Orhan Cicek: Islam Seharusnya Dilaksanakan Dengan Penuh Kasih Sayang Bukan Permusuhan​

Islam, seharusnya disampaikan secara damai, dengan jalan yang penuh kasih sayang. Karena Islam bukanlah agama yang penuh permusuhan, apalagi permusuhan antar sesama umat beragama.

Demikian disampaikan oleh Orhan Cicek, Ph.D Kepala Penasehat Komunitas Hubungan antarbudaya Australia (the Australia Intercultural Society Executive Advisor). Saat memaparkan materi dalam acara kuliah umum yang diselenggarakan atas kerjasama antara Fethullah Gulen Chair Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan tema “Muslim Identity, Characteristics, Perspectives and Goals at The Troubled and Challenged World”, bertempat di Mini Teater Gedung D Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) UMY, Sabtu (1/11).

Dalam pemaparan Orhan, dirinya menggungkapkan bahwa kedatangan dirinya ke Indonesia untuk menyampaikan Syiar Islam yang seharusnya dipahami dan dilaksanakan dengan penuh kasih sayang bukan dengan permusuhan antar sesama umat. Selain itu Orhan juga menjelaskan bahwa para peserta yang hadir harus menyadari dan mensyukuri karena terlahir sebagai muslim.

“Sebagaimana kewajiban semua muslim untuk menyampaikan syiar Islam. Maka saya datang ke Indonesia untuk menyampaikan hal tersebut, yang seharusnya kita pahami dan kita laksanakan dengan penuh kasih sayang bukan dengan permusuhan antar sesama. Saya juga kembali mengingatkan bahwa kita harus bersyukur karena terlahir sebagai muslim” ujar pria keturunan Turki ini lagi.

Selain itu, Orhan juga menyampaikan bahwa setiap manusia itu lahir dengan fitrah Islam secara ilmiah. Akan tetapi yang menjadikannya seorang anak itu memeluk agama Kristen atau Yahudi atau agama yang lain adalah orang tua anak tersebut. “Yang tak lupa juga kita sampaikan kepada semua orang, bahwa setiap manusia itu lahir dengan fitrah Islam secara ilmiah. Fitrah yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Tetapi menjelang anak itu tumbuh yang menjadikannya sebagai seorang Kristen atau Yahudi adalah orang tua anak tersebut.”

Dalam kuliah umum yang berlangsung sekitar 2 jam, para peserta kuliah yang hadir menyambut kedatangan Orhan dengan penuh antusias, terlihat sejak pagi tadi bahwa ruangan sebagai tempat kuliah umum sudah dipenuhi oleh mahasiswa yang hadir menunggu kedatangan Orhan, dan juga hal ini terlihat pada saat sesi tanya jawab banyak mahasiswa yang mengajukan pertanyaan terkait dengan tantangan Islam dalam dunia modern saat ini. (Shidqi)

Sumber : www.umy.ac.id

Seminar Nasional Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bulan Oktober merupakan bulan bahasa Indonesia, karena di bulan ini tercetus sumpah pemuda yang di dalamnya terdapat suatu kalimat yang berisi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Meskipun belum tepat pada tanggal 28 oktober, namun Prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia mengapresiasi bulan ini dengan melakukan seminar nasional. Acara yang dilaksanakn di gedung G lantai 6 ini berkerjasama dengan HPBI (Himpuan Pembina Bahasa Indonesia) Prov. Jawa Timur dan Balai Bahasa Prov. Jawa timur.

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sadar, persoalan mengindonesiakan manusia Indonesia saat ini merupakan persoalan yang sangat kompleks, sehingga sampai saat ini titik terang aau solusi terbaik untuk menjadikan manusia Indonesia yang bermartabat dan berkarakter budaya Indonesia sejalan dengan tuntutan masyarakat masih sebatas wacana. Oleh karena butuh agenda-agenda tertentu untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Acara yang digelar pada tanggal 22 Oktober ini di ikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari jenjang S1 maupun S2. Acara ini di buka langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan dilanjutkan dengan seminar dengan topic Peran Pendidikan, Kebudayaan, Bahasa Dan Sastra Indonesia Dalam Mengindonesiakan Manusia Indonesia. Dengan pemateri yang berkompeten di bidangnya, diantaranya Dra. Yeye Maryei, M.Pd, Prof. Dr. Bmbang Yulianto, M.P.d, Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd dan Dra. Sujinah, M.Pd. [fusion_builder_container hundred_percent=”yes” overflow=”visible”][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”no” center_content=”no” min_height=”none”][dtl.red]

Sumber : www.um-suurabaya.ac.id

[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Universitas Muhammadiyah Surakarta Sulap Lahan Gersang Jadi Community Garden

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah menyulap lahan gersang menjadi lahan hijau Community Garden di Kampus Double Degree UMS di Jl Dr Rajiman Solo.

“Program community garden yang dicanangkan tiga bulan belakangan ini terbukti mampu menyulap lahan gersang itu menjadi produktif,” ungkap Kepala Humas UMS, Anam Sutopo saat bertemu muhammadiyah.or.id, di Solo, Jumat kemarin (31/10).

Lahan kosong seluas satu hektar, menurut Anam, dirubah menjadi lahan produktif. Lahan yang sekitar tiga bulan lalu mulai dibersihkan dar tanaman liar, kemudian ditanami berbagai jenis tanaman sayuran seperti terong, kenikir, cabe dan sebagainya.

“Lahan satu hektar itu dibagi menjadi 39 kapling, dengan pengelola dari unit kerja dan fakultas yang ada di UMS. Setiap kapling ditanami sayuran yang berbeda,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMS Bambang Setiaji mengemukakan, program community garden yakni program menyulap lahan kurang produktif itu, sebagai lokasi berkebun. Sekaligus sebagai tempat eksperimen para dosen, tempat rekreasi bagi keluarga UMS dan masyarakat.

Kedepan, kata Bambang, diharapkan ikut menciptakan kawasan yang sejuk, dan ada pemikiran hasil panen dari kebun warga UMS itu bisa dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sayuran sehat dan segar. (dzar)

Sumber : www.muhammadiyah.or.id

Inklusivitas dan Pluralisme Perlu Dikembangkan pada Pendidikan

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Edy Suandi Hamid mengatakan sifat inklusivitas dan pluralisme dalam pendidikan di Indonesia perlu dikembangkan. Sebab pola pikir inklusivitas akan mempermudah pemahaman dan penerimaan akan pluralisme yang ada di Indonesia.

Edy Suandi Hamid mengemukakan hal itu dalam orasi ilmiah pada acara Wisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah Jayapura, di Gedung Pertemuan Walikota Jayapura, Sabtu (1/11). Wisuda dilakukan Ketua STIKOM M Syukri dan dihadiri Koordinator Kopertis XIV, V  Simbiak.

Lebih lanjut Edy mengatakan wilayah Indonesia sangat besar, penuh dengan keragaman suku, agama, budaya, ras ataupun golongan. Sehingga pengembangan sifat inklusivitas dan pluralisme akan melahirkan sikap saling pengertian, dan harmoni. Sikap ini dapat mencegah terjadinya konflik antar masyarakat yang memiliki perbedaan itu.

“Selain itu, juga dapat menghindarkan terjadinya gerakan-gerakan radikal yang bisa menimbulkan instabilitas berkepanjangan dan merugikan Bangsa ini,” kata Edy.

Edy mengemukakan itu berdasarkan realitas di lapangan. Pada wisuda di STIKOM Muhammadiyah Jayapura ada 146 orang dengan perincian sebanyak 126 orang (86,3 persen) beragama Kristen/Katolik dan hanya 20 orang (13,7 persen) yang beragama Islam.

“Ini suatu yang patut diapresiasi. Upaya mencerdaskan anak bangsa yang dilakukan perguruan Muhammadiyah tidak hanya bagi komunitas muslim, melainkan juga umat lainnya. Ini menunjukkan sifat inklusivitas Muhammadiyah yang merupakan Ormas berbasis Islam, namun tidak membeda-bedakan agama dalam kiprahnya membangun Bangsa ini,” kata Edy yang juga Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.

Menurut Edy, Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang berkembang di daerah-daerah Papua seperti di Manokwari, Jayapura, dan Sorong, juga di Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Kupang, justru menampung mahasiswa paling banyak beragama non-Islam. Karena itu, diharapkan apa yang dilakukan STIKO Muhammadiyah Jayapura ini bukan saja harus terus dilanjutkan dan dikembangkan, melainkan juga bisa ditiru oleh Ormas-ormas lain yang mempunyai lembaga pendidikan di tanah air ini.

Bagi lulusan dari lembaga pendidikan yang inklusif, kata Edy, mereka sudah memiliki modal sosial yang besar untuk terjun ke masyarakat. Sebab setelah lulus para alumni tersebut akan bertebaran di muka bumi ini untuk berkarya, maka yang dihadapi di manapun adalah situasi dan masyarakat yang sangat majemuk. Pandangan pluralisme yang menjadi pola pikirnya akan memudahkan mereka untuk beradaptasi di masyarakat.

Sumber : www.republika.co.id

Menteri Kesehatan RI ‘Blusukan’ ke Kampus STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta

Tepat 5 hari sejak pelantikan Para menteri Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek ‘blusukan’ atau Silaturahmi dan dialog ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah Yogyakarta, Mlangi, Gamping, Sleman, DIY, kemarin (31/10)

Hadir pula para anggota PP ‘Aisyiyah dan para pimpinan ortom serta Amal Usaha kesehatan Muhammadiyah untuk menjamu Menkes RI di Kampus STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta ini. Dalam acara ini Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mempresentasikan kondisi amal usaha yang berkaitan dengan kesehatan. Hal itu di sampaikan langsung oleh Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Noordjanah Djohantini saat sebelum Menkes memberikan arahan.

Menteri Kesehatan juga sangat mengapresiasi amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah yang berperan dalam kemasyarakatan dan kesehatan di republik ini. “Banyak sekali amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di seluruh pelosok negeri ini tengah berjuang meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat miskin” ujarnya.

Di sela-sela acara juga diberikan jajak rekam kondisi kehidupan masyarakat di seluruh pelosok nusantara dari pihak PP ‘Aisyiyah kepada Menteri Kesehatan dalam bentuk Film dokumentasi guna melaporkan kepada Menkes RI tentang kondisi masyarakat indonesia yang berada di pelosok.Selesai dialog di ruang pertemuan, Menkes RI diajak berkeliling kampus bersama para pimpinan Kampus STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.(dzar)

Sumber : www.muhammadiyah.or.id

Universitas Muhammadiyah Magelang Kerja Sama dengan Khon Kaen University Thailand

Universitas Muhammadiyah Magelang (UM Magelang) melakukan kerjasama dengan Khon Kaen University  (KKU) Thailand. Naskah kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani Rektor UM Magelang, Eko Muh Widodo dan Presiden KKU, Kittichai Triratanasirichai di Thailand, Ahad (27/10) lalu.

Kerjasama ini dilakukan untuk mendorong  kegiatan Catur Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup bidang pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat serta Al Islam Kemuhammadiyahan.

Dijelaskan Eko Widodo,  MoU tersebut mencakup kerjasama di bidang pertukaran bahan penelitian dan publikasi ilmiah, kerjasama di bidang program penelitian, serta pertukaran mahasiswa dan dosen. Perjanjian tersebut berlaku selama lima tahun ke depan dan diharapkan tidak hanya sebatas tertulis dalam selembar kertas.

“Pertukaran dosen khususnya dosen Fikes telah dilakukan, karena beberapa waktu lalu ada dosen Fikes yang diterima melanjutkan studi di KKU. Selanjutnya untuk pertukaran mahasiswa akan segera di-follow up oleh Dekan Fikes, karena KKU memiliki spesifikasi keunggulan sertaconcern di bidang keperawatan,” kata Eko.

Eko menambahkan, kerjasama di bidang penelitian juga akan dikembangkan dalam hal ilmu yang serumpun dari kedua belah pihak. Sehingga kerjasama bisa menambah wawasan bagi kedua belah pihak. “Kerjasama tersebut bersifat ‘U to U’  atau antar universitas sesuai dengan isi perjanjian tersebut,” kata Eko.

Sebelumnya, UM Magelang juga menjalin kerjasama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Sedangkan cakupan kerjasama meliputi bidang pendidikan dan penelitian serta pelatihan di kedua belah pihak. Kerjasama ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas UM Magelang.

Sumber : www.republika.co.id

Gelar Gebyar Holtikultura, FPP Siapkan Pertanian di Era MEA

Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Gebyar Good Agriculture Practice (GAP) Holtikultura di UMM Dome, Rabu (29/10). Kegiatan yang menggandeng Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur itu mengundang antusiasme para pelaku holtikultura dari berbagai daerah. Aneka komoditas tanaman pangan dan holtikultura dipamerkan dalam ekspo terbesar itu.

Kepala Dinas Pertanian Jatim, Wibowo Eko Putro, mengatakan gelaran ini relevan dengan persiapan menghadapi persaingan dalam bidang holtikultura di tingkat ASEAN. Seperti diketahui, tahun depan Indonesia akan menjadi bagian dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Sebagai negara yang memiliki potensi pertanian paling besar seharusnya kita siap mengahadapi MEA tahun depan,” ungkapnya.

Ekspo ini, menurutnya, juga bertujuan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap hasil komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang berkualitas global dan sekaligus produk olahan atau turunannya yang dihasilkan oleh para petani atau pelaku usaha bidang pertanian di Jawa Timur. “Kita optimis bisa menjadi produsen utama produk-produk pertanian yang tak hanya bersaing secara domestic tetapi juga secara global,” tambah Wibowo.

Dekan FPP UMM, Dr. Damat, MP, menambahkan dalam pasar global nanti semua terbuka sehingga suatu negara tidak boleh mengenakan proteksi dan hambatan tarif terhadap komoditi yang masuk ke wilayahnya. Itulah sebabnya FPP UMM turut mengambil peran mewadahi dan mengembangkan penerapan cara budidaya yang baik atau disebut sebagai Good Agriculture Practices (GAP).

UMM, kata Damat, menjadi sentra penelitian dan pengembangan pertanian sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan. Jadi selain melalui budidaya yang baik, juga dikembangkan kegiatan pemasaran yang baik melalui kajian agribisnis.

“Suksesnya suatu pemasaran terletak pada seberapa jauh kegiatan promosi dilaksanakan. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya marketing bidang pertanian sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk lebih mencintai pertanian dari negeri sendiri yang tak kalah kualitasnya dari produk impor,” papar Damat.

Berbagai kegaiatan dirangkai. Antara lain, pameran produk GAP Hortikultura, talk show tentang kesiapan produk pertanian Jawa Timur dalam menghadapi MEA, pembuatan Rumah Horti, aneka kontes buah dan merangkai produk hortikultura, serta pemberian penghargaan bagi pemenang lomba kebun/lahan GAP (buah-buahan, tanaman hias, sayuran, dan tanaman obat). Meski hanya sehari, pengunjung acara ini mencapai lebih 5.000 orang.

“Kita akan jadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan dan terus menjalin kerjasama dengan Dinas Pertanian Jatim,” pungkas Damat puas. (aid/nas)

Sumber : www.umm.ac.id

Dosen UMY Terima Alumni Achievement Award dari Western Michigan University

Hilman Latief tidak pernah menyangka dirinya akan m​eraih penghargaan Alumni Achievement Award dari School of Arts and Sciences, Western Michigan University (WMU), Amerika Serikat. 10 tahun silam, tepat tahun 2004-2005, Hilman Latief menempuh pendidikan S-2 di WMU atas beasiswa Fulbright. Pria yang sejak tahun 2013 menjabat sebagai direktur LP3M UMY menerima penghargaan tersebut yang diberikan oleh Professor Alexander Enyedi (Dean School of Arts and Sciences) bersama 20 penerima penghargaan lainnya dalam bidang yang berbeda, seperti Kimia, Fisika, Matematika, Bilologi, Geo-sains, Sosial dan Humaniora.

“Sangat tidak menduga karena peraih penghargaan sebelumnya kebanyakan orang Amerika dan mereka memiliki prestasi yang luar biasa di bidangnya masing-masing, baik sebagai CEO perusahaan, peneliti di NASA, professor, hakim, dan sebagainya,” ujar Hilman ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (28/10) pagi. Pria yang meraih gelar Doktor di Utrecht University-Belanda ini terbang kembali ke Western Michigan University, kali ini bukan untuk menjadi mahasiswa seperti sebelumnya tetapi diundang untuk memberikan kuliah umum “Islamic Charities, Transnationalism and Globalization” dan menghadiri resepsi penyerahan penghargaan tersebut pada 24 Oktober 2014.

Selain aktif melakukan penelitian, aktivitas ayah tiga anak itu pada berbagai forum internasional di dalam dan luar negeri menjadi alasan pihak Departement of Comparative Religion WMU untuk menominasikan penghargaan tersebut kepada dirinya. Dalam periode 2010 sampai 2014 saja peraih gelar doktor dari Utherecht University- Belanda ini telah lima belas kali mempresentasikan karya ilmiahnya di forum-forum internasional, mempublikasikan 4 buku dan belasan artikel ilmiah yang dipublikasikan di dalam berkala ilmiah nasional dan internasional. Hilman menuturkan semua aktifitasnya itu merupakan konsekuensi dari pilihannya berprofesinya sebagai seorang dosen, sehingga ia dapat konsisten dan tetap produktif dalam menulis karya ilmiah.

“Mereka melihat kegiatan saya yang cukup padat dalam konteks pengembangan akademik baik dalam presentasi dan publikasi di dalam dan luar negeri,” sambung dosen yang menjadi pakar di bidang filantropi Islam tersebut.

Sosok yang suka berpenampilan casual dan mulai meniti karir di UMY sejak tahun 2000 itu menganggap penghargaan tersebut sebagai suatu kebanggaan tersendiri karena di tahun sebelumnya belum ada orang Asia yang mendapatkan penghargaan tersebut. Selain itu, kampus yang memberikannya gelar Master of Arts itu memperhitungakan dirinya yang mengajar begitu jauh dari Amerika Serikat. Hilman juga tergolong “orang baru” sebagai penerima pengharggaan itu dibanding penerima sebelumnya yang lebih senior.

Ia juga mendapatkan pelajaran berarti dari penghargaan yang akan diberikan pada bulan Oktober ini. Menurutnya, meski dianggap sebagai orang yang baru menapaki karir, bukanlah menjadi alasan baginya untuk tidak berkarya dengan baik. “Meskipun kita berada di daerah atau negara ‘pinggiran’ bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dunia,” tutur pengajar Studi Islam di Fakultas Agama Islam dan Fakultas ISIPOL UMY itu.

Sumber : www.umy.ac.id

Penandatanganan Mou University To University Antara Stikes Muhammadiyah Gombong Dan Khon Kaen University Thailland

Kerjasama antara STIKes Muhammadiyah Gombong dengan Faculty of Nursing Khon Kaen University yang telah terjalin sekitar 3 tahun dan berjalan melalui Joint research, students, staff, dan dosen exchange, serta study lanjut bagi dosen STIKes di FoN KKU telah membawa hasil yang sangat baik bagi kedua belah pihak. Baik mahasiswa, staff dan dosen yang melaksanakan exchange program mendapatkan pengalaman yang sangat baik. Mahasiswa dapat mempelajari perawatan pada budaya dan bahasa yang berbeda sehingga siap untuk menyambut pasar bebas yang sebentar lagi akan segera dicanangkan. Bagi dosen mendapatkan kesempatan memberikan perkuliahan di luar negeri tentu merupakan kredit point yang sangat luar bias, ditambah pengetahuan dari kunjungan ke rumah sakit di Thailand. Staff yang mendapatkan kesempatan exchange program juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana FoN KKU mengelola pembelajaran dan supporting system yang dapat diterapkan di STIKes Muhammadiyah Gombong.

Pada hari senin, 27 Oktober 2014 bertempat di Sarasin meeting room, Sirikunakorn building, KKU, STIKes Muhammadiyah Gombong beserta 13 institusi pendidikan di Indonesia melakukan penandatangan MoU University to University. Kerjasama antara STIKes Muhammadiyah Gombong dan FoN KKU telah ditingkatkan menjadi U to U dengan harapan kerjasama ini akan menghasilkan sesuatu yang dapat membantu perkembangan bagi kedua belah pihak. Disaksikan oleh duta besar Indonesia untuk Kerajaan Thailand Bapak Lulfi Rauf dan Atase Perdagangan Indonesia untuk Kerajaan Thailand Ibu Ida Rustini. Penandatanganan tersebut dilakukan oleh President of KKU Assoc. Prof Kittichai Triratnasirichai dengan masing-masing rektor atau ketua setiap institusi. Dalam sambutannya duta besar untuk Indonesia menyampaikan kebanggan atas kerjasama yang dijalin antar perguruan tinggi di Indonesia dan Thailand khususnya KKU karena akan memberikan perkembangan dan kemajuan bagi kedua belah pihak dan khususnya untuk perkembangan pendidikan di Indonesia. Sedangkan President of KKU menyampaikan dalam sambutannya bahwa pada era keterbukaan informasi saat ini setiap perguruan tinggi dituntut untuk melakukan kerjasama dengan istitusi lainnya sehingga dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman demi kemajuan bersama, karena dengan cara itulah setiap intitusi pendidikan dapat mengupgrade diri dan bertahan sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman.

Disela acara Giyatmo,S.Kep,Ns, M.Kep, Ketua STIKes Muhammadiyah Gombong menyampaikan bahwa MoU sigining U to U antara STIKes Muhammadiyah Gombong dengan KKU adalah sebuah kebutuhan bagi STIKes untuk dapat terus menjadi yang terbaik dalam memberikan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dengan kerjasama ini STIKes dapat melakukan berbagai macam kegiatan bersama seperti Joint research, Studen staff and lecturer exchange program, seminar dan pelatihan bersama untuk kedua belah pihak dalam mewujudkan semua visi dan misi setiap  Institusi.

Sumber : www.stikesmuhgombong.ac.id

FKIP Gelar Workshop “Menjadi Pembicara di Berbagai Kegiatan, Mengapa Tidak?”

Untuk memeringati dan memeriahkan bulan bahasa ke- 86, FKIP melalui Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Bahasa Daerah menggelar workshop selama dua hari, yaitu hari Sabtu-Minggu tanggal 25 – 26 Oktober 2014 mulaui pukul 08.00 – 15.00 dengan Tema “Menjadi Pembicara di Berbagai Kegiatan, Mengapa Tidak?”.

Para peserta workshop adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Bahasa Daerah. Delegasi dari berbagai program studi di lingkungan Universitas Muhammadiyah. Total peserta pada kegiatan tersebut adalah 400 mahasiswa.

Workshop ini menghadirkan dua nara sumber dengan keahlian dan prestasi yang luar biasa dalam membawakan acara. Nara sumber untuk materi “Menjadi pembawa acara nonformal” adalah Yeni Nadia Putri, sedangkan untuk materi “Menjadi pembawa acara formal” adalah Dra. Erna Rochiati, M.Hum.

Yeni Nadia Putri dikenal sebagai presenter muda. Ia terkenal di berbagai acara sebagai pembawa acara di Radio swasta ternama di Jember dan  presenter di berbagai acara.

Dra. Erna Rochiati, M.Hum adalah dosen Fakultas Sastra Universitas Jember, ia juga dikenal sebagai pembawa acara handal, ia sering menjadi pembawa acara formal baik di tingkat fakultas, universitas dan juga pada seminar-seminar baik nasional atau pun internasional.

Kedua nara sumber tersebut berhasil menyita perhatian peserta workshop. Para peserta sangat antusias terhadap kegiatan ini. Hal ini tampak pada antusiasme mahasiswa ketika diminta maju untuk berlatih membawakan acara. Delapan peserta berhasil dipilih untuk maju dan berlatih langsung dengan nara sumber.

“Acara ini sangat bagus, dan perlu diadakan lagi dalam skala yang lebih besar”, begitu ungkap salah satu peserta ketika diminta mengomentari workshop ini. Untuk menjadi pembawa acara ternyata tidak hanya bermodal “bisa berbicara”, melainkan bisa membawakan acara, menggunakan bahasa yang tepat, menghidupkan suasana, dan bias menjaga kestabilan acara. Dengan demikian, apabila acara dipimpin oleh pembawa acara yang hebat, maka peserta akan tetap berada di tempat dan acara berjalan dengan tertib.

Tak kalah seru pada kegiatan workshop, keesokan harinya, Minggu, tanggal 26 Oktober 2014, digelar loma menjadi pembawa acara. tercatat 75 peserta yang mendaftarkan diri dalam lomba tersebut. Pelaksanaan lomba berkahir hingga dewan juri memutuskan pemenang dalam lomba tersebut.

Ada tiga pemenang dalam lomba membawakan acara. Tiap-tiap pemenang mendapatkan tabungan pendidikan dan layak menjadi pembawa acara yang handal. Selamat untuk para pemenang, Teruslah mengasah bakat dan selalu belajar untuk menjadi pembawa acara profesional!

Sumber : unmuhjember.ac.id