LPM UAD Lepas 876 Mahasiswa KKN

Melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di suatu tempat menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Setidaknya, mereka dituntut untuk menjadi inspirator, mengembangkan dunia pendidikan, ekonomi, dan memotivasi masyarakat agar lebih maju. Demikian ditegaskan Dr. H. Kasiyarno., M.Hum., Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta saat melepas 876 mahasiswa peserta KKN di auditorium kampus I, Jalan Kapas, Semaki, Yogyakarta, Sabtu (17/1/2015).

“KKN merupakan salah satu upaya memperkenalkan UAD kepada masyarakat sekaligus memperdayakan masyarakat. Mahasiswa dituntut untuk mengaplikasikan ilmunya selama di UAD. Buatlah program-program yang sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Kasiyarno.

Pada periode KKN Reguler, UAD terjunkan 876 mahasiswa ke tiga lokasi. Sebanyak 559 mahasiswa diterjunkan di tiga kecamatan di Gunungkidul, 263 mahasiswa ditempatkan di Karanganyar Jawa Tengah, dan 45 mahasiswa di Jimbaran, Bali.

Pelepasan KKN ini ditandai dengan pemakaian jaket almamater. Menurut Kasiyarno, KKN UAD telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Banyak daerah yang meminta ditempati. Hal ini mengindikasikan program-program KKN UAD sangat bermanfaat karena bisa memberdayakan masyarakat.”

Drs. Jabrohim M.M. selaku Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UAD dan Dr. Rina Ratih selaku Koordinator Lapangan mengatakan, KKN kali dibimbing oleh 33 dosen pembimbing lapangan dan 6 koordinator dosen. Bentuk KKN sangat beragam, seperti Posdaya maupun mengajar di SMA/SMK Muhammadiyah.

“Kami berharap, mahasiswa bisa melanjutkan program KKN sebelumnya untuk menjadi inspirator agar maju dan sejahtera,” tutup Jabrohim.

Sumber : www.uad.ac.id

Syarat Menjadi Diplomat Ialah Karakter yang Kuat

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (KEMENLU RI) kini hanya memiliki 1965 orang diplomat, jumlah tersebut dinilai kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 253 juta. Oleh karena itu peluang untuk menjadi diplomat tinggi dan dibutuhkan calon diplomat yang tidak hanya mempunyai pengetahuan politik luar negeri namun juga memiliki karakter terbaik agar bisa memenuhi kebutuhan diplomasi Indonesia.

Hal itulah yang disampaikan oleh Muhammad Hery Saripudin, M.A Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika KEMENLU RI, saat menyampaikan kuliah umumnya dengan tema “How to be A Diplomat” dihadapan mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI-UMY) bertempat di Ruang Sidang AR. Fachruddin A UMY, Rabu (14/01).

“Memang jadi diplomat itu masih dinilai eksklusif ya di Indonesia, sebenarnya hal ini wajar, karena dipilih melalui seleksi yang cukup ketat dan dengan kriteria tertentu. Karena menjadi seorang diplomat dituntut punya kepribadian yang bisa digunakan untuk tugas-tugas diplomat, kalau di Indonesia  saat ini kita punya sekitar 1965 diplomat, ini masih kurang karena jumlah penduduk kita sekitar 253 juta, jadi saya katakan kepada anda diplomat masih dibutuhkan dan menurut pengalaman saya dipilih yang memiliki karakter terbaik, disinilah yang terpenting, hanya sebagian kecil yang memiliki hal ini” jelasnya.

Hery menjelaskan, bahwa calon diplomat yang lulus pada tahap kualifikasi bahasa asing dan wawasan ilmu politik luar negeri jumlahnya banyak, tapi yang lulus pada tahap wawancara jumlahnya sangat sedikit, karena menurut dirinya yang memiliki pengalaman 3 tahun menjadi penguji calon diplomat bahwa wawancara itu penilaiannya adalah karakter, orang yang memiliki karekater baik untuk menjadi seorang diplomat selama Hery menjadi penguji jumlahnya sangat sedikit.

“Selain bahasa dan ilmu pengetahuan politik luar negeri yang terpenting adalah karakter. Pengalaman saya menjadi penguji saat wawancara, saya jarang sekali menanyakan ilmu politik luar negeri, tapi yang saya tanyakan adalah tentang pribadinya atau hal-hal lain yang jauh dari ilmu politik luar negeri, karena disini saya menguji karakternya. Karakter itu adalah aset utama yang harus dimiliki oleh seorang diplomat, karena dia berhadapan sama banyak orang di berbagai belahan dunia,” ujarnya Hery yang pernah bertugas di Afrika selatan, Kanada dan Amerika Serikat.

Selain itu, Hery juga menjelaskan bahwa mahasiswa jika ada yang tertarik untuk menjadi diplomat, bisa untuk segera membekali diri dengan membaca dan memahami tugas dan tanggung jawab diplomat, menguasai teknik-teknik yang digunakan dalam berdiplomasi, seperti teknik komunikasi, psikologi, dan mampu membaca suasana dalam pengkondisian saat sedang berdiplomasi.

“Jika Anda tertarik untuk menjadi diplomat, mulai saat ini Anda masih punya waktu untuk membekali diri, misalnya dengan membaca dan memahami tugas dan tanggung jawab diplomat, menguasai teknik-teknik yang digunakan dalam berdiplomasi, teknik komunikasi, psikologi, dan harus mampu menguasai suasana dalam pengkondisian saat sedang berdiplomasi” imbuhnya.

Diakhir penyampaian kuliahnya, Hery mengutip ungkapan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyona yang mengatakan “Diplomat Indonesia harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi, karena Indonesia masa kini kita percaya akan menuju masa depan yang baik”. (Shidqi)​

Sumber : www.umy.ac.id

Muhammadiyah dan Kebangsaan NKRI

Perbincangan tentang gerak organisasi Muhammadiyah pada saat ini di era multi universalitas dan globalisasi tiada henti. Muhammadiyah sebagai gerakan Amar Ma’ruf dan Civil Movement dan Cociety menjadi daya tarik sendiri ketika di hadapkan pada politik dan kebangsaan NKRI. karena Muhammadiyah dan NKRI saling bersinergi dalam mengembalikan Kedaulatan Negara dari Penjajahan. Muhammadiyah dan Politik Kebangsaaan di kalangan internal maupun eksternal organisasi Muhammadiyah telah mengalami preposisi aktualisasi. Dilihat dari tujuan dan gerakan awal berdirinya, Muhammadiyah saat ini tidak perlu mendirikan partai atau sebagai partai (partisan).Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Hikmah PP Humammadiyah Jakarta Dr H Imam Addaruqutni MA (Al Hafidz) pada Seminar Keislaman yang diselenggarakan Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) di kampus setempat, Jumat (09/01/2015).   Seminar dengan tema “Muhammadiyah dan Politik Kebangsaan” ini dibuka Rektor Unimus Prof Dr H Jamaludin Darwis MA dihadiri para wakil rektor, dekan, Ketua Badan Harian Unimus Widadi SH, Ketua LSIK Rohmat Suprapto SAg MAg dan para civitas akademik Unimus.   Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, saat itu terinspirasi pemikiran reformasi keislaman terjadi di Arab Saudi dan sejumlah negara Islam di Timur Tengah untuk kembali pada kemurnian ajaran Islam (Tajdid dan Purifikasi). Sehingga pada dasarnya Muhammadiyah merupakan organisasi yang boleh dikata berpolitik namun tidak partisan. Dan politik baru dijalankan manakala komunikasi dengan penguasa menemui jalan buntu atau penguasa tidak mau mendengarkan masukan-masukan dari Muhammadiyah maupun kalangan umat Islam lainnya.   Menurut Imam Addaraqutni, bahwa KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya mengggunakan dua metode atau pola yaitu Manhaj Maki (pembaharuan Mekah) yang dilakukan Muh Ibnu Abdul Wahab untuk reformasi Islam di Arab Saudi secara internal serta pendekatan Manhaj Misri (Pendekatan Mesir) untuk melakukan reformasi di bidang ekternal atau ketatanegaraan sesuai tuntutan Islam. Gerakan di Mesir yang memberi inspirasi KH Ahmad Dahlan dipelopori Jamaludin Al Afghoni. Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi dakwah untuk kepentingan seluruh umat, bukan hanya arti sempit (ibadah khusus) yaitu dakwah tentang tata cara salat, mengaji dan lain-lain, tetapi lebih luas maknanya menyangkut kehidupan sehari-hari sampai pada kehidupan ketata negaraan yang dilakukan lewat berpolitik. Namun makna dakwah belakangan dimatikan atau dipersempit lebih tepatnya di premis minorkan hanya sebagai cara-cara salat, ngaji, puasa atau hal internal keislaman saja. Inspirasi awal berdirinya  Muhammadiyah merupakan gerakan yang harus bisa memberi manfaat orang lain lewat organisasi. Karena lewat organisasi akan lebih memudahkan ke arah tujuan yang ingin dicapai.   Berbicara dan mengkaji Muhammadiyah maka perlu kajian yang mendalam dan komperhensif dengan mengembalikan Muhammadiyah pada awal berdirinya organisasi ini yang sangat jelas tujuan berdirinya organisasi ini. Juga tatacara organisasi Muhammadiyah dijalankan penuh dengan profesionalisme” Mamdukh Budiman -Reportase

Sumber : www.unimus.ac.id

Tantangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang bergerak di berbagai bidang kehidupan. Gerakan Islam yang didirikan oleh KHA Dahlan ini bukan hanya dikenal bergerak di ranah pembaruan keagamaan saja, tapi juga di bidang pelayanan sosial, kesehatan, ekonomi, penanggulangan bencana, dan yang paling utama adalah bidang pendidikan. Berdasarkan data yang terbaru, dalam dunia pendidikan Muhammadiyah memiliki TK/TPQ (4.623), SD/MI (2.604), SMP/MTs (1772), SMA/SMK/MA (1.143), SLB (71), serta Perguruan Tinggi Muhammadiyah berjumlah 172 (www.muhammadiyah.or.id). Data tersebut hanya menyebutkan amal usaha di bidang pendidikan, belum menyebutkan jumlah amal usaha di bidang kesehatan, pelayanan sosial, dan ekonomi. Maka tidak heran bila James L. Peacock, antropolog Amerika Serikat, menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi reformis Islam yang memiliki gerakan amal terbesar di Asia Tenggara atau bahkan di seluruh dunia.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) secara keseluruhan berjumlah 172. Jumlah itu berasal dari 159 PTM yang berada di bawah naungan Muhammadiyah dan 13 Perguruan Tinggi dibawah Aisyiyah (Nashir, 2014). Lebih lanjut, PTM tersebut mempunyai berbagai macam bentuk institusi mulai dari Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi, dan Politeknik. Mereka  tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dari propinsi ujung timur (Papua) hingga barat (Nanggroe Aceh Darussalam) dengan berbagai jenis institusi, fakultas, dan program studi yang ditawarkan. Tentu ini jumlah yang sangat besar, bahkan melebihi Perguruan Tinggi Negeri yang ada.
Muhammadiyah melalui PTM membantu meringankan tanggung jawab negara Indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. PTM mendidik dan mencerdaskan anak bangsa untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Membekali mereka bukan hanya dengan pengetahuan, keterampilan dan keahlian, tapi juga nilai-nilai ke-islaman dan kemuhammadiyah yang berkemajuan sesuai semangat zaman. Ribuan bahkan jutaan mahasiswa alumni PTM tersebar di berbagai macam pekerjaan, mulai dari PNS, pendidik, karyawan swasta, wiraswastawan, birokrat, hingga politisi. Mereka berkiprah di dunia kerja dan juga berpartisipasi dalan dunia kemasyarakatan, secara langsung maupun tidak langsung juga ikut menggerakkan kehidupan bangsa Indonesia dengan posisi, peran, dan fungsi yang beraneka ragam.
Melihat jumlah PTM yang demikian banyak tentu menjadi prestasi tersendiri bagi gerakan Muhammadiyah dibandingkan dengan gerakan Islam atau ormas lainnya di Indonesia. Dari segi kuantitatif hampir mustahil bagi ormas lain menyalip Muhammadiyah dalam membangun PTM dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. Mengapa demikian? Tentu ada alasan yang melatarbelakanginya.
Menurut Tobroni (2013) ada empat pilar yang menjadikan PTM terus berkembang secara dinamis. Pertama, spirit al Islam dan kemuhammadiyah sebagai dasar untuk menjadikan PTM sebagai sarana untuk mencerahkan umat islam, bangsa Indonesia, dan umat manusia. Kedua, keberadaan PTM tidak bisa dilepaskan dari Persyarikatan Muhammadiyah sebagai pelopor pendirian. Muhammadiyah secara kultural maupun organisatoris sebagai basis sosial yang menjadi pijakan dan dukungan ketika pertama kali muncul, berkembang, dan maju seperti sekarang ini.  Nama “Muhammadiyah” dibelakang “Universitas” menjadi modal sosial dan modal simbolik yang sangat berharga. Sehingga wajar bila banyak masyarakat menaruh kepercayaan terhadap PTM karena identitas (simbolik) Muhammadiyah dan jaringan (Sosial) yang dimilikinya. Ketiga, Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti) merupakan institusi yang membantu Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam mengoordinasikan dan meningkatkan kualitas pengelolaan PTM. Melalui majelis inilah perkambangan dan segala macam problematika PTM diseluruh Indonesia dipantu dan dipecahkan. Majelis Dikti juga bekerja untuk memfasilitasi pengembangan kapasitas good university governance PTM seluruh Indonesia. Terakhir  keempat, Pimpinan PTM-lah yang menjadi ujung tombak. Mereka yang setiap hari memimpin, menggerakan dan mengembangkan PTM. Kepemimpinan yang visioner, kreatif, inovatif, berani membuat terobosan dalam mengembangkan PTM sangat dibutuhkan di lingkungan PTM. Keterpaduan empat pilar ini menjadi dasar dalam pengembangan PTM.
Apa yang telah dicapai oleh Muhammadiyah dalam mengembangkan PTM-nya tentu perlu disyukuri oleh warga Muhammadiyah. Meskipun demikian jangan sampai membuat terlena dan merasa puas terhadap apa yang telah diraih selama ini. Secara kuantitas tentu sudah lebih dari cukup, tahap selanjutnya adalah meningkatkan dan menjaga kualitas PTM agar dapat terus berdaya saing, baik di level lokal, nasional, regional, bahkan hingga dunia Internasional. Untuk itu ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan oleh pengambil kebijakan baik itu Persyarikatan Muhammadiyah, Majelis Dikti, BPH, dan Pimpinan PTM. Yaitu antara lain;
Pertama, berdasarkan akreditas institusi secara keseluruhan yang dilakukan oleh Badan Akreditas Nasional (BAN), dari keseluruhan PTM se-Indonesia hanya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mendapatkan nilai A. Artinya kualitas kedua PTM tersebut sudah setara dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang juga terakreditasi A, seperti UGM, UI, ITB, Unair, dan lainnya. Padahal tidak semua PTN mendapatkan akreditasi A secara institusi, tentu ini sebuah prestasi yang layak untuk diteladani dan diikuti oleh PTM lainnya yang belum memperoleh akreditasi A. Sebaliknya, PTM yang sudah terakreditasi A perlu membagi pengalaman dan kerjasama dengan PTM lainnya untuk mampu meningkatkan kemampuan institusional yang unggul.
Kedua, PTM perlu terus untuk meningkatkan kualitas baik secara kelembangan maupun sumberdaya manusianya. Sebagai institusi pendidikan tinggi tentu PTM harus melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiga aspek ini harus terus ditingkatkan, khususnya di aspek penelitian dan penerbitan. Sudah menjadi rahasia umum kalau penelitian dan penerbitan (hampir PTdi seluruh Indonesia) masih sangat kurang. PTM harus mengisi kekurangan ini dengan meningkatkan secara optimal fungsi pengkajian, penelitian, dan penerbitan. Degan ketiga aktivitas itulah ilmu pengetahuan dapat berkembangan, disebarkan dan bermanfaat luas. Pelan-pelan tapi pasti harus diseimbangkan, PTM yang hanya menitikberatkan pada pengajaran saja, menjadi PTM yang mampu memberi porsi yang sama antara pengajaran dan penelitian.
Ketiga, semangat kewirausahaan harus tumbuh dan berkembang di kalangan pengelola PTM. Pembiayaan PTM selama ini sebagian besar berasal dari dana mahasiswa, bantuan hibah pemerintah, dan bantuan lainnya. Beberapa PTM, semisal Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan UMY mencoba membangun sayap bisnis dalam rangka membangun kemandirian untuk jangka panjang. UMM telah memiliki hotel, pom bensin, toko buku, bahkan terakhir membeli wahana wisata Sengkaling. UMY memiliki BMT dan Perusahaan Travelling. Ke depan PTM perlu membuat alternatif pendanaan di luar dana yang berasal dari Mahasiswa, diperlukan lini bisnis yang mampu menopang pengembangan kampus serta kesejahteraan dosen dan karyawannya.
Keempat, dalam amatan Anthony Welch (2012), seorang ahli pendidikan tinggi dari Universitas Sydney, melihat bahwa Perguruan Tinggi di Indonesia masih belum mampu melakukan regionalisasi di kawasan Asia Tenggara. Baik PTN dan PTS Indonesia masih kalah bersaing dengan Universitas-Universitas yang berasal dari Thailand, Malaysia, Filipina, dan pastinya juga Singapura. Regionalisasi yang dimaksud adalah upaya membangun jejaring dan kerjasana dengan kampus-kampus yang berada di kawasan (regional) Asia Tenggara atau pun di kawasan Asia Pasifik. Peran Perguruan Tinggi Indonesia masih sangat minim kalau tidak boleh mengatakan marjinal. Hal ini bisa dilihat dari belum optimal partisipasi kampus-kampus Indonesia di ASEAN Universities Networks dan SEAMEO RIHED (South-East Asian Ministry of Education Organization Regional Centre for Higher Education and Development).
PTM harus menyadari bahwa dengan berjejaring dan kerjasama dengan berbagai kampus baik dalam maupun luar negeri, dengan kampus di kawasan Asia Tenggara atau bahkan di seluruh dunia akan juga memacu semangat untuk terus meningkatkan kualitas institusi dan sumberdaya manusia.  Minimal PTM yang belum maju bisa berjejaring dan kerjasama dengan PTN dan PTM yang sudah maju. Dengan harapan mampu mereduplikasi, menyerap, dan mencontoh tata kelola yang baik, budaya akademik yang unggul, serta semangat untuk terus bekerja secara kreatif, inovatif, dan kompetitif. Dengan upaya serius tersebut, saya yakin PTM akan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan iptek dan ikut meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan. Semoga.

Oleh Moh. Mudzakkir, MA.
Dosen Sosiologi Pendidikan dan Peminat Higher Education Studies
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya

Sumber : www.khittah.com

Usai Ujian Semester, Mahasiswa FAI Universitas Muhammadiyah Magelang Nyantri

Sebanyak 84 mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang  menjadi santri di Pondok Pesantren Daarul Falah Mertoyudan Magelang. Mereka mengikuti mengikuti Program Pesantren Softskill (PPS) di Ponpes tersebut selama sepekan.

“Kegiatan ini dilakukan usai mereka mengikuti ujian akhir semester,” kata Dekan Fakultas Agama Islam  (FAI) UM Magelang, Imam Mawardi, Selasa (13/1).

Selama enam hari, lanjut Imam, para peserta yang terdiri dari 56 putri dan 28 putra itu mendapatkan kurikulum dengan kompetensi berupa akidah shahihah, akhlak dan syaksiyah Islamiyah, enterpreneurship, leadership, dan outbond.

Materi lainnya berupa tadarus Alquran, communication skill,  teamwork, dedikasi, serta permainan dengan metode berupa kajian, membaca, mendengar, serta praktek.

Secara umum, kata Imam, PPS bertujuan untuk membekali mahasiswa FAI UM Magelang  agar berparadigma Islam serta memiliki kebanggaan dengan seluruh identitas keislaman yang dimilikinya.

“Output yang diharapkan adalah terbentuknya mahasiswa berkarakter Islami yang berpadu dengan kompetensi keilmuan yang menjadi nilai unggul dan kekhasan mahasiswa FAI UM Magelang,” tegas Imam.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

UAD Beri Penghargaan untuk Dosen dan Karyawan

Tercatat, sebanyak 155 dosen dan karyawan diberikan penghargaan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Penghargaan diberikan kepada dosen yang masa kerjanya sudah mengabdi selama 20 dan 30 tahun, dengan jumlah 65 dosen. Sementara karyawan dengan masa kerja 15 dan 25 tahun, berjumlah 90.

Rektor UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum., mengatakan bahwa lembaga ini ada pasang surutnya. Kadang dalam kondisi bagus, kadang surut. Hal itu dialami juga oleh para dosen dan karyawan. Adanya penghargaan ini untuk semakin menyemangati kinerja sehingga dapat meningkatkan dan mengembangkan UAD.

“Pemberian penghargaan ini merupakan apresiasi UAD atas loyalitas, kerja keras, serta pengabdian para dosen dan karyawan selama bertahun-tahun. Atas nama UAD, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras selama ini. Majunya universitas tidak lain usaha dari bapak dan ibu sekalian. Mari terus memajukan UAD,” pinta Kasiyarno saat acara pemberian penghargaan di auditorium kampus I UAD, Jumat (9/1/2015).

Drs. H. Kusno Effendi, M.Pd., M.Si.,  mewakili dosen dan karyawan juga mengucapkan terima kasih kepada UAD karena telah memperhatikan dan memberikan penghargaan. Ia berharap kepada para dosen dan karyawan yang masih muda agar lebih berkomitmen dalam mengembangkan UAD.

Acara ini merupakan bagian dari serangkaian Milad UAD ke-54. Penghargaan diberikan secara simbolis oleh Kasiyarno.

Sumber : www.uad.ac.id

Karya Ilmiah Penting Untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Pemikiran baru dan riset merupakan dua hal yang dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak isu-isu yang bisa diangkat untuk dijadikan sebuah pemikiran baru dan pengembangan ilmu pengetahuan. Bentuk kontribusi ini pun bisa dilakukan dengan cara pembuatan karya ilmiah. Karya ilmiah inilah yang nantinya dapat memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai pemikiran atau gagasan baru.

Namun, karya ilmiah ini bukan hanya dalam bidang science saja, tapi juga bisa dikembangkan dalam bidang sosial dan politik. “Sebenarnya karya ilmiah bukan hanya melulu pada bidang science saja, tetapi pada bidang sosial dan politik juga banyak isu-isu yang berkembang dan perlu diselesaikan, “ jelas Rahmawati Husein, MCP., Ph. D akademisi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat mengisi acara “Workshop Program Kreatifitas Mahasiswa-Karya Tulis hari Kamis (8/1) di Mini Theater Gedung D Lt. 4 UMY.  Acara ini merupakan sosialisasi dari Tim PIMNAS UMY untuk memberikan informasi terkait dengan PIMNAS 2015

Rahma melanjutkan bahwa isu-isu sosial politik yana bisa dijadikan sebuah karya ilmiah bisa dalam bidang Hubungan Internasional terkait masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang hingga kini masih belum memiliki solusi konkrit. “Pada bidang Ilmu Komunikasi kita bisa meneliti terkait penggunaan komunikasi efektif. Sedangkan pada Ilmu Pemerintahan kita bisa mengambil fokus terkait dengan politik, karena sampai saat ini politik di Indonesia itu sangat labil setelah reformasi,” ujarnya.

Rahma juga menyampaikan bahwa maksud dari kontribusi pengembangan ilmu pengetahuan itu, sebenarnya meciptakan pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan sebelumnya dengan cara melakukan penelitian yang ekstensif dan inovatif. Selain itu juga, membuat penelitian baru yang belum pernah dikembangkan oleh orang lain dan kemudian di publikasikan. “Penemuan baru itulah yang kemudian dapat digunakan oleh masyarakat dalam menyelesaikan masalah dan memberikan solusi yang konkrit pada masalah-masalah yang sebelumnya belum terpecahkan,” ungkapnya.

Akan tetapi, menurut pakar kebencanaan ini, seorang peneliti yang akan menuliskan sebuah karya ilmiahnya harus tetap berpegang pada kaidah-kaidah penelitian yang telah ditentukan. Selain itu juga menyesuaikan dengan pengetahuan dan bidang yang digeluti oleh peneliti tersebut.  “Ada beberapa hal yang perlu diingat bahwa peneliti harus membuat penelitiannya sesuai dengan pengetahuan dan bidang yang digeluti. Sebab, ketika bidang itu sesuai maka ini akan meminimalisir kesulitan dalam pembuatan karya ilmiah. Meskipun ini juga tidak menutup kemungkinan bagi peneliti untuk mencoba bidang lain, tapi nantinya mungkin peneliti tersebut akan merasa kesulitan karena belum menguasai ilmunya,” ungkapnya.

Dosen Ilmu Pemerintahan UMY ini juga mengatakan, hal lain yang harus ditekankan dalam pembuatan karya ilmiah antara lain yaitu perlu banyak membaca jurnal ilmiah. Karena hal ini akan sangat membantu peneliti dalam menyusun karya ilmiahnya. “Peneliti itu perlu memperbanyak membaca literasi dan jurnal dalam membuat karya ilmiah atau penelitian, terlebih lagi jika yang melakukan penelitian itu mahasiswa. Sebab kelemahan mahasiswa yang terlihat sampai saat ini adalah kurangnya membaca literasi atau jurnal, padahal dengan membaca literasi atau jurnal kita akan mudah untuk mengasah kreativitas dalam mencari isu sosial dan politik yang seksi,” papar Rahmawati lagi.

Sementara itu, Dr. Hempri Suyatno, S.Sos., M.Si, Pembina PKM Universitas Gadjah Mada (UGM) yang turut menjadi narasumber dalam acara ini mengatakan, dalam pembuatan karya ilmiah juga perlu menyisipkan nilai-nilai edukasi dan ilmiah dan membaca buku panduan yang di berikan oleh Dikti. Sebab ini juga akan menjadi nilai plus, bagi mahasiswa atau peneliti yang ingin mengajukan penelitiannya kepada Dikti. “Yang paling penting diperhatikan agar karya ilmiah bisa diterima oleh dan lolos maka perlu menaati sistematika penulisan dan melengkapi administratif. Caranya dengan membaca buku panduan, sebab banyak tim yang tidak lolos karena administratifnya tidak lengkap,” jelasnya.

Adapun penelitian-penelitian yang dilombakan pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ini, seperti  Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian, PKMT (Penerapan Teknologi), PKMK (Kewirausahaan), PKMM (Pengabdian Masyarakat), PKM-KC (Karya Cipta), PKM-AI (Artikel Imiah), PKM-GT (Gagasan Tertulis). Dri PKM tersebut ada yang bisa lolos masuk PIMNAS ada yang tidak, seperti PKMP, PKMT, PKMK, PKMM, dan PKM-KC ini adalah PKM pokok yang akan terdaftar dalam PIMNAS, sedangkan untuk PKM-AI tidak bisa diloloskan dan untuk PKM-GT fifty-fifty. Artinya, bahwa PKM-GT ada dua kemungkinan ketika nilainya memenuhi standar maka akan diloloskan ke PIMNAS dan mendaptkan uang tunai dan bisa juga tidak diloloskan tapi tetap mendaptkan uang tunai sebesar 3 juta.

Ada perbedaan antara PKM-AI dan PKM-GT, PKM-AI adalah bahwa karya ilmiah mahasiswa ini berupa karya tulis atau artikel ilmiah yang mengacu pada kegiatan yang telah dilaksanakan, dalam penagjuan karya ilmiah ini dilakukan secara online. Sedangkan PKM-GT adalah bahwa karya ilmiah hanya berupa gagasana tanpa perlu di aplikasikan, jadi mahasiswa hanya membuat gagasan-gagasan baru untuk menyelesaikan masalah serta mengahsilakan solusi yang konkrit. “Bagi mahasiswa yang ingin membat karya ilmiah yang tanpa harus melakukan penelitian selama 6 bulan, bisa mengikuti PKM-AI atau PKM-GT, selain itu pembuatan karya ilmiah ini pun tidak memerlukan estimasi dana yang haus dibutuhkan dalam melakukan penelitian, “ jelas Sugito, S. IP., M. Si selaku Pembina Tim PIMNAS UMY.

Sumber : www.umy.ac.id

Raih Beasiswa, Mahasiswa UMM Keliling 13 Negara

MUHAMMAD Syukron Eko adalah salah satu di antara sekian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih beasiswa luar negeri. Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika UMM ini mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk studi selama dua semester di Politechnika Lubelska, Polandia.

Beasiswa yang diperoleh Syukron ini meliputi studi selama sembilan bulan, tiket pesawat pulang-pergi Indonesia-Polandia, biaya hidup 1000 euro perbulan, dan asuransi kesehatan yang sepenuhnya dibiayai oleh Uni Eropa. “Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah ilmu dan pengalaman yang tak terlupakan,” kata Syukron saat ditemui di International Relation Office (IRO) UMM, Sabtu (10/1).

Di Politechnika Lubelska, Syukron mengambil jurusan Electrical Engineering and Computer Science. Berbeda dengan di UMM yang menyeimbangkan teori dan praktek dengan persentase masing-masing 50 %, di Polandia ia hanya mendapatkan 10 % teori dan sisanya 90 % praktek. Selain itu, ia juga memperoleh kuliah tambahan tentang bahasa dan budaya Polandia dan Jerman.

Selama kuliah di Polandia, Syukron juga berkesempatan mengunjungi 12 negara Eropa lainnya yaitu Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, Spanyol, Hungaria, Republik Ceko, Slovakia, Austria, Italia, Vatikan, dan Yunani. Tak hanya sendirian, Syukron juga bersama dua mahasiswa UMM lainnya, yaitu Halim Perdana dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) serta Arindani Aulia dari Fakultas Ekonomi (FE) yang juga meraih beasiswa Erasmus Mundus di Polandia.

Selain Erasmus Mundus, selama di UMM Syukron juga mendapatkan dua beasiswa lainnya yaitu beasiswa Toyota dan Astra 2012 serta beasiswa Dataprint 2014. “Sejak semula, saya memang sengaja memilih UMM karena kampus ini banyak peluang beasiswanya, baik di dalam maupun luar negeri. Sewaktu masih SMA, saya sudah tahu kalau UMM memiliki relasi khusus dengan Amerika lewat Aminef dan Eropa lewat Erasmus,” ungkapnya.

Selain Syukron, menurut kepala IRO UMM Dr Abdul Haris MA, ada ratusan mahasiswa UMM lainnya yang pernah merasakan beasiswa luar negeri, baik melalui Erasmus Mundus maupun berbagai program lainnya. Sebagian besar program itu difasilitasi oleh IRO dan sejumlah unit terkait. Misalnya khusus beasiswa ke Amerika, maka ditangani langsung oleh unit American Corner (Amcor) dan The American Indonesian Exchange Foundation (Aminef).

Menurut staf Amcor UMM Ferry Kurnia, sudah banyak mahasiswa UMM yang sukses meraih beasiswa ke Amerika, salah satunya melalui Indonesia English Language Study Program (IELSP), yaitu program pengembangan bahasa selama dua bulan di Amerika.

Mahasiswa UMM pertama yang meraih beasiswa IELSP yaitu Aries Ferryanto dari Jurusan Bahasa Inggris pada 2008. Selanjutnya, mahasiswa UMM terus menjadi langganan dalam program tersebut. Untuk saat ini, lanjut Ferry, beasiswa yang difasilitasi oleh Amcor UMM yaitu Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) sebagai beasiswa pertukaran bagi kalangan muda yang memiliki jiwa kepemimpinan dan berinisiatif menciptakan perubahan bagi komunitasnya. Bahkan, pada 11 Desember 2014, Amcor UMM mendatangkan langsung kepala information officer kedutaan besar Amerika Serikat, Sarah Ziebell, untuk memperkenalkan beasiswa tersebut.

Selain ke Eropa dan Amerika, beberapa mahasiswa UMM juga memiliki pengalaman beasiswa ke sejumlah negara Asia. Misalnya melalui program Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths (Jenesys) ke Jepang yang pernah diikuti oleh Dyah Kusuma Anindita dari Fakultas Hukum dan Prasetya Hermawan dari Fakultas Teknik. Ada pula yang mendapatkan pengalaman tersebut karena prestasi, misalnya dua aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi Kine Klub UMM, Lizya Oktavia Kristanti dan Maharina Novia Zahro, yang dipercaya sebagai juri Seoul International Youth Film Festival (SIYFF) pada Agustus 2014, di Seoul, Korea Selatan.

Karena itulah, Haris menandaskan, IRO sangat mendukung setiap mahasiswa yang memiliki itikad kuat meraih beasiswa luar negeri. Untuk memfasilitasi hal itu, IRO bahkan sudah memiliki tiga divisi berbasis kewilayahan, yaitu divisi Amerika-Eropa, divisi Australia-New Zealand, serta divisi Asia dan Timur Tengah, agar informasi dan akses beasiswa di masing-masing wilayah dapat terus dipantau.

“Ke depan, kami akan terus memperluas relasi dengan berbagai lembaga pemberi beasiswa luar negeri, agar mahasiswa UMM sebelum lulus kuliah sudah memiliki modal pengalaman internasional yang berguna bagi kariernya di masa depan,” pungkasnya. (han)

Sumber : www.umm.ac.id

PTM Perlu Kembangkan Model Pembelajaran Bahasa Inggris Berstandar Internasional

Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) perlu mengembangkan model pembelajaran bahasa Inggris dengan mengacu pada standar internasional. Pengembangan yang perlu dilakukan tersebut mencakup pembaharuan kurikulum dan metode mengajar. Hal ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa serta lulusan pendidikan bahasa Inggris di PTM seluruh Indonesia.

Demikian disampaikan Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Jati Suryanto, S.Pd., M.A saat menghadiri Workshop Teaching Learning Strategies Dosen FPB yang dihadi​ri oleh 11 Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Jawa. Acara ini bertempat di Ruang Mini Teater Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) UMY, Senin (5/01).

Jati mengungkapkan bahwa selama ini prodi pendidikan bahasa Inggris memang belum banyak mengacu pada model pembelajaran berstandar internasional. Dirinya mencontohkan UMY dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sekalipun model pembelajaran bahasa Inggrisnya sudah cukup bagus, namun masih mengacu pada standar yang ditetapkan oleh dikti. “Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusannya, prodi bahasa Inggris perlu lebih meningkatkan model pembelajarannya dengan standar internasional. Agar pembelajaran bahasa Inggris yang didapatkan dari perkuliahan bisa digunakan oleh mahasiswa dengan baik, ketika mereka terjun langsung ke ranah internasional,” ungkapnya.

Karena itulah, lanjut Jati, diadakan workshop Teaching Learning Strategis tersebut. Selain untuk merumuskan dan mengembangkan model pembelajaran bahasa Inggris di PTM berstandar internasional, juga untuk menyusun kurikulum bahasa Inggris yang juga mengacu pada standar internasional. “Sehingga pola pendidikan bahasa Inggris yang ada di PTM bisa lebih meningkat. Kualitas mahasiswa dan lulusan pendidikan bahasa Inggris juga akan ikut meningkat. Dan saya harap, dengan pengembangan model pembelajaran dan kurikulum berstandar internasional tersebut nantinya juga dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang bukan jurusan PBI tapi ingin belajar bahasa Inggris dengan baik,” lanjutanya.

Selain itu, Jati juga menambahkan bahwa dalam workshop yang akan diselenggarakan hingga Rabu (7/1) ini juga akan diisi oleh dosen-dosen dari Center for English Language Communication (CELC) National University of Singapore (NUS). Mereka nantinya akan memberikan pengarahan dan informasi terkait manajemen Pendidikan Bahasa di NUS. NUS juga dipilih sebagai narasumber dalam kegiatan ini karena dipandang cocok sebagai contoh dari Pendidikan Bahasa tingkat internasional.

“Kegiatan ini sebenarnya telah disiapkan selama 2 tahun oleh Assosiation of English Department. Sebelumnya kegiatan workshop yang dilakukan hanya sebatas menyampaikan informasi mengenai metode pengajaran kepada mahasiswa. Sedangkan untuk workshop kali ini, akan lebih fokus pada bagaimana menyusun kurikulum Pendidikan Bahasa yang sesuai dengan standar kampus-kampus yang sudah berstandar internasional. Dan pematerinya akan disampaikan oleh NUS, karena menurut kami, NUS ini cocok dijadikan rujukan,” ujarnya.

Kegiatan ini, menurut Jati juga didukung atas kerjasama Temasek Foundation (TF) dan PBI UMY sebagai pelaksana kegiatan. Temasek sendiri merupakan lembaga yang melaksanakan pelatihan-pelatihan kepada tenaga pengajar di luar negeri. Akan tetapi dalam kegiatan ini, Temasek tidak hanya sebagai pelaksana tapi juga sebagai penyandang dana dari seluruh rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama 2 tahun sampai tahun 2016 ini.

Sementara itu, Dosen CELC NUS Dr. Willy A Renandya, dalam workshop tersebut menyampaikan tentang cara efektif dosen dalam mengajar. Menurutnya, dosen tidak harus terus menerus memberikan materi di depan kelas, tapi juga harus bisa membangun komunikasi dua arah seperti mengajak mahasiswa berbicara dengan suasana santai. “Dalam menyampaikan materi-materi perkuliahan, baik itu di dalam maupun di luar kelas, tetap harus menghidupkan komunikasi 2 arah antara dosen dan mahasiswa. Misalnya seperti mengajak mahasiswa-mahasiswa berbicara dengan suasana santai,” ungkapnya.

Rencananya workshop selama 5-7 Januari 2014 ini akan disampaikan oleh dosen-dosen dari NUS, diantaranya Assoc Prof. Wu Siew Mei (Director CELC), Ms. Susan Tan (Deputy Director CELC), Dr. Willy A Renandya (Senior Lecturer National Institute of Education-Singapore), Dr. Gene Segarra Navera (Lecturer CELC), Ms. Happy Goh (Senior Lecturer CELC), Dr. Radhika Jaidev (Senior Lecturer CELC). (Shidqi)

Sumber : umy.ac.id

Perguruan Tinggi Muhammadiyah Susun Kurikulum Matematika Berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional

Program Studi (Prodi) Matematika dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia menyusun kurikulum pendidikan matematika berdasarkan kerangka kualifikasi nasional (KKN) Indonesia dan bukan berdasarkan kurikulum 2013. Hal ini dilakukan lantaran kurikulum 2013 masih gonjang ganjing pemberlakuannya.

Penyusunan kurikulum prodi matematika bagi PTM se-Indonesia ini dilakukan dalam rangkaian rapat kerja nasional prodi matematika PTM se-Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Jumat (26/12).

Rakernas ini diikuti 31 dosen matematika dari 15 PTM se-Indonesia. “Penyusunan kurikulum berdasarkan KKN ini keputusan bagus, karena kurikulum 2013 masih gonjang ganjing pemberlakuannya,” ujar Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah, Suyanto saat membuka rakernas tersebut.

Menurut Suyanto, kurikulum yang disusun berdasarkan KKN didasarkan atas standar kualifikasi nasional. Dimana pendidikan dan pengajaran dimuarakan para output yang memenuhi standar kualifikasi tersebut.

Meski begitu, Suyanto meminta selain didasarkan pada KKN, penyusunan kurikulum pendidikan bagi prodi matematika PTM se-Indonesia juga harus didasarkan pada beberapa hal. Yaitu kata dia, mendidik mahasiswa untuk memiliki inovasi dan networking luas.

“Yang paling penting dirumuskan adalah, mahasiswa itu tahu untuk apa pentingnya mempelajari matematika. Ini harus dipahamkan salah satunya degan pembuktian riil pentingnya pendidikan matematika itu,” katanya.

Selain memberikan bekal agar siswa memiliki inovasi dan networking, prodi matematika juga harus membekali mahasiswanya life skill tertentu. Bekal life skill ini bisa diberikan dalam bentuk paket pembelajaran pendukung kurikulum.”Bisa berupa pendidikan kewirausahaan, kemampuan bahasa asing atau bekal hidup lainnya,” katanya.

Sementara itu Dekan FKIP UAD yang menjadi penyelelenggara Rakernas tersebut, Trikinasih Handayani mengatakan, untuk peningkatan pendidikan prodi matematika di PTM memang dibutuhkan kerjasama antar PTM itu sendiri.

“Melalui kegiatan ini diharapkan muncul kurikulum yang semakin baik dan menjawab kebutuhan pendidikan matematika itu sendiri,” ujarnya.

Kaprodi Pendidikan Matematika FKIP UAD, Abdul Taram mengatakan, selain menyusun kurikulum bersama rakernas Prodi Matematikan PTM se-Indonesia juga membahas program kerja assosiasi pendidikan matematika PTM se-Indonesia.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID