Mahasiswa Agen Utama Pemberantas Narkoba

Indonesia masih menjadi salah satu negara terbesar dalam kasus peredaran narkoba. Mirisnya lagi, kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswalah yang menjadi pengguna maupun pengedar, bahkan bisa jadi pengguna sekaligus pengedar. Padahal, pelajar dan mahasiswa ini seharusnya bisa menjadi agen utama pemberantas narkoba, bukannya menjadi korban dari kejahatan narkoba.

Itulah yang disampaikan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Budi Harso, M. Si saat menjadi pembicara dalam acara Seminar “Pemberdayaan Satgas Anti Narkoba di Lingkungan Mahasiswa” yang bertempat di Ruang Sidang AR. Fachruddin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (10/11).

Budi menjelaskan bahwa mahasiswa yang pernah menjadi korban dari narkoba, memiliki peluang untuk berubah menjadi agen-agen anti narkoba. Dengan begitu, posisi mahasiswa dapat secara langsung melakukan kegiatan dan aktifitas dalam memberantas narkoba. Namun, sebelum menjalankan tugasnya sebagai agen utama pemberantas narkoba, mereka juga membutuhkan pembekalan agar bisa menjalankan tuganya dengan baik dan mengetahui cara strategi dan efektif dalam memberantas narkoba.

“Kita tahu bahwa mahasiswa bisa menjadi salah satu elemen masyarakat yang sangat berpeluang untuk menjadi korban dari narkoba. Oleh karena itu harus kita mengubahnya agar menjadi agen-agen anti narkoba. Sehingga dengan begitu, posisi mahasiswa yang diharapkan dapat secara langsung melakukan aktifitas untuk memberantas narkoba, bisa berjalan secara efektif. Dan salah satu cara membekalinya adalah dengan acara seperti ini. Acara pembekalan yang dilakukan oleh BNN kepada mahasiswa yang telah dikenal sebagai Satgas Anti Narkoba di lingkungan mahasiswa ini adalah untuk mendukung para generasi muda sebagai agen utama pemberantas narkoba,” ujarnya.

Selain itu, budi menambahkan bahwa dirinya senang sekali hadir di tengah-tengah para mahasiswa yang telah ikut dalam satgas anti narkoba di bawah koordinasi BNN Yogyakarta tersebut. Dirinya juga mengatakan bahwa BNN akan mendukung secara penuh kegiatan para mahasiswa nantinya yang tergabung dalam Satgas anti narkoba mahasiswa.

“saya senang sekali hadir di hadapan anda semua yang telah ikut berperan aktif dalam satgas anti narkoba di bawah koordinasi BNN. Saya juga ingin memberikan semangat kepada anda semua bahwa kami akan mendukung penuh segala bentuk kegiatan yang nantinya anda lakukan dalam hal upaya pemberantasan narkoba di lingkungan mahasiswa,” jelasnya.

Sementara itu, ketua Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) UMY yang mengantikan Wakil Rektor untuk hadir dalam acara, Sugito, M.Si. mengungkapkan bahwa dirinya berterimakasih kepada BNN yang telah memberikan kepercayaan kepada UMY untuk kerjasama dalam pengadaan seminar ini. Karena menurut Sugito bahwa Indonesia menjadi salah satu target yang luar biasa sebagai target peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

“Alhamdulillah BNN telah memberikan kepercayaan kepada kami UMY untuk kerjasama dalam pengadaan seminar ini. Karena Indonesia menjadi salah satu target yang luar biasa sebagai target penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Oleh karena itu peran serta universitas dan pemerintah adalah merupakan suatu langkah strategis dalam meberantas narkoba, mengingat mahasiswa merupakan salah satu target utama dalam peredaran narkoba,” ungkap Dosen Hubungan Internasional UMY ini.

Dalam seminar ini sedikitnya di hadiri oleh perwakilan mahasiswa dari Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Stikes Ahmad Yani Yogyakarta, Stikes Alma Ata Yogyakarta, Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Bina Sarana Informatika (BSI) Yogakarta dan juga dari LSM Gerakan Anti Narkoba (GRANAT)Yogyakarta yang tergabung dalam Satgas Anti Narkoba dibawah koordinasi BNN. (Shidqi)

Sumber : www.umy.ac.id

STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta Tingkatkan Mutu Tim Promosi

Kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat luas dan pemahaman terhadap fungsi pemasaran adalah syarat utama yang harus dimiliki dalam mempromosikan STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta (SAY). Dalam persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, fungsi promosi perguruan tinggi perlu didukung dengan konsep pemasaran dan komunikasi yang matang dan terencana. Inilah inti dari pelatihan tim promosi SAY yang dilaksanakan pada Selasa, (4/11).

Koordinator Kerjasama Internasional dan Humas, Indriani, M.Sc menjelaskan bahwa tujuan penyelenggaraan pelatihan tim promosi ini untuk menambah wawasan bagaimana strategi berpromosi yang efektif dan persuasif. Tim berjumlah 70 orang yang beranggotakan dosen, alumni dan mahasiswa diharapkan mampu menjalankan tugas promosi sekaligus menjalankan fungsi hubungan masyarakat. “Tim promosi ini merekrut alumni dan mahasiswa dengan maksud untuk mempermudah menjalin komunikasi dengan calon mahasiswa karena jarak usia tidak begitu jauh sehingga diharapkan komunikasi lebih efektif.,” ungkap Indriani.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Dra. Umu Hani., M.Kes dalam sambutannya menjelaskan pelatihan ini sebagai salah satu upaya untuk menarik minat masyarakat memilih SAY sebagai tempat untuk menuntut ilmu dan diharapkan ke depan SAY akan semakin dikenal oleh masyarakat luas dan menjadi STIKES terbaik di Indonesia. Umu Hani menambahkan, Tim Promosi juga dituntut untuk menguasai product knowledge tentang SAY secara rinci dan keseluruhan. “Tim tidak boleh hanya memahami informasi tentang program studi masing-masing saja, namun juga harus mampu menjawab setiap pertanyaan masyarakat tentang program studi lain yang ada di SAY,” tegasnya.

Beberapa narasumber yang dihadirkan dalam pelatihan diantaranya Kepala Biro Penmaru UMY, Dr. Siti Dyah Handayani., MM dan Praktisi Public Speaking, Tika Yusuf. Salah satu narasumber, Tika Yusuf, menguraikan 5 teknik memikat audiens diantaranya penampilan yang menarik, kesan pertama yang menyenangkan, tampil dengan energi yang tinggi, berikan motivasi dan tawarkan produk anda. ”63% sampai 70% orang didunia menilai kesuksesan dari penampilan seseorang,”ungkapnya.

Selain narasumber tersebut dihadirkan pula para ketua program studi untuk menjelaskan profil masing-masing program studi yang ada di SAY.

Sumber : www.stikes-aisyiyah-jogja.ac.id

Rangkaian Milad Universitas Ahmad Dahlan ke – 54 “Sajikan Islam dengan Cara Berbeda”

Berbagai acara dalam rangka Milad Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ke-54 terus berlanjut. Salah satunya lomba Cerdas Cermat yang diikuti oleh dosen UAD. Lomba yang diadakan pada Sabtu (8/11) di hall kampus II ini diikuti oleh 12 kelompok dari 8 fakultas. Tujuan lomba ini adalah untuk mengeratkan ukhwah antardosen, meningkatkan wawasan, dan pemahaman tentang al-Islam serta kemuhammadiyahan.

Menurut keterangan  Dra. Nurmahni, M.Ag. selaku ketua panitia pelaksana, lomba ini dibagi menjadi dua babak, yaitu babak penyisihan dan babak final. Pada babak penyisihan, juri melempar pertanyaan yang selanjutnya menjadi rebutan para kelompok. Setelah melewati babak penyisihan, tiga kelompok yang berhasil maju ke babak final adalah Fakultas Tehnik Informatika, Fakultas Hukum, dan Fakultas Psikologi. Ketiganya kembali bertanding di babak final.

Lomba yang baru pertama kali diadakan di Milad UAD ini mempercayakan rekanan LPSI sebagai juri, yakni Dra. Nurmahni, M.Ag. dan Sucipto, S.Pd., M.Pd. BI. Selain itu, di babak final juga mendatangkan juri khusus, yaitu Dr. H. Untung Cahyono, Dr. H. Kamiran Komar, dan Dr. H. Hamdan Hambali.

“Kami mencoba untuk menyajikan Islam dengan cara sedikit berbeda,” ujar Nurmahni saat ditemui dalam kemeriahan acara lomba tersebut.

Akhirnya, Fakultas Psikologi keluar sebagai juara, kemudian disusul oleh Fakultas Hukum, lalu Fakultas Tehnik Informatika di posisi ketiga. Para juara mendapatkan hadiah berupa uang dan sertifikat yang akan diberikan pada puncak perayaan Milad UAD.

Sumber ; www.uad.ac.id

8 Tahun, Universitas Muhammadiyah Surakarta Raih Dana Hibah Penelitian Rp24,6 Miliar

Selama kurun waktu delapan tahun terakhir, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mampu mendapatkan dana hibah penelitian dari pemerintah senilai Rp24,6 miliar.

Kondisi tersebut membuat UMS menjadi perguruan tinggi swasta (PTS) swasta di Jawa Tengah (Jateng) yang paling banyak mendapatkan dana penelitian dari pemerintah.

Rektor UMS, Bambang Setiaji, mengatakan penelitian paling banyak dilakukan pada 2007 silam, yakni dengan 150 judul. Sedangkan, dana hibah penelitian terbesar diperoleh pada 2011 dengan Rp5,8 miliar.

Sementara, pada 2014 jumlah penelitian yang mendapatkan dana hibah dari pemerintah ada 61 judul dengan dana Rp3,4 miliar.

“Ini membuat UMS menjadi PTS terbanyak di Jateng yang mendapatkan dana hibah riset dari pemerintah,” paparnya saat memberikan pidato saat upacara Dies Natalis UMS ke-56 di auditorium kampus setempat, Jumat (7/11/2014).

Sementara, riset yang dikelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMS selama 2007 hingga 2013 telah menghasilkan 531 judul.

Total anggaran yang dikeluarkan UMS untuk membiayai penelitian tersebut senilai Rp4 miliar.

“Setiap dosen juga mendapatkan satu riset di tingkat fakultas. Dengan demikian, di UMS bisa menghasilkan sekitar 400 judul per tahun,” imbuhnya.

Sementara, Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VI Jateng, DYP Sugiharto, membenarkan pernyataan Bambang Setiaji.

Bahkan, menurutnya, UMS mampu menyerap lebih dari 50% anggaran dana hibah penelitian di Jateng dari total Rp44 miliar.

Dia mengatakan selama ini UMS juga menjadi PTS yang paling banyak mengirimkan proposal penelitian. Proposal dari dosen UMS juga cukup banyak yang berhasil mendapatkan dana hibah karena kualitasnya sangat bagus.

Pihaknya juga memastikan tidak akan ada kecemburuan bagi PTS lain karena permasalahan tersebut. Pasalnya, penilaian proposal penelitian juga dilakukan secara objektif dan dilakukan secara online.

Selain UMS, menurutnya ada juga beberapa PTS yang juga mendapatkan dana hibah yang cukup banyak, seperti Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang. Untuk meningkatkan minat penelitian tersebut, Kopertis akan terus melakukan sosialisasi dan pelatihan pembuatan proposal agar lebih baik.

sumber berita dapat buka klik disini

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO RESMI MILIKI PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU-PAUD

Pendidikan bagi anak usia dini bisa jadi beberapa waktu lalu masih menjadi hal yang dikesampingkan oleh banyak pihak, sehingga tidak begitu banyak Untuk menjawab kebutuhan Unmuh Ponorogo baru saja membuka prodi baru S1 PG-PAUD yang telah resmi dibuka bulan September dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 357/E/O/2014 Tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Tentunya dengan dibukanya prodi ini diharapkan mampu memfasilitasi guru PAUD untuk mendapatkan bekal ilmu dan ketrampilan lebih sampai dengan Strata 1 sehingga mampu memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak pra-TK didikannya.

Untuk meresmikan pembukaan prodi baru tersebut FKIP Unmuh Ponorogo mengadakan seminar Pendidikan Program Studi S1 PG-PAUD di gedung perkantoran rektorat lantai 4 Unmuh Ponorogo dengan dihadiri oleh kurang lebih 200 guru PAUD yang ada disekitar Ponorogo. Selain dalam rangka pembukaan, seminar ini dimasksudkan untuk mensosialisasikan prodi PG-PAUD yang telah dibuka oleh Unmuh Ponorogo. Hal ini dilakukan agar guru PAUD yang ingin melanjutkan studi S1-nya dapat mendaftar ke Unmuh Ponorogo karena S1 PAUD Unmuh Ponorogo adalah satu-satunya yang ada di Karisidenan Madiun.

Kegiatan seminar tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Ponorogo Yuni Widyaningsih, SH yang juga berkesempatan membuka acara sekaligus memberikan motivasi kepada para Guru PAUD untuk selalu meningkatkan ilmu dan ketrampilannya, salah satunya dengan melanjutkan studi S1 PG-PAUD. Menurut Bu Ida panggilan akrab beliau, pendidikan anak usia dini sebenarnya dimulai dari anak yang masih dalam kandungan ibunya. Baru saat anak mulai bersosialisasi atau masa pra-sekolah, pendidikan ini dibutuhkan untuk mempersiapkan anak agar siap bersekolah kedepannya. Dalam sambutan singkatnya beliau menjelaskan jika Guru PAUD yang ada di Ponorogo saat ini berjumlah 1.500 orang, sedangkan yang sudah menempuh S1 tidak lebih dari 7%. “Ini tentu peluang bagus bagi Unmuh Ponorogo, saya berharap Unmuh dapat memfasilitasi Guru PAUD untuk meningkatkan ilmu yang telah mereka miliki sehingga kepercayaan dirinya semakin mantab ”, harap beliau.

Sumber : www.umpo.ac.id

Universitas Muhammadiyah Magelang Torehkan Prestasi Pada Beberapa Event

Lima mahasiswa  Prodi Teknik Informatika Fakultas Teknik UM Magelang berhasil menorehkan prestasi gemilang setelah keluar sebagai juara I dalam event Cyberjawara 2014 yang diselenggarakan oleh Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID SIRTII)  Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Final lomba diadakan di Hotel Hilton Bandung tanggal 5 November.

Ketua Program Studi Teknik Infomatika S1 Fakultas Teknik UM Magelang, Muhammad Arfan S.Kom, M. Eng mengatakan, tim tersebut terdiri dari Dessy Arifiyanto Laksono, Andri Trismanto, Sukma Nur Abdillah, Annas Arbarim, serta Wahyu Eko Prasetyo.   Mereka  lolos ke dalam babak final yang terdiri dari 10 tim yang antara lain berasal dari tim Asosiasi Penyelenggara  Jasa Internet (APJI), tim cyber  TNI AD serta tim cyber  Kopassus.

Arfan menambahkan, babak penyisihan dilakukan dua kali secara on line. Dalam babak tersebut   juri memberikan   soal seputar masalah cyber security yang harus dipecahkan oleh peserta secara on line. “Selain itu para peserta juga diuji pengetahuannya tentang pemahaman keamanan jaringan,” tambah Arfan. Adapun pada babak final para finalis harus menyelesaikan soal  antara lain capture the flag, reverse  engineering, kriptografi serta steganografi.  Selain mendapatkan reward berupa laptop dan TV LED 22 inch sebanyak tiga buah, mereka juga akan menjadi penantang bagi pemenang lomba serupa tahun 2015.

Dalam waktu bersamaan, UM Magelang juga mendapatkan penghargaan sebagai  “Peraih Indeks Tertinggi Kategori Perguruan Swasta se-Kedu”  dalam Excellent Brand Award 2014 yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Jawa Tengah. Penghargaan diterima oleh Rektor UM Magelang, Ir. Eko Muh Widodo, MT di Lor In Solo tanggal 5 November.

Rektor berharap,  penghargaan yang diterima berdasarkan hasil survey  kepada masyarakat di Jawa Tengah tersebut dapat memacu UM Magelang dalam hal pemberian pelayanan prima kepada stake holder ke arah yang lebih baik lagi.

Sumber : www.ummgl.ac.id

Gerakan Kultural Muhammadiyah Perlu Diperkuat Struktural

Menghadapi perubahan yang dinamis, Muhammadiyah harus cepat melakukan self adjusment. Akhir-akhir ini, terutama pasca-pilpres, bangsa Indonesia menghadapi perubahan sosial budaya, sosial ekonomi dan sosial politik yang sempat mengkhawatirkan akibat polarisasi politik pada dua kubu. Muhammadiyah harus tetap berada di tengah-tengah.

Demikian dikatakan ketua umum PP Muhammadiyah, Prof Dr M Din Syamsuddin, di hadapan dosen dan pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (7/11). Didampingi rektor, Muhadjir Effendy, Din memberi pengajian dan diakhiri dengan tanya jawab.

Posisi Muhammadiyah, kata Din, harus tetap pada pilihan sebagai gerakan kultural. Tugas suci posisi ini adalah memperkuat landasan budaya dalam masyarakat sehingga tidak mudah digoyah oleh perubahan struktural, perubahan kultural maupun perubahan proses atau manajemen politik. Salah satu peran yang tetap dipertahankan adalah gerakan dakwah melalui pelayanan pendidikan, kesehatan dan kemasyarakatan dan dakwah pencerahan kepada umat.

Bagi Din, sebagai gerakan kultural, Muhammadiyah yakin dapat tetap memberi sumbangan besar bagi Indonesia, sekalipun tidak terlibat dalam lingkaran politik kekuasaan. Muhammadiyah memiliki sumber daya yang amat mumpuni, khususnya dalam bidang pendidikan. Lebih dari itu, Muhammadiyah juga memiliki banyak infrastruktur yang telah berkontribusi langsung bagi pembangunan bangsa ini.

Politik, kata Din, saat ini digerakkan oleh empat kekuatan, yakni massa, modal (uang), ide dan informasi. Dalam politik praktis sering organisasi masyarakat termasuk Muhammadiyah diklaim oleh kekuatan politik tertentu sebagai basis massa, tetapi secara ide belum tentu. Di sisi lain pemilik media yang menguasai informasi dengan mudah mengambil posisi strategis lebih mudah dibanding orang yang telah ikut dalam gerakan kultural dari bawah.

“Pilihan gerakan kultural meniscayakan tersedianya infrastruktur yang kuat, dan ini masih dimiliki Muhammadiyah berupa ideologi dan visi, misalnya, yang dikenal dengan gerakan Al-Ma’un dan gerakan praksis, yakni menyatunya ide dan aksi sosial dalam bentuk amal usaha,” ujar Din yang juga Ketua Umum MUI ini.

Namun tantangan ke depan akan semakin berat sehingga memerlukan penyikapan yang mempertahankan Muhammadiyah pada posisi keseimbangan antara pemurnian (purifikasi) dan pembaharuan (tajdid). “Pemurnian itu dilakukan terhadap akidah, dan pembaharuan selalu dilakukan untuk amaliah. Itulah sebabnya Muhammadiyah itu cenderung ketat dalam pembersihan akidah dari hal-hal yang bersifat kultural, tetapi maju dan modern dalam amal usaha,” lanjut Din. Terkait dengan posisi Muhammadiyah dalam menanggapi pemerintahan baru pimpinan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan M Jusuf Kalla, posisi Muhammadiyah tetap memperkuat identitas moralnya. Warga Muhammadiyah, lanjut Din, tidak mudah dibawa-bawa oleh fatwa politik sehingga pilihannya tetap kembali pada individu, sedangkan secara lembaga tetap netral. Meski demikian, diakui saat ini komunikasi politik dengan pemimpin pemerintahan lebih cair mudah untuk melancarkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

“Muhammadiyah akan mendukung program pemerintah yang pro-rakyat, tetapi akan mengkritik jika menyimpang,” tegas Din.

Untuk mendukung gerakan kulturalnya, Din menilai penyiapan mengisi posisi struktural juga penting. Kader-kader Muhammadiyah dalam politik perlu didorong untuk lebih berperan aktif membangun bangsa lewat jalur tersebut. Jangan sampai di saat diperlukan untuk mengisi posisi tersebut justru stok Muhammadiyah dan ortomnya tidak memiliki data base.

Untuk itu Din meminta warga Muhammadiyah agar terus meningkatkan kualitas diri tanpa bergantung pada dukungan negara. Ia berharap, ke depan rekrutmen politik tidak harus dari partai politik, sehingga ada peluang bagi kalangan profesional non-politik untuk berkiprah bagi bangsa. (nas/han)

Sumber : www.umm.ac.id

Harumkan UAD dan Indonesia Lewat Debat Bahasa Arab

Setelah menyabet juara II lomba Debat Bahasa Arab antar-universitas se-Indonesia pada Festival Timur Tengah 2014 di Universitas Indonesia, kini salah satu mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yaitu Ahmad Luqman Hakim kembali meraih 1st Runner Up Debat Bahasa Arab antar-universitas se-Malaysia dalam acara Ma’al Hijrah Arabic Debate Championship 1436 H/2014 M. Acara yang diikuti oleh 20 universitas ini berlangsung di International Islamic Universiti Malaysia (IIUM) Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia.

Luqman yang merupakan mahasiswa semester VII Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Tarbiyah dan Dirasat Islamiyah, mendapatkan beasiswa DIKTI untuk mengikuti Program ASEAN International Mobility Student (AIMS) di Universiti Malaya. Kemudian, ia terpilih untuk mewakili Tim Debat Bahasa Arab Universiti Malaya.

Selama ini, Luqman dilatih secara intensif oleh pembimbing sebat bahasa Arab berkebangsaan Libya, Dr. Shabah Madhi. Ia merupakan salah satu Asisten Profesor di Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, dan tergabung dalam tim utama mewakili Universiti Malaya.

“Selain dilatih di UMM, sebenarnya saya sudah mendapatkan teknik seni debat bahasa Arab dari dosen Bahasa dan Sastra Arab UAD, yaitu Abdul Malik, S.S., M.Hum. Hal tersebut sangat bermanfaat dan berpengaruh dalam kemenangan saya di Malaysia,” terang Luqman.

Acara tersebut juga diikuti oleh International Islamic Universiti Malaysia (IIUM), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Universiti Malaya (UM), Universiti Pertahanan Malaysia (UPM), Kolej Pengajian Tinggi Islam Johor (MARSAH), Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia (UNISZA), dan berbagai universitas lainnya.

“Alhamdulillah kami juara, Luqman dari UAD ini sangat berpengaruh dalam kesuksesan tim debat Universiti Malaya. Karena sebelum ini, kami belum pernah menjuarai lomba Debat Bahasa Arab se-Malaysia,” tutur Dr. Muhammad Hazrul, salah satu dosen di Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya.

Di lain pihak, Luqman juga menuturkan, “Saya sebagai mahasiswa UAD sangat bersyukur dapat mengharumkan nama Indonesia di negeri Jiran, walaupun dengan mewakili tim dari Universiti Malaya. Dan semoga ilmu yang saya dapatkan dapat bermanfaat untuk Indonesia, serta UAD khususnya.”

Ma’al Hijrah Arabic Debate Championship merupakan acara tahunan perlombaan debat bahasa Arab antar-universitas se-Malaysia. Acara ini berlangsung dari 31 Oktober−3 November 2014. Debat didesain dalam posisi pro dan kontra di antara kedua kelompok. Materi yang diperdebatkan seputar isu-isu tentang Malaysia, Islam, dan di dunia internasional.

Dari prestasi tersebut, Tim Debat Univesiti Malaya mendapat hadiah berupa uang tunai sebesar RM 1500 atau sekitar 5,5 juta rupiah sebagai hadiah, dan RM 800 sekitar 3 juta rupiah sebagai penghargaan. Selain itu juga mendapatkan piagam, tropi, dan cinderamata.

Sumber : www.uad.ac.id

Universitas Muhammadiyah Malang -IMLA Promosikan Modernisasi Pembelajaran Bahasa Arab

Bekerjasama dengan Ikatan Pengajar Bahasa Arab se-Indonesia (IMLA) dan King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Arabic Language Riyadh-Arab Saudi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar internasional Bahasa Arab dan Pembelajarannya yang berlangsung Rabu-Kamis (5-6/11) di basement UMM Dome.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 300 pengajar bahasa Arab se-Indonesia itu menghadirkan para pakar Bahasa Arab dari Arab Saudi, Mesir, dan Indonesia. Salah satu isu paling menguat dalam seminar ini yaitu perlunya pendekatan modern dalam pembelajaran bahasa Arab agar bahasa ini tidak hanya menjadi bahasa tekstual agama (Islam), namun bisa menjadi bahasa publik yang juga digunakan untuk kepentingan ekonomi, politik dan sosial-budaya.

Syekh dari King Abdullah Center Arab Saudi Dr Majdi bin Muhammad Khawaji menilai, pendekatan morfologi dalam pembelajaran Bahasa Arab yang terlampau bertitik tumpu pada sisi tekstual-gramatikal dipandang kurang memadai untuk saat ini. Dalam memaknai al-Quran misalnya, menurut Majdi, pendekatan morfologi hanya dapat menangkap dimensi tersurat, dan tidak mampu menyentuh esensi yang lebih dalam.

Karena itu, Majdi menawarkan tafsir berbasis sastra agar pemaknaannya lebih komprehensif serta mampu menangkap maksud tersirat ayat-ayat al-Quran. “Dengan metode tafsir sastra, peran bahasa Arab bisa menjadi lebih bermakna,” paparnya.

Terkait peran Bahasa Arab tersebut, pakar Bahasa Arab asal Mesir Dr Ali Abdul Mun’im mengungkapkan, saat ini Bahasa Arab memang masih inferior jika dibandingkan bahasa asing lainnya. Baginya, Bahasa Arab selama ini hanya menjadi bahasa ritual bagi umat Islam, dan belum bisa menjadi bahasa komunikasi dalam urusan bisnis dan pariwisata.

Dalam konteks Indonesia, lanjut Ali, semestinya bahasa Arab sudah bisa menjadi bahasa publik dalam berkomunikasi seperti halnya bahasa Inggris. Untuk itu, Ali menyarankan perlunya manajemen internal di kalangan stakeholders bahasa Arab, khususnya dalam memperluas pengaruh bahasa ini dalam lingkup yang lebih luas.

“Saya kira kita perlu membangun kemitraan yang kuat dengan kalangan pengusaha, pekerja media, dan para pengambil kebijakan agar bahasa Arab bisa lebih dikenal. Misalnya saat ini sudah banyak turis dari Arab yang berkunjung ke Indonesia tapi sedikit sekali guide yang bisa berbahasa Arab. Nah, jika kita punya mitra dengan pengusaha di bidang pariwisata, maka ada ruang bahasa Arab bisa menjadi bahasa pariwisata,” terangnya.

Senada dengan itu, dosen program studi (Prodi) Bahasa Arab Fakultas Agama Islam (FAI) UMM Ahmad Fatoni menandaskan, selama ini standar kompetensi bahasa Arab masih diukur dari kemampuan membaca kitab berbahasa Arab saja, padahal sebenarnya penggunaannya bisa untuk kepentingan yang lebih luas. “Untuk itu, Prodi Bahasa Arab UMM akan terus memperkaya metode pembelajaran, agar lebih modern dan bisa menjadi bahasa komunikasi sehari-hari, tak hanya di bidang agama tapi juga bidang lain seperti bisnis dan pariwisata,” ujarnya.

Sementara itu Rektor UMM Dr Muhadjir Effendy MAP dalam sambutannya berharap agar kerjasama UMM dengan IMLA dan King Abdullah Center ini terus berlanjut, terlebih setelah dibukanya Prodi Bahasa Arab UMM. “Prodi ini masih sangat muda karena baru saja dibuka tahun ini, namun kerjasama dengan berbagai pihak bisa membuat Prodi ini berkembang pesat,” tuturnya.

Sekalipun Prodi Bahasa Arab di UMM baru dibuka tahun ini, namun sudah sejak lama FAI UMM membangun kerjasama dengan sejumlah institusi di Arab Saudi dalam hal pembelajaran Bahasa Arab. Setiap tahunnya, Kerajaan Saudi Arabia (KSA) selalu mengirimkan dosennya untuk mengajar di UMM, sebaliknya, sejumlah dosen UMM juga dikirim oleh KSA ke Arab Saudi untuk memperkuat kompetensi Bahasa Arab dan pembelajarannya. (han)

Sumber : www.umm.ac.id

Kalender Islam sebagai Basis Akuntansi Bisnis Muslim

Hasil zakat mal (harta) dari seluruh umat Islam jika dikumpulkan semua sebenarnya bisa mensejahterakan seluruh kaum miskin di dunia ini. Bahkan bisa melunasi hutang peradaban. Namun sayangnya, hal itu masih belum didukung sepenuhnya oleh keberadaan ekonomi syari’ah yang masih terus bertumpu pada kalender masehi.

Padahal, jika sistem ekonomi syari’ah itu bertumpu pada perhitungan kalender hijriyah, sudah lebih dari 83 juta dollar hasil zakat mal dari 10 juta umat Islam, akan didapatkan hanya dalam waktu sembilan setengah tahun. Akan tetapi, ketiadaan kalender hijriyah yang bisa dijadikan patokan untuk menghitung haul (waktu setahun penuh) zakat masih menjadi penghambat dari tersalurnya hasil-hasil zakat tersebut.

Demikian benang merah dari diskusi dan bedah buku “Pseudo Syariah Economy and Muslims Civilization”, pada Sabtu (1/11​) di ruang sidang gedung AR. Fakhruddin A lantai 5 Kampus Terpadu UMY. Bedah buku dan diskusi ini diinisiasi oleh Fakultas Ekonomi UMY. Adapun b​uku yang ditulis oleh Prof. Dr. Tono Saksono ini berawal dari penelitiannya mengenai kalender Islam yang dilakukannya sejak tahun 2006. Dari buku ini pula ia ingin membangkitkan kepedulian para sarjana, dosen, dan doktor-doktor Muslim untuk bisa membantu mengentaskan kemiskinan, dengan berpegang pada penggunaan kalender Islam sebagai basis akuntansi bisnis Muslim. Sebab selama ini, pembahasan mengenai ekonomi syariah masih berkutat pada tiga hal, yakni riba (bunga bank), maysir (unsur perjudian), dan gharar (adanya unsur haram dalam usahanya).

Menurut Prof. Tono, dosen di Universiti Husein Onn, Malaysia ini, sistem ekonomi syariah, khususnya dalam bidang perbankan syariah, perlu menggunakan kalender Islam atau kalender hijriyah dalam menentukan haul zakat para nasabahnya. Sebab menurutnya, perhitungan kalender masehi dengan hijriyah itu berbeda. “Perhitungan pada kalender hijriyah itu 11 hari lebih pendek dari kalender masehi. Kalau membayar zakatnya mengikuti kalender masehi maka zakat baru dibayarkan setelah haulnya 365 hari. Tapi kalau mengikuti kalender hijriyah, hari ke 354 sudah masuk haul dan wajib mengeluarkan zakat. Dengan begitu, kalau mengikuti kalender masehi, ada waktu-waktu yang tidak terhitung haulnya,” paparnya.

Ia pun kemudian memberikan contoh jika ada 10 juta umat Islam yang memiliki asset saham di perbankan selama 9,5 tahun, jumlah hasil zakatnya pun akan berbeda. “Misalkan, 10 juta umat Islam punya saham selama sembilan setengah tahun. Maka menurut perhitungan kalender masehi, zakat yang terkumpul sebanyak 81 juta dollar. Tapi kalau dihitung menurut kalender hijriyah, akan terkumpul dana zakat sebanyak 83 juta dollar. Jadi ada selisih kekurangan 2 juta dollar yang tidak terhitung zakatnya,” ungkapnya.

Akan tetapi, menurut profesor berdarah asli Indonesia ini, umat Islam sendiri hingga saat ini masih belum peduli dengan kalender Islam. Hal ini menurutnya dibuktikan dengan banyaknya perbedaan dalam menentukan awal bulan hijriyah, seperti yang terjadi dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, bahkan tanggal 9 atau 10 Dzulhijjah, “Sehingga akibatnya, belum ada kalender hijriyah yang bisa benar-benar dipercaya. Untuk itu, jika kita ingin membantu melunasi hutang peradaban umat ini yang mungkin saja sudah berusia 40 tahun lebih, kita harus menjadikan kalender Islam sebagai sandaran utama ekonomi syariah,” pungkasnya. ​(Sakinah)

Sumber : www.umy.ac.id