Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Asuransikan 5.600 Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengasuransikan sebanyak 5.600 mahasiswa angkatan 2014/2015 dalam rangka memberikan jaminan keselamatan mahasiswa saat melaksanakan kegiatan.

“Asuransi tersebut diberikan karena melihat banyaknya kegiatan mahasiswa yang saat ini sering diselenggarakan, baik di dalam maupun di luar kampus,” kata Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Sri Atmaja P Rosyidi di Yogyakarta, Jumat.

Oleh karena itu, kata dia, UMY mencari mitra agar kesejahteraan mahasiswa bisa terjamin. Untuk itu, UMY menjalin kerja sama asuransi kecelakaan untuk mahasiswa dengan Bumida.

“Sebenarnya UMY juga telah menyediakan Dana Sehat Mahasiswa (DSM), tetapi DSM hanya untuk pengobatan dan rawat jalan. Jadi, kami mencari mitra lagi yang bisa meng-cover keperluan mahasiswa selain pengobatan dan rawat jalan,” katanya.

Menurut dia, untuk sistem pembayaran asuransi, mahasiswa tidak perlu membayar sendiri ke pihak penyedia asuransi, karena pembayarannya sudah masuk dalam SPP semester mahasiswa.

“Untuk pembayarannya sudah termasuk dalam SPP setiap semester. Jadi, tidak memberatkan mahasiswa dan mahasiswa tidak perlu membayar sendiri ke pihak penyedia asuransi,” katanya.

Ia mengatakan asuransi kecelakaan yang diberikan adalah santunan meninggal dunia karena kecelakaan sebesar Rp20 juta, santunan cacat tetap karena kecelakaan sebesar Rp24 juta.

“Selain itu, santunan rawat rumah sakit karena kecelakaan maksimal tujuh hari dalam setahun dengan biaya per hari Rp300 ribu, santunan biaya pemakaman sebesar Rp2 juta, dan santunan kecelakaan tidak cacat tetap sebesar Rp2 juta,” katanya.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Program Pascasarjana UAD Segera Tambah Program Doktoral

Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang telah memasuki usia satu dasawarsa berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas. Salah satunya dengan menambah program doktoral yang direncanakan akan diresmikan paling lambat tahun 2016.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof Dr Ahmad Mursidi, Direktur Program Pascasarjana UAD Yogyakarta saat menghadiri tasyakuran satu dasarwasa UAD di hall Kampus I UAD Yogyakarta. Ahmad menuturkan program doktoral yang saat ini persiapannya sudah matang adalah Program Doktor Psikologi. Ilmu Psikologi dipilih sebagai prodi pertama yang dibuka untuk program doktoral karena ilmu ini termasuk yang pertama ada di UAD.

“Selain itu, kami juga melihat potensi ilmu psikologi ke depannya juga sangat besar. Saat ini cukup banyak juga yang membutuhkan penerapan ilmu ini,” kata Ahmad, Sabtu (3/1/2014).

Tak hanya itu, ke depan UAD juga akan segera menambah prodi untuk program magister. Antara lain Pendidikan Matematika, Studi Kesehatan Masyarakat, Pendidikan Vokasi, dan Studi Teknik Informatika. Maka dengan penambahan empat prodi ini maka nantinya total ada 11 program studi magister yang ada di UAD.

Saat ini program studi magister yang ada di UAD antara lain Psikologi Profesi, Ilmu Psikologi, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Fisika, Pendidikan Farmasi Klinis, Farmasi POKBA, dan Manajemen Pendidikan. (*)

Sumber: Tribun Jogja

Workhshop Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Jakarta

Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyelenggarakan Workhshop Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di lingkungan UMJ. Dalam upaya meningkatkan Penjaminan kualitas mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan. UMJ berupaya melakukan peningkatan wawasan dan pengetahuan tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di lingkunan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Kegiatan ini diikuti seluruh Pimpinan Fakultas serta dosen program studi yang telah ditunjuk dalam mensuksesi penjaminan mutu di UMJ. Dengan pembicara Dr. Desi Bidayanti (Tim SPM Kemenristekdikti) dan Dr.Arsitawati Puji Raharjo (Ditjen Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti) Kegiatan Workhshop ini diselenggarakan di Aula Lantai IV Gedung Rektorat UMJ , Jl.KH. Ahmad Dahlan Cirendeu-Ciputat, Tanggerang Selatan. (15/12)

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Rektor UMJ Prof.Dr.Hj.Masyitoh,M.Ag dan didampingi wakil Rektor I Bidang akademik Kahar Maranjaya,SH.MH. Dalam sambutannya Masyitoh menyampaikan apresiasinya kepada Bidang akademik UMJ yang telah berupaya meningkatkan Mutu Pendidikan yang ada di UMJ.

Masyitoh berharap seluruh elemen Universitas dan Fakultas untuk terus bekerja keras bila menginginkan UMJ berkualitas.“Pekerjaan mengawal bidang akdemik bukanlah pekerjaan yang mudah jadi diperlukannya kerja keras dan kebersamaan dalam membangun kualitas UMJ lebih baik” Papar Rektor

Dalam Workhshop, Dr. Desi Bidayanti selaku Tim SPM Kemenristekdikti RI menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan nasional terkait SPM Pendidikan Tinggi. Desi memaparkan beberapa syarat agar menjadi perguruan tinggi yang bermutu. Pertama, Perguruan Tinggi harus memiliki struktur organisasi yang kuat melalui  kepemimpinan yang memberi teladan, mempunyai integritas, dan membangun suasana akademis dan non-akademis yang kondusif. Kedua, memiliki Tata kelola yang akuntabel dengan tersedianya kejelasan sistem, mekanisme dan kelengkapan aturan dalam berbagai aspek pengelolaan. Dan Ketiga, Perguruan Tinggi memiliki Sistem  Penjaminan Mutu  sebab  Mutu  baik  menentukan keberlanjutan institusi.

Pemateri Kedua Dr.Arsitawati Puji Raharjo Ditjen Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti dalam pemaparannya menjelaskan tentang Paradigma Sistem Penjaminan Mutu Praktik Baik dari Proyek Health Profesionals Education Quality (HPEQ). Menurutnya ada 3 Paradigma perubahan dalam Sistem Pendidikan Tinggi Kesehatan. Pertama, Sistem Penjamin Mutu. Kedua, Kolaborasi Interprofesi dan Ketiga, Public Private Partnership.

“Kebijakan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan dapat Diaktualisasikan dengan Baik jika terdapat Kesadaran & Kedisiplinan untuk Memenuhi Aturan & Standar” Jelas Arsitawati. (ibl)

Sumber Berita: www.umj.ac.id

Amein Rais: UAD Sudah Mengalami Globalisasi

Selasa (30/12/2014), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan pengajian Muhasabah Refleksi Akhir Tahun Menyongsong Tahun Baru Miladiyah. Acara yang berlangsung di auditorium kampus I ini menghadirkan Prof. Dr. H. M. Amien Rais, M.A. sebagai pembicara.

Amien Rais dalam pidatonya menyampaikan perkembangan UAD. Menurutnya, universitas ini sudah mengalami globalisasi. Hal itu terlihat dari meningkatnya kerja sama dengan luar negeri dan semakin banyaknya mahasiswa asing yang kuliah di UAD.

“Mari kita syukuri, UAD yang perlahan maju dan dapat merebut hati masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya,” katanya.

Acara tahunan tersebut juga dihari oleh para dosen, karyawan, serta para petinggi lainnya. Dr. H. Kasiyarno, M. Hum. selaku  Rektor UAD dalam sambutannya berharap kepada civitas akademika agar menyambut tahun baru dengan refleksi diri sebagai bentuk koreksi. “Sudahkah Anda memberikan yang terbaik untuk UAD?”

Lebih lanjut, Kasiyarno mengimbau kepada dosen dan karyawan untuk kerja keras jangan malas, kerja tuntas jangan culas, kerja cerdas sampai muntas.

“Kita sudah go international, mari kita tingkatkan kualitas, agar semakin meningkat dan meningkat,” pintanya.

Sumber : www.uad.ac.id

Project Citizen Pembelajaran Tepat bagi Mahasiswa

Senin (29/12), mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), mengadakan show case dari studi kasus dengan menggunakan model pembelajaran Project Citizen sebagai penerapan mata kuliah Pendidikan Pancasila.(30/12)

Eli Hasan Sadeli, M. Pd., sebagai dosen pengampu mata kuliah pendidikan pancasila menjelaskan, dengan model pembelajaran tersebut, akan semakin menantang dan lebih bermakna bagi mahasiswa, implementasi tersebut guna mensinergiskan pengetahuan dikelas dengan fakta yang ada di masyarakat. “Sangat besar pengaruhnya untuk menunjang keterampilan berpikir kritis dan aktif dengan mereka dalam mengidentifikasi masalah, memilih masalah, mengumpulkan informasi, mengembangkan portofolio kelas, menyajikan portofolio didepan publik, dan merefleksikan pengalaman belajar,” jelas Eli.

Untuk menguatkan informasi yang akurat, mahasiswa dari semester satu tersebut melakukan observasi disembilan titik ke anggota DPRD, pejabat daerah, pakar, ahli, masyarakat, media, internet dan perpustakaan. Hasilnya, mereka sajikan kepada dua juri dosen PGSD yaitu Dr. Sriyanto dan Moeslim Aji, S.Pd., yang bertindak sebagai pengamat dan komentator.

Selanjutnya, mahasiswa masih ada follow up ke Pemerintah Daerah guna memberikan solusi alternatif dari pembelajaran project citizen, terkait permasalahan yang dianggap krusial di Banyumas sebagai bahan masukan bagi pemda. Uut

Sumber : www.ump.ac.id

Kembangkan Industri Jamu Menuju Kemandirian Bangsa

“Peran teknologi untuk meningkatkan daya saing produk dan industri jamu perlu diperhatikan untuk mengembangkan jamu di Indonesia,” kata Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dalam pidato Milad ke-54 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (27/12/2014), Unggul Priyanto menyampaikan bahwa jamu merupakan aset bangsa yang harus dilestarikan, dimanfaatkan, dan dikembangkan. Dari hasil riset tumbuhan obat dan jamu yang dilakukan oleh Badan Litbang Kementerian Kesehatan tahun 2012−2013 pada 246 etnis (sekitar 20% dari seluruh etnis yang ada) di 182 kabupaten dalam 26 provinsi di luar Pulau Jawa, telah ditemukan 24.927 tumbuhan lokal berkhasiat obat dan 13.665 jenis ramuan tradisional (Balitbang Kesehatan, 2013).  Suatu kekayaan budaya dan pengetahuan tradisional yang luar biasa.

Beberapa kondisi strategis yang menjadi tantangan dan peluang dalam pengembangan industri jamu tersebut di antaranya karena kecenderungan masyarakat global untuk menggunakan produk berbasis bahan alam (jamu) terus meningkat. Hal ini dapat diukur dengan semakin meningkatnya pasar dunia untuk produk herbal yang diperkirakan mencapai 5 triliun dolar pada 2050 mendatang. Pertumbuhan pasar dalam negeri pun terus meningkat.

Pada 2010 saja, nilai pasar dalam negeri mencapai sebesar 10 triliun rupiah. Nilai ini meningkat secara signifikan menjadi 13 triliun rupiah pada 2012, sekitar 21% dari total pasar farmasi nasional. Selain itu, telah diterapkannya integrasi pelayanan kesehatan tradisional ke dalam pelayanan kesehatan konvensional di beberapa negara, seperti Tiongkok dan India yang diikuti oleh beberapa negara lain, menjadikan peluang lebih tinggi.

Pemerintah sudah merespons untuk perkembangan jamu. Terakhir pada 2012−2014, telah dimunculkan wacana dan diskusi intensif tentang ikonisasi jamu, yaitu komunikasi pengembangan jamu dalam perspektif sosial ekonomi untuk mendorong pemahaman dan promosi jamu. Hal ini diikuti dengan upaya penguatan payung hukum, yaitu penyusunan naskah akademik RUU Jamu dan deklarasi pembentukan Dewan Jamu Indonesia.  Selanjutnya, dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 103 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional (PP Yankestrad) pada 3 Desember 2014 menjadi acuan bagi para praktisi pelayanan kesehatan tradisional.

UAD dalam Milad ke-54 ini ikut mengembangkan jamu sebagai cara memajukan aset bangsa. Dengan mengusung tema “Pengembangan Industri Jamu Menuju Kemandirian Bangsa”, pada Minggu (19/10/2014) di Titik Nol Kilometer, digelar acara minum jamu gendong bersama dosen, karyawan, dan masyarakat sekitar. Sebelumnya, Fakultas Farmasi pada tahun 2011 juga telah meraih Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) secara resmi dinobatkan sebagai Pemrakarsa dan Penyelenggara Kampanye Obat Herbal Jamu Milik Indonesia dengan peserta terbanyak, yaitu 1003 volunteer melebihi dari yang ditargetkan.

“Komitmen dan sinergi menjadi kata kunci penting untuk membangun bangsa ini, termasuk pengembangan jamu. Pengembangan produk jamu dengan konsep demand pull (tarikan pasar) akan lebih tepat dan cepat untuk bisa direalisasikan ke pasar daripada konsep technology push. Untuk itu, skema sinergi ABG (Academician, Business, Government) merupakan skema sinergi yang tepat untuk diterapkan dalam pengembangan produk dan industri jamu. Sinergi ABG dan komunitas harus dibangun dengan semangat keindonesiaan yang tinggi dalam rangka menggali, memanfaatkan, dan mengembangkan jamu berbasis inovasi teknologi,” ucap Unggul.

“Mari kita jadikan jamu sebagai tuan rumah yang baik di negeri sendiri dan menjadi tamu agung di negeri orang,” harapnya.

Sumber : www.uad.ac.id

Layanan Psikologi dan Teknologi Canggih Lengkapi Peluncuran Klinik 24 Jam UMY

Untuk menunjang kebutuhan masyarakat Yogyakarta dalam penyediaan layanan kesehatan, serta membantu meningkatkan sarana dan prasarana yang dapat bermanfaat secara langsung kepada masyarakat, UMY sebagai salah satu perguruan tinggi yang juga memiliki andil dalam pemberdayaan masyarakat, ikut membantu penyediaan layanan tersebut. Upayanya tersebut dilakukan dengan membuka klinik 24 jam, yang sasaran pasiennya adalah warga muhammadiyah, mahasiswa UMY dan juga masyarakat umum baik yang terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) maupun bukan

Ketua Task Force for Klinik Pratama 24 jam Firdaus UMY, dr. Oryzati Hilman, MSc. CMFM, PhD dalam laporannya saat soft opening Klinik 24 jam UMY yang bertempat di halaman utama Klinik Pratama 24 jam Firdaus UMY dan berlokasi di Jalan Kapten Piere Tendean 56, Yogyakarta, Kamis (25/12), menjelaskan ada hal berbeda yang disediakan oleh Klinik 24 jam UMY. Perbedaan tersebut terletak pada layanan dan fasilitasnya yang sudah menggunakan teknologi cangih. Pada layanan Klinik 24 Jam UMY ini, selain menyediakan layanan lengkap pemeriksaan kesehatan, juga menyediakan layanan konseling yang bertujuan untuk menyembuhkan dan mengendalikan psikologi pasien. Karena menurut dr. Oryzati, pasien yang sakit fisik sudah pasti berdampak pada psikologi pasien, sehingga selain adanya layanan penyembuhan fisik juga didukung dengan layanan penyembuhan psikologi pasien.

“Keunggulan klinik ini adalah, selain menyediakan layanan penyembuhan penyakit fisik yang didukung dengan teknologi kesehatan mutakhir, klinik ini juga menyediakan layanan konseling yang bertujuan untuk menyembuhkan psikologi pasien. Karena sudah pasti jika pasien mengalami sakit pada tubuhnya, hal tersebut akan berdampak langsung pada tekanan psikologi pasien,” ujarnya.

Sementara itu, rektor UMY Prof. Dr. Bambang Cipto, MA sesaat setelah meninjau kelengkapan fasilitas dari Klinik 24 jam Firdaus UMY mengungkapkan bahwa dirinya terkesan dengan ketersedian teknologi yang menurutnya lebih baik dari klinik yang ada di Yogyakarta, misalnya seperti mesin pengukur kebugaran tubuh secara menyeluruh yang bernama Body Compotition Monitor yang tersedia sebanyak 3 unit.

“Pertama-tama saya sangat terkesan sekali dengan keunggulan dari klinik ini. Sebab kita tahu bahwa selain kita mampu menyediakan tenaga kesehatan yang terampil, kini kita punya klinik yang menyediakan teknologi kesehatan yang canggih, misalnya seperti alat pengukur kebugaran tubuh tadi, ada 3 unit di sini. Selain itu klinik ini juga punya teknologi pemeriksaan gigi yang terbaru dengan keunggulan-keunggulan yang menurut saya lebih baik dari klinik yang lain,” imbuhnya.

Bambang juga menambahkan bahwa dirinya berharap dengan adanya Klinik Pratama 24 jam Firdaus UMY ini akan memberikan manfaat kepada masyarakat Yogyakarta, dan juga dapat menjadi sarana penunjang penelitian dari mahasiswa UMY sendiri. Hal ini juga agar ilmu kesehatan yang terus berkembang dapat diikuti secara baik, serta dapat terus menjadi sarana dalam peningkatan pengabdian kepada masyarkat.

Selain dengan penyediaan teknologi kesehatan yang cangih, Klinik Pratama 24 jam UMY juga didesain sebagai bangunan yang ramah terhadap difabel. Hal tersebut terlihat dari akses kursi roda ke semua ruangan, seperti ruangan pemeriksaan, toilet dan ruang tunggu. Selain itu Klinik Pratama 24 Jam UMY nantinya akan dilengkapi dengan Running Teks, untuk mendukung pasien tuna runggu agar mendapatkan informasi pangilan pemeriksaan dengan mudah. (Shidqi)

Sumber : www.umy.ac.id

UMP Bentuk Forum Kebencanaan ‘DERAP’

Bencana di Indonesia seakan tak akan ada habisnya, mulai dari longsor, banjir, gunung meletus, tsunami sampai dengan kerusakan alam akibat pertambangan. Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh banyak pihak seperti  pemberian bantuan secara materi, penerjunan relawan di lokasi kejadian maupun pembentukan forum kebencanaan. Salah satunya Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Selasa 16 Desember 2014 bertempat di gedung aula AK Anshori membentuk forum kebencanaan yang tergabung dalam Humanitarian forum Indoensia (HFI) DERAP ‘Disaster Emergency Response and Preparedness’.

Hadir dalam acara yakni pembicara dari UN OCHA (The United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs) kantor koordinasi urusan kemanusiaan PBB, Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng serta mahasiswa. Pada kesempatan ini Rektor UMP berpesan dalam sambutannya yang dibacakan oleh Naibul Umam M.Si., S.Sos aktivis lingkungan dan dosen. “UMP mendukung terbentuknya forum kebencanaan ini. Saya berharap ketika ada bencana tidak hanya terjun langsung kelokasi namun juga diadakanya penelitian. Sehingga dengan memanfaatkan Iptek dapat mendorong serta membangkitkan semangat kita untuk terus menjaga kearifan budaya lokal,” katanya. Umam juga menghimbau agar dengan diadaknnya workshop ini peserta dapat memahami dalam menangani bencana, “Seperti namanya DERAP, gerak harus cepat, seragam, team work harus kuat,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini pembicara Nenda Riana Nedyawati menyoroti mengenai ‘Pengurangan Resiko Bencana (PRB)’, Riana menjelaskan mengenai definisi bencana mulai dari jenis seperti bencana alam, bencana sosial sampai bencana teknologi atau wabah penyakit, intensitas cepat, lambat, awal, serta menjelaskan mengenai tujuan PRB. “PRB bertujuan untuk meminimalisir bencana baik struktural dan non struktural. Seperti menerapkan berbagai ilmu pengetahuan ketika akan membangun gedung,” terangnya. (Faj)

Sumber : www.ump.ac.id

Format Baru Relasi Islam dan Pancasila

Sejak menjadi negara baru Indonesia telah menentukan asas bernegara yang digagas oleh para founding fathers. Asas itu tidak lain adalah Pancasila. Meski rumusan Pancasila telah dianggap final tetapi ia masih menyimpan riak-riak perdebatan. Dalam beberapa perdebatan dan dialog Pancasila dihadapkan dengan Islam.

“Sebagian masyarakat belum mampu mendudukkan antara Pancasila dan Islam dengan baik,” jelas Ma’mun Murod Al-Barbasy, Ketua Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP), pada Seminar Nasional bertema Mencari Format Baru Relasi Islam dan Pancasila yang diselenggarakan FISIP UMJ bekerjasama dengan PSIP dan Pusat Pengkajian MPR RI di Aula Pascasarjana UMJ lantai 3, Jumat (12/12) lalu.

Masih menurut Ma’mun bahwa salah satu masalahnya adalah Islam dan Pancasila tidak mampu dihadirkan dalam konteks bernegara saat ini. Padahal, sambungnya, Pancasila sebagai ideologi tidak ada persoalan.
Selain Ma’mun para narasumber yang hadir pada seminar tersebut antara lain KH. Salahuddin Wahid – biasa dipanggil Gus Solah, Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Wakil Ketua MPR RI era SBY, dan Andar Nurbowo, Pengamat Politik Indostrategi. Acara tersebut dibuka oleh Rektor UMJ Prof. Masyitoh.

Dalam sambutannya Masyitoh meyakini bahwa antara Islam dan Pancasila tidak berseberangan. Menurutnya, ke-lima sila dalam Pancasila sesuai dengan Islam.

Menurut Ma’mun, perdebatan soal relasi Islam dan Pancasila seringkali mengerucut pada masalah piagam Jakarta. Padahal pada sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menurutnya berada dalam konteks tauhid.

Ia juga menyampaikan hasil riset PSIP diantaranya adalah bahwa Pancasila diamini sebagai landasan bernegara. Sedangkan tentang relasi Islam dan Pancasila, sekitar 82 % responden menjawab bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Meskipun demikian sekitar 67% responden rindu dengan hadirnya Piagam Jakarta.

Sedangkan menurut Gus Solah, proses memadukan Islam dan Indonesia pergulatannya bukan pada menerima atau menolak Pancasila. Tetapi bagaimana menafsirkan Pancasila, “Saya kira ini akan terus berjalan,” jelasnya.

Soal Pancasila, masih menurut Gus Solah, bahwa Sila ke-5 yang tidak banyak dibahas. “ Soal hak asasi kita masih bicara hak sipil dan politik. Padahal di luar sudah bicara hak ekonomi, social dan seterusnya,” katanya lagi.

Senada dengan Gus Solah soal menafsirkan Pancasila, Andar Nurbowo bahwa untuk memahami bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam perlu pemahaman tafsir yang integral. “Perlu penerjemahan secara operasional bagaimana ber-Islam dan bagaimana ber-Pancasila,” jelasnya.

Sebagai pembicara terakhir Hajriyanto mengatakan jika Pancasila bersifat poli-interpretable artinya bahwa Pancasila dapat diinterpretasikan melalui berbagai macam cara. “Karenanya Pancasila adalah ideology terbuka,” tegasnya.(Abik/ Humas UMJ)

Sumber : www.umj.ac.id

Universitas Muhammadiyah Aceh Seminarkan 10 Tahun Tsunami Aceh

Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang, menggelar seminar internasional tentang tsunami. Kegiatan itu dipusatkan di Grand Aceh Hotel II, Lamdom, Aceh Besar, 11-12 Desember 2014. Seminar itu bertajuk “Call for Papers Recovery and Resileincy Tsunami Aceh Based on Any Perspective”.

Dekan Fakultas Psikologi Unmuha Aceh, Barmawi MSi, selaku ketua panitia seminar, kepada Serambi, Kamis (11/12) menyebutkan, seminar tersebut bertujuan memberi pemahaman kepada masyarakat Aceh khususnya, tentang berbagai riset yang telah dilakukan oleh pihak luar tentang tsunami di Aceh.

“Banyak hal yang harus kita pelajari dari tsunami, bukan hanya persoalan kesedihan saja, tapi ada berbagai ilmu bencana yang bisa kita kaji dari kejadian tersebut,” kata Barmawi didampingi Dr Ramli Gadeng MPd, Ketua LPPMP Unmuha.

Dalam seminar itu, sejumlah pemakalah akan mengisi materi tentang beberapa aspek kajian hasil riset tsunami 2004 silam. Aspek tersebut meliputi bidang psikologi, sosial budaya, pemulihan trauma, penggulanagan bancana, dan beberapa bidang terkait lainnya yang dinaggap penting untuk diketahui masyarakat Aceh.

Pemateri yang dihadirkan dalam seminar itu berasal dari Universiti Sain Malaysia (USM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Unsyiah, UIN Ar-Raniry, dan Unmuha. “Hasil kajian ini juga akan dipublis menjadi sebuah jurnal nantinya,” ujar Barmawi.

Barmawi menyebutkan, seminar atau pertemuan ilmiah itu ke depan akan digilir di beberapa negara. Untuk kali ini, Aceh mendapat kehormatan karena terkait hasil riset tsunami dan juga bertepatan dengan peringatan 10 tahun tsunami Aceh. Seminar tersebut diikuti 140 peserta.(sb)

Sumber : www.unmuha.ac.id