UMSU Kerja Sama Penelitian Kelor

Jumat (4/9), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melakukan penandatangan nota kesepahaman kerja sama pengembangan dan penelitian tanaman kelor dengan Perusahaan Keloria Sehat. Rektor UMSU Dr Agussani MAP memaparkan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya mengenai pembahasan Keloria. “Kami bukan hanya siap dalam hal penandatanganan MoU ini saja, namun kami siap terhadap hal-hal yang berkembang untuk dilaksanakan ke depannya sehingga dapat mendukung kegiatan penelitian dan juga pengabdian dosen dan mahasiswa di lingkungan UMSU,” ujarnya.

Fachrul Rozi Lubis MKom selaku direktur Keloria Sehat berharap pelaksanaan MoU ini dapat terjalin dengan baik ke depannya. Lebih lanjut, Fachrul memaparkan mengenai adanya peningkatan kebutuhan negara-negara luar seperti Amerika dan Australia terhadap Keloria. Hal ini membuat kajian dan penelitian mengapa negara-negara tersebut sangat tertarik dengan Keloria harus terus dilakukan.

“Kami berharap melalui kerja sama ini, kita dapat melakukan kajian dan penelitian lebih baik mengenai Keloria. Selain itu, semoga tahun depan kita sudah bisa mengekspor Keloria ke beberapa negara sehingga kerja sama kita ini juga menambah pendapatan di bidang ekonomi,” jelasnya.

Lulusan Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta, Siap Hadapi MEA

Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah didepan mata, Yang bekerja di Indonesia tidak hanya tenaga kerja dari Indonesia, demikian pula sebaliknya. Dengan perkembangan fisik serta di dukung dengan SDM yang mumpunii, STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta (SAY) harus siap menghadapi era MEA. Hal tersebut di ungkapkan oleh Koordinator KOPERTIS Wilayah V DIY, Dr. Ir Bambang Supriyadi, CES., DEA saat wisuda SAY,di auditorium baru SAY, Sabtu (29/8).
Senada dengan hal tersebut, Ketua STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Warsiti, S.Kp.,M.Kep.Sp.Mat, berpesan kepada para lulusan bahwa untuk memenangkan persaingan di era MEA, para lulusan harus meningkatkan kompetensi, karena ilmu yang sekarang akan dirasa usang 4-5 tahun mendatang. Dan tingkatkan kemampuan menjadi tenaga kesehatan professional qurani, karena itu yang akan menjadi pembeda dengan lulusan sekolah tinggi kesehatan lainnya.
Lebih lanjut Warsiti berharap agar para lulusan menjadi pribadi inovatif dan kreatif serta menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah/’Aisyiyah.
Pada wisuda tahun ajaran 2014-2015 ini tercatat jumlah lulusan 681 orang yang terdiri dari program sarjana 124 orang dan diploma 517 serta program profesi ners sejumlah 40 orang. Rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diperoleh adalah 3.32 dan 3.35 untuk program diploma. Rata-rata masa studi tepat waktu adalah 88%. Total jumlah lulusan dengan predikat dengan pujian (cumlaude) adalah 142 (20.8%). (dzar)

Sumber : Stikes Aisyiyah Yogyakarta

PTM Kaji Cetak Biru Gerakan Ekonomi Muhammadiyah

Empat perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) akan mengkaji cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah yang baru saja selesai dirumuskan oleh Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK)PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) pada 5-7 Juni 2015.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan (STIEAD) Jakarta Mukhaer Pakkanna mengatakan, empat PTM tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), STIEAD Jakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Yohyakarta (UMY).

UMM, katanya akan mengkaji makro gerakan ekonomi Muhammadiyah, STIEAD Jakarta mengkaji tentang filosofi pengembangan ekonomi Muhammadiyah sebagai gerakan,?UMS mengkaji tentang pengembangan lembaga keuangan syariah dan?UMY mengkaji pengembangan ekonomi mikro terkait sektor ritel dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Mukhaer Pakkanna sebagai pemimpin sidang rekomendasi mengatakan cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah akan disampaikan dalam acara Muktamar Muhammadiyah di Makasar pada Agustus 2015. Menurutnya, hasil seminar dan lokakarya di UMP-Palembang perlu dikaji secara khusus, untuk itu dalam acara tersebut belum bisa menjadi rekomendasi secara utuh.

“Berhubung waktu muktamar Muhammadiyah sudah berdekatan pada bulan Agustus maka MEK dan Forum Dekan Fakultas Ekonomi PTM-Se Indonesia meminta kepada empat perguruan tinggi tersebut pada tanggal 20 Juni sudah selesai mengkaji hasil rekomendasi cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah,” ujar Mukhaer dalam pernyataan resmi, Ahad (7/6).

Mukhaer memaparkan dalam aspek makro cetak biru ekonomi Muhammadiyah berisikan tentang pengembangan ekonomi Muhammadiyah ‘incorporate’ ekonomi jaringan. Filosofinya adalah bagaimana Muhammadiyah mampu melakukan konsolidasi segala amal usaha Muhammadiyah secara integrasi dalam sistem teknologi modern.

Dengan demikian, lanjutnya, Muhammadiyah akan semakin jelas peran dan fungsinya dalam memberikan kontribusi kepada bangsa terkait pengembangan ekonomi. Sedangkan di aspek mikro, Muhammadiyah membagi dalam dua aspek mikro yakni sifatnya yang keuangan yang berisikan tentang pengembangan lembaga keuangan syariah dan non-keuangan yang berisikan tentang penyusunan pengembangan ritel usaha mikro kecil dan menengah serta kewirausahaan di Muhammadiyah.

“Inilah yang menjadi garis-garis besar dalam perumusan cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh MEK PP Muhammadiyah,” kata Mukhaer.

Sementara Ketua MEK PP Muhammadiyah Syafrudin Anhar menegaskan cetak biru tersebut merupakan hasil pemikiran MEK dan para pakar ekonomi dari dekan fakultas ekonomi Universitas Muhammadiyah se-Indonesia yang mencoba merumuskan agar Muhammadiyah pada abad ke-2 menjadi suatu kekuatan ekonomi yang bisa memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Syafrudin, dengan adanya cetak biru tersebut dapat menjadi barometer bagi Muhammadiyah dalam mengembangkan kegiatan ekonomi umat.? Selain itu dalam isi cetak biru tersebut dalam 10 tahun yang akan datang Muhammadiyah fokus dalam pengembangan sektor riil diantaranya adalah dengan membangun industi otomotif, pariwisata, pangan, kelautan yang disenergikan dengan industri keuangan syariah.

“Dengan adanya cetak biru inilah kami menyakini Muhammadiyah akan tumbuh ribuan pelaku usaha bisnis diberbagai daerah dan memiliki kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi bangsa,” ujar Syafrudin.

Sumber : REPUBLIKA

Pemahaman Masyarakat Indonesia Tentang Ekonomi dan Perbankan Syariah Masih Rendah

Tingkat pemahaman masyarakat Indonesia dalam bidang ekonomi dan perbankan syariah dirasa masih cukup rendah. Terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Padahal, jika dilihat lebih jauh bank-bank syariah yang ada di Indonesia sudah cukup banyak dan memberikan peluang yang cukup bagi masyarakat untuk melakukan transaksi dan peminjaman modal.

Berdasarkan hal itulah, maka Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan Institut Pengurusan dan Penyelidikan Fatwa se-Indonesia (INFAD), Universitas Sains Malaysia (USIM) dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) USA menyelenggarakan International Conference dengan tema Islamic Economics and Financial Inclusion (ICIEFI) 2015. Acara ini digelar selama dua hari, yakni Kamis hingga Jum’at (23-24/4) di ruang sidang utama AR. Fachruddin A lantai 5 Kampus Terpadu UMY.

Dr. Mayusdhi Muqorobin, selaku ketua acara menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu mengembangkan pemikiran tentang hukum islam, salah satunya mengenai ekonomi islam dan perbankan syariah. Selain pemahaman dan pengertian, hal ini dapat memberikan peluang bagi masyarakat untuk dapat mengakses permasalahan-permasalahan keuangan dan pemberdayaan ekonomi, “ jelasnya.

Masyhudi juga menambahkan, selain membahas mengenai pengembangan pemikiran tentang hukum Islam dan ekonomi perbankan syariah kegiatan ini diharapkan kedepannya dapat menjalin kerjasama antara institusi-institusi dalam mengembangkan ekonomi Islam dunia.

Salah satu perkembangan ekonomi dan perbankan syariah yang berkembang sangat pesat adalah waqaf. Perkembangan ini juga didukung dengan besarnya dana waqaf yang terus berkembang, hal ini dipengaruhi karena banyaknya inovasi serta metodologi dalam mengumpulkan dana. “Salah satu alasan dana tersebut terus berkembang yitu melalui waqaf tunai. Tahun-tahun terakhir ini saja uang tunai dilihat sebagai media yang dinamis untuk publik, “ terang Dr. Mohamad bin Abdul Hamid, Ph. D, Islamic University of Malaysia selaku pembicara dalam acara tersebut.

Mohamad menambahkan, bahwa saat ini waqaf menjadi salah satu lembaga penggalangan dana tertua didunia yang bertindak sebagai pembangunan ekonomi muslim di berbagai aspek kehidupan. Pendekatan syariah melalui waqaf ini dapat diimplementasikan untuk penggalangan dana melalui usaha yang dapat memberantas kemiskinan melalui pendidikan, “ tambahnya.

Sistem kerja waqaf ialah dengan menjaring kemitraan yang sejati dan didasari dengan resiko dan keuntungan bersama, “Hal ini dapat dilakukan dengan menggalang dana dan mengembangkan kegiatan pendidikan tinggi. Selain itu dampak sosial dan keuangan memiliki usaha waqaf untuk perguruan tinggi, antara lain yaitu menyelaraskan kerja sama antar pemain, “ paparnya.

Sementara itu, hal berbeda dipaparkan Prof. Dr. Syamsul Anwarm Ketua Majelis Tarjih PP Muhmmadiyah mengatakan, dalam menangani permasalahan kemiskinan di Indonesia khususnya, harusnya masyarakat bisa berpegang pada falsafah Al-Ma’un, sebagaimana yang telah diterapkan oleh Muhammadiyah selama ini. Dalam falsafah Al-Ma’un tersebut, seseorang itu tidak bisa dikatakan menjadi orang baik atau shalih sendiri jika dia tidak bisa menshalihkan orang lain. “Dalam falsafah Al-Ma’un itu kita diajarkan untuk bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Tidak hanya menjadi baik untuk diri sendiri,” jelasnya.

Selain itu, imbuh Prof. Syamsul lagi, dalam upaya pengentasan kemiskinan dan orang-orang fakir itu tidak bisa hanya dilakukan sendiri oleh individu maupun satu kelompok saja. Akan tetapi juga butuh kerjasama dari semua elemen masyarakat. “Pengentasan kemiskinan itu tidak akan berhasil jika hanya dilakukan seorang diri tanpa adanya kerjasama dari orang, kelompok, atau organisasi lain. Karena itu, memang membutuhkan kerjasama dari semuanya. Dan harta yang dimiliki pun akan lebih berkah jika digunakan untuk kebaikan secara bersama-sama” pungkasnya. (Adam/Ica)

Sumber : UMY.AC.ID

Di IBK, Mahasiswa Bisa Langsung Berwirausaha

Banyaknya mahasiswa yang terjun ke dunia bisnis membuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) serius mempersiapkan mahasiswa untuk bisa bersaing. Melalui unit Iptek Berbasis Kewirausahaan (IBK) yang diprakarsai Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM, mahasiswa pun diperkenalkan dengan dunia kerja yang sesungguhnya, mulai dari sempitnya lapangan pekerjaan, intensitas impor, hingga kaitannya dengan nasionalisme ekonomi.

Saat ini, menurut ketua IBK Drs Wiyono MM, persentase enterpreneur di negara lain minimal 2 persen, sedangkan Indonesia masih berada di 1,65 persen. Padahal, Malaysia dan Singapura masing-masing sudah memiliki  5 persen dan 7 persen enterpreneur. Berdasar fakta tersebut, Wiyono mengingatkan perlunya kesadaran mahasiswa untuk bangkit dari keterpurukan. “Salah satunya dengan berwirausaha atau menjadi enterpreneur,” ujar dosen Prodi Manajemen FEB UMM ini.

Selain itu, tambahnya, perlu adanya edukasi pada masyarakat agar memandang kesuksesan seseorang tidak harus dilihat dari pekerjaannya, sementara yang berwirausaha dianggap tidak sukses dan sering dicibir. Hal itu dinilainya membuat mahasiswa enggan berwirausaha.

“Saya kira dukungan masyarakat masih kurang. Perlu advokasi pada masyarakat, termasuk orangtua, karena berwirausaha belum tentu langsung menghasilkan,” terang Wiyono.

Karena itulah, melalui IBK, FEB UMM menyiapkan mahasiswa menjadi enterpreneur yang dapat bersaing. IBK memberikan pelatihan pada seluruh mahasiswa yang bergabung dan ingin berwirausaha.

Lebih dari itu, di UMM, setiap fakultas diharuskan menyertakan mata kuliah kewirausahaan. Mata kuliah ini, kata Wiyono, sekaligus mendukung program Pembantu Rektor (PR) III dan Kementerian Koperasi dalam mewujudkan mahasiswa enterpreneur.

“Pembentukan unit atau komunitas di tingkatan program studi, fakultas, dan universitas seperti IBK dirasa perlu untuk saat ini,” kata Wiyono.

Setiap mahasiswa yang bergabung di IBK mendapatkan pelatihan melalui koperasi Gerakan Usaha Muda (Garuda). Tak hanya itu, IBK pun memberikan pos pelatihan tiap semester untuk lintas fakultas, sehingga seluruh mahasiswa dapat menjadi enterprenuer. (nay/han)

Sumber : UMM.AC.ID

Strategi Kreatif Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Ekonomi (IMM FE) Universitas Ahmad Dahlan  (UAD)  menyelenggarakan  seminar  nasional  dengan  tema  “Strategi  Kreatif Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015” pada   Sabtu,  (28 /3/2015) di auditorium kampus 1.

“Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mengembangkan kualitas akademis civitas FE UAD  pada  khususnya,  serta  menambah  jaringan  dan  kerja sama.  Ini juga merupakan ajang untuk diskusi  dan  sharing  kesiapan Indonesia menghadapi  MEA,”  tutur Dewi Amalia, SE., M.Si., selaku Kaprodi Akuntansi dalam sambutan.

Sebagaimana diketahui, pada KTT ke-21 di Cebu-Filipina tahun 2007, ASEAN telah membulatkan tekad untuk menjadi kawasan yang terintegrasi, seperti termaktub dalam dokumen Cebu Declaration on the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015.

Komunitas ASEAN, sesuai dengan Bali Concord II tahun 2003, terdiri atas 3 pilar, yaitu Komunitas Politik-Keamanan ASEAN (ASEAN Political-Security Community/ASC), Komunitas Ekonomi ASEAN/KEA (ASEAN Economic Community/AEC), dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural  Community/ASCC).  Melalui  kegiatan  ini, para  akademisi  dapat  saling  berdiskusi  dan  berinteraksi  membahas  isu  tersebut.

Selain dosen dan mahasiswa, hadir  pula  Sukarman, S.Si., M.Ec.Dev., M.Sc. yang menjabat sebagai Kasubbid Analisis Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, HR Gonang Djuliastono yang merupakan Kadin DIY, dan RaiRake  Setyawan,  SE.,  Gd Bus., MSA. selaku Dosen  FE  UAD. Mereka bertindak sebagai  pembicara  dalam  seminar tersebut.(doc)

Sumber : UAD.AC.ID