Gottingen University German Pelajari Muhammadiyah Lebih Dalam

Sabtu, (07/09)-PP Muhammadiyah menerima kunjugan dari delegasi Gottingen University German bertempat di PP Muhammadiyah Cik Ditiro. Ahmad Muttaqin selaku perwakilan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyampaikan adanya kunjugan ini bertujuan untuk menambah wawasan lebih dalam mengenai Islam melalui Muhammadiyah. “Program ini untuk mengenalkan pada mereka bahwa islam tidak hanya model dan versi yang muncul di Timor Tengah. Mereka belajar lebih dalam mengenai wawasan Islam ala Muhamamdiyah, Sejarah Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah dan kontribusi Muhammadiyah terhadap negara,” paparnya.

Muttaqin menambahkan, kunjugan diikuti secara antusias oleh peserta yang terdiri dari sembilan orang tersebut. “Ada sesi tanya jawab mengenai agama islam hingga program apa saja yang sudah dilakukan Muhammadiyah, dan mereka sangat antusias,” lanjutnya.

Delegasi Gottingen University German ini sebelumnya sudah melakukan kunjugan serupa di UIN Sunan Kalijaga. Rencananya, kunjugan akan berlangsung selama satu minggu dimulai pada tanggal 4 September hingga 11 September 2019.

AIK? Jangan Sekedar Teori

“Terdapat empat nilai Islam progresif yaitu berpikir logis, aktif memperbaiki diri, bekerja keras, dan meyakini kemampuan diri . Diskusi ini bertujuan untuk melihat pengaruh empat nilai tersebut kepada mahasiswa melalui AIK,” ujar Anisia Kumala Masyhadi saat menjelaskan hasil penelitiannya dalam forum diskusi berkala tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, di PP Muhammadiyah Cik Ditiro pekan lalu.

Lebih jelasnya Anisia menjelaskan rumusan masalah penelitiannya merujuk pada tiga pertanyaan yaitu apakah keyakinan pada nilai-nilai Islam progresif berpengaruh pada inisiatif pertumbuhan diri mahasiswa PTM? Bagaimana profil nilai Islam progresif mahasiswa PTM, adakah nilai tertentu yang mendorong mereka untuk melakukan perbaikan diri?. “Dan yang terakhir darimana atau dari siapa mahasiswa PTM memperlajari dan memperoleh nilai-nilai Islam progresif?” tambah Anisia.

Data menunjukan, dari 285 mahasiswa dari seluruh PTMA yang tersebar di Indonesia, 6,4% tercatat memiliki inisiatif pertumbuhan diri atau upaya aktif untuk maju dan berkembang. Hasil ini menyimpulkan, empat nilai islam memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap inisiatif diri mahasiswa di PTMA. “Ada sekian puluh persen yang bukan berasal dari nilai Islam, dan itu berasal dari sumber yang lain,” lanjutnya.

Di antara empat nilai Islam progresif, dua nilai yang berpengaruh yaitu berpikir logis dan memperbaiki diri. Sedangkan dua lainnya tidak memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi diri. Dengan kata lain nilai Islam progresif tidak serta merta menjadi nilai penting bagi pertumbuhan diri mahasiswa. “Ada faktor lain yang berperan di luar empat nilai ini yang tidak tergali melalui penelitian ini,” tegas Anisia.

Jika dilihat dari tokoh yang berperan dalam menanamkan nilai Islam, peran pengajar masih tergolong kecil. Jika diasumsikan, pengajaran keislaman di perguruan tinggi belum optimal menggali dan menanamkan pentingnya nilai dan aktifitas yang berorientasi pada perubahan dan kemajuan. “Sementara dosen mata kuliah agama (AIK) belum berperan secara kuat dalam mengenalkan atau memberi penguatan pada nilai-nilai kemajuan ini.

Adanya fakta ini memunculkan keresahan bagi Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM, ia memandang AIK melalui perspektive kaderisasi. “Saya mengamati, kaderisasi kita relatif lambat, adanya kader yang paripurna masih kurang,” paparnya.

Pengamatannya memunculkan beberapa solusi antara lain upaya untuk meningkatkan potensi kaderisasi seperti melakukan kerjasama dengan Lazismu dan fokus untuk menjadikan asrama PTMA sebagai tempat kaderisasi. “Jangan anggap enteng Aslama, Aslama harus menggunakan kurikulum yang baik dengan berbagai ilmu yang mumpuni pula,” lanjutnya.

Ia menambahkan generasi Muhammadiyah berkemajuan itu harus memperbaiki diri dan meningkatkan keilmuwannya. Karena kader sekarang itu tidak cukup hanya dengan AIK saja, namun harus diimbangi dengan ilmu lainnya. “AIK menjadi pondasi dan ditambah ilmu lainnya sebagai pelengkap,” tutupnya.

Tidak hanya itu, Prof Lincolin juga memberikan penekanan bahwa penanaman nilai AIK harus melibatkan seluruh dosen. Harapannya dosen dapat memberikan pengajaran dengan konsep ethic mainstreaming yang dikenal dengan sebutan meta learning approach. Jangan sampai AIK hanya dipahami sebagai ilmu namun tidak ada afektif dan psikomotoriknya. “Al Maun tidak hanya di tafsirkan, namun bagaimana diamalkannya. Penanaman etika juga diperlukan, hal ini harus dipegang oleh semua dosen,”pesannya.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Simbol Toleransi di Timur Indonesia

Toleransi secara otentik diterapkan Muhammadiyah, termasuk di Indonesia timur. Tidak tanggung-tanggung, enam Perguruan Tinggi Muhammadiyah berdiri di Indonesia timur, dengan mahasiswa yang sebagian besar merupakan non-Muslim.

Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah, Muhammad Sayuti menuturkan, memang menjadi kebijakan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk memberi perhatian ke daerah terluar, terdepan dan tertinggal. Termasuk, daerah yang Muslimnya minoritas agar mendapat perhatian dalam konteks dawkawh.

Implikasinya, Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di kantong-kantorng non-Muslim menjadi perhatian, mengingat ada setidaknya enam PTM dengan rata-rata memiliki 70-80 persen mahasiswa non-Muslim. Terdapat empat PTM di Papua dan dua di Nusa Tenggara Timur (NTT).

PTM itu Universitas Muhammadiyah Sorong, Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Muhammadiyah Sorong, STIKIP Muhammadiyah Manokwari, Sekolah Tinggi Komputer (STIKOM) Muhammadiyah Jayapura, Universitas Muhammadiyah Kupang dan IKIP Muhammadiyah Maumere.

Hebatnya, di kampus-kampus itu mereka yang sebagian besar beragama Protestan dan Katolik, memiliki kepercayaan yang sangat besar kepada Muhammadiyah. Padahal, mereka memiliki kewajiban mempelajari Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), yang memberi pemahaman tentang Islam secara benar.

“Itu yang tidak banyak dimuat orang, kita (Muhammadiyah) non-Muslim saja percaya, dan selama kuliah mereka tidak pernah merasa diintimidasi, dan teman-teman dosen tentu melakukan modifikasi mata kuliah Al Islam tersebut,” kata Sayuti saat dihubungi Republika, Rabu (12/7).

Sejumlah model pembelajaran memang diterapkan, terutama untuk AIK, mengingat setiap daerah tentu memiliki kekhasan sendiri. Tapi, penerimaan Muhammadiyah di kantong-kantong Katolik dan Protestan itu berjalan dengan baik, termasuk untuk lagu Sang Surya yang merupakan mars dari Muhammadiyah.

Ditambah anugerah asal rata-rata orang Indonesia timur, bisa dibilang penyanyi-penyanyi terbaik Sang Surya justru berasal dari kampus-kampus tersebut. Di Sorong, sudah pemandangan biasa ada non-Muslim yang memimpin lagu Sang Surya, sehingga menunjukkan lagi bagaimana penerimaan itu sangat baik adanya.

Sumber Republika

PTMA Pusat Keunggulan Muhammadiyah

Pemerintah dewasa ini terus berupaya untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap dunia pendidikan. Karena disadari bahwa ketimpangan infrastruktur pendidi­kan di pelosok nusantara cukup besar. Oleh sebab itu dalam beberapa tahun ke depan pemerintah akan meningkatkan aksesibilitas pendidikan.

Bagi Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, semakin banyak jumlah Perguruan Tinggi (PT) saat ini memang diperlukan. Namun jika mutunya tidak terkendali, maka justru akan mencoreng wajah dunia pendidikan di Indonesia.

“Ini yang menjadi sorotan kami, sekalipun masyarakat membutuhkan aksesibilitas yang tinggi dengan adanya jumlah PT yang mencukupi, namun masyarakat juga layak untuk mendapat PT de­ngan mutu yang terjamin,” kata Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof Edy Suandi Hamid di Yogyakarta, Rabu (12/7).

Pandangan yang ia sampaikan berkaitan dengan potret aktual dari dunia PT di Indonesia selama ini. Dari sini, ia percaya diri bahwa Perguruan Tinggi Muhammadi­yah Aisyiyah (PTMA) berhasil menjadi acuan bagi pembuatan regulasi terkait PT di Indonesia. “Acuan itu terkait orientasi pada kualitas dibanding kuantitas,” ujar Edy menambahkan.

Meskipun demikian, pria yang juga guru besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) itu tak menampik, kuantitas merupakan unsur yang penting. Namun sebelum membicarakan kuantitas, alangkah baiknya hal itu juga dibarengi dengan ada­nya capacity building, sehingga menghasilkan PT yang berkualitas.

Ia mengatakan, begitu banyaknya jumlah PT di Indonesia dimana saat ini jumlahnya cenderung tidak terkendali,  akhirnya menyadarkan pemerintah untuk kemudian menerapkan moratorium terbatas. Dengan adanya moratorium terbatas itu, maka perizinan pendirian PT untuk be­berapa program studi di beberapa wilayah menjadi tak semudah sebelumnya.

“Muhammadiyah telah menerapkan pembatasan pendirian Perguruan Tinggi Muhammadi­yah Aisyiyah (PTMA) ini jauh sebelum kebijakan pemerintah yang mulai diterapkan pada awal tahun ini,” ucapnya.

Gambaran ini menunju­kkan, lanjut Edy, Muhammadiyah lebih dahulu menyadari bahwa peningkatan kualitas adalah sebu­ah keniscayaan. Hal tersebut juga dibuktikan melalui realisasi dari visi dan misi PTMA menjadi PT dan program studi yang unggul. Tak mengherankan, lanjut dia, kini yayasan yang memiliki jumlah institusi PT terbanyak di dunia itu telah berhasil menelurkan empat PTMA (UMY, UMM, UHAMKA, dan UMS) dengan Akreditasi A dan 85 Pro­di dengan Akreditasi A.

Meskipun begitu, ia juga menyadari dari sisi kuantitas, jumlah PTMA relatif stagnan. Bahkan, secara kelembagaan maupun jum­lah mahasiswa, terjadi penurunan dari sisi market share.  “Ini bukan disebabkan oleh penurunan jum­lah PTMA atau jumlah maha­sis­wa, melainkan karena pertumbu­han PTMA jumlahnya dibawah angka pertumbuhan nasional,” ucap Edy.

Namun secara substansi, ia mengklaim bahwa PTMA memiliki kualitas yang relatif lebih baik dibandingkan kebanyakan PTS ‘perorangan’, terutama PTS yang terdapat di daerah-daerah. Apalagi, dari semua PTMA, jumlah institusi yang telah terakreditasi sudah lebih dari 48 persen. Sementara PTS lain masih berkisar di angka 20 persen.

Dari sini Edy pun optimistis bahwa PTMA bukanlah pemain pinggiran, karena PTMA dapat ber­main di kelas menengah dan kelas atas. Bahkan, terdapat PTMA yang kualitasnya lebih ung­gul dibanding Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Beberapa keunggulan berhasil diraih oleh PTMA karena adanya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Indikatornya terlihat dari jumlah guru besar atau pang­kat fungsionalnya, serta jenjang pendidikan akademik dari staf pengajar atau dosen. “Hal itu juga didukung dengan hasil riset dan publikasi yang berkualitas,” katanya.

Tak hanya itu, seluruh keunggulan yang dimiliki PTMA juga didukung oleh sarana dan prasa­rana pendidikan yang baik serta proses belajar mengajar yang terstruktur, baik serta disiplin. Selu­ruh indi­kator itu tentu memiliki kontribusi dalam melahirkan lu­lusan yang unggul baik dari sisi akademis, keterampilan serta karakter.

Menurutnya, indikator-indikator itulah yang membuat PTMA berhasil mendapatkan kepercayaan publik dan membuatnya men­jadi pilihan bagi para calon maha­siswa.

Oleh karena itu, ia pun sangat sepakat dengan adanya morato­rium pendirian PT. Karena, lanjut Edy, meski kuantitas penting sebagai organisasi dakwah, namun kualitas jauh lebih penting sehing­ga PT mampu hadir sesuai dengan kebu­tuhan masyarakat dan dapat memberikan manfaat yang optimal.

“PTMA hadir bukan sekedar ada, namun hadir untuk berkontribusi dalam melahirkan insan cerdas, percaya diri dan berakhlak mulia,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa masyarakat tak perlu khawatir akan adanya intoleransi atau radikalisme dalam PTMA, karena, visi PTMA dalam memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta keterampilan  untuk pembangunan dan masyarakat Indonesia dilakukan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.

Sumber Republika

PTMA Fokus Kualitas dan Internasionalisasi

Generasi berkemajuan adalah salah satu tagline yang diusung oleh Muhammadiyah. Salah satu cara untuk mewujudkannya pun direalisasikan melalui optimalisasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA).

Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Lincolin Àrsyad mengatakan, ke depannya, PTMA akan terus berupaya dan  berkomitmen untuk meningkatkan kualitas PTMA agar ter­cipta PTMA yang kuat, berdaya saing dan berkema­juan. “Kuat dalam arti, pertama memiliki kualitas dan kecu­ku­pan SDM yang tinggi,” ujarnya kepada Republika, Rabu (12/7).

Untuk mewujudkan strategi tersebut dijabarkan melalui  program pendidikan lanjut sampai S3 dan kegiatan penelitian. Sehingga, SDM yang akan mengenyam studi lanjut ke luar negeri dapat  dipersiapkan kemampuan bahasa asingnya lewat program persiapan untuk mendapatkan beasiswa bekerja sama dengan LAZISMU.

Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan meneliti, lanjut Lincolin,  Majelis pun memberikan bantuan dana penelitian yang cukup memadai bagi para dosen PTMA baik digunakan untuk workshop, penelitian atau penyusunan proposal penelitian.  Selain itu, untuk peningkatan kualitas SDM, staf pengajar pun diberi kesempatan dan bantuan untuk ikut seminar di luar negeri.

Langkah selanjutnya, PTMA juga terus menerus me­ngem­bangkan dan menerapkan good university governance terutama di bidang akademik, keuangan, dan pengembangan SDM. “Peningkatan tata kelola akademik kita lakukan salah satunya melalui workshop SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal),” katanya.

Sedangkan untuk tatakelola keuangan dan SDM, Majelis bekerja sama dengan  PTMA yang  besar untuk melakukan pembinaan terhadap PTMA yang masih kecil melalui workshop dan pendampingan penyusunan sistem informasi keuangan dan SDM yang terpadu.

Program konsolidasi

Selain itu, strategi lain yang juga dilakukan adalah dengan secara terus menerus mendorong PTMA untuk melengkapi, menyempurnakan, dan meningkatkan kualitas sarana belajar mengajar.

Kemudian, agar dapat mewujudkan PTMA yang berdaya saing, Majelis pun mendorong dan membina agar PTMA mampu mengembangkan distingsinya atau keunikan ter­sendiri. Ia optimistis, jika PTMA dapat memiliki keunikan atau kekhasan di bidang keilmuan tertentu, maka otomatis hal ini membuat PTMA menjadi lebih unggul dibanding PT lain. “Dengan memiliki distingsi, maka PTMA mampu me­masuki ceruk pasar yang tidak tersentuh oleh PT lain,” kata dia.

Lincolin berjanji akan terus mendorong terwujudnya PTMA yang berkemajuan. Sehingga PTMA harus memperbaiki diri, berinovasi, mencerdaskan, mencerahkan, dan  rahmatan lil alamiin.

Program penting lain yang dilakukan Majelis saat ini adalah program konsolidasi. Hal ini dilakukan melalui beberapa langkah, pertama Majelis mendorong beberapa PTMA kecil untuk bergabung atau merger agar lebih kuat.

“Langkah ini pun sangat diapresiasi oleh Menteri Ristekdikti ketika kami beraudiensi beberapa waktu yang lalu. Langkah ini sesuai dengan arah kebijakan pemerintah,” ucap pria yang juga  Guru Besar Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM).

Langkah kedua, lanjutnya, dilakukan melalui konsolidasi antara PTMA besar. Di sini Majelis mendorong PTMA besar untuk bekerja sama mengembangkan pusat-pusat keung­gulan atau center of excellence di PT-nya masing-masing.

Jejaring internasional

Langkah terakhir, Majelis akan mendorong dan mem­fasilitasi PTMA untuk mengembangkan jejaring internasio­nal (internasionalisasi) melalui pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa dan kuliah kerja nyata (KKN) internasional di beberapa negara seperti Thailand dan Filipina.

Saat ini, total jumlah PTMA di seluruh Indonesia  sebanyak 172 buah, 43 di antaranya adalah universitas. Dari se­mua itu, baru 4 universitas yang terakreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Keempat universitas itu adalah Universitas Muham­madiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, UHAMKA dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sisanya masih terakreditasi B dan C. Majelis juga menargetkan, hingga 2020 nanti, seluruh PTMA yang masih ber­akreditasi C dapat ditingkatkan menjadi berakreditasi B.

Sumber : Republika