Gottingen University German Pelajari Muhammadiyah Lebih Dalam

Sabtu, (07/09)-PP Muhammadiyah menerima kunjugan dari delegasi Gottingen University German bertempat di PP Muhammadiyah Cik Ditiro. Ahmad Muttaqin selaku perwakilan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyampaikan adanya kunjugan ini bertujuan untuk menambah wawasan lebih dalam mengenai Islam melalui Muhammadiyah. “Program ini untuk mengenalkan pada mereka bahwa islam tidak hanya model dan versi yang muncul di Timor Tengah. Mereka belajar lebih dalam mengenai wawasan Islam ala Muhamamdiyah, Sejarah Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah dan kontribusi Muhammadiyah terhadap negara,” paparnya.

Muttaqin menambahkan, kunjugan diikuti secara antusias oleh peserta yang terdiri dari sembilan orang tersebut. “Ada sesi tanya jawab mengenai agama islam hingga program apa saja yang sudah dilakukan Muhammadiyah, dan mereka sangat antusias,” lanjutnya.

Delegasi Gottingen University German ini sebelumnya sudah melakukan kunjugan serupa di UIN Sunan Kalijaga. Rencananya, kunjugan akan berlangsung selama satu minggu dimulai pada tanggal 4 September hingga 11 September 2019.

Tiga Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Goes to Australia

Tiga dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Bojonegoro, Gombong dan Ciamis lolos dalam seleksi penerimaan beasiswa Program Retooling Kompetensi Pendidikan Tinggi Vokasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Perguruan Tinggi.

Sebanyak 30 peserta dari Indonesia yang mendapatkan beasiswa program retooling dosen vokasi dalam bidang health and community service. Tiga diantaranya dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yaitu Afriza Umami dari Stikes Muhammadiyah Bojonegoro (kanan), Ike Mardiati Agustin dari Stikes Muhammadiyah Gombong (kiri) dan Andan Firmansyah dari Stikes Muhammadiyah Ciamis (tengah).

Program retooling ini dilakukan dalam rangka meningkatan kapasitas dan kapabilitas dosen pendidikan tinggi vokasi agar relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri sebagai upaya menjawab tantangan kebutuhan penyediaan lulusan perguruan tinggi yang mampu bersaing di pasar kerja internasional.

Kegiatan retooling dosen vokasi dilaksanakan di Kangan Institute dan Bendigo TAFE selama bulan Juli sampai Oktober 2019. Kegiatan disetiap minggunya selain materi dan observasi akan dilaksanakan visit ke beberapa kampus besar dan ternama seperti Victoria University, Melbourne University, La Trobe University dan kampus di Essendon.

Kegiatan retooling ini juga memberikan fasilitas bagi peserta untuk turun langsung dan mengobservasi di beberapa rumah sakit, baik rumah sakit umum diantaranya Royal Melbourne Hospital, western Hospital, Royal Park Hospital, St Vincen’t Hospital dan rumah sakit swasta diantaranya Brunswick Private, North Park Private Hospital, Knox Private Hospital. Diakhir pertemuan akan dilaksanakan assessment bagi seluruh peserta retooling.

Harapannya kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kapabilitas dosen dalam bidang health and community service, meningkatkan kualitas institusi sekolah tinggi muhammadiyah dalam persiapan menghadapi globalisasi, dan meningkatkan daya saing lulusan dalam mendapatkan pekerjaan secara global.

AIK? Jangan Sekedar Teori

“Terdapat empat nilai Islam progresif yaitu berpikir logis, aktif memperbaiki diri, bekerja keras, dan meyakini kemampuan diri . Diskusi ini bertujuan untuk melihat pengaruh empat nilai tersebut kepada mahasiswa melalui AIK,” ujar Anisia Kumala Masyhadi saat menjelaskan hasil penelitiannya dalam forum diskusi berkala tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, di PP Muhammadiyah Cik Ditiro pekan lalu.

Lebih jelasnya Anisia menjelaskan rumusan masalah penelitiannya merujuk pada tiga pertanyaan yaitu apakah keyakinan pada nilai-nilai Islam progresif berpengaruh pada inisiatif pertumbuhan diri mahasiswa PTM? Bagaimana profil nilai Islam progresif mahasiswa PTM, adakah nilai tertentu yang mendorong mereka untuk melakukan perbaikan diri?. “Dan yang terakhir darimana atau dari siapa mahasiswa PTM memperlajari dan memperoleh nilai-nilai Islam progresif?” tambah Anisia.

Data menunjukan, dari 285 mahasiswa dari seluruh PTMA yang tersebar di Indonesia, 6,4% tercatat memiliki inisiatif pertumbuhan diri atau upaya aktif untuk maju dan berkembang. Hasil ini menyimpulkan, empat nilai islam memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap inisiatif diri mahasiswa di PTMA. “Ada sekian puluh persen yang bukan berasal dari nilai Islam, dan itu berasal dari sumber yang lain,” lanjutnya.

Di antara empat nilai Islam progresif, dua nilai yang berpengaruh yaitu berpikir logis dan memperbaiki diri. Sedangkan dua lainnya tidak memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi diri. Dengan kata lain nilai Islam progresif tidak serta merta menjadi nilai penting bagi pertumbuhan diri mahasiswa. “Ada faktor lain yang berperan di luar empat nilai ini yang tidak tergali melalui penelitian ini,” tegas Anisia.

Jika dilihat dari tokoh yang berperan dalam menanamkan nilai Islam, peran pengajar masih tergolong kecil. Jika diasumsikan, pengajaran keislaman di perguruan tinggi belum optimal menggali dan menanamkan pentingnya nilai dan aktifitas yang berorientasi pada perubahan dan kemajuan. “Sementara dosen mata kuliah agama (AIK) belum berperan secara kuat dalam mengenalkan atau memberi penguatan pada nilai-nilai kemajuan ini.

Adanya fakta ini memunculkan keresahan bagi Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM, ia memandang AIK melalui perspektive kaderisasi. “Saya mengamati, kaderisasi kita relatif lambat, adanya kader yang paripurna masih kurang,” paparnya.

Pengamatannya memunculkan beberapa solusi antara lain upaya untuk meningkatkan potensi kaderisasi seperti melakukan kerjasama dengan Lazismu dan fokus untuk menjadikan asrama PTMA sebagai tempat kaderisasi. “Jangan anggap enteng Aslama, Aslama harus menggunakan kurikulum yang baik dengan berbagai ilmu yang mumpuni pula,” lanjutnya.

Ia menambahkan generasi Muhammadiyah berkemajuan itu harus memperbaiki diri dan meningkatkan keilmuwannya. Karena kader sekarang itu tidak cukup hanya dengan AIK saja, namun harus diimbangi dengan ilmu lainnya. “AIK menjadi pondasi dan ditambah ilmu lainnya sebagai pelengkap,” tutupnya.

Tidak hanya itu, Prof Lincolin juga memberikan penekanan bahwa penanaman nilai AIK harus melibatkan seluruh dosen. Harapannya dosen dapat memberikan pengajaran dengan konsep ethic mainstreaming yang dikenal dengan sebutan meta learning approach. Jangan sampai AIK hanya dipahami sebagai ilmu namun tidak ada afektif dan psikomotoriknya. “Al Maun tidak hanya di tafsirkan, namun bagaimana diamalkannya. Penanaman etika juga diperlukan, hal ini harus dipegang oleh semua dosen,”pesannya.

Sukses 1st Summer Camp FKIK UM Banjarmasin, di Ikuti oleh Benua ASIA sampai Eropa

Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Banjarmasin melaksanakan Borneo Global Summer Camp (BGSC) yang pertama. 1st BGSC merupakan summer camp dengan tema Exploring River Culture, tema ini diambil karena sesuai dengan kondisi alam di kota Banjarmasin yang terkenal dengan julukan kota seribu sungai. Dimana kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan pada akhir semester, yang dilaksanakan pada tanggal 25-30 Juli 2019 tadi.

1st BGSC ini diikuti oleh 7 peserta internasional dari berbagai negara yaitu Arab Saudi, Australia, Italia, Thailand dan Flipina. Sedangkan dalam negeri diikuti oleh mahasiswi UM Palembang dan peserta dari tuan rumah sendiri yang berasal dari Kalimantan Selatan, Kalimatan Tengah dan Kalimantan Barat serta Riau.

Lingkup kegiatan ini dikemas dalam bentuk Indoor dan Outdoor. Kegiatan Indoor berupa Talkshow dengan narasumber Internasional oleh Dr. Idris La Terra, BHSc, ND, DipClinAromMed, DipFormChem dengan materi “Health Improvement through Cultural Sensitivity” sedangkan narasummber lokal adalah  Nurul Hidayah.,  menyampaikan tentang “Banjerese People And Their River”. Dekan FKIK M. Syafwani,SKp.,M.Kep.Sp.J mengatakan Talkshow internasional adalah merupakan upaya nyata gerakan internasionalisasi dalam kegiatan civitas akademika, terutama mengasah kemampuan mahasiswa/I berbahasa terutama bahasa Inggris.

 

Jusuf Kalla Resmi Tutup Sidang Tanwir Muhammadiyah ke-51

Sidang Tanwir Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2019 secara resmi ditutup oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) di Balai Semarak Bengkulu pada Minggu (17/02) kemarin.  Sebelumnya, Perhelatan Sidang Tanwir ke-51 ini secara resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo di Universitas Muhammadiyah Bengkulu pada Jumat (15/02).

Pada sidang Tanwir tahun ini telah membahas empat agenda besar yang berkaitan dengan persoalan organisasi, keumatan dan kebangsaan. Dikutip dari Website Suara  Muhammadiyah, Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan bahwa peran Muhammadiyah dapat menjadi organisasi masyarakat yang Muammalah sehingga dapat menjadikan agama sebagai tata nilai dalam kehidupan. Khususnya, peningkatan di sektor pendidikan dan ekonomi.

Masih dari website yang sama, Sudarnoto Abdul Hakim selaku Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Asisten Staf Khusus Presiden RI melalui artikelnya menyatakan dalam konteks pandangan dan sikap Keislaman dan kebangsaan, Muhammadiyah sudah jelas. Ini tercermin dalam konsep Indonesia Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi was Syahadah yang secara terus menerus akan diwujudkan. Muhammadiyah akan tetap menjadi aktor utama dalam kehidupan berbangsa ini, yaitu aktor menggerakkan pencerahan (Tanwir). []APR

Majelis Diktilitbang dan Majelis Dikdasmen Bersinergi Wujudkan Sekolah Unggul

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bersama Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah melakukan pembahasan pendirian “Sekolah Premium” yaitu sekolah yang unggul dalam akademik maupun keagamaan pada Sabtu (16/12) di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan ini untuk kerja sama Majelis Diktilitbang dengan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.

Lincolin Arsyad, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah selalu bergerak untuk mengantar pendidikan Muhammadiyah agar bisa mempertahankan eksistensinya di bidang apapun.

“Kami undang dan kumpulkan sekolah-sekolah Muhammadiyah pilihan untuk berkumpul dan mengorbitkan institusi pendidikan demi menjadikan lembaga yang unggul secara kualitas dan pelayanan, yang kami rancang dengan usulan nama “sekolah premium,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah pilihan itu akan bersanding dan membentuk kerjasama dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah setempat, dengan alasan-alasan yang akan dipertimbangkan.

Ada 8 PTM yang ditunjuk oleh Majelis Diktilitbang, yakni UHAMKA, UMM, UM Makassar, UM Gorontalo, UM Lampung, UM Metro, UM Bengkulu, UM Riau dan STKIP Muhammadiyah Kotabumi.

“Ada dua pendekatan penyelenggaraan sekolah premium ini yaitu, pertama, mendorong dan memfasilitasi sekolah yang sudah ada. Kedua, membangun sekolah baru yang memadai dan berlevel premium,” tambahnya.

Kemudian Bhaedowi, Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah mengatakan, dari beberapa perwakilan wilayah Muhammadiyah se-Indonesia banyak yang berharap besar untuk menetaskan pendidikan yang branded, berkeunggulan dan memiliki ciri khas.

“Kami juga berharap bisa membentuk sekolah yang punya nilai deferansiasi dan marketable. Deferensiasi yang berbasis pada keunggulan dan benar-benar ditopang oleh komitmen yang kokoh yang diimbangi dengan manajemen dan sumber daya manusia yang kompeten,” katanya.

Harapannya, dengan ditunjuknya beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk ikut bekerjasama melakukan pembinaan secara sinergis ini, bisa mendorong peningkatan kualitas sekolah-sekolah Muhammadiyah supaya dapat meraih prestasi unggul baik secara akademik maupun non akademik. (nisa)

 

MSPP Batch II di Buka Kembali

Di tahun 2017 ini, Muhammadiyah Scholarship Preparation Program (MSPP) kembali diselenggarakan untuk Batch II yang merupakan program kerjasama antara Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang), Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah dan LazisMu. Tak jauh berbeda dengan Batch I, nantinya akan terpilih 25 kader Muhammadiyah untuk mengikuti program Pelatihan Bahasa Inggris di Pare, Kediri (Jawa Timur) selama 3 bulan. Selain Pelatihan Bahasa Inggris, para peserta terpilih juga akan mendapatkan pembinaan untuk mempersiapkan studi lanjutan baik di jenjang S2 maupun S3. Selama mengikuti program ini, peserta akan mendapat sejumlah fasilitas, yaitu Pelatihan Bahasa, Tes IELTS, Sertifikat,  Biaya Hidup dan Akomodasi.

Terdapat 2 tahapan seleksi, yaitu Administrasi dan Wawancara. Untuk seleksi Administrasi, pendaftaran dibuka hingga 23 Desember 2017 mendatang. Bagi Anda yang ingin mendaftar bisa mengunduh Booklet MSPP Batch II 2017/2018 disini (klik). Sementara untuk seleksi Wawancara akan diinfokan lebih lanjut. Jika terdapat pertanyaan bisa menghubungi CP melalui WA/SMS: 085868634866 (Syifa) atau 089696936462 (Majelis Diktilitbang)

Universitas Muhammadiyah Bandung Siap Memajukan Peradaban

Acara peletakan batu pertama ini, turut dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nasir, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Intan Ahmad, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti Nada Marsudi, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Lincholin Arsyad.

Haedar mengatakan melalui pembangunan gedung yang memiliki luas bangunan 47.932 m2 ini merupakan komitmen Muhammadiyah dalam mewujudkan kemajuan peradaban.

“Muhammadiyah selalu punya elan vital untuk berbuat yang terbaik buat masyarakat, lewat RS, sekolah, dan berbagai macam dakwah yang sifatnya bil hal,” ucap Haedar.

Muhammadiyah, lanjut Haedar, ingin bangsa ini dapat menjadi bangsa yang unggul, dan menjadi bangsa yang tidak terlalu banyak retorika. “Namun kenyataannya kita kalah saing, tidak kuat SDM, dan tidak punya tonggak-tonggak kemajuan,” imbuh Haedar.

Sementara itu, Menristekdikti Mohamad Nasir berharap Universitas Muhammadiyah Bandung menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dan bisa menggerakkan pembangunan perekonomian Indonesia dimasa depan.

Nasir mengatakan bahwa dalam pembangunan pendidikan di Indonesia kita harus memperhatikan 12 pilar inovasi dalam ‘Global Competitiveness Index‘, karena inovasi yang dihasilkan dari kegiatan riset membuat perguruan tinggi dapat bersaing di tingkat nasional dan Internasional.

“Selain itu, mutu dan kualitas Institusi Pendidikan Tinggi menjadi faktor utama untuk pembangunan Institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia agar menjadi lebih baik.

,Jangan segan-segan melihat situasi yang ada, UM Bandung harus memanfatkaan peluang yang ada”

Nasir juga mengapresiasi rencana pembangunan kampus dengan arsitektur futuristik sehingga diharapkan mahasiswa dapat bangga belajar di kampus yang modern ini.

“UM Bandung harus mengambil inovasai, dan sangat tepat UM Bandung mengambil visi islamic technopreneur university, maka inilah terobosan yang baru,” pungkas Nashir.

Rektor Universitas Muhammadiyah Suyatno mengatakan hadirnya Universitas Muhammadiyah Bandung, merupakan bagian dari kontribusi Muhammadiyah untuk Indonesia yang berkemajuan melalui pencerdasan kehidupan bangsa, khususnya bagi SDM di Propinsi Jawa Barat.

“Kami  Universitas Muhammadiyah berkomitmen dan berintegritas, akan membangun Universitas yang baik untuk perkembangan Pendidikan di Indonesia dengan penekanan pada pengembangan wirausaha dan ekonomi pembangunan, kampus technopreneur ” tutur Suyatno.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar “Universitas Muhammadiyah Bandung harus menjadi perguruan tinggi yang berstandar sesuai dengan kebutuhan abad 21, sehingga dapat bersaing di era globalisasi saat ini,” pungkas Deddy.(Adam/AW)

 

UM Jakarta Jalin Kerja Sama dengan 4 Kampus di Inggris

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Syaiful Bakhri melakukan kunjungan kerjasama ke empat kampus di Inggris. Syaiful Bakhri mengatakan bahwa kunjungan ini merupakan upaya kerjasama dalam peningkatan mutu akademik universitas yang dilakukan secara bersama-sama oleh PTM agar PTM bisa maju bersama dalam internasionalisasi kampusnya.

Kunjungan dilakukan bersama dengan Majelis Diktilitbang PP. Muhammadiyah dan 28 pimpinan Universitas Muhammadiyah lainnya. Kunjungan yang dilakukan tanggal 11-14 September 2017 bertujuan untuk menjalin kerjasama dengan empat universitas ternama di Inggris, yaitu Coventry University (ranking 20 di UK), De Montfort University (kerjasama dalam bidang kesehatan dan hukum bisnis), Westminster University (kerjasama dalam bidang Tehnik, Hukum Politik dan Kesehatan), Oxfort University (ranking 6 dunia dan tertua di UK).

Oxfort University memiliki jumlah mahasiswa sebanyak 22 juta dari 70 Fakultas. Mahasiswa barunya berjumlah 22 ribu setiap semester. Kampus ini kuat sekali di bidang filsafat. Kemudian Harper Adams University (keunggulannya dalam bidang Agroteknologi). Setiap kunjungan ke kampus mitra kerjasama, Rektor UMJ dan pimpinan beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) lainnya menandatangani Perjanjian Kerjasama (MoU), dan membuka jalan untuk studi lanjut Master dan Doktor serta joint riset, dan publikasi ilmiah bersama.

Kunjungan diakhiri dengan undangan silaturrahim dari duta besar Indonesia di Inggris Rizal Sukma. Kunjungan kerja ini dinilai bermanfaat bagi proses kemajuan UMJ dan PTM lainnya menuju internasionalisasi universitas dengan dibukanya jendela dinamisasi keilmuan di Inggris.

Setelah dari Inggris, kunjungan berikutnya selama dua hari ke Prancis yang akan melakukan kerjasama dengan Sorbonne University. Hari berikutnya ke Belgia, dan Belanda dengan tujuan kerjasama Leiden University. Kunjungan akan berakhir tanggal 20 September 2017.

Sementara itu Ketua Majelis Diktilitbang PP. Muhammadiyah Lincolin Arsyad menekankan kepada para pimpinan PTM akan perlunya menjalin kerjasama dengan universitas di luar negeri. “Selain untuk menambah wawasan juga untuk mempromosikan kampus kita di dunia internasional agar lebih dikenal, yang pada akhirnya akan berdampak pada meningkatnya reputasi universitas,” kata dia.

republika.co.id

Tingkatkan Mutu Pendidikan, STIEAD Jakarta Gandeng Empat Perguruan Tinggi di Inggris

Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Mukhaer Pakkanna, lakukan kunjungan ke beberapa universitas di Inggris pada Senin (11/9). Tak tanggung-tanggung, empat kampus sekaligus didatangi dan digandeng untuk bekerjasama dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.

Tidak sendiri, lawatannya ke Negeri Ratu Elizabeth ini, Mukhaer Pakkanna didampingi oleh ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Lincolin Arsyad beserta Wakil Diktilitbang PP Muhammadiyah Edy Suandi Hamid.

“Kunjungan dan pertemuan yang kami lakukan lebih mengarah pada kerjasama pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan,” kata Mukhaer yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AFEB PTM) melalui keterangan resminya pada Senin (11/09).

Ada empat MOU atau Nota Kesepahaman yang ditandatangi Mukhaer di Inggris, yakni kerja sama dengan Coventry UniversityDe Monfort University, Adam Helpers University, dan Birmingham University.

Penandatanganan MoU pertama dilakukan Mukhaer dengan Rektor Coventry University, Prof. David Pilsbury. Kampus ini berada di Distrik Kota Coventry, Inggris dengan jumlah mahasiswa sebanyak 32.000 orang.Berikutnya dengan Wakil Pimpinan De Montfort University.  Kampus ini terletak di Distrik Kota Leicester, Inggris dengan mahasiswa berjumlah 27.000 orang. Selanjutnya, disusul penandatangan MOU dengan dua kampus lagi yaitu Adam Helpers University, dan Birmingham University.

“Semoga kerjasama ini akan berlanjut untuk program-program seperti scholarship, research collaboration, lecture visit, student exchange. Bagi dosen dan mahasiswa, siapkan diri untuk internationalization university,” pungkas Mukhaer. (Syifa)