ITB Ahmad Dahlan Bersama MUI Gelar Seminar Ekonomi Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII 2020

Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan Seminar Ekonomi Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII tahun 2020. Bertemakan Arus Baru Ekonomi Indonesia : Problematika, Cita-Cita, dan Strategi Ekonomi Dalam Penguatan Arus Baru Ekonomi Umat Islam di Era Revolusi Industri 4.0. Kegiatan tersebut bertempat di Ruang Syahrir Nurut, ITB-AD Kampus Ciputat pada Senin (20/01).

Dalam pidatonya Dr. H. Anwar Abbas mengatakan, “Hubungan umat Islam dan negara selalu ada masalah, hal ini terjadi karena masih ada ketidakadilan. Umat Islam harus maju, sejahtera, dan kaya. Persoalan hari ini adalah mental, mentality umat Islam harus berubah, umat Islam harus hijrah, jangan bermental karyawan, harus berpikir bagamaina mampu membuka lapangan pekerjaan dengan menjadi entrepreneur, hijrah umat Islam bukan sekedar hijrah dari mekkah ke madinah, bukan secara geografis tapi secara mental. Kenapa umat Islam terbelakang? Karena umat Islam meninggalkan agamanya. Untuk menjadi negara yang maju dan beradab maka umat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak boleh meninggalkan agama dalam setiap aktivitasnya.”

Dalam pemaparannya, Dr. Hendri Saparini mengatakan bahwa Indonesia memiliki permasalahan nasional yang harus segera diselesaikan terlebih lagi soal kesejahteraan dan itu harus menjadi agenda bersama. “Harus ada keberpihakan pemerintah, apa yang selama ini telah dilakukan pemerintah, perlu ada kebijakan-kebijakan keberlanjutan untuk bisa menyelesaikan permasalahan kesejahteraan bagi masyarakat,” terangnya.

Dr. Arif Budimanta menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia harus bertransformasi untuk mewujudkan cita-cita tahun 2045, satu abad Indonesia merdeka. “Saat ini Indonesia telah menjadi negara maju, memiliki pendapatan mencapai Rp. 320 Jt per kapita per tahun, produk domestic bruto (PDB) Indonesia mencapai US$ 7 Triliun dan masuk 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. Momentum kemajuan ekonomi Indonesia sudah ada dan akan terus diupayakan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Arif mengatakan, “Setidaknya ada 5 pilar utama kebijakan transformasi ekonomi yang harus dilakukan. Pertama, optimalisasi pembangunan infrastruktur kedua, minimalisasi ketergantungan terhadap modal asing jangka pendek ketiga, konfigurasi investasi untuk mendukung pertumbuhan. Keempat, penguatan implementasi kebijakan pemerataan ekonomi dan yang terakhir efisiensi pasar tenaga kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).”

Dr. Mukhaer Pakkanna menyampaikan bahwa terjadinya intoleransi dan ketidakadilan karena urusan kesejahteran. Oleh karena itu fakta-fakta ketidakadilan dan intoleransi ekonomi harus diamputasi.

“Sikap intoleran, lazimnya terjadi karena kebijakan yang diproduksi oleh aparatur negara telah bersikap tidak adil bagi bangsanya sendiri. Arus  baru ekonomi Indonesia sesungguhnya mengembalikan rel ekonomi ke habitatnya ekonomi tanpa diskriminasi, tanpa segregasi, tanpa stereotype, tanpa stigma, tanpa favoritisme yaitu ekonomi pancasila,” ujar Mukhaer.

Sementara itu, Azrul Tanjung berharap kegiatan Seminar Ekonomi Pra Kongres Umat Islam Indonesia Ke VII tahun 2020 ini dapat menghasilkan sebuah ide gagasan yang bisa dibawa dalam kongres. Sehingga Kongres Umat Islam Indonesia dapat memberikan masukan kepada pemerintah khususnya presiden. Termasuk mengusung sebuah konsep perekonomian nasional, supaya ekonomi Indonesia tidak lari dari cita-cita Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Pasal 33.

STKIP Muh Babel, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

Guru Harus Siap Hadapi Perubahan Era Disrupsi

Guru Besar Psikologi yang juga putra daerah, Prof Djamaluddin Ancok mengajak guru-guru di Bangka Belitung untuk siap menghadapi perubahan menghadapi era disrupsi. Hal ini disampaikan Djamaluddin Ancok Saat menjadi pembicara seminar pendidikan di Auditorium Lantai 4 STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung, Jumat (17/1) sore.

“Guru, sekolah, perguruan tinggi bahkan negara itu harus inovatif kalau tidak mau hancur, dunia sudah berubah, maka kita juga harus siap menghadapi perubahan itu. Kita harus terus belajar kalau tidak berubah akan ketinggalan zaman,” terangnya. Dikatakan putra kelahiran Menduk Bangka ini bahwa perubahan ini terjadi dalam berbagai hal, bahkan diperkirakan tahun 2040 dunia sudah berubah dimana semua pekerjaan sudah dilakukan secara otomatis, maka saat ini tugas guru adalah menyiapkan generasi masa depan dengan baik.

“Saat ini siswa lebih tau dari kita, digitalisasi dimana-mana kalau kita terlambat maka kita akan ketinggalan,” tandasnya. Maka menjadi guru harus mampu memberikan makna dalam pengajarannya, guru juga harus mampu menjalin kerjasama dengan orang lain dan guru juga harus bisa memberikan motivasi kepada siswanya. “Guru harus bisa memotivasi anak untuk bisa hebat dalam hal apapun, maka guru yang seperti ini akan menjadi guru yang menarik,” tambahnya.

Dikatakan dosen UGM ini bahwa tidak ada anak yang nakal, senakal-nakalnya anak kalau gurunya bisa membimbing maka dia akan menjadi orang hebat. Lebih lanjut ia mengutip hadist yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (bersih), maka guru tidak boleh berburuk sangka kepada siswa. “Jika ada anak yang nakal mungkin saja di rumahnya ada masalah karena tidak ada anak yang nakal maka guru harus selalu berprasangka baik kepada anak,” tandasnya. Dalam kesempatan tersebut juga diputarkan beberapa film yang terkait dengan perubahan yang terjadi di dunia dan film tentang bagaimana perjuangan guru dalam menghadapi anak-anak nakal dalam kelasnya namun kemudian ia sukses mengubah anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang baik.

Seminar ini diselenggarakan oleh PGRI bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Bangka Belitung yang diikuti oleh kurang lebih 500 guru dan dosen dari berbagai daerah di Bangka. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua ADI Babel Asyraf Suryadin, Ketua Dewan Pendidikan Bangka Belitung Prof Bustami Rahman, Ketua PGRI Babel, Kunlistiani dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang Iwansyah dan tokoh-tokoh pendidikan dari berbagai daerah.

Audiensi dengan Kemenkes RI dan MTCC : Galakkan Kampus Sehat

Jumat (30/8), Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menerima kunjungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan Muhamamdiyah Tobacco Control Center (MTCC) di PP Muhammadiyah Cik Ditiro. Kunjungan ini dalam rangka audiensi inisiasi kerja sama Kampus Sehat. Hadir dalam acara Mohammad Adam Jerussalem, S.T., S.H., M.T., Ph.D. (Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ., MPH (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Kemenkes RI),  Wiwi Triani, S.Kp., MKM (Kepala Seksi Gangguan Metabolik, Sub-Direktorat Penyakit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Kemenkes RI), Dr.Masitah Sari Dewi, M.Epid (Staff Subdit Penyakit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Kemenkes RI), Dianita Sugiyo, S.Kep., MHID (Vice Director MTCC), Afriansyah Tanjung, S.H., M.Kn, dan Elvin Lazuardi, S.E.

Latar belakang audiensi ini ialah temuan-temuan dan catatan yang menunjukkan bahwa tingkat kesehatan keluarga di Indonesia masih rendah. Oleh karenanya, Kemenkes ingin bergegas menindaki melalui gerakan Kampus Sehat. “Salah satu turunan gerakan masyarakat sehat yang kita harapkan punya komunitas yang spesifik, yaitu akademik dalam hal ini kampus. Karena di situ adalah wadah-wadah orang intelektual, orang yang tentu dari sisi kecerdasan dan pengetahuan mestinya sudah tidak lagi buta akan informasi-informasi tentang kesehatan,” jelas dr. Fidiansjah.

Dianita Sugiyo  menambahkan bahwa MTCC sendiri sudah mulai menginisiasi gerakan atau program kampus sehat, nyaman, tertib, dan aman (Kampus Senyaman Teman). Ada tujuh kriteria  yang ditetapkan, termasuk salah satunya adalah bagaimana UMY mampu melindungi civitas academica dari bahaya zak adiktif Napza termasuk di dalamnya adalah penggunaan rokok.

Mohammad Adam selaku perwakilan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyambut baik inisiasi ini. “Audiensi ini mengingatkan bagaimana pentingnya menyediakan suatu lingkungan yang sehat bagi civitas academica. Insyaallah akan kami tindak lanjuti, akan kami bawa ke pimpinan untuk dibicarakan lebih lanjut. Minimal untuk tujuan sosialisasi bisa kami berikan surat menginformasikan hal ini ke PTMA yang ada di Indonesia,” pungkasnya.

Leadership Training UM Tasikmalaya: Tekankan Kedisiplinan dan Kekompakan

Dalam rangka meningkatkan potensi kepemimpinan serta sinergi antar jajaran internal kampus, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) menyelenggarakan Leadership Training di Wisma Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (21/08).

Leadership Training bertujuan untuk meningkatkan wawasan baik berkaitan dengan ideologi Muhammadiyah, mengenai kepemimpinan itu sendiri dan berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang kita hadapi,” papar Dr Ahmad Qonit AD MA selaku Rektor UM Tasikmalaya saat membuka acara.

Bekerjasama dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, acara ini iikuti 35 peserta dan diselenggarakan selama tiga hari. “Kegiatan kita 3 hari ini dalam rangka menginisiasi bagaimana tumbuh kekompakan dan disiplin, sehingga kerja kita dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, ” lanjut Ahmad Qonit mengutip pesan dari Prof Lincolin Arsyad.