Leadership Training Pimpinan PTM Angkatan II

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah kembali mengadakan “Leadership Training Pimpinan PTM” angkatan ke-dua dengan tema “Strategi Perubahan Menghadapi Era Disrupsi” pada tanggal 6-12 Agustus 2018 di Hotel Jayakarta, Yogyakarta.

Lincolin Arsyad, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dalam sambutannya menyampaiakan latar belakang pelaksanaaan kegiatan ini adalah karena kaderisasi pemimpin di PTM yang masih kurang baik. Majelis Diktilitbang ingin menyiapkan kader pimpinan PTM yang punya kapasitas sebagai bagian dari proses regenerasi dan kaderisasi.

“Kami bergerak untuk menciptakan pemimpin yang tidak hanya punya kapasitas, tapi juga berkarakter, setidaknya memiliki 4 karakter seperti yang dipaparkan Rasulullah Saw yakni jujur, amanah, tabligh (kemampuan berkomunikasi) sebagai soft skill yang paling utama, dan terakhir adalah fathanah (cerdas dan pintar),” kata Lincolin.

Lincolin mengatakan, pemimpin wajib memiliki sifat jujur. Di lingkup PTM misalnya, pemimpin harus jujur dalam mengelola keuangan PTM.

“Yang paling penting adalah jujur, punya sikap dan karakter yang baik, sehingga akan mampu membawa kemajuan bagi PTM dan persyarikatan,” kata Lincolin.

Turut hadir dalam agenda itu, Dahlan Rais, Ketua PP Muhammadiyah. Dalam sambutannya, Dahlan mengatakan bahwa  perihal kempimpinan dengan merujuk pada semboyan Jawa yakni ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karsa dan tut wuri handayani, para pemimpin harus punya nilai untuk diteladani.

“Pemimpin harus memiliki karakter unggul tertentu yang membedakan sosok satu dengan yang lain. Pemimpin juga harus menjadi teladan. Untuk menjadi teladan, setidaknya pemimpin harus berada di atas rata-rata,” kata Dahlan.

Dahlan berpesan, ketika kita merasa demikian kecil, kita harus lihat dalam diri kita, nilai apa yang membuat kita “plus”, karena orang memiliki kelebihan masing masing.

“Pemimpin itu ada yang dilahirkan, tapi ada juga yang tumbuh karena dibina dan dididik dengan sedemikian rupa sehingga menjadi pemimpin yang teladan, dan tugas kita selain memimpin diri sendiri, juga membina persyarikatan ini agar semakin berkemajuan,”katanya. (nisa)

Closing Ceremony MSPP Batch II

Setelah berlangsungnya Muhammadiyah Scholarship Preparation Program (MSPP) Batch II selama tiga bulan, pada Senin, 7 Mei 2018 kemarin dilaksanakan Closing Ceremony yang bertempat di Gedung Pusbang Muhammadiyah, Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Majelis Diktilitbang (Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D), Wakil Ketua Majelis Diktilitbang (H. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A), Sekretaris Majelis Diktilitbang (Muhammad Sayuti, M.Pd,. M.Ed., Ph.D), Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang (H. Ahmad Muttaqin, M,Ag., M.A., Ph.D), Ketua LazisMu (Hilman Latief, Ph.D), Ketua Majelis Pendidikan Kader (Dr. Ari Anshori, M.Ag), Rektor Universitas Ahmad Dahlan (Drs. Kasiyarno, M.Hum), Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (Dr. Muhammad Da’i, M.Si), Ketua Lembaga Pengembangan Ilmu Dasar dan Bahasa Universitas Muhammadiyah Surakarta (LPIDB UMS)Dr. M. Thoyibi, Global English Pare, Anggota dan Tim Asistensi Majelis Diktilitbang dan DPP IMM.

Pada kesempatan ini juga disampaikan laporan bahwa terdapat 7 peserta program reguler yang sudah melaksanakan tes IELTS dan 15 peserta program afirmasi juga telah mengikuti tes TOEFL ITP. Selain itu juga tercatat dua peserta sudah mendapatkan beasiswa untuk studi lanjut masing-masing di jenjang master dan doktoral. Untuk mengapresiasi peserta selama pelaksanakan program, Majelis Diktilitbang memberikan sejumlah penghargaan kepada peserta berpresetasi yang terbagi menjadi 7 kategori: peserta dengan komitmen terbaik, peserta paling disiplin, peserta dengan peningkatan signifikan, peserta yang paling rajin sholat, peserta yang paling rajin membaca Al Qur’an, peserta dengan bakat leadership terbaik dan peserta dengan capaian nilai tertinggi.

Selain memberikan apresiasi kepada peserta, Majelis Diktilitbang juga memberikan penghargaan kepada mitra program baik pemberi funding atau institusi penyelenggara pelatihan Bahasa Inggris. Penghargaan diberikan kepada LazisMu, Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, LPIDB UMS, Pesma KH Mas Mansur UMS dan Global English.

Acara ditutup dengan soft-launching catatan peserta afirmasi Muhammadiyah Scholarship Preparation Program 2018 yang berjudul “Memoirs from Surakarta”. (sz)

Diktilitbang Gelar Workshop Model Pengembangan Kampus Islami

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah menggelar Workshop Pengembangan Kampus Islami pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Hotel Lynn Yogyakarta pada Ahad (17/12).

Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta yang terdiri dari Majelis Diktilitbang, Majelis Tarjih dan Tajdid, Majelis Tabligh, Majelis Pendidikan Kader, 50 perwakilan PTM dan internal UMY.

Lincolin Arsyad, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan, tugas Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), harus turut serta menjadi bagian dari gerakan islam amar makruf nahi munkar guna mewujudkan Islam sebenar-benarnya sebagaimana maksud dan tujuan Muhammadiyah.

“Oleh karena itu, dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi, PTM tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, melainkan juga institusi kepanjangan tangan dakwah Muhammadiyah. Terutama dakwah kepada civitas akademik yang terdiri dari dosen, karyawan, mahasiswa dan masyarakat sekitar,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan pada pembukaan acara.

Lincolin melanjutkan, maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini yakni menyamakan dan mencari titik temu pada pokok-pokok pikiran fundamental pada model pengembangan kampus islami, merumuskan model dan bentuk nilai-nilai islam dalam pengembangan kampus islami dan menyiapkan konsep yang berisi sistem model pengembangan kampus islami.

“Dalam pelaksanannya, memang beberapa PTM sudah melakukan konsep kampus islami dengan bentuk beragam, model dan mekanisme variatif. Namun, terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing PTM, tetap harus dilakukan perbaikan dan pengembangan PTM agar tetap dalam koridor islami sebagaimana karakter Muhammadiyah,” tambahnya.

Terkait strategi penyelenggaraan kampus islami ini, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah akan menyampaikan kebijakan standar pendidikan Muhammadiyah dan melakukan survei kepada pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa PTM mengenai keinginan dan kebutuhan untuk mengembangkan kampus islami.

“Setelah ini, harapan dan targetnya yakni menumbuhkan kesamaan persepsi para pengelola PTM dalam menyelenggarakan kampus islami dan menghasilkan rumusan model dan bentuk kampus islami,” tutupnya. (nisa)

 

PTM Kesehatan Rintis Kerja Sama di Jepang

Perguruan Tinggi Muhammadiyah mulai merintis kerja sama dengan PT di Jepang. “Untuk bidang kesehatan, lebih relevan bagi kita bekerja sama dengan PT di jepang ketimbang PT di Eropa, Australia ataupun Amerika. Penyakit dan kultur kita lebih cocok dengan Jepang,” demikian disampaikan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Lincolin Arsyad saat kunjungan delegasi PTM ke KBRI Jepang di Tokyo, Senin, 13/11.

Delegasi 38 PTM Kesehatan PP Muhammadiyah ini diterima Minister Counselor Eko Junor dan M Abas Ridwan serta Atdikbud Dr Alinda. Delegasi juga akan merintis kerjasama dengan International University of Helath anda Welfare dan JICHI Medical University.

Ditambahkan Prof Lincolin, PTM Kesehatan akan terus dikembangkan sesuai cita-cita KHA Dahlan yang igin melakukan pelayanan di bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. “Saat ini kita sudah mempubyai 10 Fakuktas Kedokteran, dan akan bertambah dua lagi, di samping puluhan prodi kesehatan,” ujar Prof Lincolin yg didampingi Wakil Ketua Prof Edy Suandi Hamid dan Sekum Sayuti.

Dalam pengantarnya Atdikbud RI di Tokyo Dr Alinda mengapresiasi kunjungan ini yang dilakukan dilakukan dengan cepat oleh Muhammadiyah. “Beberapa bulan lalu saya menawarkan untuk merintis kerja sama ini, dan itu direspons cepat oleh Muhammadiyah”. Ia mengharapkan rintisan kerja sama ini bisa diikuti dengan agenda aksi yang bermanfaat bagi PT Indonesia.

Kunjungan akan berlangsung hingga Sabtu 18/11/2017

Sumber : ESH

MSPP Batch II di Buka Kembali

Di tahun 2017 ini, Muhammadiyah Scholarship Preparation Program (MSPP) kembali diselenggarakan untuk Batch II yang merupakan program kerjasama antara Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang), Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah dan LazisMu. Tak jauh berbeda dengan Batch I, nantinya akan terpilih 25 kader Muhammadiyah untuk mengikuti program Pelatihan Bahasa Inggris di Pare, Kediri (Jawa Timur) selama 3 bulan. Selain Pelatihan Bahasa Inggris, para peserta terpilih juga akan mendapatkan pembinaan untuk mempersiapkan studi lanjutan baik di jenjang S2 maupun S3. Selama mengikuti program ini, peserta akan mendapat sejumlah fasilitas, yaitu Pelatihan Bahasa, Tes IELTS, Sertifikat,  Biaya Hidup dan Akomodasi.

Terdapat 2 tahapan seleksi, yaitu Administrasi dan Wawancara. Untuk seleksi Administrasi, pendaftaran dibuka hingga 23 Desember 2017 mendatang. Bagi Anda yang ingin mendaftar bisa mengunduh Booklet MSPP Batch II 2017/2018 disini (klik). Sementara untuk seleksi Wawancara akan diinfokan lebih lanjut. Jika terdapat pertanyaan bisa menghubungi CP melalui WA/SMS: 085868634866 (Syifa) atau 089696936462 (Majelis Diktilitbang)

Dongkrak Penelitian Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Adakan Workshop

Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Workshop Peningkatan Kinerja Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah (PTA)  pada tanggal 28 hingga 30 September 2017 di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Sebagai informasi, peserta yang hadir dalam workshop ini adalah 108 orang dari 55 PTMA yang belum masuk klaster.

Khudzaifah Dimyati, anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan bahwa saat ini dari 175 PTMA, yang sudah memiliki klaster yakni 84 PTMA.

“Oleh karena itu, dengan adanya workshop ini diharapkan bisa memberi pengetahuan kepada PTMA di daerah-daerah agar bisa mendorong PTMA untuk minimal bisa masuk klaster binaan,” ucap Dimyati ketika ditemui pada pembukaan workshop Kamis (28/9).

Kemudian Chairil Anwar, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan bahwa agenda ini juga didasari oleh nilai Catur Dharma PTMA yakni penelitian dan pengabdian.

Menurutnya, saat ini pihak pemerintah melalui Kemenristekdikti mulai fokus pada LPPM.

“Saat ini PTMA yang sudah mampu menjalankan LPPM dengan baik yakni UM Malang, UM Magelang, UM Metro, UM Surakarta dan Universitas Ahmad Dahlan, semoga PTMA yang lain bisa segera menyusul,” ujarnya.

Lebih lanjut Chairil mengungkapkan bahwa usaha untuk meningkatkan penelitian ini juga akan mendorong peningkatan nilai publikasi Indonesia. Saat ini di wilayah Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat ke-empat. Sehingga melalui workshop ini diharapkan dapat menjadi awal pengetahuan untuk bisa turut serta melakukan penelitian untuk kemudian bisa dipublikasi.

“Setiap prodi dapat mengembangkan penelitian dan penelitian bisa dibuat sebuah karya tulis untuk kemudian dijadikan publikasi. Sehingga para tenaga pendidik di PTMA diharapkan bisa melakukan penelitian,” pungkas Chairil. (nisa)

 

Lokakarya AIK Pascasarjana

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) merupakan muatan lokal yang bersifat wajib bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah/’Aisyiah (PTMA). Dalam Visi Pengembangan PTM 2015-2020 disebutkan bahwa “berkembangnya fungsi Pendidikan Tinggi Muhammadiyah yang berbasis al-Islam dan Kemuhammadiyahan, holistik-integratif, bertatakelola baik, serta berdaya saing dan berkeunggulan.” Sedangkan dalam Pasal 1 ayat (4) Pedoman PTM disebutkan dua fungsi PTM, yaitu sebagai centre of excellence dan driving force kegiatan dakwah dan tajdid Muhammadiyah.

Kedua dokumen ini menunjukkan bahwa bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah basis seluruh kegiatan akademik dan non-akademik di kampus PTMA. Di samping memikul tanggung jawab ideologis dan dakwah, pengelolaan AIK harus dilakukan secara professional, programatis, dan sesuai prinsip-prinsip good university governance, sehingga diharapkan akan dapat menghasilkan lulusan yang cerdas dan berakhlak mulia, mampu mengembangkan dan menerapkan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS) sesuai dengan ajaran Islam dan bermanfaat untuk umat Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan.

Untuk itu didakannya lokakarya AIK Pascasarjana. Acara ini dihardiri 32 peserta dari 18 PTMA se Indonesia dan dilaksanakan selama dua hari 23-24 Agustus di Hotel Santika Jakarta yang menjadi Tuan Rumah adalah UHAMKA. Dari 18 PTMA tersebut yang hadir Rektor, Direktur pascasarajana dan Dosen AIK.

Dari setiap kampus masing-masing bercerita tentang AIK pasca bagi yang sudah memberlakukan sebelumnya antara lain dari UMS, ataupun UHAMKA. Harapannya setelah adanya lokakarya ini dapat terusmuskan irama, metode dan keselarasan AIK di Prodi Pascasarjana untuk kedepan.

AIK sudah diterapkan di Prodi D3 ataupun S1 namun belum diberlakukan di Prodi Pasca. Nantinya akan diberlakukan di semua prodi mengingat AIK termaktub dalam catur darma PTMA. Irama, konsep dan goalnya juga akan berbeda dari AIK yang diberlakukan di D3 ataupun S1. Untuk jumlah sksnya juga baru di godok dalam lokakarya AIK Pascasarjana, Pungkas Sayuti Sekjend Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.

 

Pendampingan Peningkatan Akreditasi PTMA

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan Pendampingan Persiapan Visitasi Akreditasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) di Hotel Arjuna Yogyakarta pada 4-6 Agustus 2017.

Dijelaskan Edy Suandi Hamid, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah kegiatan ini dikhususkan untuk persiapan visitasi akreditasi AIPT agar kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah semakin baik.

“Kita memiliki kredo unggul, berdaya saing dan berkemajuan. Tentu butuh upaya yang luar biasa untuk mewujudkannya, kita harus bersinergi anatara Pimpinan Pusat dan PTMA,” ujar Edy dalam pidato pembukaan acara.

Sebagai informasi, acara yang dihadiri oleh perwakilan-perwakilan PTMA ini terdiri dari 54 orang, baik dari sekolah tinggi, akademik, politeknik dan universitas Muhammadiyah.

Lebih lanjut Edy mengatakan bahwa peserta pada acara ini adalah perguruan-perguruan tinggi yang sudah mengajukan penilaian akreditasi kepada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), sehingga diharapkan persiapan yang dilakukan oleh PTMA dapat berjalan maksimal.

“Kita di sini melakukan persiapan bersama-sama, di akhir juga akan ada simulasi visitasi agar PTMA memiliki gambaran yang jelas untuk visitasi dari BAN PT,” tambahnya.

Edy berharap dari kegiatan ini Muhammadiyah akan semakin maju dalam menyerukan dakwah bidang pendidikan serta terus membaktikan diri untuk negeri melalui jalur pendidikan. (nisa)

Diktilitbang PP Muhammadiyah Adakan Pelatihan Audit Mutu Internal Bagi PTMA

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Workshop Nasional Penyusunan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Pelatihan Auditor Mutu Internal (AMI) bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah (PTA). Acara tersebut dimulai sejak tanggal 17 hingga 19 April 2017 bertempat di Hotel Horison Yogyakarta. Dibuka langsung oleh Edy Suandi Hamid, Wakil Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah.

Disampaikan Munawar Khalil tim asistensi Diktilitbang PP Muhammadiyah tujuan diadakannya pelatihan SPMI dan AMI tersebut agar masing-masing PTM dan PTA dapat melakukan audit mutu internal sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan.

“Audit internal selain sebagai keharusan konstitusi, juga sebagai acuan dari sistem manajemen PTM dan PTA,” terang Munawar, Selasa (18/4).

Selain itu, melalui kegiatan tersebut peserta diharapkan dapat memahami bagaimana manajemen audit dan metode audit. “Peserta diharapkan juga dapat membuat rubrikasi audit dan daftar pertanyaan audit,” ucap Munawar.

Munawar berharap, karena audit internal merupakan keharusan konstitusi, maka harapannya setelah pelatihan ini peserta sudah dapat mencantumkan audit mutu internal dalam kalender akademiknya.

“Jika dilihat sudah ada PTM yang melakukan AMI, namun masih ada juga  PTM yang belum melakukan AMI. Tapi jika dilihat progresnya, kedepan akan ada komitmen dari peserta untuk komitmen dalam melakukan AMI,” pungkas Munawar.

Kegiatan Pelatihan AMI tersebut terbagi atas tiga regional, regional 1 terdiri dari wilayah DIY dan Jawa Tengah, regional 2 terdiri dari wilayah Sumatera, Kalimantan, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, sedangkan regional 3 yaitu Wilayah Indonesia Timur. (adam)

Tingkatkan Akreditasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dari B ke A, Majelis Diktilitbang Kembali Gelar Workshop di Surabaya

Setelah Palembang dan Jakarta, Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar Workshop Nasional Persiapan dan Pembekalan AIPT dari B ke A yang digelar Rabu-Kamis (8-9/3) di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), di Kota Surabaya.

Workshop ini diikuti oleh 23 peserta dari 9 Perguruan Tinggi Muhammadiyah, diantaranya UM surabaya, UM Jember, UM Gresik,UM Makassar, UM Parepare, UM Ponorogo, UM Pontianak, UM Sidoarjo. Bertindak sebagai pembicara dalam pelatihan tersebut Prof Edy Suandi Hamid, Daniel Fernadez, dan Budi Akbar.

Dalam sambutanya Rektor UM Surabaya, Sukadiono mengatakan terima kasih sudah mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah, UM Surabaya siap mendukung untuk melaksanakan AIPT B ke A pada tahun 2020 sesuai dengan renstra UM Surabaya.

“Beberapa program akselerasi AIPT telah kami siapkan baik SDM maupun Infrastruktur, dalam SDM tahun ini akan mengirimkan dosen untuk studi lanjut ke S3 minimal 2 orang per-prodi, selain prasarana sudah disiapkan mulai dari kelengkapan laboratorium, perpustakaan dan unit penunjang lainya dengan dibangunnya gedung At Tauhid Tower 13 lantai”, kata Sukadiono.

Dalam kesempatan yang sama Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, mengatakan perkembangan PTM saat ini cukup menggembirakan, semua PTM telah melakukan transformasi menjadi PTM yang unggul.

“Peran Diktilitbang saat ini sangat dibutuhkan dan terus mengawal dan melakukan pendampingan menuju AIPT A,” ujarnya. (dzar)