan karena urusan kesejahteran. Oleh karena itu fakta-fakta ketidakadilan dan intoleransi ekonomi harus diamputasi.

“Sikap intoleran, lazimnya terjadi karena kebijakan yang diproduksi oleh aparatur negara telah bersikap tidak adil bagi bangsanya sendiri. Arus  baru ekonomi Indonesia sesungguhnya mengembalikan rel ekonomi ke habitatnya ekonomi tanpa diskriminasi, tanpa segregasi, tanpa stereotype, tanpa stigma, tanpa favoritisme yaitu ekonomi pancasila,” ujar Mukhaer.

Sementara itu, Azrul Tanjung berharap kegiatan Seminar Ekonomi Pra Kongres Umat Islam Indonesia Ke VII tahun 2020 ini dapat menghasilkan sebuah ide gagasan yang bisa dibawa dalam kongres. Sehingga Kongres Umat Islam Indonesia dapat memberikan masukan kepada pemerintah khususnya presiden. Termasuk mengusung sebuah konsep perekonomian nasional, supaya ekonomi Indonesia tidak lari dari cita-cita Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Pasal 33.

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

STKIP MBB Layak jadi Universitas

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah II Profesor Slamet Widodo memberikan bimbingan teknis kepada dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Bangka Belitung, Jumat (17/01). Profesor Slamet Widodo dalam kesempatan itu memberikan motivasi kepada pada dosen agar terus meningkatkan kinerjanya sebagai dosen.

Profesor Slamet berpesan agar dosen terus meningkatkan jumlah penelitiannya, pengabdian kepada masyarakatnya dan luaran yang dihasilkan dari penelitiannya. Beliau juga menantang dosen-dosen untuk segera melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat doctor. “Jadi dosen itu harus professional, harus punya jenjang akademik dan tingkatkan selalu penelitiannya,”tegasnya.

Dalam kesempatan itu ia juga berharap agar STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung bisa segera berubah menjadi universitas. “Saya akan dorong terus agar kampus ini segera menjadi universitas, nanti buka program-program yang memang diminati oleh masyarakat seperti PAUD, Pendidikan Profesi bahkan kedokteran, saya ingin ada fakultas kedokteran di Pangkalpinang ini yang dibuka oleh kampus swasta,”paparnya.

Sebelum memberikan arahan Profesor Slamet sempat mengelilingi kampus STKIP MBB untuk melihat kesiapan menjadi universitas. “Setelah saya keliling-keliling tadi saya lihat kampus ini sudah layak menjadi universitas, kampusnya sudah bagus dan layak,”tandanya.

Dalam kesempatan tersebut Ketua STKIP MBB Dr Asyraf Suryadin menyatakan sangat berharap kampus ini segera berubah menjadi universitas. Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan Pengurus Wilayah Harian STKIP MBB, Hasan Rumata dan Warsangka, jajaran pimpinan dan Kaprodi, para kepala lembaga dan juga dosen dari STKIP MBB.

STKIP Muh Babel, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

Guru Harus Siap Hadapi Perubahan Era Disrupsi

Guru Besar Psikologi yang juga putra daerah, Prof Djamaluddin Ancok mengajak guru-guru di Bangka Belitung untuk siap menghadapi perubahan menghadapi era disrupsi. Hal ini disampaikan Djamaluddin Ancok Saat menjadi pembicara seminar pendidikan di Auditorium Lantai 4 STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung, Jumat (17/1) sore.

“Guru, sekolah, perguruan tinggi bahkan negara itu harus inovatif kalau tidak mau hancur, dunia sudah berubah, maka kita juga harus siap menghadapi perubahan itu. Kita harus terus belajar kalau tidak berubah akan ketinggalan zaman,” terangnya. Dikatakan putra kelahiran Menduk Bangka ini bahwa perubahan ini terjadi dalam berbagai hal, bahkan diperkirakan tahun 2040 dunia sudah berubah dimana semua pekerjaan sudah dilakukan secara otomatis, maka saat ini tugas guru adalah menyiapkan generasi masa depan dengan baik.

“Saat ini siswa lebih tau dari kita, digitalisasi dimana-mana kalau kita terlambat maka kita akan ketinggalan,” tandasnya. Maka menjadi guru harus mampu memberikan makna dalam pengajarannya, guru juga harus mampu menjalin kerjasama dengan orang lain dan guru juga harus bisa memberikan motivasi kepada siswanya. “Guru harus bisa memotivasi anak untuk bisa hebat dalam hal apapun, maka guru yang seperti ini akan menjadi guru yang menarik,” tambahnya.

Dikatakan dosen UGM ini bahwa tidak ada anak yang nakal, senakal-nakalnya anak kalau gurunya bisa membimbing maka dia akan menjadi orang hebat. Lebih lanjut ia mengutip hadist yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (bersih), maka guru tidak boleh berburuk sangka kepada siswa. “Jika ada anak yang nakal mungkin saja di rumahnya ada masalah karena tidak ada anak yang nakal maka guru harus selalu berprasangka baik kepada anak,” tandasnya. Dalam kesempatan tersebut juga diputarkan beberapa film yang terkait dengan perubahan yang terjadi di dunia dan film tentang bagaimana perjuangan guru dalam menghadapi anak-anak nakal dalam kelasnya namun kemudian ia sukses mengubah anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang baik.

Seminar ini diselenggarakan oleh PGRI bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Bangka Belitung yang diikuti oleh kurang lebih 500 guru dan dosen dari berbagai daerah di Bangka. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua ADI Babel Asyraf Suryadin, Ketua Dewan Pendidikan Bangka Belitung Prof Bustami Rahman, Ketua PGRI Babel, Kunlistiani dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang Iwansyah dan tokoh-tokoh pendidikan dari berbagai daerah.

Dosen UMM Ciptakan Drone Canggih Untuk Pertanian

Dr Wahono dosen Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan tiga jenis drone yang terdiri dari Motodoro MX, Fram Mapper, dan Spraying Robot Indonesia (SRI). Rangkaian Dr Wahono ini diciptakan untuk mendukung dunia pertanian yang lebih modern di Indonesia. “Lewat model pertanian ini kita bisa meningkatkan produktivitas tanaman serta mengefisiensi biaya,” papar Dr Wahono.

Tiga drone yang diciptakan Dr Wahono memiliki keunggulan masing-masing. Motodoro MC berjenis Flying Wing dalam sekali terbang dapat memetakan sekitar 700 hektare. Kedua, Farm Mapper dapat terbang serta landing vertikal dengan daya jangkau 400-500 hektare. Sedangkan ketiga, SRI dapat berfungsi untuk aplikasi peptisida.

“Aplikasi untuk pupuk dan peptisida oleh SRI ini cerdas, karena ia hanya menyemprot pada tempat yang membutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan dengan kapasitas 23 liter,” paparnya. Luas tanah yang dapat dijangkau 10 hektare dengan jangka waktu 1 jam.

Selain itu, SRI juga memiliki sistem kerja yang mewakili mata dan berfungsi melakukan pemilahan atas tanaman yang sehat dan yang berpenyakit. Karena SRI memiliki sensor yang lebih presisi, lebih akurat secara kuantitatif. Dr Wahono menambahkan, sensor dapat menganalisis tingkat kesehatan tanaman sehingga lebih objektit tanpa perlu turun ke lapangan. “Lewat model pertanian ini kita bisa meningkatkan produktivitas tanaman serta mengefisiensi biaya,” ucapnya.

Muhadjir Effendi selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) turut mengapresiasi karya tersebut dan menyarankan untuk segera diseminasi. “Jadi tinggal digunakan secara betul agar bisa diadopsi oleh para petani, karena kecepatannya bisa berkali-kali lipat dibandingkan dengan tenaga manual,” kata Muhadjir.

 

STIE Muhammadiyah Mamuju Launching KKN Tematik Pencegahan Stunting

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah (STIEM) Mamuju resmi meluncurkan KKN Tematik Pencegahan Stunting, di Gedung Pemuda Mamuju, pada Jumat (10/01). Bersama ‘Aisyiyah dan Pemerintah Kabupaten Mamuju, kegiatan ini juga dihadiri Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dra. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, Kementrian Kesehatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat, H. Salihi Saleh, Ketua KPU Sulawesi Barat, Ustadz Rustang, Bupati Mamuju, H. Habsi Wahid dan beberapa undangan.

Dr Muchtar Baso selaku Ketua STIEM Mamuju memaparkan selama dua tahun STIEM Mamuju telah melakukan pembinaan kewirusahaan dan pembinaan untuk kegiatan mahasiswa (UKM) yang telah digarap di Polewali Mandar (Polman). “Alhamdulillah telah diberikan kepercayaan oleh ‘Aisyiyah untuk bekerjasama dalam program stunting dengan memberikan pembekalan kepada Mahasiswa STIEM untuk mensosialisasikan ketika ditugaskan KKN di tempat yang sudah ditentukan,”lanjutnya.

Bupati Mamuju, Habsi Wahid mengapresiasi adanya keterlibatan STIEM Mamuju dengan menugaskan mahasiswanya dalam ikut serta mensukseskan program stunting. “Keterlibatan STIEM Mamuju menjadi bentuk upaya penyadaran masyarakat Mamuju,” paparnya. Selaras dengan hal tersebut, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah mengucapkan terimakasih dan memberikan semangat untuk mensukseskan program ini. “Nantinya, STIEM Mamuju dapat menjadi tumpuan untuk melakukan program pemberdayaan masyarakat. Karena untuk memajukan bangsa harus berpikir maju dengan mencetak generasi unggul melalui program stunting ini,” tutupnya.

UMSIDA Kenalkan Prestasi pada Pondok Pesantren Internasional Dea Malela

“Saat ini UMSIDA sebagai Perguruan Tinggi Swasta telah berhasil menduduki peringkat sepuluh sebagai perguruan tinggi terbaik se Jawa Timur dan menduduki peringkat 127 dari perguruan tinggi se Indonesia menurut penilaian lembaga internasional,” papar Rektor UMSIDA, Dr Hidayatullah Msi dalam sambutannya saat menyambut kunjugan siswa siswi pondok pesantren internasional Dea Malela NTB, Jumat (10/01).

Diadakan di mini theater Auditorium Ahmad Dahlan, acara ini juga dihadiri Prof Achmad Januri, pengajar dan 50 orang siswa siswi SMP-SMA Dea Malela. Dilansir dari website resminya, UMSIDA telah menduduki peringkat 74 penulisan jurnal Sinta di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Kemudian dalam hal abdimas berada pada posisi Klaster sangat bagus, serta per desember 2019 umsida berhasil memiliki 190 Hak Kekayaan Intelektual,”lanjutnya.

Pada kesempatannya juga ustadzah Isma guru dari SMP dan SMA Dea Malela mengungkapkan harapannya, agar kunjungan yang dilakukan bisa membuka wawasan siswa siswinya, ” harapan besar bagi saya, adanya kegiatan ini bisa menjadi acara yang akan membuka pengetahuan anak-anak ku tentang dunia luar”, ujarnya.

Workshop Penulisan Artikel UM Sorong

LPPM Universitas Muhammadiyah Sorong mengadakan workshop Penulisan Artikel Pengabdian pada Masyarakat di Ruang Rapat 2, Gedung Rektorat, Sabtu (11/01). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memastikan hasil KKN reguler sebelumnya telah terpublikasi di Jurnal Pengabdian bereputasi atau akan segera dipublikasi bagi dosen pembimbing yang belum melakukan publikasi.

Dibuka langsung oleh M Syahrul Kahar MPd selaku ketua LPPM, Ditahun 2020 direncanakan skema KKN di Universitas Muhammadiyah Sorong akan di perbanyak untuk bisa menampung jumlah peserta KKN yang setiap tahun bertambah dan saat ini sudah hampir mencapai 1000 an mahasiswa, demikian disampaikan ketua LPPM. “Selain KKN Reguler, KKN Tematik Pengabdian pada Masyarakat dan KKN Muhammadiyah untuk Negeri (KKNMu) akan ditambahkan pula KKN 3T dan jika memungkinkan akan mulai di canagkan KKN Internasional,” lanjutnya.

Diakhir, ia menyampaikan akan terus memastikah bahwa semua kegiatan UM Sorong dapat berlangsung secara maksimal dengan ketersediaan dosen yang memadai, sarana dan prasarana perkuliahan. “Dengan begitu, semua tanggungjawab Catur Darma Perguruan Tinggi Muhammadiyah akan terwujud, memajukan tanah Papua membangun Wilayah Timur Indonesia bisa diwujudkan,” tutupnya.

Sambut Mahasiswa Baru STKIP Muh Kuningan Adakan Roadshow

Mendekati jadwal tahun ajaran baru, STKIP Muhammadiyah Kuningan kembali mengadakan Roadshow Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2020 ke SMK PGRI Ciawigebeng Kuningan dan SMAN 1 Ciledug Cirebon Jawa Barat.

Mengangkat tagline “Unggul dalam Pendidikan, Teknologi dan Kewirausahaan” STKIP Muh Kuningan mengajak para siswa yang berminat menjadi Atlit professional dengan kemampuan yang siap untuk terjun ke dunia kerja.

Tidak hanya itu, STKIP Muh Kuningan juga resmi menerima Kang Dhika Bayangkara, Kiper Persib Bandung sebagai calon mahasiswa PJKR STKIP Muh Kuningan. Mengutip dari akun resmi Instagram, STKIP Muh Kuningan telah membuka penerimaan mahasiswa baru untuk gelombang 1 (satu) pada 2 Januari-30 April dengan enam program studi yang sudah terakreditasi B BAN-PT.