PANDANGAN bahwa bangsa Indonesia adalah model ideal masyarakat yang toleran ditolak oleh program officer The Asia Foundation Dr Budhy Munawwar Rahman. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Refleksi Akhir Tahun Keberagamaan Bangsa 2013 yang diadakan oleh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di ruang teater UMM Dome, Sabtu (7/12).

Mantan Direktur Yayasan Paramadina ini mencontohkan bahwa sepanjang tahun 2013 masih banyak terjadi sikap tidak toleran yang berujung pada kekerasan secara fisik, misalnya fenomena Ahmadiyah di Cikeusik, Syiah di Sampang, Gereja Filadelfia di Bekasi dan Masjid di Ende. “Di tempat-tempat tersebut, hingga saat ini kaum minoritas beragama merasa tidak aman dalam menjalankan ajaran agama yang diyakininya karena terancam kekerasan fisik,” terang Budhy.

Dalam temuan Budhy disebutkan, di tahun 2012 terjadi 371 tindakan kekerasan beragama, dan di tahun 2013 ini, berdasarkan data terakhir, angkanya meningkat. “Jika dikalkulasi, angka tersebut dua kali lipat lebih banyak daripada lima tahun lalu,” papar Budhy.

Selain Budhy, yang juga menjadi pembicara pada sesi tentang kekerasan beragama di tahun 2013 ini adalah ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nasir Msi dan Guru Besar Sosiologi Islam UMM Prof Dr Syamsul Arifin Msi.

Haedar menilai jenis kekerasan agama sulit dihentikan lantaran banyak umat beragama melakukan kekerasan dengan anggapan hal itu merupakan bagian dari ajaran agamanya. “Mereka merasa mewakili Tuhan dan menganggap kekerasan sebagai hal suci,” kata Haedar.

Karena itulah, bagi Syamsul, dalam beragama semangat saja tidak cukup, tapi harus juga dibarengi pengetahuan yang memadai. Syamsul juga berpesan bahwa dalam sikap hidup sehari-hari kita tidak perlu terlalu membeda-bedakan. “Jadi kalau mau nolong orang itu, jangan ditanya agamanya apa,” tandasnya.

Dalam refleksi ini, hadir pula Pembantu Rektor II UMM Drs Fauzan MPd yang menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari evaluasi keberagamaan kita yang selama ini hanya terjebak dalam doktrin. “Percuma jika kita rajin beribadah jika secara sosial justru merusak,” ujarnya. (han)

Sumber : www.umm.ac.id

FAI UMM Refleksikan Kekerasan Beragama Tahun 2013

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *