STKIP Muh Barru Jalin Kerja Sama dengan UM Sinjai

Jumat (18/9), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah (Muh) Barru menandatangani perjanjian kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Sinjai. Kerja sama disepakati di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan.

Ketua STKIP Muh Barru, Dr. A. Fiptar Abdi Alam, SE, M.Si, menegaskan STKIP Muh Barru akan terus melakukan inovasi dan kegiatan yang bermuara pada peningkatan kualitas dosen dan mahasiswa. “Sebelumnya, kami sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dalam dan luar negeri,” tambah Andi Fiftar.

Pada hari yang sama, dilakukan bimbingan teknis untuk sejumlah dosen kedua perguruan tinggi tersebut. Prof. Dr. Ahmad Nurmandi, M.Sc, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, hadir sebagai narasumber menjelaskan sejumlah program yang membuat sebuah institusi secara mandiri dapat mempersiapkan berbagai hal diperlukan dalam pengembangan menuju universitas. Diharapkan melalui bimbing teknis ini para dosen bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan untuk mengembangkan mutu dan kualitas kampus masing-masing, khususnya STKIP Muhammadiyah Barru yang tengah berproses menuju universitas.

UMGo Gelar Pengambilan Sumpah Ners D-IV Kebidanan

Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo), menggelar Pengambilan Sumpah Lulusan Profesi Ners dan D-IV Kebidan serta Janji Sarjana Keperawatan Tahun Akademik 2019/2020, di Ballroom Grand Sumber Ria, pada Rabu (26/8).

Prof.Dr.Hj.Moon Hidayati Otoluwa,M.Hum selaku WR I menyampaikan pengambilan sumpah kali ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus Covid-19. “Meskipun tidak dihadiri pendamping, fasilitas media sosial, dapat menjadi alternatif pengganti kehadiran pendamping dengan adanya Live streaming di Fb dan Youtobe yang telah disediakan UMGo,” paparnya.

Turut hadir Ketua PWM Provinsi Gorontalo, Ketua BPH UMGo, Ketua DPW PPMI, Ketua IDI, Rohaniawan-rohianiawati, Dosen Keperawatan dan Kebidanan, dan seluruh peserta pengambilan sumpah.

Kunang-kunang, Satu Jejak Kehidupan yang Hilang

Kemanakah kunang-kunang itu perginya? Kisah kunang-kunang malang yang terabaikan dan tergusur oleh sikap dan perilaku egois manusia, sungguh menyedihkan. Bagi orang seperti saya yang tergolong ‘Yesterday People’. Kunang-kunang sungguh begitu memorable karena mereka pernah menghiasi kemeriahan malam-malam kami di kampung yang dulu gelap gulita dikarenakan belum adanya listrik untuk menyinari. Bersama mereka, kami menjalani malam-malam yang romantis. Meskipun terkadang takut juga karena termakan mitos bahwa kunang-kunang berasal dari kuku orang mati. Pada malam-malam tertentu, kunang-kunang hadir begitu meriah mempertontonkan kerlipan cahaya (sebagai efek kerja bioluminescence) dan tidak kenal lelah terbang ke sana ke mari menjadikan malam begitu indah dan terasa megah.

Jika  Rachel Carson menulis sebuah buku yang legendaris: “Silent Spring”, sebagai ungkapan keterkejutan dan kesedihannya menyaksikan alam sekitar yang berubah secara tiba-tiba. Musim semi yang biasanya meriah dan riuh rendah sebagai “lebaran” para binatang sehabis hibernasi di musim dingin yang mencekam,  tapi di pagi musim semi itu justru sangat sepi. Kemanakah gerangan burung-burung, serangga, dan binatang lain perginya secara tiba-tiba? Jawabannya, menyedihkan. Ternyata mereka semua tidak lagi dapat bersuara karena sedang menderita sakit akut, bahkan mati bergelimpangan karena efek berantai penggunaan pestisida yang tidak terkontrol. Jadilah, pagi itu musim semi yang sunyi, dan tersunyi dari musim-musim semi sebelumnya.

Maka, pada konteks yang sama  kita dapat mengambil angle dan perspektif Carson terhadap fenomena menghilangnya kemeriahan bias sinar kunang-kunang di malam hari, sebagai “Blue Night”. Malam yang sendu dan suram. Malam-malam penuh cahaya alam nan natural dan syahdu kini tergantikan cahaya lampu yang gemerlapan dan masif, yang justru disinyalir sebagai salah satu faktor penyebab kepunahan kunang-kunang. Cahaya buatan yang dimaksud para peneliti mencakup pencahayaan langsung, seperti lampu dan papan iklan, serta skyglow yang merupakan pencahayaan pada malam hari yang menyebar dan biasanya tampak lebih terang daripada bulan purnama.

Menurut  sebuah studi, polusi cahaya di samping menganggu bioritme alami kunang-kunang, juga benar-benar mengacaukan ritual kawin kunang-kunang. Banyak kunang-kunang yang bergantung pada kemampuan diri mereka untuk bercahaya dalam mencari dan menarik perhatian pasangan. Lingkungan yang terlalu terang akibat cahaya buatan manusia bisa mengganggu ritual ini. Polusi cahaya bahkan disebut para ahli sebagai ancaman tingkat global paling serius kedua bagi kunang-kunang.

Namun faktor penyebab utama punahnya kunang-kunang adalah hilangnya habitat “special” kunang-kunang, yaitu sebuah habitat alaminya yang harus bebas dari jenis pupuk ataupun pestisida sintetis. Selain itu kunang-kunang menyukai  tempat yang memiliki kelembapan tinggi, cenderung basah, dan hangat seperti hutan basah, rawa-rawa, sepanjang tepian sungai, lahan perkebunan dan lahan tanaman padi. Berdasarkan karakteristik tersebut, kunang-kunang sering dijadikan bio-indikator lingkungan alami dan bersih. Sebab, kunang-kunang merupakan serangga yang sangat sensitif/rentan terhadap degradasi dan pencemaran lingkungan.

Lalu, bagaimana dengan pendapat bahwa kunang-kunang banyak tinggal di kuburan karena berasal dari kuku orang mati? Itu mitos atau fakta? Dua-duanya, kunang-kunang secara  fakta menyukai tinggal di kuburan karena tanah kuburan beberapa tahun lalu adalah tanah yang relatif steril, yang bebas dari penggunaan pupuk organik dan pestisida (bukan karena berkembang biak dari kuku orang mati). Namun seiring perkembangan zaman dengan mudah dan murahnya  membeli pestisida, maka untuk menyiangi rumput-rumput yang tumbuh di pemakaman tidak lagi menggunakan cangkul  tapi pestisida rumput (herbisida). Telur dan larva kunang-kunang pun mati dan terkubur di kuburan manusia.

Di tempat lain pun begitu, malah lebih parah. Hampir semua sawah dan kebun kita kini penuh dengan pupuk sintetetis dan residu kimia pestisida. Saatnya, kita mengucapkan selamat jalan kepada kunang-kunang dari kampung atau pun kota yang kita tinggali seraya meminta maaf atas apa yang telah kita lakukan kepada mereka. Sambil berharap semoga mereka dapat menemukan tempat baru yang lebih homy dan menjamin keberlangsungan kehidupannya.

Penulis : Dr. Achyani, M.Si. (Dosen S2 Pendidikan Biologi UM Metro)

MSPP Batch 3 Resmi Ditutup Secara Daring

Jumat (7/8), Majelis Diktilitbang PPM bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Kader (MPK) PPM dan LAZISMU menyelenggarakan penutupan Muhammadiyah Scholarship Preparation Program (MSPP) batch 3 secara daring. MSPP merupakan program untuk kader Muhammadiyah maupun dosen PTMA dalam mempersiapkan studi ke luar negeri secara intensif. Dalam sambutannya Dr Ari Anshori, MAg, selaku ketua MPK PPM menyampaikan MSPP sebagai salah satu usaha menciptakan kader berkarakter kuat maupun berwawasan Islam. Peserta MSPP dibekali kepemimpinan, perencanaan pembelajaran, dan strategi untuk memperoleh beasiswa di luar negeri.

Hal senada diungkapan Ketua LAZISMU, Prof Hilman Latief. Ia percaya beberapa tahun ke depan para peserta MSPP dapat meraih prestasi yang lebih hebat lagi dan bahkan menjadi pemimpin. Menurutnya program ini tidak hanya mengenai beasiswa tetapi juga tentang kepemimpinan. “MSPP batch sebelumnya sudah menghasilkan alumni-alumni yang berhasil menjadi penerima beasiswa di berbagai benua seperti Eropa, Amerika, Asia, dan sebagainya,” ujar Prof Hilman.

Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM juga mengapresiasi terselanggaranya program MSPP. Program ini terbukti memberikan hasil baik yang nyata bagi Muhammadiyah. Ia berharap ke depannya kuota beasiswa bisa lebih ditingkatkan dari tahun-tahun sebelumnya. Tercatat 24 alumni yang berhasil memperoleh beasiswa luar diantaranya Belanda, Thailand, China, Taiwan, Malaysia, dan beasiswa dalam negeri lainnya.

Pada kesempatan yang sama, kelompok peserta yang melakukan pelatihan intensif di Pare meluncurkan buku testimoni Berjudul lhlam Ma’aya The Garland of MSPP Batch 3 Pare Stories & Memories. Buku dengan kisah dan cerita peserta MSPP ini menjadi investasi penting untuk meningkatkan pendidikan bangsa Indonesia khususnya warta Muhammadiyah. []GTA,APR

UMSU Raih Hibah KBMI Terbanyak

Universitas Muh Sumatera Utara berhasil meraih hibah terbanyak Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia  ( KBMI) Tahun 2020 dari Kementrian Pendidikan & Kebudayaan.

UMSU meloloskan tujuh proposal dalam KBMI dan menjadi yang terbanyak untuk perguruan tinggi di lingkungan LLDikti Wilayah I Sumut, disusul Unimed (4) dan UMA (2) proposal. Untuk tingkat nasional ada sebanyak enam perguruan tinggi yang sama dengan UMSU meloloskan tujuh proposal yakni, Institut Teknologi 10 November, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga Universitas Hasanuddin dan Universitas Mercubuana.

Rektor UMSU, Dr Agussani mengaku bersyukur mahasiswa UMSU mampu meraih prestasi luar biasa karena persaingan untuk meraih hibah KBMI dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang saat ini sangat ketat. “Ajang KBMI sendiri merupakan salah satu kegiatan bergengsi yang diikuti seluruh universitas di Indonesia,” kata Rektor didampingi WR 3, Dr Rudianto dan Ketua Pusat Kewirausahaan, Inovasi dan Inkubator Bisnis (Puskibi), Dewi Andriani di Medan, Minggu (2/8).

Sementara Ketua Puskibi, Dewi Andriani, SE, MM mengatakan, Program Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) adalah wadah bagi mahasiswa mempraktekan ilmu dan keterampilan berwirausaha melalui pemberian modal bisnis dan pendampingan. Program ini bersinergi dengan program-program kewirausahaan yang telah ada seperti: Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaaan (PKMK), Program Belajar Bekerja Terpadu (PBBT), Kuliah Kerja Usaha (KKU) dan program kewirausahaan lainnya.

PTMA Salurkan Dana Miliaran Lawan Covid-19

“Watak dasar PTM adalah catur dharma, yang terdiri dari pendidikan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat serta Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK), yang menjadi misi dasar PTMA untuk tergerak membantu masyarakat pasca musibah covid-19 ini,” papar Muhammad Sayuti selaku Sekretaris Majelis Diktilitbang PPM saat diwawancarai via telepon, Rabu (29/04).

Musibah Covid-19 memang telah melumpuhkan banyak sendi kehidupan masyarakat diseluruh Indonesia. Sehingga banyak PTMA yang turut melakukan penanggulangan dari sisi pencegahan dan meminimalisir dampaknya. Hingga berita ini dipublikasikan, kontribusi PTMA dalam penanggulangan Covid-19 sudah mencapai 78,69 M dengan total penerimaan manfaat mencapai 393.864 jiwa di seluruh Indonesia (sumber data: Media Center Muhamamdiyah Covid-19 Comand Center).

Sayuti menambahkan, jumlah yang terkumpul baru melibatkan 32 PTMA dari jumlah keseluruhan 166 PTMA di seluruh Indonesia. “Kami menerima laporan dari para rektor yang turut memberikan bantuan namun belum dilaporkan ke MCCC,” ujarnya. Adapun sumber biaya yang terkumpul berasal dari anggaran biaya pengabdian masyarakat kampus yang dialihkan untuk penanggulangan Covid-19, adanya dana infaq dosen dan karyawan, mitra bank, dan donasi lain yang tidak mengikat.

Sayuti mengharapkan agar PTMA terus mengedepankan solidaritas dan spirit Al Ma’un untuk membantu dalam memecahkan problem masyarakat. Selain itu, dari sisi pencatatan atau pendataan PTMA harus membangun tradisi tidak hanya beramal namun juga didata. “Agar PTMA tidak hanya mengambil peran namun dapat menjadi inspirasi pula bagi yang lain,” tegasnya.

Diakhir ia memaparkan bahwa Majelis Diktilitbang bersama 166 PTMA adalah bagian yang tidak terpisahkan dari MCCC, karena itu Muhammadiyah tidak pernah berhenti untuk beramal shaleh dan berkomitmen untuk terus melebarkan kiprah dakwah ini. “Ada 2 hal yang perlu dilakukan kedepannya yaitu, riset masyarakat yang terdampak, dan kedua adalah publikasi misi kita untuk beramal sholeh dan mengabdi ke masyarakat,” tutupnya melalui Press Conference MCCC di PP Muhammadiyah Cikditiro, (29/04).

Mahasiswa FKIK UMY Terjun Jadi Relawan Penanganan Covid-19

Sebanyak 24 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY) mengikuti program relawan yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Program relawan ini menawarkan beberapa bidang yang dapat dipilih, yaitu Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE), tracking, screening, dan penanganan pasien. Bersama 15 ribu mahasiswa lainnnya, mereka akan mmembantu pemerintah dalam menangani situasi darurat nasional Covid-19.

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) dr Muhammad Kurniawan MSc mengakui pihak fakultas mendorong mahasiswa untuk mengikuti program relawan tersebut. “Mahasiswa melakukukan pendaftaran sendiri melalui borang  dan kita dari fakultas proaktif melakukan pendampingan dan pendataan,” ujar Kurniawan. Dijelaskan bahwa program ini terbagi menjadi dua bagian. Mahasiswa Strata-1 (S-1) bertugas untuk melakukan KIE. Sedangkan mahasiswa yang menempuh pendidikan profesi akan membantu tenaga medis di fasilitas kesehatan.

Sebelum diterjunkan, para mahasiswa harus menjalani pelatihan dan pendampingan yang diberikan oleh Dirjen Dikti, Kementerian Kesehatan, World Helath Organization (WHO), Perhimpuna Dokter Paru Indonesia, dan narasumber lainnya. Tak hanya itu, relawan juga dijamin akan APD yang sesuai standar, pemenuhan nutrisi, insentif dari Kemendikbud, sertifikat pengabdian kepada masyarakat, serta penyetaraan pembelajaran sebagai bagian dari satuan kredit semester (SKS).

Antisipasi Covid-19, UM Purwokerto Ajak Masyarakat Hidup Sehat

Wabah kasus virus corona (Covid-19) akhir-akhir ini menjadi isu yang ramai diperbincangkan. Pasalnya, pekan lalu Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan bahwa virus ini telah menjangkit dua warga Indonesia. Begitu papar Dr Jebul Suroso sekaligus menjelaskan langkah dan panduan pencegahan penyakit tersebut.

Selaku Wakil Rektor Bidang Akademik ia mengajak masyarakat untuk cegah virus Corona dengan gerakan masyarakat hidup sehat. Baginya menjaga gizi seimbang, rajin olahraga dan istirahat cukup menjadi ikhtiar yang harus dibiasakan. “Gunakan masker bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam dan makan makanan yang dimasak sempurna dan jangan makan daging dari hewan yang berpotensi menularkan. Bila demam dan sesak nafas segera ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Akademisi Fakultas Ilmu Kesehatan juga menghimbau untuk sering mencuci tangan dengan sabun (menyediakan hand sanitizer/alcohol based hand rub/tissue basah), mengkonsumsi makanan sehat dan bersih agar lebih meningkatkan daya tahan tubuh, serta meminimalkan kegiatan di keramaian yang kurang diperlukan. Selain itu, adanya ketentuan petugas kebersihan untuk terus membersihkan tempat-tempat yang sering diakses publik.

Diakhir ia menegaskan agar Keluarga Besar UM Purwokerto dapat mencerna edaran berita dari media sosial dengan kritis. “Perlunya kewaspadaan terhadap Covid-19 dengan menyebarkan informasi atau literasi kesehatan dari sumber resmi dan terpercaya, tanpa menimbulkan kepanikan,” tutupnya.

PTMA Tingkatkan Mutu Akreditasi Unggul

PTM merasa sangat beruntung memiliki Majelis Diktilitbang. Ini tidak dimiliki PTS lain. Ini sangat membantu, karena Majelis bukan hanya memotivasi, melainkan membimbing dan membina PTM-PTM yang ada.
“Oleh karena itu, keberadaan Majelis perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin,” demikian dikemukakan WR 1 Unismuh Makassar Dr. Ir. H. Abdul Rahim Nanda, MT dalam sambutan pada forum ceramah diadakan di Pusdiklat Unismuh, Bollangi, Senin (12/11). Ceramah yang diikuti PTM se-Sulsel dan Pimpinan Unismuh menghadirkan Prof Edy Suandi Hamid sebagai pembicara.
Salah satu contoh yang dikemukakan Dr Rahim adalah tentang akreditasi, yang sangat mendapatkan perhatian dari Majelis. Berbagai pelatihan dan pendampingan dilakukan agar memperoleh akreditasi Unggul.
“Sekarang kami di Unismuh, bergerak cepat. Hari ini pengumuman terakreditasi B, besok team mulai kerja lagi untuk menyiapkan reakreditasi supaya A,” ungkap WR 1 Unismuh ini.
Dalam kaitan persiapan APT Menuju A bagi Unismuh dikatakan, saat ini sudah 9 APS yang A. “Kita menargetkan paling lambat 2022 kita sudah reakreditasi, dan memperoleh akreditasi Unggul,” pungkas Dr Rahim Nanda. []RED

Peningkatan Mutu Adalah Akuntabilitas pada Umat

“Kata kunci SPMI adalah mutu atau kualitas, ketika kita berbicara mutu yang pertama adalah disiplin, termasuk dalam pengajuan APT dan APS, jangan sampai kita terlambat,” papar Prof Edy Suandi Hamid memberikan sambutan pada penutupan Sosialisasi SPMI di Hotel Sahid Raya, Kamis (7/11).

Ia melanjutkan, sebagai simbol mutu, PTMA harus menerapkan kedisiplinan dan tepat waktu. Prinsipnya, PTMA harus dengan serius dalam menyiapkan APT dan APS. Untuk mendapatkan hasil yang paling baik tidak bekerja asal selesai tapi bekerja optimal sesuai dengan daya dukung yang dimiliki. “Kalau kita sudah berdarah darah dan semaksimal mungkin, tapi hasilnya C selanjutnya tawakal to Allah.”

Meningkatkan mutu merupakan bagian dari akuntabilitas PTMA pada umat, yaitu pada masyarakat yang menitipkan anak-anaknya bersekolah di PTMA. Ia berpesan, PTMA harus berjuang keras untuk dapat berikan yang terbaik dengan cara meningkatkan akreditasi. “Jantung kita adalah akreditasi institusi dan program studi. Itu artinya kita berpikir, so what care we do? Apa yang harus kita kerjakan. Semoga kedepannya kita dapat bergerak untuk menuju perguruan tinggi yang unggul,” tutupnya.

Selain sosialisasi SPMI, kegiatan ini juga memfasilitasi PTMA untuk menkonsultasikan LKPT & LED yang disusun telah sesuai dengan Panduan Penyusunan LKPT dan LED IAPT 3.0 di Klinik Pendampingan APT PTMA.