FKIP UMG Gelar Yudisium Online

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Gresik (FKIP UMG) adakan kegiatan yudisium bagi secara daring, Kamis (27/8).

Bertemakan “Lawan Pandemi dengan Prestasi” Sebanyak 79 calon wisudawan bergelar Sarjana Pendidikan dari tiga program studi yakni prodi Pendidikan Matematika, prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan prodi Pendidikan Guru SD (PGSD).

Dekan FKIP UMG, Dr. Sri Uchtiawati, M.Si., mengatakan bahwa kegiatan yudisium ini diikuti oleh calon wisudawan dari rumah mereka sendiri. “Kami hanya mengundang Bapak/Ibu Kaprodi beserta perwakilan dari masing-masing prodi untuk menghadiri kegiatan di Auditorium kampus, namun yang lain mengikuti prosesi melalui Zoom dari rumah masing-masing,” terang Dekan yang akrab disapa Tutik itu.

Strategi Eksistensi PTMA di Tengah Anomali Covid-19

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyelenggarakan Webinar Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah se-Indonesia, Kamis (21/05). Bertemakan “Strategi Eksistensi PTMA di Tengah Anomali Covid-19: antara Ketidakpastian dan Keunggulan” turut hadir Prof. Dr. Haedar Nashir M.Si. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Menko PMK Republik Indonesia, dan Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah sebagai keynote speech.

Dihadiri sekitar 700 partisipan dari seluruh Indonesia, webinar ini turut menyajikan Best Pratice pengalaman 6 PTMA mengenai strategi penanggulangan Covid-19. Turut hadir Dr. Mubarak, M.Si. Rektor UM Riau, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P. Rektor UM Yogyakarta, Dr. H. Hidayatulloh, M.Si. Rektor UM Sidoarjo, Prof. Dr. Bambang Setiaji Rektor UM Kalimantan Timur, Dr. H. Jamaluddin Ahmad, M.Si. Rektor UM Sidenreng Rappang, dan Dr. Rustamadji, M.Si. Rektor Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong.

“Covid-19 ini tidak tahu kapan berakhirnya, namun kita harus siap menghadapi segala macam kemungkinan dan perubahan. Muhammadiyah terutama PTMA harus bergerak lebih dahulu,” tutur Prof Lincolin mengawali keynote speech. Lebih lanjut, Prof Lincolin kemudian menyebutkan strategi penting yang harus dipertimbangkan untuk keberlangsungan PTMA, berkaca dari Covid-19 ini. Beberapa di antaranya ialah melakukan konsolidasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, penguatan PJJ, meningkatkan sarana prasarana, serta meninjau kembali prodi-prodi yang kurang kompetitif. “Karena di masa yang akan datang kita memerlukan tenaga manusia yang berkualitas dan sesuai kebutuhan zaman,” paparnya.

Sementara itu, Prof Muhadjir Effendy melihat Covid-19 secara tidak langsung mengarahkan seluruh lini untuk terbiasa dengan pola hidup era 4.0. “Upayakan PTMA dengan saling berkolaborasi seluruh Indonesia untuk secepat mungkin mengadopsi pola pembelajaran di era 4.0,” paparnya. PTMA juga perlu menggali paradigma mengenai mahasiswa yang sudah memiliki keterampilan pekerjaan agar mahasiswa dapat menjadi employe yang dapat diandalkan. “Hal yang penting pula, PTMA jangan sampai mengabaikan prodi keagamaan bahkan prodi ini harus memiliki keterampilan ganda agar tidak hanya menggantungkan job-nya pada profesi tertentu saja,” pesannya.

Keadaan saat ini menurut Prof Haedar Nashir juga mewajibkan Pimpinan PTMA untuk meningatkan kembali modal sosial yang dimiliki. Perlu adanya etos organisasi, etos kemodernan, dan social trust yang terus dikedepankan melalui pintu Amal Usaha Muhammadiyah. Hal ini dapat menjadi jalan keluar bersama jika dilakukan dengan mengedepankan etos kepemimpinan dan menghilangkan etos kekuasaan. “Manusia itu bisa berubah, karena harta dan kekuasaan maka puasa mengajarkan kita menjadi insan agar kita tau batas. Ini perlu diajarkan pada Leadership PTMA,” tutupnya. []APR, GTA

PTMA Salurkan Dana Miliaran Lawan Covid-19

“Watak dasar PTM adalah catur dharma, yang terdiri dari pendidikan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat serta Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK), yang menjadi misi dasar PTMA untuk tergerak membantu masyarakat pasca musibah covid-19 ini,” papar Muhammad Sayuti selaku Sekretaris Majelis Diktilitbang PPM saat diwawancarai via telepon, Rabu (29/04).

Musibah Covid-19 memang telah melumpuhkan banyak sendi kehidupan masyarakat diseluruh Indonesia. Sehingga banyak PTMA yang turut melakukan penanggulangan dari sisi pencegahan dan meminimalisir dampaknya. Hingga berita ini dipublikasikan, kontribusi PTMA dalam penanggulangan Covid-19 sudah mencapai 78,69 M dengan total penerimaan manfaat mencapai 393.864 jiwa di seluruh Indonesia (sumber data: Media Center Muhamamdiyah Covid-19 Comand Center).

Sayuti menambahkan, jumlah yang terkumpul baru melibatkan 32 PTMA dari jumlah keseluruhan 166 PTMA di seluruh Indonesia. “Kami menerima laporan dari para rektor yang turut memberikan bantuan namun belum dilaporkan ke MCCC,” ujarnya. Adapun sumber biaya yang terkumpul berasal dari anggaran biaya pengabdian masyarakat kampus yang dialihkan untuk penanggulangan Covid-19, adanya dana infaq dosen dan karyawan, mitra bank, dan donasi lain yang tidak mengikat.

Sayuti mengharapkan agar PTMA terus mengedepankan solidaritas dan spirit Al Ma’un untuk membantu dalam memecahkan problem masyarakat. Selain itu, dari sisi pencatatan atau pendataan PTMA harus membangun tradisi tidak hanya beramal namun juga didata. “Agar PTMA tidak hanya mengambil peran namun dapat menjadi inspirasi pula bagi yang lain,” tegasnya.

Diakhir ia memaparkan bahwa Majelis Diktilitbang bersama 166 PTMA adalah bagian yang tidak terpisahkan dari MCCC, karena itu Muhammadiyah tidak pernah berhenti untuk beramal shaleh dan berkomitmen untuk terus melebarkan kiprah dakwah ini. “Ada 2 hal yang perlu dilakukan kedepannya yaitu, riset masyarakat yang terdampak, dan kedua adalah publikasi misi kita untuk beramal sholeh dan mengabdi ke masyarakat,” tutupnya melalui Press Conference MCCC di PP Muhammadiyah Cikditiro, (29/04).

Peduli Krisis, APIK PTMA Rilis Buku Krisis Komunikasi dalam Pandemi Covid-19

“Buku ini ditulis oleh para akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari Medan sampai Maluku Utara, sehingga memberikan perspektif persoalan yang terjadi di berbagai daerah.” Berikut papar editor buku, Fajar Junaedi saat menjelaskan buku yang dirilis Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APIK PTMA).

Berjudul “Krisis Komunikasi dalam Pandemi Covid-19”, buku ini diprakarsai oleh 44 penulis yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “Penulis memberikan pemaparan yang terjadi di daerah dengan pembahasan mengenai pandemi Covid-19 dalam perspektif Ilmu Komunikasi,” papar dosen Ilmu Komunikasi UMY ini.

Fajarjun juga menambahkan buku dengan tebal 288 halaman ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu pertama mengeksplorasi tentang perlunya aktualisasi komunikasi, baik secara teori, riset dan praktek, dalam menghadapi pandemi.

Bagian kedua mengangkat tentang persoalan komunikasi publik yang dilakukan pemerintah kala menghadapi Corona Covid-19. Kegagapan pemerintah pusat mengelola komunikasi publik justru menambah kepanikan masyarakat.

Bagian terakhir membahas tentang relasi media dan publik dalam informasi Corona Covid-19, baik media massa maupun media sosial yang ditulis berdasarkan riset dan konseptual.

Penerbitan buku ini mendapatkan dukungan dari program studi Ilmu Komunikasi di UM Sumatra Utara, UM Maluku Utara, UM Buton, UM Ponorogo, UM Cirebon, UM Surakarta, UM Malang, UM Bandung, UM Jakarta, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, dan UM Yogyakarta.

Ketua umum APIK PTMA, Muhammad Himawan menyatakan bahwa keseluruhan hasil penjualan buku akan disumbangkan kepada Lazismu sebagai donasi untuk membantu tenaga medis dan masyarakat yang terkena dampak Covid-19.

“Bahkan editor dan para penulis pun tidak mendapatkan royalti dan harus membeli sebagai bentuk donasi,” jelasnya. Untuk Pemesanan buku dapat melalui WA 087734608747.

Antisipasi Covid-19, UM Purwokerto Ajak Masyarakat Hidup Sehat

Wabah kasus virus corona (Covid-19) akhir-akhir ini menjadi isu yang ramai diperbincangkan. Pasalnya, pekan lalu Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan bahwa virus ini telah menjangkit dua warga Indonesia. Begitu papar Dr Jebul Suroso sekaligus menjelaskan langkah dan panduan pencegahan penyakit tersebut.

Selaku Wakil Rektor Bidang Akademik ia mengajak masyarakat untuk cegah virus Corona dengan gerakan masyarakat hidup sehat. Baginya menjaga gizi seimbang, rajin olahraga dan istirahat cukup menjadi ikhtiar yang harus dibiasakan. “Gunakan masker bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam dan makan makanan yang dimasak sempurna dan jangan makan daging dari hewan yang berpotensi menularkan. Bila demam dan sesak nafas segera ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Akademisi Fakultas Ilmu Kesehatan juga menghimbau untuk sering mencuci tangan dengan sabun (menyediakan hand sanitizer/alcohol based hand rub/tissue basah), mengkonsumsi makanan sehat dan bersih agar lebih meningkatkan daya tahan tubuh, serta meminimalkan kegiatan di keramaian yang kurang diperlukan. Selain itu, adanya ketentuan petugas kebersihan untuk terus membersihkan tempat-tempat yang sering diakses publik.

Diakhir ia menegaskan agar Keluarga Besar UM Purwokerto dapat mencerna edaran berita dari media sosial dengan kritis. “Perlunya kewaspadaan terhadap Covid-19 dengan menyebarkan informasi atau literasi kesehatan dari sumber resmi dan terpercaya, tanpa menimbulkan kepanikan,” tutupnya.

Moderasi Jadi Alternatif Radikalisasi

Stigma Radikalisme adalah Fakta Sosial yang Nyata

Mengangkat tema “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan dalam Perspektif Sosiologi” Prof Haedar Nashir mengawali pidatonya dengan pertanyaan mengenai Radikal dan Radikalisme. Bukan hal yang disengaja, ia memaparkan bahwa akhir-akhir ini Indonesia banyak dikaitkan dengan dua istilah tersebut. “Indonesia seolah berada dalam darurat radikalisme, hampir banyak diksi dan kalimat untuk menunjukan Indonesia ada pada situasi Radikal.” Lebihnya, kata radikal tersebut sering disangkut-pautkan dengan agama khususnya Islam.

“Lalu, bagaimana dengan peristiwa di Wamena, pembunuhan 31 pekerja pembangunan jalan di distrik Yigi, Nduga Papua, pembakaran masjid di Tolikara serta gerakan separatis yang mengancam keamanan rakyat dan negara?” pertanyaan ini sontak memaparkan fakta yang mengacu pada pemaparan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu periode 2014-2019, yaitu tindakan tersebut bukan kelompok kriminal biasa, namun kelompok pemberontak.

Awal Mula Lahirnya Radikalisme

Merujuk pada KBBI, pria kelahiran 25 Februari 1958 ini memaparkan tiga arti kata radikal yaitu (1) secara mendasar, (2) amat keras menuntut perubahan, dan (3) maju dalam berpikir dan bertindak. Hal yang menarik, Ketua PP Muhammadiyah ini mencoba mengulik sejarah kelahiran radikalisme yang pertumbuhannya justru di Eropa. Pada 1797 radikal pertama kali muncul pada konteks politik dengan sebutan “reformasi radikal”. “Gerakan radikal dan radikalisme lebih banyak dijumpai dalam kelompok politik,” lanjutnya. Di Indonesia, gerakan komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI) termasuk paham marxisme radikal yang terbilang sangat radikal. Gerakan ini bahkan totaliter dengan menghalalkan segala cara dan menimbulkan berbagai pertentangan konflik keras dalam masyarakat.

Berawal dari tragedi peledakan WTC (World Trade Center), serta adanya peristiwa bom yang kemudian dikenal dengan tindakan terorisme semakin kuat mengangkat fakta sosial mengenai isu radikalisme. Kasus ini kerap memperkuat diksi bahwa radikal dan terorisme sering dikonotasikan dengan kelompok Islam. Kenyataannya memang terdapat kelompok yang bertautan dengan ideologi Islam garis keras. “Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan generalisasi yang membangun cara pandang dan kebijakan bahwa radikalisme itu adalah radikalisme agama. Sehingga sasarannya pun institusi sosial seperti masjid, majelis taklim, dan bagian-bagian dari kelembagaan umat Islam,” tegas Prof Haedar.

Pancasila sebagai Ideologi, Moderasi jadi Alternatif

Hal tersebut menyimpulkan bahwa persoalan mengenai Radikalisme bukanlah persoalan sederhana dan tidak bisa disederhanakan. Prof Haedar menegaskan bahwa radikalisme atasnama apapun dan dilakukan oleh siapapun merupakan persoalan yang sangat merugikan masa depan bangsa dan kehidupan umat manusia. Karenanya, tidak semestinya terdapat ambiguitas, standar ganda, dan melakukan politisi dalam mengkontruksi radikalisme sehingga label radikalisme dan hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu.

“Berlandaskan Pembukaan UUD 1945, Indonesia harus mampu menyelesaikan masalah radikalisme dalam ranah politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan,” ucap Dosen FISIPOL UMY ini. Mengusung kata moderasi, Prof Haedar mencoba memberikan jalan alternatif dari deradikalisasi untuk menghadapi segala bentuk radikalisasme secara moderat.

Berdasarkan pancasila, moderasi Indonesia dan keindonesiaan dapat menjadi pandangan dan orientasi yang perlu diutamakan. Dalam konteks moderasi agama, Prof Haedar mengapresiasi apa yang dilakukan oleh menteri agama pada periode lalu. “Yakni melakukan moderasi Indonesia sebagai arus utama dalam kehidupan bangsa Indonesia kedepan.”

Prof Haedar sangat menyayangkan jika ketakutan terhadap jihadis, khilafah dan lainnya justru menjadi alasan untuk menghapus materi pembelajaran yang terkait dengan jihadis dan khilafah. “Tetap ajarkan jihad dan materi khilafah, namun kita luruskan pemahamannya sebagaimana apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,” lanjutnya.

Karena itu segala bentuk stigma terhadap radikalisme agama termasuk radikalime Islam harus kita sudahi dan tempatkan dalam seluruh mainstream radikalisme. Namun Prof Haedar menegaskan bagi kaum beragama pandangan ini tidak berarti membenarkan radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme, atas nama agama manapun termasuk Islam. Islam tidak membenarkan ekstrimisme dan terorisme dalam bentuk apapun. “Karena Islam menghadirkan agama yang damai untuk seluruh umat semesta,” tutupnya.

Mukernas AFEB PTM di Gorontalo

Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis PTM mengadakan Rakernas  dan Seminar Nasional tentang keuangan syariah di UM Gorontalo, (28-29/11). Acara dibuka oleh Staf Ahli Mendikbud Prof Paulina Panen, dan dihadiri Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PPM Prof Edy Suandi Hamid, Rektor UMGo Isman Yusuf, Ketua AFEB Mukhaer Pakkana, dan diikuti 58 PTMA anggota AFEB. Sehari sebelumnya juga diadakan workshop kurikulum dengan menghadirkan pakar kurikulum Rangga Almahendra.

Dalam kesempatan yang sama diluncurkan juga journal  MIJEB (Muhammdiyah International Journal of Economics and Business) dan informasi tentang penerbitan buku-buku yang ditulis bersama anggota AFEB bekerjasama dengan PT Rajawali sebuah penerbit terkemuka di Indonesia. Dalam sambutannya Rektor UMGo Dr Isman berharap kegiatan ilmiah yang diadakan di UMGo ini bisa lebih menstimulus para dosen UMGo untuk lebih banyak menghasilkan karya-karya akademiknya.

Pengumuman Seleksi Administrasi MSPP Batch III

Berdasarkan hasil penilaian dan seleksi administrasi oleh tim yang dibentuk oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maka kami beritahukan bahwa nama-nama terlampir dinyatakan:

L U L U S  S E L E K S I  A D M I N I S T R A S I

Peserta yang dinyatakan lulus akan diwawancarai melalui telepon antara tanggal 15-21 November 2019. Hal-hal terkait dengan pelaksanaan seleksi wawancara, akan diberitahukan melalui Whatsapp ke nomor handphone peserta yang lulus seleksi berkas administrasi.

Yogyakarta, 11 November 2019

Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

 

Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D.

NBM : 763796

Lampiran:

surat bisa didownlod di sini

Kerja Sama dengan Kemenkes, PTMA Siap Realisasikan Kampus Sehat

Sabtu (2/11), Majelis Diktilitbang PPM bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Kemenkes Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dalam melakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama dan Perjanjian Kerja Sama Program Kampus Sehat. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung program pencegahan dan pengendalian penyakit serta meningkatkan derajat kesehatan di seluruh sivitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah.

Dimulai pada pukul 6.00 WIB, kegiatan ini dibuka dengan senam pagi dan bersepeda keliling kampus bersama Rektor UMY, Dirjen P2 Kemenkes, Ketua Majelis Diktilitbang PPM, Kepala Dinas Kesehatan DIY beserta jajaran dan sivitas akademika UMY.

Dalam sambutannya, Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM menyambut baik kerja sama. “Dengan 166 PTMA harus dikembangkan kerja sama seperti ini. Tidak harus menunggu menjadi besar untuk jadi kampus yang sehat, justru kesahatan itu harus dimulai sejak kecil karena kesehatan itu adalah perilaku yang harus dibiasakan. insyaAllah PTMA lain akan mengikuti program kampus sehat ini, ” paparnya.

Di lokasi yang sama, Dr Ir Gunawan Budiyanto MP selaku Rektor UMY sependapat, “Kementrian kesehatan datang di tempat yang tepat, InsyaAllah UMY menjadi pintu bagi 165 PTMA lainnya. Agar program kampus sehat dan bersih ini bisa diinisiasi di kampus PTMA lainnya.”

Anung Sugihantono M Kes selaku Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI memaparkan guna mewujudkan kampus sehat diperlukan 3 pilar yang harus dilaksanakan. “Yaitu pilar Kebijakan Institusi, Perubahan Perilaku Mahasiswa, dan Pelayanan Kesehatan.”

Pilar pertama pada ranah kebijakan untuk merubah perilaku yang lebih sehat. Pilar kedua yaitu mengupayakan lingkungan lebih sehat dengan menjadikan mahasiswa sebagai bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional, lingkungan fisik yang sehat, psikososial, dan lingkungan pembelajaran yang sehat pula. “Pilar ketiga adalah pelayanan kesehatan dengan pendidikan kesehatan, screening, ciptakan lingkungan sehat,” lanjutnya.

Diakhir, Anung berpesan agar mempertemukan 166 PTMA lainnya dengan Dinas Kesehatan di daerah setempat. “Agar program ini dapat kita kelola bersama mendukung kampus sehat untuk melahirkan pemimpin negara di masa yang akan datang,” tutupnya.

Setelah melakukan penandatanganan MoU dan MoA, acara dilanjutkan dengan Launching Kampus Sehat, Kampus Senyaman Taman dengan Parameter Green Campus, Smoke Free Campus, Ramah Disabilitas, dan Halalan Thoyyiban oleh Dirjen, dan Rektor UMY.

Selain senam dan jalan sehat, turut diadakan cek kesehatan, sarapan sehat bersama serta pembagian secara gratis botol, alat kampanye green campus berupa kotak makan, tumblr dan tas sebagai alternatif mengurangi pemakaian plastik.

Pembukaan Rakornas Bidang Akademik dan AIK PTMA

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan Rapat Koordinasi Nasional Bidang Akademik dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) PTMA di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Jumat (18/10). Dibuka langsung oleh Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM, kegiatan ini diadakan selama tiga hari dari Jumat sampai Minggu (18-20/10).

Turut hadir membuka acara Prof Haedar Nasir selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah, pimpinan dan pengurus Majelis Diktilitbang PPM, Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah dan Pimpinan PTA, serta Narasumber dan Undangan Khusus yang kesuluruhannya mencapai kurang lebih 300 peserta.

Pada sambutannya Prof Haedar Nashir menjelaskan bahwa karakter Muhammadiyah adalah pendidikan islam modern yang mengintegrasikan antara iman dan kemajuan. Oleh sebab itu, PTMA harus mampu mencerdaskan pikiran bangsa dengan mengeluarkan pemikiran alternatif yang dapat menjadi solusi.

Prof Lincolin menambahkan, sebagai PTMA harus menerapkan akhlatul kharimah, yang terdiri dari tata kelolanya, transparannya, SDM dan recruitment yang sesuai dengan kompetensi. “Kalau PTMA sehat, insyaAllah persyarikatan kita sehat. Kalau PTMA sakit saya tidak menjamin persyarikatan kita sehat,” tutupnya.