STIKES Muh Klaten Sukseskan Gerakan Pelayanan Sejuta Akseptor

Dalam rangka HUT Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-69 dan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-27 pada tanggal 29 Juni 2020, STIKES Muhammadiyah Klaten ikut berpartisipasi dalam mensukseskan Gerakan Pelayanan KB Serentak Sejuta Akseptor. Wiwin Rohmawati, S.ST., M.Keb, Kaprodi D-3 Kebidanan STIKES Muhammadiyah Klaten, mewakili kegiatan ini dengan ikut melaksanakan pemasangan KB di Klinik Sang Timur, Didan Yuda Yulia.

Kegiatan ini dilakukan oleh IBI Ranting Kota dan IBI Ranting RS Kabupaten Klaten yang dibagi dalam 7 titik pelayanan yaitu Kecamatan Klaten Tengah di Puskesmas Klaten Tengah, Kecamatan Ngawen di Puskesmas Ngawen, Kecamatan Kebonarum di Puskesmas Kebonarum, Kecamatan Klaten Utara di Puskesmas Klaten Utara, Kecamatan Klaten Selatan di Poltekkes, Kecamatan Wedi di balai KB Kecamatan Wedi, dan Kecamatan Kalikotes di Klinik Sang Timur. Bidan koordinator di wilayah masing-masing menjadi koordinator di masing–masing titik pelayanan. Kegiatan ini bekerja sama juga dengan para Kader KB, PLKB di Kabupaten Klaten, dan Babinsa setempat.

Kegiatan yang merupakan program dari BKKBN ini berhasil meningkatkan jumlah akseptor KB di seluruh Indonesia. Hal ini untuk antisipasi terjadinya Baby Boom di masa yang akan datang demi kesejahteraan masyarakat pada masa pandemi Covid-19. Pelayanan ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada pukul 08.00 waktu setempat s/d 15.00 dan dilakukan pencatatan rekor MURI dengan target layanan seluruh Indonesia 1.373.902.

IMM STIT Muh Bojonegoro Gelar Diskusi Kepemudaan

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) STIT Muhammadiyah menggelar diskusi online nasional pada hari Ahad (28/6) pukul 11.00 hingga pukul 13.00 melalui Zoom Meeting Cloud. Diskusi online nasional bertemakan “Dinamika Pergerakan Organisasi Mahasiswa Pasca New Normal” ini menghadirkan narasumber Beni Pramula, S.I.Kom., MM. (Ketua Pemuda Asia-Afrika Periode 2015-2020, Ketua Umum DPP IMM Periode 2014-2016 ), Ahmad Khoiris, S.Pd (Ketua Umum PC IMM Bojonegoro), dan dimoderatori oleh Immawati Zakya Fatya Ilfany Kabid (Immawati IMM STIT Muhammadiyah Bojonegoro).

Melalui Media Center Ketua Umum IMM STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Moch Sulton Ulum Bimasdhom menjelaskan kegiatan ini merupakan suatu solusi untuk organisasi mahasiswa khususnya di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah pasca new normal. “Mahasiswa saat ini harus lebih kritis dalam menghadapi fenomena saat ini dan tentunya organisasi mahasiswa menjadi pilar penting untuk memperjuangkan aspirasi rakyat dalam kebijakan-kebijakan kontroversial seperti saat ini,” ucap mahasiswa semester akhir tersebut.

Diskusi yang menghadirkan tokoh pemuda yang sangat berpengalaman di organisasi mahasiswa maupun pemuda ini diikuti puluhan mahasiswa Muhammadiyah dari berbagai daerah Indonesia.

Majelis Diktilitbang PPM Gelar Riset Nasional Covid-19

Penyebaran virus Covid-19 di Indonesia tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan semata, tetapi juga berdampak ke semua lini, baik pendidikan, ekonomi, sosial, keamanan, dan juga budaya. Tatanan masyarakat yang sangat kompleks ini menyebabkan akhir Covid-19 di Indonesia belum bisa diprediksi. “Melihat situasi saat ini, kami Majelis Diktilitbang PPM ingin menggandeng banyak pihak untuk mengambil peran dalam program penanggulangan pendemi, salah satunya dengan melakukan penelitian kolaboratif,” tutur Ahmad Muttaqin, Ph.D selaku Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang PPM pada agenda Sosialisasi Riset Covid-19 secara daring, Senin (22/06).

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah akan mengadakan riset tentang Covid-19 melalui dua skema, yakni umum dan khusus. “34 kampus PTMA yang sampai saat ini telah mendaftarkan diri akan menjadi mitra utama dan masuk ke dalam skema khusus. Sedangkan skema umum bisa diperebutkan oleh seluruh dosen PTMA se Indonesia,” tambah Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang PPM tersebut.

Selain menjalin kerja sama dengan kampus, LAZISMU PP Muhammadiyah juga turut berpartisipasi dalam program riset ini. LAZISMU akan menjadi partner, khususnya tema yang berkaitan dengan filantropi dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian tentang Covid-19 mulai dibuka pada awal bulan Juli 2020 dan batas unggah proposal penelitian yakni 20 Juli 2020. Dibukanya program riset tersebut diharapkan dapat menghasilkan luaran yang bermanfaat baik dari segi akademik (artikel ilmiah) maupun luaran lain berupa produk dan karya yang bisa dipakai dalam menanggulangi pandemik Covid-19 khususnya di Indonesia.

Para dosen PTMA bisa mengakses informasi secara detail di risetmu.or.id, media sosial Diktilitbang, atau bisa menghubungi Project Officer Hibah Riset yakni sdr. Hakim (0813 1911 7700).

Panduan hibah riset dapat diunduh melalui link di bawah ini :
PANDUAN RISET NASIONAL COVID-19
Manual Guide User Peneliti Hibah PPM-Coivd-19

UMKU Angkat Sumpah Profesi Perawat via Daring

Sabtu (20/6), Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) menyelenggarakan angkat sumpah profesi perawat secara daring. Sebanyak 374 mahasiswa menghadiri prosesi ini. Sedangkan perwakilan mahasiswa domisili Kudus mengikuti langsung di ruang serba guna dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Acara angkat sumpah diwakilkan oleh perwakilan mahasiswa agama Islam Handi Suhandoko, S.Kep., Ners, perwakilan mahasiswa agama Kristen Katolik Herlian Dian Permata, S.Kep. Ners, perwakilan mahasiswa agama Kristen Protestan Agus Sus Setiyanto, S.Kep., Ners didampingi oleh rohaniawan M. Agus Yusrun Nafi’, M.SI, Emanuel Bambang Widyanarko, SS dan Pendeta Abednego Wigati. Prosesi angkat sumpah profesi ners dilakukan oleh DPW PPNI Wilayah Jawa Tengah Dr. Edy Susanto dan dilanjutkan penandatanganan naskah sumpah disaksikan oleh Rektor UMKU Rusnoto, SKM., M.Kes.

Dalam sambutannya, Rusnoto mengucapan terima kasih kepada semua pihak sehingga acara angkat sumpah dapat terlaksana dengan baik sesuai protokol kesehatan. Ia juga memberikan pesan kepada alumni untuk menjadikan pendidikan sebagai perubahan komitmen sehingga meningkatkan loyalitas, wawasan, serta profesionalisme dalam bekerja. Menurutnya analisis dan strategi juga harus selalu diperhatikan, serta mau berpikir dan berubah. “Semoga para lulusan dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat, terus meningkatkan pengetahuan keterampilan sesuai dengan perkembangan IPTEKS, dan harus berubah sesuai dengan zamannya,” harapnya.

JATI Jurnal Pertama Vokasi UMY Terakreditasi SINTA 3

Berdasarkan SK Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia Nomor 85/M/2020 tentang Peringkat Akreditasi Jurnal Ilmiah Periode 1 tahun 2020, Jurnal Akuntansi Terapan Indonesia (JATI) Prodi D-3 Akuntasi UM Yogyakarta meraih akreditasi peringkat 3 (SINTA 3). JATI merupakan jurnal peer review yang diterbitkan oleh UM Yogyakarta bekerja sama dengan APSA PTM (Asosiasi Program Studi Akuntansi Perguruan Tinggi Muhammadiyah). Pencapaian ini praktis membuat JATI menjadi jurnal pertama dari Program Vokasi yang terkreditasi SINTA 3.

Barbara Gunawan, S.E., M.Si., Ak.CA selaku Ketua Prodi D-3 Akuntansi memaparkan bahwa JATI menerbitkan artikelnya dua kali dalam setahun, yaitu Maret dan Oktober. Ia menambahkan artikel tersebut ditinjau secara selektif oleh editor dan peninjau yang berkompeten. Sementara itu pengelola jurnal, Puspita Dewi Wulaningrum, S.Pd., M.Sc, menuturkan jurnal JATI mulai terbit sejak Maret 2018. Hingga kini JATI telah terbit sebanyak 5 kali, yaitu Vol.1 No. 1 pada Maret 2018, Vol.1 No.2 pada Oktober 2018, Vol.2 No.1 pada Maret 2019, Vol.2 No.2 pada Oktober 2019, dan Vol.3 No.1 pada Maret 2020.

Saat ini UMY memiliki 23 jurnal yang telah terakreditasi SINTA. 10 jurnal terakreditasi SINTA 2, 7 jurnal terakreditasi SINTA 3, 5 jurnal terakreditasi SINTA 4, dan 1 jurnal terakreditasi SINTA 5.

UM Magelang dan Dinsos Magelang Kolaborasi Gerakan “Ayo Kuliah 2020”

UM Magelang bersama dengan Dinas Sosial Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Dinsos PPKB PPPA) Kabupaten Magelang melakukan penandatanganan MoU gerakan “Ayo Kuliah 2020” di Aula Rektorat, Jumat (12/6). Kerja sama dalam hal Tridarma Perguruan Tinggi ini meliputi pemberian beasiswa dan bimbingan belajar bagi penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH).

Dr. Suliswiyadi, M.Ag selaku Rektor UM Magelang berharap terjalinnya kolaborasi ini dapat mewujudkan Sumber Daya Manusia yang unggul dalam segala aspek. “Gerakan Ayo Kuliah 2020 semoga bisa menjadi penyemangat bagi siapa saja untuk meneruskan pendidikan ke jenjang sarjana,” tambahnya.

Sementara itu, Arif Rohman Muiz, SE, MM, Ketua PKH Kabupaten Magelang menuturkan, Gerakan Ayo Kuliah 2020 ini bertujuan untuk mengentaskan angka kemiskinan dengan mendorong siswa-siswi lulusan SMA/SMK untuk bisa melanjutkan studi ke tingkat lanjut. Hal yang senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Magelang, Iwan Agung Susilo, S.Sos, M.M. “Sehingga dari bantuan tersebut dapat melahirkan sarjana yang unggul dan mandiri dengan maksud agar bisa menaikkan tingkat perekonomian keluarga,” jelasnya.

UM Palembang Gelar Lomba Tausiyah Daring

Selasa (16/6), dalam rangka menyemarakkan milad ke-41, UM Palembang menyelenggarakan lomba tausiyah daring. Lomba ini digelar untuk mahasiswa, karyawan, dan dosen UM Palembang.

Topik yang diangkat ialah  “Aplikasi Unggul dan Islami dalam Kehidupan Kampus Universitas Muhammadiyah Palembang”. Dewan juri terdiri dari Dr. Suroso PR, S.Ag., M.Pd.I., Dr. Hoirul Amry, M.Esy., Dr. Rulitawati, M.Pd.I., Dr. Sayid Habiburrahman, M.Pd.I., dan Idmar Wijaya, S.Ag., M.Pd.I.

WR IV UM Palembang, Dr. Antoni, M.H.I. mengungkapkan lomba tausiyah daring bertujuan mendorong semangat bermuhammadiyah meskipun di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya pandemi Covid-19 ini seharusnya memberikan peluang untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi dalam mengisi kegiatan yang bermanfaat. “Keberhasilan penyelenggaraan lomba tausiyah daring ini menunjukkan, masyarakat kita sudah semakin terbiasa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan,” jelasnya.

Keperawatan Unimus Gelar Webinar Kesehatan Perempuan di Masa Pandemi

Kamis (11/6), empat Prodi Keperawatan di Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (FIKKES) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) mengadakan seminar daring (webinar) dengan tema “Kesehatan Reproduksi pada Ibu Hamil dan Menyusui di Masa Pandemi Covid-19”. Seminar ini merupakan wujud keprihatinan atas dampak pandemi Covid-19 terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Diikuti 4000 peserta, jalannya seminar dipandu oleh moderator Ns. Erna Sulistyowati, M.Kep.

Webinar kali ini menghadirkan keynote speaker Prof. Dr. Yati Afiyanti, S.Kp., M.N (Guru Besar Keperawatan Maternitas Universitas Indonesia). Materi yang dibawakan bertajuk “Pendekatan Keperawatan Komprehensif dalam Kesehatan Reproduksi Perempuan di Masa Pandemi Covid-19”. Sedangkan narasumber panel diskusi ialah Dr. Ns. Sri Rejeki, M.Kep., Sp.Kep.Mat (Dosen Keperawatan Unimus, Praktisi Keperawatan Maternitas dan Konselor Nyeri Persalinan) dan Ns. Nikmatul Khayati, M.Kep (Dosen Keperawatan Unimus, Konselor Laktasi dan Terapis Pijat Laktasi).

Yati memaparkan bahwa perempuan adalah kelompok berisiko. Pandemi Covdi-19 ini menambah risiko pada perempuan terkait kondisi kesehatan fisik dan psikisnya bahkan juga terjadi peningkatan kekerasan pada perempuan. Oleh karenanya dibutuhkan pelayanan keperawatan komprehensif pada perempuan di masa pandemi. “Seperti layanan antenatal care, prenatal care, dan new born care. Layanan komprehensif lainnya yang perlu dioptimalkan adalah adalah Keluarga Bencana, screening kanker servik, aborsi yang aman, pencegahan dan pengendalian penyakit menular seksual, juga layanan terhadapa korban kekerasan gender dan kekerasan dalam rumah tangga,” tutupnya.

Sri dalam materi bertopik “Kehamilan dan Persalinan di Masa Pandemi Covid-19 memaparkan risiko penularan Covid-19 ibu hamil yang lebih tinggi dikarenakan perubahan hormon selama hamil dan menyusui yang menyebabkan menurunnya imunitas. Ironis bahwa kehamilan seharusnya menjadi masa yang penuh kebahagiaan dan harapan namun di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi justru kekhawatiran dan kecemasan karena penularan virus yang tidak bisa diduga. “Tentu kehamilan dan melahirkan yang aman perlu mendapatkan perhatian, artinya protokol kesehatan selama kehamilan dan melahirkan harus dipatuhi dengan baik,” pungkasnya.

Nikmatul kemudian menambahkan dalam materinya yang berjudul “Breastfeeding pada masa pandemi Covid-19″, ibu menyusui terkonfirmasi positif Covid-19 tidak disarankan menyusui secara langsung. Namun, ibu perlu memerah ASI-nya dan menyimpan di tempat yang aman baru kemudian diberikan kepada bayi. “Relaktasi dilakukan jika Ibu sudah sembuh dari Covid-19. Diperlukan juga komitmen ibu, dan dukungan sosial pada ibu baik dukungan dari pasangan, keluarga, komunitas atau tenaga kesehatan untuk keberhasila relaktasi dan laktasi,” ujar Nikmatul.

Prodi PAI UM Palembang Kembali Tambah Doktor

Sayid Habiburrahman, S.Ag., M.Pd.I resmi menjadi dosen bergelar Doktor yang ke-72 di UM Palembang. Sayid lulus dari Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang dengan disertasi berjudul “Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam Meningkatkan Mutu Lulusan di Pesantren (Studi Kasus di Pesantren Assalam Sri Gunung MUBA)”.

Ujian Disertasi Promosi Doktor Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Raden Fatah Palembang ini diselenggarakan pada Senin 8 Juni 2020. Promotor dan co.promotor Sayid adalah Prof. Dr. Fuad Abdurrahman dan Dr. Musnur Hery.

Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., selaku Rektor UM Palembang mengucapkan selamat dan apresiasi atas keberhasilan Sayid menyelesaikan studi S-3. Ia berharap diraihnya Doktor Pendidikan Agama Islam ini dapat membawa kemajuan dan peningkatan mutu lulusan di Prodi PAI UM Palembang.

Belajar Melek Lingkungan dari Kearifan Lokal

Menarik, sekaligus ironis jika dicermati mengapa orang kota yang mengaku modern dan senyatanya memiliki level sekolah lebih tinggi (melek pengetahuan) berbondong-bondong mengunjungi suku-suku asli (pedalaman) di pelbagai tempat. Tujuannya, sekedar mengagumi keasrian alam yang didiami dan dirawat penduduk asli, disertai keheranan mengapa alam di sini bisa begitu utuh, segar, hijau, dan lestari seperti ini? Tentu saja sekalian melampiaskan kepenatan suasana kota yang gersang dan kaku. Pendek kata orang-orang modern yang datang dari kota itu membutuhkan lingkungan yang belum mereka rusak melalui kebijakan yang lebih berpihak pada pemodal, mementingkan ekonomi, dan menganaktirikan ekologi.

Ironi memang ada dan terjadi di mana-mana, bahkan di kalangan orang yang berlevel pendidikan tinggi sering berperilaku lucu dan rancu. Bagaimana tidak, bukankah orang yang sering berkunjung dan mencari kedamaian di lingkungan yang hijau dan damai tersebut adalah mereka yang sering membuat kebijakan yang tidak ramah lingkungan, yaitu mereka para pengambil kebijakan di negeri ini yang tidak mengetahui dan menghargai  pengetahuan indigenous penduduk asli. Lebih parah lagi mereka yang mengabaikan kontribusi penduduk asli dalam menyelamatkan plasma nutfah. Alih-alih dianggap sebagai pahlawan lingkungan, malah mereka sering dianggap sebagai perusak lingkungan dengan cap sebagai pembakar hutan dan peladang berpindah yang menghabiskan hutan.

Dalam konteks demikian kita kehilangan kebermaknaan melek pengetahuan para lulusan bila dikaitkan melek lingkungan (environment literacy). Ada gap yang lebar antara pengetahuan lingkungan (melek ilmu) di satu sisi, dengan kemampuan menghargai lingkungan (melek lingkungan). Sebagian besar para perintis dan pengabdi lingkungan memang terbukti bukan dari kalangan akademisi atau birokrat, tapi justru para petani atau nelayan yang jenjang pendidikannya hanya lulusan sekolah dasar.

Mengapa para penduduk asli lebih melek lingkungan dan dapat melakukan itu semua tanpa latar belakang pendidikan sekolah yang tinggi? Dari sebuah penelitian didapatkan hasil bahwa perilaku peduli lingkungan tidak dipengaruhi secara kuat oleh pengetahuan sesorang, tetapi dipengaruhi secara kuat oleh kerelaan atau ketulusan seseorang dalam berbuat (willingnes to sacrificed). Menumbuhkan jiwa ketulusan, altruis, tidak egois, saling menghargai, ringan tangan tidak cukup dengan asupan pengetahuan lingkungan, tetapi dengan pembiasaan dan pembudayaan yang dirancang dari masa anak-anak. Maka, sekolah di pendidikan dasar, sebagaimana teori dari para ahli psikologi pendidikan, seharusnya diisi dengan ranah afektif dengan porsi yang lebih besar dibandingkan ranah kognitif. Sebaliknya, semakin bertambah usia porsi afektif mengecil dan kognitif yang makin banyak. Apakah itu semua sudah kita lakukan di sekolah? Secara by design belum. Hal ini terlihat dari beban kurikuler yang bersifat kognitif di pendidikan dasar masih sangat padat (crowded), dengan begitu kapan ada waktu bagi guru untuk dapat membangun kultur seperti tadi di atas dengan baik dan terarah.

Sudah sepantasnya kita semua tidak terus menerus mengandalkan penduduk pedalaman untuk menyelamatkan lingkungan hidup sekitar. Kalau mereka bisa mengembangkan kearifan dalam berinteraksi dengan lingkungannya, mengapa kita yang dibekali pendidikan, teknologi, dan ekonomi yang (mungkin) lebih baik dari mereka  tidak bisa mengembangkan gerakan kearifan merawat lingkungan hidup secara  lebih baik. Selain itu, penting juga untuk memahami secara prinsip penyebab utama sulitnya menumbuhkan kesadaran dan perilaku ramah lingkungan pada bangsa Indonesia.

Faktor gaya hidup (life style) manusia harus menjadi agenda utama perubahan karena telah terbukti sebagai penyumbang terbesar terhadap kerusakan lingkungan hidup saat ini. Seperti efisiensi bahan-bahan yang berasal atau diekstraksi dari lingkungan. Kerelaan untuk berkorban (willingness to sacrifice) dengan cara  mengurangi kenikmatan dari bahan atau makanan yang kita konsumsi secara signifikan akan membantu menyelamatkan lingkungan. Sebagai contoh, jika singkong dimakan secara direbus saja sudah nikmat mengapa harus digoreng atau dibikin kue yang menggunakan aneka warna dan pewangi yang  diekstrak dari alam. Bila satu orang yang melakukan itu tentu saja tidak akan ada dampak apa-apa terhadap lingkungan. Tapi, kalau yang berbuat seperti itu ada ribuan, bahkan jutaan orang, tentu akan sangat banyak bahan yang diekstrasi dari lingkungan sekitar.

Begitu juga penggunaan bungkus berbahan organik harus menjadi keinginan dan kemauan kita. Penggunaan kantong plastik di pasar-pasar, toko, supermarket perlu segera diganti dengan daun atau kertas. Berdasarkan survei, kantung plastik adalah bahan pencemar terbesar di sungai dan tanah. Bagi  orang yang berkecukupan dan pejabat harus rela mengurangi penggunaan AC di ruangan dan mobilnya. Bila penggunaannya tidak bisa dihindarkan, gunakan suhu AC yang tidak terlalu rendah karena semakin rendah stelan suhu AC maka akan semakin banyak panas yang dibuang ke lingkungan dan berkontribusi besar tehadap pemanasan global yang saat ini semakin nyata kita rasakan dampaknya. Termasuk aksesori pakaian, mobil, dan rumah yang  berasal dari bahan alam  untuk tujuan eksklusifitas penampilan hendaknya dihindari.

Pentingnya pemahaman dan internalisasi etika lingkungan pada setiap level masyarakat dan profesi. Etika memang diperlukan manusia. Manusia tanpa etika bukanlah manusia. Tetapi dari segi praktis, etika sering kali kurang kuat sebagai driving factor bagi manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Dalam kondisi demikian etika harus disertai pertimbangan yang langsung mengenai kepentingan praktis manusia. Misalnya, kerusakan hutan akan menyebabkan banjir, lubang ozon akan menyebabkan jumlah orang buta bertambah karena katarak dan kanker kulit, pemanasan global dapat menenggelamkan desa dan  kota yang dekat dengan pantai, dan timbal yang berasal dari buangan kendaraan bermotor akan menurunkan IQ dan menyebabkan impotensi. Semuanya itu membuat manusia menderita.

Agenda setting penyelamatan lingkungan hidup perlu diperlebar jangkauannya. Gerakan penyelamatan lingkungan hidup perlu mentransformasikan dirinya menjadi gerakan sosial dan politik  yang melibatkan seluruh komponen masyarakat seperti buruh, petani, nelayan, guru, kaum profesional, pemuda, remaja, anak-anak, kaum perempuan, dan politisi. Sensitivitas para politisi di negeri ini terhadap isu-isu lingkungan pun  perlu ditingkatkan dan sudah saatnya mereka menempatkan  kepentingan lingkungan hidup pada posisi tawar tinggi. Karena, di dalam lingkungan hidup terdapat hak-hak dasar (basic rights) manusia dan prinsip keadilan lingkungan (environmental justice,) serta akses yang setara terhadap sumber-sumber kehidupan. Pada kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, misalnya, rakyat yang terkena dampak kegiatan proyek seharusnya tidak mengalami nasib yang mengenaskan seperti sekarang bila hak-hak dasar penduduk yang telah tercerabut sedemikian rupa  mendapatkan kompensasi yang sepadan (environmental justice) setelah memperhitungkan kerugian dari segala aspek dan tidak dikalahkan oleh pertimbangan profit perusahaan. Hal yang sama berlaku untuk makhluk hidup lain meskipun berbeda dalam implementasinya.

Kita juga berharap banyak kepada anggota legislatif agar lebih peduli dengan isu-isu lingkungan. Jika bisa, jadilah politisi hijau. Alangkah idealnya jika  semua fraksi dan partai  memiliki visi dan program lingkungan hidup yang kontekstual tentang daerahnya dan  semua anggota pengurus melek  masalah lingkungan hidup sehingga mampu mengangkat politik lingkungan secara khusus dalam forum resmi maupun tidak resmi.

Tidak kalah pentingnya adalah upaya memperkuat lembaga atau LSM yang peduli isu-isu lingkungan di daerah yang berfungsi sebagai local environment watch untuk memantau, mengingatkan secara kritis-korektif dan memberikan masukan sebagai second opinion untuk gubernur, bupati, wali kota, dan legislatif terkait  visi dan agenda lingkungan hidup di daerahnya. Melalui itu semua, semoga terbangun kesadaran kolektif bahwa kita melestarikan lingkungan karena kita yang membutuhkan jasa lingkungan dan bukan sebaliknya. Bila lingkungan hidup luka,  kita juga yang sengsara.

Penulis: Dr. Achyani, M.Si. (Dosen S2 Pendidikan Biologi PPs UM Metro)