Universitas Islam Riau Pelajari Tata Kelola Perguruan Tinggi di UMM

SEBANYAK 21 orang rombongan dari Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru, bersilaturahim ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (13/9). Kunjungan tersebut dimaksudkan mempelajari tata kelola perguruan tinggi, khususnya seputar pengelolaan kepegawaian dan hukum, pemeliharaan dan pengelolaan aset, administrasi umum, keuangan, serta kehumasan.

Ketua rombongan UIR, yang juga Kepala Biro kepegawaian dan Hukum UIRDr ArdiansyahMH mengatakan, status UMM yang telah meraih akreditasi A merupakan pertimbangan utama dijadikannya UMM untuk belajar tata kelola perguruan tinggi.

“Beberapa kali rektor kami sudah melakukan kunjungan kesini (UMM), dan kami direkomendasikan untuk studi banding. Apalagi kami lihat UMM memiliki unit bisnis yang luar biasa. Sehingga kami berharap dapat belajar pengelolaan unit bisnis untuk mendukung pembelajaran, kemahasiswaan dan lain-lainnya,” kata Ardiansyah yang juga merupakan Pengurus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Riau.

Menurut Kepala Biro Administrasi Umum, Dr Muslimin Machmud MSi, dalam pengelolaan perguruan tinggi UMM, unit bisnis merupakan salah satu bagian penting dalam menunjang proses akademik. “Faktor pendanaan memang sangat penting. Tapi tentunya, selain itu banyak hal lain yang harus ditata, diperbaiki, sehingga akan memberi nilai khusus bagi akreditasi,” terang Muslimin.

Terdapat 15 unit bisnis yang dimiliki UMM. Kesemuanya itu, lanjut Muslimin, dalam rangka menopang aktivitas akademik di UMM. “Jadi ibaratnya, ketika Doktor Ardiansyah menulis desertasi, maka tulisan utamanya adalah akademik. Yang bisnis ini adalah catatan kaki yang memberikan penjelasan juga penegasan terhadap tulisan utamanya itu,” kata dosen Ilmu Komunikasi UMM ini.

Muslimin selanjutnya menjelaskan tentang tugas, fungsi, serta alur kerja berdasarkan standar yang telah ditentukan dari masing-masing unit dan badan tersebut.

Sementara itu sekretaris Humas UMM Rina Wahyu Setyaningrum memberikan pemaparan tentang peran dan fungsi Humas UMM. “Ada empat bagian yang menjadi tugas utama Humas di UMM yaitu media relations, cipta visual, protokoler dan kerjasama,”ujar dosen Prodi Bahasa Inggris ini.(acs/han)

Sumber : www.umm.ac.id

Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Perempuan dan Anak UMM Ingatkan Peran Keluarga Atasi Narkoba

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang membeberkan fakta penting. Di Malang, total hampir seribu anak dipastikan menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Hal itu terungkap dalam kegiatan Workshop bertema “Perlindungan Anak Menuju Kota Malang sebagai Kota Layak Anak” yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Malang, Kamis (9/7) di Aula BAU UMM.

“Rinciannya anak SD ada sekitar 25 anak, SMP 364 anak, SMA 150 anak, dan SMK 471 anak. Mereka-mereka ini yang pernah menggunakan barang haram tersebut,” terang Kepala Divisi Pencegahan BNN Kota Malang, RM Achjadi, SH.

Achjadi mengatakan, banyak faktor yang membuat anak menggunakan narkotika, seperti menjadi korban perdagangan anak, eksploitasi anak, juga keluarga yang kurang harmonis. “Anak itu kan masih labil, mudah terpengaruh dengan teman dan lingkungannya. Jika lingkungannya kurang baik, ditambah keluarganya tidak harmonis, resiko anak menyalahgunakan narkoba kian besar,” ujarnya.

Achjadi kemudian menghimbau agar dalam keluarga diciptakan suasana yang kondusif dan harmonis agar anak bisa terhindar dari barang-barang haram tersebut. “Pembentukan kepribadian anak dalam keluarga sangat penting agar membentengi anak dari pengaruh-pengaruh buruk yang ada di lingkungan,” katanya.

Selain sosialisasi tentang narkoba, acara yang dihadiri oleh Forum Anak Kota Malang ini juga diisi sosialisasi tentang lalu lintas oleh Kepala Unit (Kanit) Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Polresta Malang, Ipda Endiex Purwantoro, SH. Kepada sekitar dua ratus peserta workshop, ia mengungkapkan jika sebulan ada sekitar 8 kecelakaan, dan kebanyakan pelanggar dilakukan oleh anak usia 10-16 tahun. “Rata-rata pelanggaran lalu lintas yang dilakukan seperti menerobos lampu merah, tidak memakai helm, menerobos marka jalan, dan lain-lain,” ungkapnya.

Sejak Januari hingga April 2015 saja, Polresta Malang mencatat ada lebih dari delapan ribu pelanggaran yang dikenakan tilang, dan ada 71 kecelakaan yang terjadi akibat melakukan pelanggaran. “Dari 71 kecelakaan itu, 21 diantaranya meninggal dunia, tiga luka berat, dan sisanya luka ringan,” kata Endiex.

Ia juga berpesan kepada peserta agar selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan etika dalam berkendara. “Semua aturan yang dibuat itu untuk keselamatan, keamanan, dan kenyamanan kita semua dalam berkendara, jangan malah dilanggar,” imbuhnya. (zul/han)

Sumber : Universitas Muhammadiyah Malang

Peringati Nuzulul Qur’an, UMM Angkat Pentingnya Ayat-ayat Semesta

Memperingati Nuzulul Qu’ran Ramadhan 1436 Hijriyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar ceramah bertema “Sains dan al-Quran” oleh penulis buku best seller “Ayat-Ayat Semesta” Dr Agus Purwanto. Kegiatan berlangsung selepas shalat tarawih berjamaah di Masjid AR Fachruddin UMM, Jumat (3/7).

Dalam ceramahnya, Agus mengaku prihatin dengan kondisi umat Islam yang terbelakang dari segi sains. “Sewaktu kecil saya belajar fisika di sekolah, saya heran kenapa semua rumus fisika berasal dari ilmuan Barat. Ada Newton, Einstein, semua dari Barat. Saya jadi tergerak untuk menjadi ilmuan Muslim,” ungkap Agus yang juga pengurus Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid ini.

Bagi Agus, bangsa yang maju adalah bangsa yang menguasai sains lantaran hal tersebut sangat mempengaruhi proses produksi dan konsumsi. “Saya tidak pernah lihat sepeda motor mereknya Paijo, adanya merek Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki. Itu semua dari Jepang. Bagaimana kita mau maju kalau kita setiap tahunnya mengkonsumsi jutaan motor dari sana,” ujarnya.

Agus menilai, keterbelakangan tersebut lantaran kecenderungan umat Islam yang terlampau berorientasi pada dimensi fikih dan tasawuf. Padahal, lanjutnya, di dalam al-Quran terdapat 800 ayat tentang alam semesta, dan 160 ayat tentang fikih. “Tapi umat Islam terlalu banyak meributkan soal fiqih, sehingga dimensi saintifik al-Quran menjadi terabaikan,” kata Agus.

Karena itu, Agus berharap, peran al-Quran harus lebih banyak dimanfaatkan bagi pengembangan ilmiah melalui riset dan analisis. Baginya, umat Islam harus merubah cara berpikir bahwa al-Quran bukanlah pembenar teori, melainkan basis pijakan menyusun premis-premis dalam membangun teori. “Tugas kita adalah menyibak rahasia al-Quran yang penuh dengan kandungan ilmiah,” ujar Agus.

Khazanah sains dan keyayaan premis-premis teoritis lantas diungkap oleh Agus dengan memaparkan sejumlah ayat yang dinilainya menjadi sumber informasi awal untuk menghasilkan teori. Mulai dari ayat tentang ratu semut, lebah dan madu, keseimbangan dan harmoni alam semesta, cahaya di atas cahaya, hingga nalar di balik ayat-ayat tentang supernova.

Tak hanya melahirkan sejumlah buku, konsep dan teori, Agus juga meneruskan gagasannya itu dengan membentuk pondok pesantren sains (Trensains) yang mempelajari kurikulumnya memuat filsafat, sains dan bahasa Arab. Trensains sejauh ini telah berkembang di Sragen dan Jombang serta akan dibuka di Yogyakarta dan Lombok.

Selain ceramah tentang Sains dan al-Quran ini, peringatan Nuzulul Qur’an di UMM akan dilanjutkan dengan “Sinau Nuzulul Qur’an Bareng Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjeng” pada 5 Juli yang akan dimulai pukul 20.00 di heliped UMM. Dua kegiatan Nuzulul Qur’an tersebut merupakan rangkaian Syiar Ramadhan 1436 H UMM yang berisi sejumlah agenda yang telah berlangsung sejak awal Ramadhan dan akan ditutup dengan shalat Idul Fitri di tiga masjid, yakni masjid Ad-Dakwah di kampus II, masjid AR Fahruddin di kampus III dan masjid KH Bedjo Dermoleksono di RS UMM. (han)

Sumber : Universitas Muhammadiyah Malang

Dilatih AIESEC UMM, Mahasiswa Asing Siap Lakukan Revolusi Wirausaha

Sebanyak sepuluh mahasiswa asing asal Belanda, Maroko, Mesir, Rusia dan Vietnam menjadi bagian dari kegiatan revolusi wirausaha bertajuk Entrevolution yang diadakan Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Peluncuran Entrevolution yang merupakan proyek nasional AIESEC Indonesia ini dilaksanakan di Aula Biro Administrasi Umum (BAU) UMM, Kamis (2/7).

Kesepuluh mahasiswa asing ini akan terjun kepada masyarakat melakukan proyek wirausaha di bidang seni, pendidikan, dan pengabdian masyarakat. “Selama 1-3 bulan, mereka akan observasi di tiga UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di Malang dan akan merekomendasikan kepada UKM tersebut hal-hal seperti manajerial, pemasaran, teknis, dan lain-lain,” ungkap Drs Soeparto MPd, Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) UMM, Dr Fien Zulfikarijah MM mendukung penuh proyek yang diadakan oleh AIESEC. “PKMA sebenarnya punya banyak program di bidang kewirausahaan bagi mahasiswa dan alumni. Namun baru AIESEC yang pertama kali bekerjasama dengan PKMA untuk mewujudkan program-program tersebut,” katanya.

Ia mengungkapkan, jumlah penduduk Indonesia yang berwirausaha masih berada di kisaran satu persen. “Minimal 2,5 persen penduduk yang berwirausaha, maka pertumbuhan negara tersebut akan maju. Malaysia saja ada di kisaran 4,5 persen, bahkan Singapura sekitar 7 persen. Indonesia dengan 200 juta penduduknya punya kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh,” ujar Fien.

Entrevolution diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, di antaranya Ledpreneur, Charity, Exchange Master Class, Liveware Seminar, Visit SME, Visit School, Global Village Expo, dan Entre Goes to Village. Peluncuran program ini ditandai dengan pemotongan pita oleh Kabag PKMA dan Ketua Panitia Launching Entrevolution. “Semoga dengan adanya program ini dapat mengubah masyarakat menjadi lebih baik,” ungkap local committe Presiden AIESEC UMM, Ivan Ahsanul Insan. (zul/han)

Sumber : Universitas Muhammadiyah Malang

Praksis Indonesia Berkemajuan Perkuat Peran Kebangsaan Muhammadiyah

Konsep Indonesia Berkemajuan dinilai bisa menjadi strategi gerakan Muhammadiyah yang kontributif bagi dinamika kebangsaan. Hal itu terekam dalam salah satu sesi Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur 1436 Hijriyah bertema “Tantangan Muhammadiyah Lima Tahun ke Depan” yang berlangsung pada Ahad lalu (28/7) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Sesi ini menghadirkan pembicara, ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir, sekretaris jenderal (Sekjen) PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’thi, dan Rektor UMM Prof Dr Muhadjir Effedy MAP. Dalam paparannya, Haedar mengatakan, gagasan Indonesia berkemajuan dapat terwujud jika Muhammadiyah bisa melakukan sinergi antar lini, terutama dengan berbagai kekuatan masyarakat sipil.

“Namun kita juga tidak boleh melupakan peran parpol (partai politik). Parpol terbukti sangat membatu peran kebangsaan kita, salah satunya terlihat dalam jihad konstitusi Muhammadiyah di mana kehadiran kader kita di lingkaran politik terbukti sangat berpengaruh,” kata Haedar.

Selain itu, kata Haedar, secara internal Muhammadiyah juga harus kuat dari sisi ideologis. “Seluruh pimpinan Muhammadiyah di masing-masing tingkat harus memiliki perspektif keislaman yang frame-nya Muhammadiyah. Ideologisasinya harus satu perspektif,” ujarnya.

Mangamini hal tersebut, Mu’thi mengatakan, konsep Indonesia Berkemajuan bisa menjadi spirit Muhammadiyah dalam melakukan perubahan substansial bagi bangsa ini. Salah satunya melalui amandemen terbatas Undang-Undang Dasar 1945. “Ada beberapa pasal yang menurut saya going too far.”

Di sisi lain, Muhadjir menilai, Muhammadiyah hingga saat ini bisa terus bertahan dan justru kian berperan penting lantaran memiliki tiga perangkat yang membuat ide bisa menjadi tindakan, yaitu kekuatan dari sisi arkeologi pengetahuan, serta kekuatan ideologis dan instrumentalis.

Dari sisi kedalaman gagasan, Muhammadiyah dinilai Muhadjir memiliki akar arkeologi pengetahuan yang kuat. Banyak organisasi yang menurut Muhadjir tidak bisa berkembang di Indonesia karena tidak memiliki silsilah pengetahun yang kuat.

Sementara dari sisi ideologis, Muhammadiyah dipandang berhasil mengembangkan sistem keyakinan pada anggotanya bahwa ber-Muhammadiyah merupakan cara ber-Islam yang terbaik. Adapun dari sisi instumentalis, Muhammadiyah memiliki banyak perangkat praktis yang membuat organisasi ini dapat mempraksiskan ide-idenya.

Lebih lanjut Muhadjir berharap, Muhammadiyah ke depan dapat memperkuat orientasi kemanusiaan-nya, yaitu membangun humanisme universal. Dengan begitu, Muhammadiyah dapat melampaui batas-batas orientasi pribadi (individualisme), kekerabatan (nepotisme), golongan (parokialisme), dan kebangsaan (nasionalisme). (han)

Sumber : Universitas Muhammadiyah Malang

Mahasiswa Komunikasi UMM Terbitkan Buku Bergenre Fotografi

Menerbitkan buku di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) seakan sudah menjadi tradisi. Hal ini dibuktikan dengan kembali diterbitkannya buku bergenre fotografi dari mahasiswa semester dua. Buku berjudul “Pasar” ini merupakan proyek mata kuliah Dasar Fotografi yang diampu oleh Rahadi MSi.

“Buku ini merupakan gabungan dari empat kelas dari A hingga D. Ada sekitar 200 foto lolos kurasi dan layak dimasukkan dalam buku ini,” kata Rahadi saat ditemui di Kantor Jurusan Ilmu Komunikasi, Selasa (23/6).

Buku ini merupakan buku bergenre fotografi kedua yang dibuat oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM. Sebelumnya, pada 2014 juga terbit buku berjudul “Simple”. Ada sekitar 100 karya fotografi masuk dalam buku tersebut. Kali ini, pasar menjadi tema besar dari foto-foto yang ada dalam buku ini.

Menggunakan pendekatan environmental potret, Rahadi ingin mahasiswanya dapat dekat dengan pedagang pasar yang menjadi subjek fotografinya. “Dalam buku ini, kita akan melihat perbandingan aktivitas antara pasar tradisional dan pasar modern, dari mulai prilaku, cara berpakaian, bagaimana interaksi antara penjual dan pembeli, dan lain-lainnya,” ungkapnya.

Tak hanya dekat dengan subjeknya, Rahadi ingin menekankan jika foto yang bagus bukan berasal dari kamera yang bagus, tapi dari siapa yang mengoperasikan kamera tersebut. “Beberapa foto dalam buku ini justru diambil menggunakan kamera ponsel. Cover buku ini diambil menggunakan kamera ponsel, bukan kamera canggih seperti DSLR (Digital Single-Lens Reflex) atau kamera kantong,” ujar Rahadi.

Proses membuat buku ini juga tidak mudah. Rahadi mengungkapkan butuh waktu selama dua bulan hanya untuk mengisi materi. “Saya harus benar-benar memilih foto mana yang layak untuk masuk dalam buku ini. Rata-rata tiap kelas 90 persen karyanya terhitung layak. Sisanya akan diberikan tugas tambahan yakni hunting foto ulang sampai karyanya benar-benar bagus,” katanya.

Rencananya, buku yang baru saja terbit pekan lalu ini akan di-launching semester depan. Rahadi berharap, buku ini bisa menjadi portofolio bagi mahasiswa yang terlibat dalam pembuatan buku ini. “Saya harap mereka tidak berhenti di sini saja, tapi mereka dapat membuat karya fotografi yang lebih baik dari saat ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Selma Oktavia Kusuma Wardhani, salah satu mahasiswa yang karya fotonya masuk dalam buku ini merasa karyanya diapresiasi dengan terbitnya buku berupa kumpulan karya foto bersama teman-temannya. “Ini juga bisa jadi inspirasi buat teman-teman lain untuk tidak bosan belajar fotografi, dan ini jadi self-branding ke dunia luar bahwa kami mahasiswa baru Komunikasi UMM sudah mengeluarkan buku sendiri,” ujarnya. (zul/han)

Sumber : Universitas Muhammadiyah Malang

UMM-Kemensos RI Galakkan Desa Sejahtera Mandiri

Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mengembangkan Desa Sejahtera Mandiri (DSM). Hal tersebut disampaikan Direktur Pemberdayaan Keluarga dan Kelembagaan Sosial, Drs Hasbullah, Msi dalam Sosialisasi dan Assesment Pengembangan Model DSM di Aula BAU, Senin (15/6).

“DSM merupakan salah satu program strategis Kemensos yang merupakan implementasi Nawacita Presiden dan Wakil Presiden dengan sinergi seluruh komponen,” kata Hasbullah.

Sebelumnya, tambahnya, program DSM bernama Desa Produktif yang dikelola oleh Kementerian Perindustrian. Selain itu, ada pula Desa Pesisir yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Desa ini merupakan gabungan dari desa-desa tersebut yang dikelola secara bersama oleh Kemensos,” ujarnya dihadapan sekitar 200 koordinator dan sekretaris kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Sinergi antara Kemensos, stakeholder, dan Perguruan Tinggi (PT) dapat mempercepat terwujudnya DSM. “PT kan punya program KKN tiap tahunnya, dengan memanfaatkan program KKN, diharapkan desa binaan KKN setelah ditinggal oleh mahasiswa dapat menjadi desa yang mandiri dan sejahtera dengan mengedepankan kearifan lokal,” ucap Hasbullah.

Sementara itu, Kepala Divisi Pelayanan Masyarakat dan KKN Drs Amir Syarifudin, MP menyebut, sosialisasi ini penting untuk menambah wawasan para peserta KKN dalam menyusun program-program pengabdian kepada masyarakat. “Istilahnya Kemensos ini punya programnya, namun pasti mereka akan kekurangan SDM dalam melaksanakan program tersebut. Nah, PT ini kan punya SDM, dengan memanfaatkan KKN inilah program-program yang sudah dirancang oleh Kemensos bisa berjalan,” ungkapnya.

KKN di UMM akan dilaksanakan pada 27 Juli hingga 25 Agustus. Lebih dari  4200 peserta akan mengabdi kepada masyarakat di sekitar 130 desa sekitar Jawa Timur. (zul/han)

Sumber : Universitas Muhammadiyah Malang

UMM Raih Penghargaan Menkumham

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima penghargaan beruntun. Setelah pada 20 Mei lalu menerima Anugerah Kampus Unggul (AKU) sebagai kampus unggul dari Kopertis Wilayah VII, kali ini UMM diakui sebagai kampus Kawasan Berbudaya Hak Kekayaaan Intelektual (HKI) dari Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham) RI. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menkumham, Yasonna H. Laoly kepada  rektor UMM, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (9/6).

Jika di piala AKU UMM merupakan kampus terunggul selama delapan tahun berturut-turut, maka penghargaan Menkumham ini adalah untuk kali pertama. Dua kampus selain UMM yang juga menerima penghargaan ini adalah Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya. Pengaugerahan disaksikan oleh Gubernur Jawa Timur, Dr Sukarwo dan Dirjen Kekayaan Intelektual, Prof Dr Ahmad M. Ramli, SH.

Pada kesempatan yang sama, rektor juga menandatangani naskah kerjasama dengan Dirjen Kekayaan Intelektual. Bersama Dirjen KI, UMM bertekad memperkuat produktivitas kawasan berbudaya kekayaan intelektual di Jawa Timur.

Dirjen KI menyatakan, UMM merupakan kampus yang sudah membudayakan kekayaan intelektual melalui Sentra HAKI. “UMM juga turut memfasilitasi masyarakat dan mahasiswa untuk membudayakan kekayaan intelektual dengan baik,” ujarnya dalam sambutan dan pembacaan Surat Keputusan Menkumham.

Rektor mengaku penghargaan ini merupakan satu capaian yang memang harus dimiliki oleh setiap perguruan tinggi. Sebagai center of excellence, kampus harus menunjukkan keberpihakannya pada penghargaan atas hak kekayaan intelektual dan ikut membangun masyarakat melalui pendampingan pendaftaran kekayaan intelektual. Dengan demikian, temuan-temuan kampus maupun masyarakat akan terlindungi dan memperoleh haknya secara memadai.

“Sebenarnya temuan dosen maupun mahasiswa itu banyak yang sangat kreatif dan inovatif. Tetapi belum semua didaftarkan HAKI maupun paten. Melalui penghargaan ini UMM akan meningkatkan perhatiannya pada pengurusan kekayaan intelektual ini,” kata rektor.

Tak hanya itu, untuk memacu kreativitas dan inovasi dosen dan mahasiswa, UMM akan membentuk Taks Force yang secara khusus mengidentifikasi, memotivasi dan mendorong temuan-temuan baru di UMM. “Kita sudah memiliki Sentra HAKI yang akan mengurus dan mendaftarkan ke Kemenkumham untuk melindungi kekayaan intelektual mereka,” tambah Muhadjir.

Sentra HAKI berada di bawah Direktorat Penelitain dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM yang dipimpin direktur Prof Dr Sujono, M.Kes. Tak hanya bekerja untuk internal kampus, Sentra HAKI juga ini telah terhubung dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan bintek kepada masyarakat. “Selama ini kita sudah melakaukan pendampingan, terutama dengan UMKM-UMKM yang produktif. Ke depan kita juga akan mematenkan indikasi geografis dan produk apel organik,” tutur Sujono.

Dua penghargaan bagi UMM ini melengkapi perolehan sebelumnya, yakni sebagai kampus yang terakreditasi institusi dengan nilai A, kelembagaan penelitian UMM yang masuk dalam Cluster Mandiri berbintang Tiga Emas, serta perolehan sertifikat ISO standard 9001:2008.  (nas)

Sumber : Universitas Muhammadiyah Malang

Mahasiswa Australia: Belajar Islam ke Non-Muslim itu Keliru

Di jajaran wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dikukuhkan pada Sabtu (30/5) lalu, terdapat wajah warga asing. Dia adalah Robert John Pope, warga Australia yang baru saja berhasil lulus di Magister Agama Islam (MAI) UMM.

Ketertarikan Robert pada studi Islam dilatari keinginan mempelajari Islam dari ahli dan sumbernya secara langsung. “Kalau belajar Islam ke non-Muslim itu keliru,” kata Robert yang menulis tesis tentang ‘Menemukan Kembali Islam Inklusif: sebuah Riset Naratif terhadap Usman Ibrahim’.

Sebelum memilih Kampus Putih, semula Robert mencari info tentang beberapa universitas yang mengajarkan tentang studi Islam. Pilihannya jatuh pada UMM lantaran ada kontak pribadi serta kecocokan visi akademik dengan sejumlah dosen di MAI UMM, terutama dua guru besar, yaitu Prof Tobroni dan Prof Syamsul Arifin.

Sebagai balas budinya pada UMM, pria asal Renmark, Australia ini ingin membangun kemitraan antara lembaga tempatnya bekerja, Equal Access, dengan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) PPs UMM.

Bagi Robert, UMM sangat mendukung pemikiran rasional, sangat terbuka, serta memiliki intellectual honesty yang kuat. Ia juga mengaku terpukau dengan cara UMM menampilkan dirinya, misalnya dari video UMM pernah saya lihat. “UMM adalah kampus yang luar biasa. Kampus ini memiliki masa depan yang cerah.”

Selepas lulus Pascasarjana MAI UMM, Robert berencana melanjutkan studinya di S3 Pendidikan Agama Islam (PAI) UMM. “Tapi saya harus kembali ke Australia dulu untuk bekerja lagi selama setahun. Rencananya, bulan Juli tahun depan (2016) akan mengambil kuliah doktor di UMM.”

Sebagai penganut Kristiani, Robert memiliki cara pandang yang menarik dalam beragama. “Sekalipun saya beragama Kristen, tapi saya tidak makan babi dan juga tidak minum minuman keras. Tapi dasarnya itu rasional, karena bagi saya, kalau mau sehat, ya harus mengkonsumsi makanan halal,” ujarnya.

Ketua program studi MAI PPs UMM Prof Dr Tobroni MSi menyebut, Robert adalah seorang penganut ajaran Kristen dan Islam. Menurut dia, Robert secara formal beragama Kristen tetapi penganut tauhid. Robert mendalami monoteisme agama Ibrahim dan agama samawi lainnya termasuk Kristen. “Robert memiliki cita-cita mempertemukan agama-agama samawi, khususnya Kristiani dan Muslim di Australia,” ujarnya.

Sumber : REPUBLIKA

PKMAH UMM Siapkan Mahasiswa Jadi Auditor Halal

Berlakunya  Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH) membuat perusahaan-perusahaan pangan, obat-obatan  dan kosmetika di Indonesia dituntut menjamin produknya agar aman dan halal. Konsekuensinya, auditor halal internal (AHI) semakin dibutuhkan, terlebih di tengah minimnya profesi tersebut.

Kenyataan tersebut direspon cepat oleh Pusat Kajian Makanan Aman dan Halal (PKMAH) bentukan Program Studi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan menyiapkan lulusannya agar bisa menjadi auditor halal internal. Hal itu diwujudkan melalui kegiatan ‘Workshop Sertifikasi Halal dan Penguatan Bekal Auditor Halal Internal’ yang berlangsung di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM, Senin (25/5).

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) Pusat, Ir Hj Osmena Gunawan yang hadir sebagai pembicara mengatakan, saat ini masyarakat butuh diyakinkan bahwa produk yang digunakan sepenuhnya halal. Untuk itu, sejak 2012 LPPOM-MUI memberlakukan sistem jaminan halal HAS 2300 yang telah menjadi rujukan internasional dan diakui oleh World Halal Food Council (WHFC).

Bagi Osmena, penerapan sistem jaminan halal (SJH) ini amat penting, baik dalam perspektif teknologi, manajemen maupun bisnis. “Terlebih, saat ini tren pasar global terhadap produk halal tengah meningkat. Jadi, kebutuhan auditor halal tidak hanya secara nasional, tapi juga internasional, apalagi menjelang berlakunya pasar global dan terbentuknya masyarakat ekonomi ASEAN.”

Ketua PKMAH UMM Dr Ir Elfi Anis Saati MP menambahkan, di tengah tuntutan pasar global terhadap sertifikasi halal, nyatanya kondisi keamanan dan kehalalan pangan di Indonesia amat memprihatinkan. Elfi mencontohkan, tak sampai 15 persen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia yang sudah tersertifikasi halal.

“Untuk bisa memperoleh sertifikasi halal, sebuah UMKM harus memiliki perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) terlebih dahulu. Nah, di Indonesia UMKM yang memiliki izin PIRT hanya sekitar 45 persen saja. Jadi tugas kita, selain menyiapkan lulusan sebagai auditor halal internal, juga mendampingi UMKM agar tersertifikasi halal,” terang Elfi yang juga dosen ITP UMM ini.

Menurut Elfi, workshop ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa ITP UMM karena bisa menjadi bekal selepas lulus nantinya. “Dulu, untuk bisa mengikuti acara seperti ini saya harus pergi ke Bogor, waktu itu bayarnya 300 ribu. Sekarang, untuk bisa ikut workshop seperti ini kita harus bayar sampai dua setengah juta. Nah, khusus mahasiswa ITP UMM kita gratiskan,” ujarnya.

Menindaklajuti kegiatan workshop ini, PKMAH UMM juga akan mengadakan seminar tentang ‘Pentingnya Sertifikasi Halal: Prospek, Manfaat, dan Peluang Bagi Perusahaan serta Pengembangan IPTEKS dalam Menyongsong Perdagangan Global’ pada 11 Juni 2015 di UMM Dome. Seminar menghadirkan direktur LPPOM-MUI Jawa Timur Prof Dr Sugijanto MKes Apt dan kepala Quality Assurance (QA) Perusahaan Cleo Pandaan-Pasuruan, di mana ketua PKMAH UMM Elfi Anis Saati juga bertindak sebagai pembicara. (han)

Sumber : UMM