UMSB Adakan Seminar Internasional

Padang-Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) gelar seminar international di gedung Convention Hall UMSB. Jum’at, (6/12/19). Acara seminar inernasional yang digelar UMSB ini menghadirkan Pembicara Utama yakni Dato Otsman Hassan,  Menteri senior Kambodia dengan Materi yang akan disampaikan “Generasi Muda Muslim Kamboja dan Orientasi Studi Islam Luar Negeri”  pembicara kedua Naggota, Parlemen senior Tangan Kanan Anwar Ibrahim Malaysia dengan tema materi “Kerjasama Pembinaan Mahasiswa Malaysia dan Indonesia” dan Dr. Mahyudin Ritonga, M.A, Direktur Program Pascasarjana UMSB dengan tema “UMSB Prosfektif Penerimaan Mahasiswa ASEAN” sedangkan  yang  menjadi moderator adalah Dr. Ahmad Lahmi, MA, Dosen UMSB.

Riki Saputra, Rektor UMSB mengucapkan selamat datang kepada pemateri, dan berharap kepada kepada peserta yang hadir bisa melaksanakan acara seminar ini dengan baik. Diakhir acara rektor berkesempatan memberikan cendera mata kepada pemateri karena telah banyak menyumbangkan ilmu pengetahuan ke UMSB. Seminar internasional ini dihadiri kurang lebih 500 orang mahasiswa dan dosen yang berasala dari berbagai daerah di Sumatera Barat.

UNIMUDA adakan Sosialisasi Instrumen Akreditasi 4.0

Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UNIMUDA Sorong melaksanakan sosialisasi Instrumen Akreditasi Studi IAPS 4.0 di Meeting Room UNIMUDA Sorong, Sabtu (14/12). Dibuka secara resmi oleh Doni Sudibyo selaku Wakil Rektor UNIMUDA, sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu tridarma perguruan tinggi di UNIMUDA.

Dalam sambutannya, Doni Sudibyo memaparkan bahwa instrumen BAN-PT ini tidak lain untuk meningkatkan mutu kualitas layanan dan lulusan sarjana di perguruan tinggi. “secara teknis,  bahwa dalam instrumen akreditasi Prodi 4.0 ini tidak lagi menggunakan standar, akan tetapi menggunakan kriteria dan kedudukan, sehingga semua komponen atau unsur di dalam universitas itu semua bersinggungan” lanjutnya.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan informasi terbaru terkait dengan Instrumen Akreditasi Prodi (APT) 4.0 dengan 9 kriteria. “Sosialisasi ini untuk meng-update terkait instrumen yang diterbitkan oleh BAN-PT,” tutupnya.

Dosen IP UMY Raih Penghargaan dari Indonesia Human Initiative

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rachmawati Husein, MPC, PhD, mendapatkan penghargaan ‘Human Initiative Lifetime Achievement Award 2019’ di Balai Kartini, Selasa (10/12). Penghargaan ini diberikan oleh Indonesia Human Initiative kepada tokoh-tokoh yang menginspirasi dan konsen dalam dunia kemanusiaan.

Rachamawati mengungkapkan penghargaan ini diberikan kepadanya karena telah melakukan pengabdian selama 15 tahun di bidang kemanusian dan konsisten mengupayakan kolaborasi di bidang kemanusiaan. “Seperti Humanitarian Forum Indonesia, Aliansi Kemanusiaan Indonesia. Lalu ada di tingkat Regional yaitu Regional Steering Group (Kelompok pengarah) KTT Kemanusiaan untuk wilayah Asia Utara (Jepang, Korea China, Mongolia, Nepal dan Asia Tenggara), serta kerja sama dengan HI/PKPU untuk penguatan kapasitas tanggap darurat,” ujar Rachmawati

Penghargaan ini diharapkan dapat membuat orang akan terus bergerak di isu kemanusiaan dan kebencanaan. Rachamawati pun mengajak anak muda untuk tidak acuh dengan isu-isu kemanusiaan di sekitar mereka. “Kalau di Indonesia anak muda perlu terlibat dengan mulai dari meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan khususnya kesiapan bencana yang terjadi karena Indonesia rawan bencana. Kemudian, pemuda perlu meningkatkan empati dan kepedulian yang tinggi tidak hanya untuk krisis kemanusiaan di Indonesia tetapi juga di Luar Negeri,” tegasnya.

Sebagai informasi tambahan Rachamawi dinobatkan menjadi salah satu tokoh inspiratif Reksa Utama Anindha dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan juga dipercaya oleh PBB untuk menjadi salah satu anggota Advisor Group pada Central Emergency Response Fund (CERF).

UMP Kukuhkan Profesor di Kebun Klapa Kopyor

Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengukuhkan Prof Drs Sisunandar M Si P hD sebagai Guru Besar pada 14 Desember 2019. Pengukuhan guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Biologi ini dilaksanakan di Kebun Plasma Nutfah Kelapa Kopyor, Science Techo Park UMP, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Acara rapat senat terbuka UMP  dihadiri oleh Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof Dr H Chiril Anwar, Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Prof Dr DYP Sugiharto, Bupati Banyumas Ir H Achmad Husein, Rektor UMP, Dr Anjar Nugroho, Senat Kehormatan Prof Alain Rival direktur Cirad, Prancis beserta Wakil Rektor I, II, III dan IV dan jajaran senat UMP .

“Pengukuhan kali ini sangat unik karena dilakukan di kebun. Kami ingin mengajak para hadirin untuk melihat secara langsung karya Prof Sisunandar berupa kelapa kopyor yang ditanam di kebun kelapa milik Universitas Muhammadiyah Purwokerto,” jelas Rektor UMP Dr Anjar Nugroho. Menurutnya, kebun plasma nutfah kelapa kopyor seluas 5 hektare milik UMP ini memiliki berbagai jenis kelapa dan berbagai macam varietas kelapa yang akan dikembangkan.

Sementara itu, dalam pengukuhannya, Prof Sisunandar membawakan pidato pengukuhan berjudul “Kultur Jaringan Tumbuhan Untuk Konservasi Dan Produksi Benih Unggul Tanaman Perkebunan: Dari Laboratorium Ke Industri”. Prof Sisunandar mengatakan, Indonesia dianugerahi oleh Allah SWT dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. 12 % spesies mamalia, 16 % spesies reptil dan amfibi, 17 % spesies burung, dan 14 % spesies ikan yang ada di dunia hidup dan berkembang biak di Indonesia. Pada tumbuhan berbunga, Indonesia adalah rumah dari 11 % atau sekitar 25 ribu spesies dan lebih dari setengahnya merupakan tanaman asli Indonesia. “Indonesia saat ini dikenal sebagai negara terbesar penghasil kelapa di dunia, namun mayoritas petani kelapa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hampir 3 juta petani kelapa di Indonesia (96 %) memiliki lahan kurang dari setengah hektar yang ditanami kelapa kurang dari 100 pohon,” katanya.

Ia melanjutkan, fasilitas, sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mengembangkan kompetensi masing-masing di UMP saat ini sudah sangat memadai. Menurutnya, fasilitas laboratorium yang dimiliki UMP sangat baik dan modern, teknologi informasi juga dapat diakses dengan mudah. Prof Sisunandar lalu mengajak kepada para mahasiswa dan dosen juniornya yang berkiprah di bidang ilmu biologi, pertanian maupun perkebunan di lingkungan UMP untuk terus mengembangkan riset dan inovasinya.

Moderasi Jadi Alternatif Radikalisasi

Stigma Radikalisme adalah Fakta Sosial yang Nyata

Mengangkat tema “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan dalam Perspektif Sosiologi” Prof Haedar Nashir mengawali pidatonya dengan pertanyaan mengenai Radikal dan Radikalisme. Bukan hal yang disengaja, ia memaparkan bahwa akhir-akhir ini Indonesia banyak dikaitkan dengan dua istilah tersebut. “Indonesia seolah berada dalam darurat radikalisme, hampir banyak diksi dan kalimat untuk menunjukan Indonesia ada pada situasi Radikal.” Lebihnya, kata radikal tersebut sering disangkut-pautkan dengan agama khususnya Islam.

“Lalu, bagaimana dengan peristiwa di Wamena, pembunuhan 31 pekerja pembangunan jalan di distrik Yigi, Nduga Papua, pembakaran masjid di Tolikara serta gerakan separatis yang mengancam keamanan rakyat dan negara?” pertanyaan ini sontak memaparkan fakta yang mengacu pada pemaparan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu periode 2014-2019, yaitu tindakan tersebut bukan kelompok kriminal biasa, namun kelompok pemberontak.

Awal Mula Lahirnya Radikalisme

Merujuk pada KBBI, pria kelahiran 25 Februari 1958 ini memaparkan tiga arti kata radikal yaitu (1) secara mendasar, (2) amat keras menuntut perubahan, dan (3) maju dalam berpikir dan bertindak. Hal yang menarik, Ketua PP Muhammadiyah ini mencoba mengulik sejarah kelahiran radikalisme yang pertumbuhannya justru di Eropa. Pada 1797 radikal pertama kali muncul pada konteks politik dengan sebutan “reformasi radikal”. “Gerakan radikal dan radikalisme lebih banyak dijumpai dalam kelompok politik,” lanjutnya. Di Indonesia, gerakan komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI) termasuk paham marxisme radikal yang terbilang sangat radikal. Gerakan ini bahkan totaliter dengan menghalalkan segala cara dan menimbulkan berbagai pertentangan konflik keras dalam masyarakat.

Berawal dari tragedi peledakan WTC (World Trade Center), serta adanya peristiwa bom yang kemudian dikenal dengan tindakan terorisme semakin kuat mengangkat fakta sosial mengenai isu radikalisme. Kasus ini kerap memperkuat diksi bahwa radikal dan terorisme sering dikonotasikan dengan kelompok Islam. Kenyataannya memang terdapat kelompok yang bertautan dengan ideologi Islam garis keras. “Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan generalisasi yang membangun cara pandang dan kebijakan bahwa radikalisme itu adalah radikalisme agama. Sehingga sasarannya pun institusi sosial seperti masjid, majelis taklim, dan bagian-bagian dari kelembagaan umat Islam,” tegas Prof Haedar.

Pancasila sebagai Ideologi, Moderasi jadi Alternatif

Hal tersebut menyimpulkan bahwa persoalan mengenai Radikalisme bukanlah persoalan sederhana dan tidak bisa disederhanakan. Prof Haedar menegaskan bahwa radikalisme atasnama apapun dan dilakukan oleh siapapun merupakan persoalan yang sangat merugikan masa depan bangsa dan kehidupan umat manusia. Karenanya, tidak semestinya terdapat ambiguitas, standar ganda, dan melakukan politisi dalam mengkontruksi radikalisme sehingga label radikalisme dan hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu.

“Berlandaskan Pembukaan UUD 1945, Indonesia harus mampu menyelesaikan masalah radikalisme dalam ranah politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan,” ucap Dosen FISIPOL UMY ini. Mengusung kata moderasi, Prof Haedar mencoba memberikan jalan alternatif dari deradikalisasi untuk menghadapi segala bentuk radikalisasme secara moderat.

Berdasarkan pancasila, moderasi Indonesia dan keindonesiaan dapat menjadi pandangan dan orientasi yang perlu diutamakan. Dalam konteks moderasi agama, Prof Haedar mengapresiasi apa yang dilakukan oleh menteri agama pada periode lalu. “Yakni melakukan moderasi Indonesia sebagai arus utama dalam kehidupan bangsa Indonesia kedepan.”

Prof Haedar sangat menyayangkan jika ketakutan terhadap jihadis, khilafah dan lainnya justru menjadi alasan untuk menghapus materi pembelajaran yang terkait dengan jihadis dan khilafah. “Tetap ajarkan jihad dan materi khilafah, namun kita luruskan pemahamannya sebagaimana apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,” lanjutnya.

Karena itu segala bentuk stigma terhadap radikalisme agama termasuk radikalime Islam harus kita sudahi dan tempatkan dalam seluruh mainstream radikalisme. Namun Prof Haedar menegaskan bagi kaum beragama pandangan ini tidak berarti membenarkan radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme, atas nama agama manapun termasuk Islam. Islam tidak membenarkan ekstrimisme dan terorisme dalam bentuk apapun. “Karena Islam menghadirkan agama yang damai untuk seluruh umat semesta,” tutupnya.

STIEMA Lepas Mahasiswa Magang

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Asahan (STIEMA) melepas mahasiswa  yang akan magang di Aula STIEMA, Kamis (5/12). Kegiatan Magang rencananya akan dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir ke UKM-UKM di sekitar daerah Asahan-Batubara pada 5 Desember 2019 hingga 4 Januari 2020.

Sebanyak 15 kelompok yang terdiri dari 120 orang mengikuti kegiatan ini. Setiap kelompoknya merupakan gabungan dari Prodi Manajemen dan Prodi Akuntasi. Kegiatan magang ini diketuai oleh Husni, SE, MSi yang merupakan Wakil Ketua III STIE Muhammadiyah Asahan.

Magang mahasiswa bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung mengenai cara berwiraswasta, sehingga ke depannya mereka akan termotivasi untuk menjadi enterpreneur. Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan ilmunya dan juga dapat membantu para UKM tempat magang mahasiswa dalam menyempurnakan usahanya.

Pengukuhan Guru Besar Dr Haedar Nashir, M.Si

Pengukuhan Guru Besar Dr. H Haedar Nashir, M.Si resmi dilaksanakan di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (12/12). Dimulai pukul 08.00, acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya yang dibawakan oleh PSM Sunshine Voice UMY.

Penyerahan Surat Keputusan Pengangkatan Guru Besar Dr H Haedar Nashir, M.Si diserahkan langsung oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta melalui Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budianto.

Turut hadir Drs H Muhammad Jusuf Kalla, Prof. Dr. Muhajir Effendy selaku Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V, Pimpinan TNI Polri, Wakil Ketua MPR-RI, Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Wakil Gubernur DIY, dan seluruh undangan.

Dalam sambutannya, Drs H Muhammad Jusuf Kalla mengucapkan selamat atas gelar yang diraih oleh Prof Haedar Nashir. Ia juga menanggapi isi pidato dari Prof Haedar Nashir mengenai isu radikalisasi dengan tema Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologi. “Pembahasan mengenai Radikalisasi memang penting untuk dibahas, karena kita ada di sini disebabkan oleh reformasi, dan reformasi adalah hasil radikalisasi,” pungkasnya. Di akhir, JK berpesan agar moderasi dapat menjadi jalan tengah menghadapi permasalahan di era saat ini.

Prof. Dr. Didi Achjari selaku kepala LLDIKTI Wilayah V juga menanggapi, pidato yang disampaikan oleh Prof Haedar tentu memberikan kita pengetahuan dan wawasan di bidang sosiologi. “Profesi Prof Haedar Nashir sebagai dosen, ilmuwan, dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan ruang dan cara pandang untuk memotret dari dekat dinamika kehidupan bangsa Indonesia melalui karyanya.”

Di lokasi yang sama, Prof Dr Heru Kurnianto selaku Ketua Senat UMY menyampaikan pesan dari KH Ahmad Dahlan mengenai guru besar. “Spirit yang dibawa oleh KH Ahmad Dahlan adalah menjadi guru besar yang cinta tanpa syarat dengan ikhlas membangun martabat bangsa dan dapat bermanfaat bagi dunia keilmuan di masa yang akan datang.”

Di akhir, ia berpesan untuk tetap menjadi cahaya bagi kehidupan. “Biarkan langit menjadi saksi menghantarkan intelektual Muhammadiyah membangun diri dan lingkungannya untuk kemaslahatan umat,” tutupnya.

UMMAT Jalin Kerja Sama dengan IDP

Unit Pelaksana Teknis Pusat Pengembangan dan Pelatihan Bahasa (UPT P3B) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menerima lawatan dan penawaran kerja sama dari lembaga International Development Program (IDP). Kunjungan yang diterima langsung oleh Rektor dan Ketua UPT P3B UMMAT tersebut khusus membicarakan mengenai pengadaan program International English Language Testing System (IELTS) di Mataram, Selasa (10/12).

Bentuk kerja sama akan diawali dengan menggelar kegiatan coaching clinic yang akan diselenggarakan sekitar Januari 2020. Kemudian dilanjurkan dengan sosialisasi terkait penyelenggaraan test IELTS di UMMAT.

“Setelah kami survey, segala perangkat dan fasilitas yang dimiliki UMMAT sekarang cukup memadai untuk menjadi salah satu pusat pelaksanaan test IELTS,” ujar Albert Susanto, selaku perwakilan dari IDP Pusat, setelah melakukan pengecekan kelayakan fasilitas UPT P3B UMMAT.

Rektor UMMAT mendukung kerja sama ini dan mengharapkan hasil yang maksimal terutama peningkatan kualitas dan kuantitas dosen yang menguasai bahasa asing. “UMMAT terus berupaya meningkatkan SDM dosen dalam rangka menunjang kualitas pendidikan. Salah satu yang dilakukan yaitu menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait sehingga tahun 2028 mendatang UMMAT siap bersaing di kawasan ASEAN,” ungkap Dr. H. Arsyad Abd. Gani, M.Pd.

Rektor Unimus Lantik Dekan FE dan Fikkes

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof Dr Masrukhi MPd melantik Dekan Fakultas Ekonomi (FE) dan Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (FIKKES) masa jabatan 2019-2023 di Gedung NRC lantai 4, Selasa (10/12). Dua dekan yang terpilih yaitu Dr Haerudin MT sebagai Dekan FE dan Dr Ali Rosidi MSi sebagai Dekan FIKKES Pelantikan tersebut didampingi oleh Ketua Badan Pembina Harian H Wisai SH serta dsaksikan oleh para wakil rekot dan pejabat lingkungan kampus.

Dalam sambutannya Rektor Unimus menyatakan bahwa Unimus harus mempersiapkan diri menghadapi era disruption. Menurutnya ini menjadi tantangan baru bagi pengajar untuk mempersiapkan mahasiswa dalam menyongsong era yang yang terus berubah dengan cepat. “Kuliah itu tidak menjamin mendapatkan pekerjaan, gelar sarjana tidak menjamin kompetensi, maupun akreditasi tidak menjamin kualitas. Akan tetapi hal ini jangan menjadikan kita menurunkan standar mutu atau kualitas. Kalau kita tidak bisa beradabtasi dengan perubahan maka kita akan tergilas,“ paparnya.

UM Palangkaraya Jalin Kerja Sama dengan Pemkot Palangkaraya

UM Palangkaraya dan Pemerintah Kota Palangka Raya  menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di Kantor Walikota Palangka Raya. Penandatanganan MoU tersebut dilakukan langsung oleh Walikota Palangka Raya Fairid Naparin, S.E dan Rektor UM Palangkaeraya Dr. Sonedi, M.Pd.

Dalam Nota Kesepahaman tersebut UM Palangkaraya dan Pemko Palangka Raya sepakat mengadakan kerja sama dalam bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui pemanfaatan Kawasan hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang dalam beberapa tahun lalu izinnya diberikan oleh Kementrian Kehutanan kepada UM Palangkaraya dan pemanfaatannya bekerja sama dengan pemerintah Kota Palangka Raya. Menurut Sonedi UM Palangkaraya juga siap membantu menyukseskan visi dan misi Kota Palangkaraya yang ingin memberikan beasiswa kepada masyarakat tidak mampu untuk melanjutkan studi di UM Palangkaraya. sementara itu, Fairid menuturkan dengan ditandatanganinya MoU tersebut bisa membawa angin segar dan berdampak bagi dunia pendidikan di kota Palangka Raya.