Jusuf Kalla Beri Kuliah Umum di Unisa

Dalam rangka mengadakan Milad ke-28, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) menghadirkan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla sebagai pembicara Kuliah Kebangsaan di Kampus Unisa, Kamis (10/10).

Bertemakan “Mendidik Generasi Unggul Cendikia untuk Kemajuan Bangsa,” kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu mahasiswa tidak hanya pada akademik dan keterampilan namun juga menjadi generasi yang unggul dan memberikan kontribusi dalam menyelesaikan masalah bangsa. “Kegiatan ini sekaligus menyambut mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020,” papar Warsiti.

Dalam pemaparannya, Jusuf Kalla menyebutkan kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari bagaimana sumber daya manusia memanfaatkan teknologi. Mengacu pada negara maju seperti Korea Selatan, Jepang dan Singapura, ia berpendapat ketiga negara tersebut dapat maju dengan semangat masyarakatnya untuk belajar. “Pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan bangsa. Lewat pendidikan, teknologi dihasilkan dan lewat pendidikan, seseorang mampu menciptakan berbagai macam inovasi yang belum terpikirkan sebelumnya,” tutur Jusuf Kalla.

Kembangkan Lembaga Wakaf, ITB-AD Siap Jadi Pusat Pengembangan Wakaf Muhammadiyah

Dalam Kuliah Umum dan Seminar Program Pascasarjana Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) yang bertemakan “Urgensi Gerakan wakaf dan Implementasinya di Muhammadiyah” pada Sabtu (28/09) lalu di Ruang Syahrir Nurut ITB-AD Kampus Ciputat, Dr. Mukhaer Pakkanna selaku Rektor ITB-AD mengatakan pihaknya akan mengembangkan lembaga wakaf yang siap menampung investasi wakaf Muhammadiyah.

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut Prof. Dr. Raditya Sukmana, Ketua Departemen Ekonomi Syariah Universitas Airlangga, serta Dr. Amirsyah Tambunan, Wakil Ketua Majelis Wakaf dan Kehartabendaan Muhammadiyah, dan Wakil Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dikonfirmasi, Mukhaer pada Senin (30/09) mengatakan, “Kami memang akan mengembangkan lembaga wakaf dan besar harapan kami ini akan menjadi percontohan bagi kampus-kampus Muhammadiyah atau amal usaha muhammadiyah lainnya atau dengan kata lain, kami siap menjadi pusat pengembangan investasi wakaf Muhammadiyah,” ujarnya.

Menurut Mukhaer, pengembangan bisnis melalui wakaf khusunya di Muhammadiyah memiliki asset dan potensi yang sangat besar. Hanya saja, wakaf sebagai instrumen keuangan belum mampu dioptimalkan dalam membangun ekonomi umat.

“Kita sangat mengapresiasi gagasan ITB-AD soal pendirian Pusat Pengembangan aset Wakaf Muhammadiyah. Aset dana yang segar ada di perbankan minimal 20 Triliyun milik Muhammadiyah. Sedangkan aset keseluruhan dengan tanah minimal 200 Triliyun. Melalui gagasan ini, ITB-AD menjadi yang pertama Perguruan Tinggi yang concern terhadap pengembangan Wakaf Indonesia,” katanya.