Sembilan Tahun STKIP Muhammadiyah Kuningan

Tepat tanggal 22 Desember 2019 merupakan titik balik Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Kuningan genap berusia sembilan tahun. 22 Desember 2010 yang lalu kampus ini telah didirikan oleh para founding fathers yang memiliki daya juang tinggi bagaimana Muhammadiyah di Kabupaten Kuningan dapat memberikan pencerahan melalui level Pendidikan Tinggi bagi warga Kuningan dan sekitarnya. Momentum strategis ini merupakan masa di mana STKIP Muhammadiyah Kuningan sebagai salah satu dari enam perguruan tinggi di Kabupaten Kuningan, yang ingin terus menebarkan kebermanfaatan bagi umat dalam konteks Pendidikan. Usia sembilan tahun merupakan masa penguatan visi lembaga yang telah dicanangkan sejak awal yaitu menjadi perguruan tinggi yang Islami, unggul dan berdaya saing. Maka di Milad ke-9 ini, visi tersebut semakin diperkuat lagi dengan adanya penyempurnaan konsep yakni menjadi perguruan tinggi yang unggul di bidang pendidikan, teknologi, dan kewirausahaan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam.

Trilogi Pengembangan

Trilogi pengembangan STKIP Muhammadiyah Kuningan yang menekankan pada aspek penguatan Catur Darma perguruan tinggi yang direpresentasikan dalam tagline ‘pendidikan’ merupakan aspek integrasi antara proses pendidikan, penelitian, pengabdian dan Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Integrasi nilai Catur Darma ini harus diiinternalisasi pada civitas akademika STKIP Muhammadiyah Kuningan dalam berpikir, bersikap dan berperilaku. Distingsi STKIP Muhammadiyah Kuningan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Tri Darma perguruan tinggi ini dibungkus dalam nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai penciri Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Penciri tersebut berlandaskan pada Qoidah Muhammadiyah, Matan keyakinan Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dan aturan-aturan lain yang sesuai dengan ketentuan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Muhammadiyah.

Aspek penguatan visi kedua adalah teknologi. Aspek teknologi merupakan aspek penting dalam merespon era disrupsi. Basis teknologi di semua lini telah menjadi salah satu parameter kuat bahwa suatu perkembangan ilmu pengetahuan telah terjadi. Begitu pula dalam konteks Pendidikan, pemanfaatan teknologi menjadi hal yang sangat penting untuk dikolaborasikan. Technology based learning and teaching, technology based learning media, technology based learning services, technology based academic management merupakan implementasi atau teknologi terapan yang dirancang dan dikembangkan oleh STKIP Muhammadiyah Kuningan secara mandiri dalam website www.upmk.ac.id dan sejumlah subdomain lainnya. Teknologi Pendidikan diciptakan untuk memberikan kemudahan akses, penguatan daya nalar mahasiswa, dan stimulasi daya kreativitas mahasiswa dalam memahami potensi maupun preferensi mereka dalam pembelajaran. Teknologi pembelajaran dalam implementasinya dapat tercermin dengan dikembangkannya media pembelajaran maupun sumber belajar dengan basis IT. Sesuai dengan program yang dikembangkan oleh pemerintah, bahwa perkuliahan sudah dapat dilakukan melalui blended learning dan fully online learning. Kedua model pembelajaran di level perguruan tinggi cukup memberikan atmosfer akademik baru bagaimana learning creativity, self-learning, dan self-responsibility mahasiswa terbangun dengan baik. Mereka belajar menggunakan teknologi dengan segala menu pembelajaran lengkap, mereka pun dapat menentukan target pembelajaran, berkompetisi prestasi, dan berkolaborasi dalam menemukan gaya belajar yang disukai oleh mereka. Dalam tataran praktis di STKIP Muhammadiyah Kuningan, penggunaan media pembelajaran berbasis IT dapat terlihat dengan penggunaan sumber belajar dari website, youtube, pengembangan Learning Management System Google Classroom dan sekarang sedang dilakukan pengembangan LMS mandiri yang secara hak cipta akan menjadi milik STKIP Muhammadiyah Kuningan. Dengan demikian, teknologi dalam Pendidikan menjadi aspek prioritas yang dikembangkan oleh STKIP Muhammadiyah Kuningan. 

Aspek penguatan visi ketiga adalah kewirausahaan. Membangun entepreunial university merupakan trend yang akan terus digaungkan oleh STKIP Muhammadiyah Kuningan. Kolaborasi antara aspek akademik dan wirausaha merupakan konsep strategis yang dijadikan program unggulan. Rasionalisasi dari program ini adalah secara statistik, bahwa lulusan FKIP atau STKIP setiap tahun di Kabupaten Kuningan mengalami peningkatan.  Ditambah lagi dengan lulusan dari PTN atau PTS luar Kuningan yang notabene warga Kuningan akan terus bersaing untuk memenangkan peluang mengajar di Kuningan. Sementara peluang mengajar dengan orientasi menjadi PNS sangatlah minim. Oleh karenanya, STKIP Muhammadiyah Kuningan menciptakan program pengembangan wirausaha kepada semua mahasiswa. Menumbuhkembangkan prinsip-prinsip entepreuner merupakan kompetensi dan skill tambahan sebagai penguatan bagai mahasiswa. Karena ketika menjadi guru professional adalah kompetensi utama maka berwirausaha merupakan kompetensi penunjang. Keduanya harus tercipta pada diri semua mahasiswa STKIP Muhammadiyah Kuningan. Sebagai implementasi nyata dari penguatan prinsip-prinsip wirausaha itu, maka STKIP Muhammadiyah Kuningan memiliki Badan Usaha Perguruan Tinggi yang berkewajiban untuk menciptakan inkubasi-inkubasi bisnis yang kelak dapat melahirkan para pengusaha plus akademisi. Program-program terdekat yang mulai digaungkan adalah mini market, koperasi Syariah, Pengelolaan Sampah, digital marketing dan akan terus bermunculan program-program baru sesuai kebutuhan pengembangan potensi mahasiswa.

Dari ketiga aspek penguatan Visi Lembaga yakni Pendidikan, teknologi dan kewirausahaan, maka perlu dirumuskan konsep kolaborasi ketiganya dengan term yang mudah dipahami yakni edutech atau education-technology, edupreuner atau education-entepreunership, dan edureligy atau education-religious oriented. Edutech mencerminkan nilai kolaborasi tridharma dalam implementasinya, edupreuner merupakan kolaborasi prinsisp-prinsip akademisi dan mental wirausaha, sementara edureligy merupakan kolaborasi akademik dan al Islam dan Kemuhammadiyahan. Hal ini menjadi urgen karena semua kegiatan akademik, pengembangan teknologi dan penciptaaan generasi wirausaha harus tetap mengedepankan akhlaq atau moralitas.

Semangat Bersama, Inovasi Berkelanjutan

Tagline pada milad STKIP Muhammadiyah Kuningan adalah semangat bersama, inovasi berkelanjutan. Dua pemikiran besar ini merupakan makna dari kata ‘sembilan’. Sembilan tahun harus menjadikan civitas akademika STKIP Muhammadiyah terus memupuk kebersamaan. Sense of togetherness dalam menumbuhkembangkan kampus merupakan hal esensial yang harus terinternalisasi dalam jiwa dosen, karyawan dan mahasiswa semua. Jika semangat individu diakumulasikan dengan individu lain yang terbentuk dalam komunitas yang besar maka akan mampu memproduksi ide cemerlang untuk kemajuan kampus baik di bidang pendidikan, teknologi maupun kewirausahaan.

Tafsir ‘sembilan’ yang kedua adalah inovasi berkelanjutan. Makna dari inovasi berkelanjutan adalah bahwa di usia yang ke sembilan tahun ini, STKIP Muhammadiyah Kuningan senantiasa memiliki gairah untuk melakukan kebaruan atau inovasi tiada henti sesuai perkembangan zaman. Era perubahan yang masif melalui katalisator teknologi telah menjadikan individu harus bergerak lebih cepat lagi. Gerakan konvensional di lembaga pendidikan tidak akan mampu menjawab kebutuhan publik yang dinamis. Tentu perlu banyak instrumen yang dibutuhkan untuk melakukan akselerasi dan penyeimbangan perubahan ini. Sehingga, pola ide dan kerja yang inovatif dan berkelanjutan akan menjadi jawaban tepat bagi STKIP Muhammadiyah Kuningan di usia sembilan tahun ini.

Bersama dan berinovasi merupakan kolaborasi komitmen dan gagasan. Komitmen besar akan muncul dari hasil kebersamaan. Inovasi akan kuat terimplementasikan jika kebersamaan terjalin serta saling menopang satu sama lain terjadi. Sinergitas dan kolaborasi merupakan esensi ‘bersama’ dalam konteks Milad ke-9 ini. Bersama dalam konteks akademik merupakan menyepadankan gagasan atau ide, mempertemukan interdisipliner maupun multidisipliner antar civitas akademika, dan menyadari keberbedaan dari berbagai hal. Dari semua kekuatan tersebut maka lahirlah kebaruan (inovasi) dalam berpikir dan bertindak, kebaruan dalam program, kebaruan yang menghasilkan improvisasi tentang pola pengembangan lembaga pendidikan tinggi STKIP Muhammadiyah Kuningan.

Semoga di usia yang ke 9 tahun ini, STKIP Muhammadiyah Kuningan akan semakin memberikan kebermanfaatan kepada ummat. Sebesar apapun infrastruktur yang dibangun dan sehebat apapun program yang dicapai jika tidak memberikan dampak manfaat terhadap ummat maka tidak akan bermakna apa-apa. Oleh karenanya, esensi dari perjalanan STKIP Muhammadiyah Kuningan semoga menjadi titik awal untuk terus belajar berkiprah untuk umat yang mencerahkan dan berkemajuan.

Selamat Milad ke-9 STKIP Muhammadiyah Kuningan tercinta.

[Ketua STKIP Muhammadiyah Kuningan, Nanan Abdul Manan]

Dari Bawah, PTMA Tumbuh

Tidak bisa dimungkiri, judul di atas menggambarkan realitas lahirnya 173 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang eksis saat ini. Inisiatif lahirnya PTMA memang bisa datang. Dari PWM, PDM, bahkan PCM, ataupun dari anggota Muhammadiyah yang mengusung gagasannya untuk membuat perguruan tinggi melalui berbagai level “birokrasi” Muhammadiyah yang ada.

Betul, kini pengajuannya oleh PWM dan diproses oleh Majelis Diktilitbang. Namun, asal-muasalnya selalu bottom up, dari akar rumput yang kemudian dikerjakan bersama-sama sehingga menjadi PTMA seperti yang ada sekarang. Dalam sedikit kasus, ada juga PTMA yang pengelolaannya dialihkan dari yayasan lain ke Muhammadiyah. Tetapi, jika ditelusuri lebih lanjut, alur gagasannya pun sama. Asal-muasalnya dari masyarakat yang terpanggil untuk ikut mencerdaskan anak bangsa ini, sebagaimana K.H.A. Dahlan yang sejak sebelum melahirkan Muhammadiyah telah membuat sekolah-sekolah, yang kemudian dari ide itu berkembang ribuan sekolah dan perguruan tinggi di bawah panji Muhammadiyah.

Tetapi, sebetulnya munculnya lembaga pendidikan tinggi dari bawah ini bukan milik Muhammadiyah saja. Banyak PT lain yang juga lahir dengan gagasan dari bawah. Namun, belakangan muncul model-model pembuatan PT yang didesain dari atas: dari para pemodal besar. PT digagas dari atas, dan dalam tempo singkat lahir perguruan tinggi yang tibatiba saja muncul dengan sarana dan prasarana modern, serta dosen-dosen dengan latar belakang pendidikan tinggi yang mapan, seperti S-2 dan S-3 serta para tenaga pengajar yang kompeten dan bergaji besar. Pola big push seperti ini memang mampu melahirkan PT baru dengan cepat, dengan manajemen korporasi modern dan profesional. Ini merupakan pesaing bebas bagi PT-PT yang tumbuh bertahap, gradual, yang tumbuh lebih karena semangat pengabdian seperti PTMA-PTMA.

Itulah yang terjadi pada ranah perguruan tinggi Indonesia saat ini. Persaingan bebas antara PT yang didukung pemodal besar dan PT yang lahir dari bawah, yang menurut Forlap Dikti saat tulisan ini dibuat berjumlah 4.560 buah, dan 4.163 di antaranya adalah PTS. Persaingan keras ini membuat banyak PT kecil megap-megap (terengah-engah), dan hidup seadanya dengan kuantitas mahasiswa dan kualitas yang terbatas.

Bagaimana dengan PTM?

PTM yang tumbuh dari bawah ini umumnya memiliki semangat juang tinggi. Ia sudah terbiasa tumbuh dalam suasana perjuangan keras, bekerja dengan ketulusan dan keikhlasan, sehingga tantangan dan godaan seperti apa pun, umumnya bisa dilewati. Maka, tidak mengherankan jika kita melihat peta perguruan tinggi nasional, kuantitas dan kualitas PTM masih unggul dibandingkan dengan PT lainnya.

Dari sisi kuantitas misalnya, tak ada lembaga atau yayasan lain kecuali pemerintah yang memiliki PT dan mahasiswa sebanyak Muhammadiyah. Dari sisi kualitas, dengan merujuk pada jumlah PT yang terakreditasi dan nilai akreditasinya, PTM di atas rata-rata nasional. Misalnya, saat ini ada lima PTM dan ini akan terus bertambah yang terakreditasi institusi “A”. Sudah sekitar 50% PTM terakreditasi institusi, sementara PT nasional yang belum terakreditasi institusi tidak sampai separuhnya.

Itu membuat kita bangga dan yakin PTM akan terus berkembang. Namun, di tengah persaingan yang kian ketat ini, ghirah dan ketulusan saja tidak cukup. Pengelolaan PTM harus dengan manajemen yang profesional. Profesionalisme yang dipadukan dengan ketulusan dan semangat pengabdian yang tinggi akan membuat PTM menjadi besar, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa PTM seperti Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA dan lain-lainnya.

Kini, masyarakat menuntut PT yang memiliki sarana dan prasrana memadai. Menuntut dosen ber-kualitas. Menuntut teknologi informasi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ini sudah bisa dipenuhi oleh sebagian PTM kita, sehingga posisinya berada jauh di atas rata-rata PTS lainnya dilainnya di tanah air. Namun, profesionalisme juga menuntut kontraprestasi yang layak bagi dosen dan tenaga kependidikannya. Ini tidak boleh dilupakan oleh para pimpinan PTM. Agar bisa tumbuh, unggul, berdaya saing dan berkemajuan, PTM memerlukan sumber daya manusia yang fokus pada kerja utamanya. Agar mereka bisa fokus, bisa menghidup-hidupkan Muhammadiyah, maka kehidupan mereka perlu dijamin lebih baik. Ini harus menjadi perhatian kita semua. Tentu saja, semua itu harus sesuai dengan daya dukung masing-masing PTM.

Tumbuhnya PTM dari akar rumput jelas menjadi aset berharga bagi Persyarikatan Muhammadiyah. Ini masih belum berhenti, dan kita harapkan berlangsung terus sampai akhir zaman. Tidak hanya berkiprah di tanah air, tetapi ladang dakwah Muhammadiyah bisa di mana pun di atas jagad ini. Dan kini, pendidikan Muhammadiyah sudah mulai merintis era baru dengan masuk ke mancanegara. PTM pun akan menuju ke sana. Tetapi sekali lagi, ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengelolaan PTM secara profesional merupakan suatu keniscayaan jika kita ingin menuju ke arah itu.

Menjadi perguruan tinggi bereputasi dunia merupakan cita-cita semua PTM. Reputasi itu dibangun bertahap. Karenanya, PTM di daerah, misalnya, bisa memulai membangun reputasi pada tingkat lokal, dan berkembang pada level regional dan nasional, kemudian pada tingkat global. Dengan semangat dari bawah, dari daerah, kita membawa PTM-PTM menuju tingkat internasional. Insya Allah, barokallah.