MKU Berbasis KKNI, Fokuskan Pendidikan Karakter

[fusion_builder_container hundred_percent=”yes” overflow=”visible”][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”no” center_content=”no” min_height=”none”]

Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Dr Dwi Priyo Utomo MPd
Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Dr Dwi Priyo Utomo MPd

Mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK) dan mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB) dipandang memiliki peran sangat strategis dalam membentuk karakter mahasiswa yang beradab dan berilmu pengetahuan yang mumpuni. Demikian pernyataan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Sugiarti MSi pada kegiatan rekonstruksi pembelajaran MPK dan MBB berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Selasa (19/8).
Continue reading “MKU Berbasis KKNI, Fokuskan Pendidikan Karakter”

PENDEKATAN BARU OSPEK

Prof. Suyanto, Ph.D *)

Minggu pertamaSeptember 2014, tahun ajaran baru bagi pendidikan tinggi akan dimulai. Minggu-minggu ini perguruan tinggi  mulai menyelenggarakan tradisi Orientasi Studi dan PengenalanKampus (OSPEK). Dari tahun ke tahun OSPEK selalu membawa banyak cerita dankeluh kesah di kalangan mahasiswa baru. Bahkan OSPEK telah memiliki sejarahhitam karena sempat membawa korban kematian mahasiswa baru di beberapaperguruan tinggi. Sebagai lembaga pendidikan tinggi seharusnya tidak mentoleriradanya bencana kematian seperti itu. Perguruan tinggi harus mampu melindungipara mahasiswa baru dari tingkah laku panitia OSPEK dari unsur mahasiswa yangbiasanya melibatkan organisasi intra kemahasiswaan. Di era global seperti saatini seharusnya OSPEK di perguruan tinggi dilakukan dengan cara-cara yang lebih mendidik. Continue reading “PENDEKATAN BARU OSPEK”

REVITALISASI MODAL SOSIAL

Oleh: Prof.Suyanto, Ph.D


Liburan Hari Raya Idul Fitri dan cuti bersama masih kita nikmati. Dalam liburan dancuti bersama yang baru lalu itu ada fenomena nasional yang sangat unik, yaitu berupamobilitas orang dalam jumlah puluhan juta. Mungkin fenomena ini merupakan satu-satunyadi dunia di mana terjadi pergerakan manusia dalam jumlah puluhan juta daripusat-pusat kota ke kampung halaman di berbagai pelosok tanah air. Apa dampakyang biasa ditonjolkan oleh sistem kepegawaian di berbagai institusi  dan pranata sosial selama ini baik melaluimedia maupun sistem organisasi suatu institusi? Continue reading “REVITALISASI MODAL SOSIAL”

Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter

FORUM APRESIASI SASTRA KE-36 KKN UAD:

Ki Hajar Dewantoro telah merumuskan bagaimana pendidikan harus dilakukan untuk membentuk karakter. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendiri Tamansiswa, tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab pendidikan bertujuan untuk memanusiawikan manusia (humanisasi). Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.  Menurut Prof. Dr. Siti Chamamah, mantan Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, pendidikan karakter bukan hanya memakai ukuran manusia sebagaimana dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantoro, tetapi berdasarkan pada tuntunan Islam.

Manusia adalah ciptaan Allah swt, sehingga seluruh pemikiran, cara pandang, sikap, dan perilaku yang ditampilkan harus berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan.  Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, harus dibangun karakter bangsa yang memiliki akhlak mulia, yaitu amanah, tabligh, dan siddiq. Demikian dikemukakan Jabrohim, Kepala Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan dalam sambutan pada pembukaan Forum Apresiasi Sastra ke-36 bertema Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter Rabu, 23 Juli 2014.

Lebih lanjut Jabrohim mengatakan bahwa keunggulan karakter terbentuk dari adanya keutuhan antara aspek intelektual, emosional, sosial, serta moral dan spiritual. Karakter terbentuk melalui proses yang panjang dan melibatkan beberapa komponen penting antara lain orang tua, sekolah/pendidik, lingkungan masyarakat, budaya, serta sistem pemerintahan yang ada. Komponen-komponen tersebut memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam menentukan baik atau buruknya karakter bangsa. Hambatan atau permasalahan  yang terkait dengan karakter dapat memunculkan hambatan perilaku dan akan berdampak  negatif  terhadap lingkungan bahkan dapat menjadikan manusia tidak memiliki martabat sebagai manusia.

Dikemukakan pula oleh Jabrohim yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Himpunan Sarjana-Kesusastraan itu bahwa dewasa ini telah terjadi penurunan kualitas karakter bangsa hingga mencapai  titik rendah yang sangat memprihatinkan. Gejala yang terlihat antara lain adalah meningkatnya kekerasan di masyarakat, kejujuran yang diselewengkan, menurunnya sikap hormat pada orangtua, guru maupun pemimpin, meningkatnya konflik dan kebencian, memburuknya pemakaian bahasa, rendahnya etos kerja, rendahnya rasa tanggung jawab, meningkatnya perilaku perusakan diri serta kaburnya pedoman moral. Keadaan

Mengakhiri sambutannya, Jabrohim menegaskan bahwa upaya untuk mengatasi keprihatinan tersebut diantaranya dapat dilakukan dengan  membangun, memperbaiki, dan mempertahankan karakter melalui pemikiran, rancangan, manajemen, strategi, serta kerja yang simultan. Strategi yang digunakan harus melihat dari berbagai sudut pandang kasus. Dalam bentuk preventif berarti membangun sejak awal terbentuknya karakter, melakukan treatment yakni mengatasi permasalahan yang telah terjadi, serta maintenance untuk mempertahankan agar karakter tidak rusak yakni dengan melakukan penjagaan.

Pendidikan karakter harus diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan agar seorang anak memiliki kecerdasan emosi, yang merupakan bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Dengan memiliki kecerdasan emosi yang baik seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan. Kegiatan forum apresiasi sastra yang dilakukan oleh para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Ahmad Dahlan ini merupakan upaya membangun kecerdasan emosi dan kreativitas. Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan dirancang dan dilakukan secara sistematis.

Sumber : www.uad.ac.id

KEBIJAKAN PEMBELAJARAN AIK DI PTM -2

Bagian Kedua

Pada bagian pertama dikemukakan tentang visi pendidikan Muhammadiyah, permasalahan pembelajaran AIK dan perlunya rekonstruksi filosofis: ontologis dan aksiologis. Pada bagian kedua ini akan dikemukakan tentang rekonstruksi kurikulum, model pembelajaran dan rekomendasi kebijakan pendidikan AIK. Continue reading “KEBIJAKAN PEMBELAJARAN AIK DI PTM -2”

REKONSTRUKSI PEMBELAJARAN AIK DI PTM

Bagian pertama

Visi pendidikan Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam blue print Putusan Muktamar Muhammadiyah ke-46 tentang Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah: “Terbentuknya manusia pembelajar yang bertakwa, berkhlak mulia, berkemajuan dan unggul dalam ipteks sebagai perwujudan tajdid dakwah amar ma’ruf nahi munkar” (Berita Resmi : 221). Sebagai Perguruan Tinggi di bawah Persyarikatan Muhammadiyah, Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) mengembangkan misi untuk mewujudkan misi Muhammadiyah, yaitu menyelenggarakan pendidikan Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan sebagai bagian dari dakwah amar nahi munkar dalam pengertian seluas-luasnya. Continue reading “REKONSTRUKSI PEMBELAJARAN AIK DI PTM”

Indonesia Harus Mampu Kembangkan Teknologi Roket Secara Mandiri

Penguasaan teknologi roket Indonesia masih berada sangat jauh di bawah negara maju, khususnya Eropa. Oleh sebab itu Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket secara mandari karena negara maju cenderung pelit untuk membagi ilmunya.
Continue reading “Indonesia Harus Mampu Kembangkan Teknologi Roket Secara Mandiri”

Koreksi Mutu Pembelajaran

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan siswa dengan sumber belajar. Ketiga relasi tersebut dapat berjalan dengan baik dalam pembelajaran bilamana para pelaku pembelajaran (guru dan siswa) dapat membangun pembelajaran yang bermutu. Pembelajaran yang bermutu berawal dari guru yang perlu melihat kondisi siswa, baik dalam hal pengetahuan maupun pengalaman yang dimiliki. Kegiatan pembelajaran perlu dikondisikan sedemikian rupa yang membuat siswa belajar dengan nyaman dan tanpa tekanan.
Continue reading “Koreksi Mutu Pembelajaran”

Orang Tua Wajib Waspada “Cabe Cabean”

Akhir-akhir ini sering sekali kita mendengar istilah “cabe cabean” di berbagai media atau perbincangan di kalangan remaja. Cabe cabean, sekelompok remaja perempuan yang memiliki gaya hidup berlebihan atau dalam bahasa gaul sering disebut alay. Hal ini tercermin dalam gaya dan penampilan yang laksana artis dan gaya pergaulan yang cenderung bebas.
Continue reading “Orang Tua Wajib Waspada “Cabe Cabean””