Mahasiswa UAD di Thailand : Kami Belajar Menghargai Profesi

Dua mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Magister Farmasi yaitu Noverda Ayuchecaria dan Muhammad Irham telah selesai mengikuti Praktik Klinis (PK) yang dilakukan di Prince of Songkla University (PSU) Thailand. Kepada wartawan, Sabtu (17/1/2015) mereka menceritakan pengalamannya selama 6 minggu (1 November- 13 Desember 2014) berada di salah berbagai tempat di negeri Gajah Putih tersebut.

Menurut mereka, satu hal yang paling mendasar yang bisa dipelajari dari masyarakat di Thailand adalah tentang cara menghargai profesi. Novendra mengatakan jika ahli farmasi di Songklanagarind Hospital di mana dirinya melakukan kerja praktek tidak hanya belajar tentang teori saja. “Dosen di sana ketika pagi mengajar maka sore mereka langsung praktek di rumah sakit dan hal tersebut sangat baik karena kita bisa belajar sembari langsung praktek dan bersinggungan dengan pasien,” ungkapnya.

Yang paling diingat oleh mereka adalah etos kerja akademisi farmasi yang ditemui di universitas tersebut. “Kami makan pun harus sembari membaca jurnal untuk evaluasi. Bayangkan saja apabila keseriusan kerja tersebut kami adopsi, pasti akan semakin maju,” lanjutnya.

Ahli farmasi yang mereka temui sangat menghargai profesinya dan benar-benar menjalankannya secara profesional. “Jika bicara masalah gaji, mereka bilang tidak berbeda jauh dengan Indonesia, namun etos kerja dan penghargaan terhadap pekerjaan yang membuat mereka sangat luar biasa mencurahkan waktu dan energu mereka dalam bekerja,” ungkap mahasiswi asal Banjarmasin tersebut.

Di universitas tersebut yang juga istimewa adalah adanya spesialis farmasi yang menangani masing-masing jenis penyakit. “Ada ahli khusus penyakit dalam seperti jantung, ginjal, kandungan dan paru dan itu yang membuat pasien lebih terkontrol dalam melakukan pengobatan,” lanjut mahasiswa berparas mirip Cinta Laura tersebut.

Hal itulah yang menurut mereka lebih memudahkan pekerja farmasi untuk lebih intensif memonitoring pasien. “Masing-masing pasien memiliki rekam jejak obat yang dapat diakses dalam database sehingga penanganan dan pemberian obatnya bisa lebih jelas sehingga memperkecil resiko yang tidak diinginkan,” ungkap Irham.

Selain hal tersebut, hak yang patut dicontoh dari masyarakat Thailand menurut mereka adalah ketepatan waktu. “Orientasi mereka tidak hanya dalam satuan jam, namun menit. Seperti ketika akan menjemput, pasti menyertakan menit pasti semisal 15.37 dan tepat mereka sudah datang, itulah yang akan coba kami terapkan kedepan dan kami tularkan pada rekan kami,” lanjutnya lagi. (*-33)

Sumber : krjogja.com