Pertama Kalinya, UMM Beri Gelar Doktor Kehormatan

Untuk kali pertama, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menganugerahkan gelar kehormatan, Doktor Honorus Causa (Dr. HC). Atas nama ketua senat, rektor UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP, menyematkan gelar tersebut kepada Drs. Said Tuhuleley, MM, di ruang teater UMM Dome, Jumat (19/12). Said berhak menyandang gelar kehormatan itu setelah diusulkan oleh Promotor Prof. Dr HA Malik Fadjar, MSc dan Co-Promotor, Prof. Dr. Ishomuddin, MS dan disetujui oleh senat UMM.

Dalam pertimbangan pengusulannya, Malik Fadjar menyebutkan sosok Said sangat layak mendapatkan gelar pertama dalam sejarah UMM ini. Selain komitmennya di bidang akademik, Said juga dikenal gigih mengamalkannya dalam bentuk gerakan sosial di akar rumput. Melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Said berhasil menggerakkan masyarakat dhuafa yang memerlukan bantuan.

“Promovendus ini adalah tokoh Muhammadiyah yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan konsisten mengamalkannya dengan penuh dedikasi di masyarakat,” kata Malik Fadjar.

Prosesi penganugerahan gelar juga disaksikan oleh Dewan Guru Besar UMM dan para pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Hadir dalam acara ini antara lain, Ketua PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir, Prof Dr Yunahar Ilyas, Dr Agung Danarto, Prof Dr Zamroni, dan ketua PP Aisyiyah Dra. Siti Noordjannah, MSi. Dari kalangan MPM, hampir semua hadir, termasuk orang-orang yang selama ini menjadi binaan Said di berbagai daerah.

Rektor memuji Said yang sangat intens mengimplementasikan gerakan tauhid sosial yang digagas oleh Prof. Dr Amien Rais. Kunci tauhid, katanya, terdapat pada kalimat tahlil lailaha illa Allah. “Kalimat ini sangat dahsyat karena bisa membuka pintu surga,” ungkap rektor mengutip hadits riwayat Abu Daud.

Oleh karena tauhid sosial adalah implementasi dari kalimat tahlil itu maka pada hakekatnya Said bisa disebut sebagai pemburu surga. “Gerakan Tauhid Sosial ini bisa juga disebut sebagai gerakan Jamaah Tahlilan yang kalimat “lailaha illa Allah” tidar terdengar namun menjelma menjadi kakuatan yang membebaskan manusia dari belenggu ketidak-berdayaan. Tahlilan yang digelar di sawah-sawah, di kampung-kampung nelayan, di tempat pembuangan sampah, dan di pasar-pasar tradisional,” kata Muhadjir.

Para pemburu surga ini, lanjut rektor, datang ke tempat-tempat itu untuk memanusiawikan penghuninya dan meninggalkan suatu yang bermakna. “Sesungguhnya orang yang soleh itu adalah orang yang datang di suatu tempat dan dia tinggalkan di tempat itu tanda-tanda yang bermakna,” lanjutnya mengutip sebuah ayat Quran.

Dalam sambutannya, Haedar Nashir mengapresiasi cara UMM dalam memaknai Miladnya yang ke-50 ini. Menurutnya, gagasan rektor agar tauhid sosial dijadikan tradisi baru tahlilan di tengah-tengah masyarakat layak diapresiasi. “Atas nama pimpinan Muhammadiyah, saya sampaikan selamat kepada UMM dan pak Said. Proses ini sungguh dapat menjadi inspirasi besar baik bagi kita warga Muhammadiyah maupun bangsa Indonesia,” tutur Haedar.

Sebelumnya, Said memaparkan orasi selama 30 menit. Orasi berjudul Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat: Seputar Kiprah Muhammadiyah dalam Pemberdayaan Masyarakat itu berisi tentang perenungan, kajian dan pengalamannya bersama-sama MPM melakukan advokasi dan pendampingan pemberdayaan masyarakat pinggiran. Said menjadi Doktor Kehormatan pertama UMM di Program Studi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam bidang Pemberdayaan Masyarakat. (nas)

Sumber : www.umm.ac.id