Pertama Kalinya, UMM Beri Gelar Doktor Kehormatan

Untuk kali pertama, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menganugerahkan gelar kehormatan, Doktor Honorus Causa (Dr. HC). Atas nama ketua senat, rektor UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP, menyematkan gelar tersebut kepada Drs. Said Tuhuleley, MM, di ruang teater UMM Dome, Jumat (19/12). Said berhak menyandang gelar kehormatan itu setelah diusulkan oleh Promotor Prof. Dr HA Malik Fadjar, MSc dan Co-Promotor, Prof. Dr. Ishomuddin, MS dan disetujui oleh senat UMM.

Dalam pertimbangan pengusulannya, Malik Fadjar menyebutkan sosok Said sangat layak mendapatkan gelar pertama dalam sejarah UMM ini. Selain komitmennya di bidang akademik, Said juga dikenal gigih mengamalkannya dalam bentuk gerakan sosial di akar rumput. Melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Said berhasil menggerakkan masyarakat dhuafa yang memerlukan bantuan.

“Promovendus ini adalah tokoh Muhammadiyah yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan konsisten mengamalkannya dengan penuh dedikasi di masyarakat,” kata Malik Fadjar.

Prosesi penganugerahan gelar juga disaksikan oleh Dewan Guru Besar UMM dan para pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Hadir dalam acara ini antara lain, Ketua PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir, Prof Dr Yunahar Ilyas, Dr Agung Danarto, Prof Dr Zamroni, dan ketua PP Aisyiyah Dra. Siti Noordjannah, MSi. Dari kalangan MPM, hampir semua hadir, termasuk orang-orang yang selama ini menjadi binaan Said di berbagai daerah.

Rektor memuji Said yang sangat intens mengimplementasikan gerakan tauhid sosial yang digagas oleh Prof. Dr Amien Rais. Kunci tauhid, katanya, terdapat pada kalimat tahlil lailaha illa Allah. “Kalimat ini sangat dahsyat karena bisa membuka pintu surga,” ungkap rektor mengutip hadits riwayat Abu Daud.

Oleh karena tauhid sosial adalah implementasi dari kalimat tahlil itu maka pada hakekatnya Said bisa disebut sebagai pemburu surga. “Gerakan Tauhid Sosial ini bisa juga disebut sebagai gerakan Jamaah Tahlilan yang kalimat “lailaha illa Allah” tidar terdengar namun menjelma menjadi kakuatan yang membebaskan manusia dari belenggu ketidak-berdayaan. Tahlilan yang digelar di sawah-sawah, di kampung-kampung nelayan, di tempat pembuangan sampah, dan di pasar-pasar tradisional,” kata Muhadjir.

Para pemburu surga ini, lanjut rektor, datang ke tempat-tempat itu untuk memanusiawikan penghuninya dan meninggalkan suatu yang bermakna. “Sesungguhnya orang yang soleh itu adalah orang yang datang di suatu tempat dan dia tinggalkan di tempat itu tanda-tanda yang bermakna,” lanjutnya mengutip sebuah ayat Quran.

Dalam sambutannya, Haedar Nashir mengapresiasi cara UMM dalam memaknai Miladnya yang ke-50 ini. Menurutnya, gagasan rektor agar tauhid sosial dijadikan tradisi baru tahlilan di tengah-tengah masyarakat layak diapresiasi. “Atas nama pimpinan Muhammadiyah, saya sampaikan selamat kepada UMM dan pak Said. Proses ini sungguh dapat menjadi inspirasi besar baik bagi kita warga Muhammadiyah maupun bangsa Indonesia,” tutur Haedar.

Sebelumnya, Said memaparkan orasi selama 30 menit. Orasi berjudul Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat: Seputar Kiprah Muhammadiyah dalam Pemberdayaan Masyarakat itu berisi tentang perenungan, kajian dan pengalamannya bersama-sama MPM melakukan advokasi dan pendampingan pemberdayaan masyarakat pinggiran. Said menjadi Doktor Kehormatan pertama UMM di Program Studi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam bidang Pemberdayaan Masyarakat. (nas)

Sumber : www.umm.ac.id

​Mau Kuliah di Perancis Harus Kuasai Bahasanya

Pemerintah Perancis membuka peluang beasiswa yang besar bagi mahasiswa asal Indonesia. Namun demikian penguasaan Bahasa Perancis menjadi hal yang utama untuk dapat menempuh pendidikan dengan jalur beasiswa di negeri yang terkenal dengna menara Eifel itu.
Hal tersebut dungkapkan oleh atase kerjasama universitas Kedutaan Besar Perancis untuk Indonesia, Antoine Devoucoux de Buysson saat memberikan seminar tentang peluang studi di Perancis yang diselenggarakan di Mini Theatere PPB UMY, Kamis sore (18/12).

Antoine​ menjelaskan, Perancis menjadi tujuan utama mahasiswa di dunia dalam menempuh pendidikan. Hal itu dikarenakan adanya kualitas pendidikan yang baik dengan biaya hidup relatif rendah. Tidak sampai di situ, ia menyebutkan, pemerintah negaranya tidak membeda-bedakan mahasiswa dalam atau luar negeri, mereka sama-sama berkesempatan mendapatkan subsidi biaya pendidikan alias gratis.

Pemerintah Prancis, lanjutnya, memang memberikan beasiswa dalam bentuk subsidi biaya pendidikan bagi para pelajar yang menuntut ilmu di negeri yang menjadi kiblat fashion dunia itu. Namun ia mengingkatkan, para pelajar yang ingin mendapatkan subsidi haruslah mengambil program berbahasa Perancis dan mampu menggunakan Bahasa Perancis untuk bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menepis anggapan bahwa Bahasa Perancis adalah bahasa yang sukar untuk dipahami. Bahasa Perancis, katanya, saat ini telah banyak digunakan oleh diplomat dan merupakan salah satu bahasa resmi PBB. “Bahasa perancis mudah dipahami. Selain itu Bahasa Perancis banyak digunakan diplomat dan menjadi bahasa resmi PBB setelah Bahasa Inggris,” ungkapnya pada acara yang digelar Warung Peranis UMY itu.

Di sisi lain ia juga menerangkan bahwa masyarkat Indonesia yang mayoritas muslim tidak perlu khawatir ketika tinggal di negaranya. Sebab ia mengaku, penduduk Perancis sangat terbuka dengan pendatang, lebih-lebih yang memiliki latar belakang kepercayaan yang berbeda. Di samping itu ia juga menuturkan, warga muslim yang baru tinggal di sana tidak perlu khawatir kesulitan untuk mendapatkan makanan halal. Menurutnya saat ini di Perancis telah banyak sekali tempat penjualan makanan halal, selain itu pusat-pusat perbelenjaan yang ada juga telah banyak menyediakan.

Sementara itu Nur Fitria, Penanggung Jawab Campus France Yogyakarta menyebutkan, biaya pendidikan di Perancis sangat terjangkau, bahkan lebih murah di banding di Indonesia. Selain itu, para pelajar juga mendapatkan berbagai kemudahan seperti subsidi biaya hunian sebesar empat puluh persen. Kemudian biaya makan siang di kantin universitas yang murah.

“Di Perancis biaya pendidikan sekitar tiga sampai tujuh juta saja. Yang harus dibayar itu adalah biaya registrasi. Biaya hidup juga murah, dengan 3 euro saja kita sudah bisa makan dengan menu lengkap di kantin universitas,” katanya menambahkan.

Sumber : www.umy.ac.id

The 5th Uad International Day 2014 “Wonderful Indonesia”

International Day merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) sebagai wadah untuk saling berinteraksi antara mahasiswa asing, mahasiswa lokal, serta civitas akademika UAD. Selain itu, ajang ini juga dijadikan para mahasiswa asing untuk menunjukkan kebudayaan Indonesia yang telah mereka pelajari sekaligus menampilkan budaya negaranya masing-masing.

Wakil Rektor IV, Prof. Sarbiran, Ph.D., yang membuka acara ini menyebutkan bahwa Internasional Day kelima ini mengambil tema “Wonderful Indonesia” yang juga menjadi branding pariwisata Indonesia 2014. Tema tersebut diambil karena ingin lebih memperkenalkan budaya dan pariwisata Indonesia kepada para mahasiswa asing dan juga para pengunjung.

Di akhir sambutannya, Sarbiran memotivasi para mahasiswa asing, “Ayo semua ikuti saya, saya pikir (menunjuk kepala), saya rasa (menunjuk dada), saya bisa (mengangkat tangan).”

Ada beragam program dalam rangkaian agenda International Day. Dimulai sejak (22/11) dengan babak seleksi Lomba Bercerita dalam Bahasa Indonesia, lomba olah raga yang terdiri atas Lomba Futsal, Basket, Tarik Tambang, dan Lari Estafet, serta puncak agenda yaitu Festival Kuliner yang diselenggarakan pada (6/12).

Festival Kuliner terdiri atas berbagai program, yaitu Lomba Memasak Bakmi Jawa, Lomba Asing Star, Final Lomba Bercerita, dan pengumuman pemenang lomba. Serangkaian acara International Day tersebut diikuti oleh semua mahasiswa asing UAD yang berjumlah sekitar 200 orang.

“Festival Kuliner tahun ini diikuti oleh 12 stand kuliner dari 9 negara, yaitu 3 stand Tiongkok, 2 stand Thailand, 1 stand Malaysia, 1 stand Filipina, 1 stand Vietnam, 1 stand Timor Leste, 1 stand India, 1 stand Ukraina, dan 1 stand Indonesia. Setiap stand menyediakan 3 menu makanan atau minuman khas dari negaranya. Para pengunjung dapat menikmati menu makanan tersebut dengan menukarkan kupon yang dibagikan oleh panitia,” terang Ida Puspita, M.A.Res., kepala KUI UAD.

Seperti tahun sebelumnya, makanan yang disajikan habis dalam waktu kurang dari setengah jam. Setelah itu, panitia akan menghitung stand yang mendapat kupon paling banyak sehingga akan mendapat predikat dan hadiah sebagai stand terlaris. Selain itu, bagi stand yang didekorasi dengan apik akan mendapat predikat dan hadiah sebagai stand terkreatif, dan kelompok stand paling kompak akan mendapat predikat dan hadiah sebagai stand terkompak.

Sementara itu, Lomba Memasak Bakmi Jawa diikuti oleh tiga kelompok. Lomba ini menguji mahasiswa asing dalam keahlian memasak serta menginovasikan makanan khas Indonesia. Pemenang akan diambil juara I, II, dan III.

Untuk Lomba Asing Star, para mahasiswa asing menunjukkan kemampuannya dalam menyanyi, menari, teatrikal puisi, dan bela diri. Pertunjukan budaya ini tidak terbatas pada budaya Indonesia saja, tetapi juga budaya dari negara mereka. Dari pertunjukan tersebut akan dipilih penampilan terfavorit, terkreatif, dan terheboh.

Dalam Lomba Bercerita dalam Bahasa Indonesia, para peserta menunjukkan kemampuannya sebagai pencerita dengan membawakan cerita-cerita rakyat asli Indonesia, seperti legenda Candi Prambanan, Keong Mas, ataupun Bawang Merah Bawang Putih. Dari lomba ini juga dipilih juara I, II dan III.

Hadir sebagai Juri yaitu Dekan Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi Drs. Umarino, M.Hum., Kepala Kantor Urusan Internasional Ida Puspita, M.A.Res., dan pengajar Drama Program Darmasiswa UAD Dinar Setyawan, S.Pd. Acara ini turut dihadiri pula oleh Rektor UAD, para wakil rektor, dekan, kepala program studi, dosen, mahasiswa, serta beberapa mahasiswa asing dari perguruan tinggi lain.(doc)

Sumber : www.uad.ac.id

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Tanda Tangani MoU dengan Universiti Sains Islam Malaysia

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang memiliki tagline “Muda Mendunia”, terus menggalakkan kerjasama dengan institusi-institusi pendidikan baik dalam maupun luar negeri. Hal ini juga sebagai wujud komitmen UMY yang ingin menjadi kampus Go International. Dan kerjasama terbaru yang dilakukan UMY adalah kerjasama dengan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Penandatangan Memorandum of Understanding (MoU)/kerjasama antara UMY dan USIM dilakukan langsung oleh Rektor UMY, Prof. Dr. Bambang Cipto, MA dan Rektor USIM, Y. Bhg.,Prof. Dato’. Dr. Musa Ahmad. Bertempat di Ruang sidang Rektor Kampus Terpadu UMY, pada Selasa (9/12), kedua universitas ini sepakat menandatangani kerjasama dalam hal akademik, seperti penelitian, pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh UMY atau USIM dengan melibatkan mahasiswa, dosen atau staf dari kedua universitas, student exchange, maupun staff exchange.

Y.Bhg, Prof. Dato’. Dr. Musa Ahmad mengatakan, bahwa sebenarnya sebelum USIM mengadakan kerjasama secara resmi dalam bentuk penandatangan MoU tersebut, pihaknya juga sudah beberapa kali mengadakan student exchange ke UMY. Begitu pula sebaliknya dengan UMY. “Kemarin mahasiswa dari UMY baru saja berkunjung ke universitas kami. Jadi sebelum ada MoU ini kunjungan antar mahasiswa UMY dengan USIM sudah dimulai terlebih dulu,” ungkapnya. Hal itu pun kemudian menjadi modal awal bagi USIM untuk bisa meningkatkan kerjasama dengan UMY.

Dato’. Dr. Musa juga mengharapkan agar MoU yang sudah ditandatangani tersebut tidak hanya berlaku dalam masa satu tahun yang akan datang. Tapi bisa diperpanjang dan ditingkatkan lagi untuk lebih mengikat kerjasama antara USIM dengan UMY. “Kami harap kerjasama ini bisa lebih diperpanjang lagi. Dan kepada Rektor UMY, saya pribadi berharap adanya kerjasama ini bisa lebih mengikat hubungan antara UMY dengan USIM,” ujarnya.

Rektor UMY, Prof. Dr. Bambang Cipto pun menyambut baik niat USIM untuk bekerjasama dengan UMY. ​Karena hal ini tentunya juga mendukung Tri Dharma perguruan tinggi, serta keinginan UMY untuk menjadi kampus yang Go International. Prof. Bambang juga berharap kerjasama tersebut bisa berjalan dengan baik dan bisa ditingkatkan lagi dalam bidang lainnya.

Sumber : www.umy.ac.id

LOKAKARYA PENYUSUNAN KURIKULUM BERBASIS KKNI DAN PERMENDIKBUD NO. 49 TAHUN 2014

Menindaklanjuti hasil Lokakarya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Palangkaraya dan diberlakukannya desain kurikulum berbasis KKNI dan Permendikbud No. 49 tahun 2014 dan dilanjutkan ke jenjang PPG.

Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah akan menyelenggarakan “Lokakarya Penyusunan Kurikulum Berbasis KKNI dan Permendikbud No. 49 tahun 2014, bagi program studi Pendidikan Agama Islam dan PGMI LPTK-PTM”, rencana akan dilaksanakan pada tanggal 14 – 16 Desember 2014, bertempat di Hotel Quality Yogyakarta, yang beralamat di Jl. Adi Sucipto No. 48 Yogyakarta.

Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah, Muhammad Samsudin, S.Ag., M.Pd menambahkan, “diharapkan peserta membawa Visi dan Misi Sekolah Tinggi, Visi dan Misi Prodi PAI dan PGMI, membawa konsep/draft kurikulum yang pernah disusun prodi masing-masing dan membawa aturan akreditasi dari BAN PT sebagai bahan penunjang lokakarya tersebut”.

Untuk mengikuti kegiatan ini tiap peserta dikenakan kontribusi sebesar Rp. 1.000.000,-/orang, dengan mengisi blanko kesanggupan mengikuti kegiatan Lokakarya Penyusunan Kurikulum Berbasis KKNI, paling lambat kami diterima tanggal 12 Desember 2014. Diharapkan Ketua STAIM/STIT Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat menugaskan Ketua Prodi PAI dan PGM sebagai peserta dalam lokakarya tersebut.

Informasi lebih lanjut hubungi panitia, Sadiyono (081804148230), Agus M (0811255395), Mulyatmo (087838154789).

Syafii Maarif, Inspirasi Moral, Budaya dan Humanisme

Puncak acara Milad 50 UMM berbarengan dengan Milad 102 Muhammadiyah diwarnai dengan pemberian UMM Award pada delapan Tokoh Muhammadiyah yang di usia lebih 70 tahun tetap berkhidmat dan berjuang untuk umat dan bangsa. Rektor UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, menyerahkan penghargaan tersebut disaksikan 5000 undangan di UMM Dome, Ahad (07/12). Berikut adalah profil singkat salah satu tokoh tersebut, Prof. Dr. HA Syafii Maarif.

Ahmad Syafii Maarif lahir di Sijunjung, Sumatera Barat pada 31 Mei 1935. Ia adalah mantan ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 1998-2005, menggantikan Amien Rais yang pada 1998 mendirikan dan memimpin Partai Amanat Nasional (PAN). Sikap Syafii yang moderat dan bersahaja membuat Muhammadiyah di era kepemimpinannya amat disegani oleh berbagai kalangan dari latar politik, agama, dan budaya yang berbeda.

Dalam kancah internasional, Syafii pernah menjadi presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) sebagai forum tokoh-tokoh lintas agama dunia bermarkas di New York yang mempromosikan agama sebagai instrumen perdamaian dan anti-kekerasan. Hal itu tak lepas dari sosoknya sebagai cendekiawan Muslim yang pluralis dan sangat mementingkan nilai-nilai moral dalam beragama. Hingga saat ini, ia senantiasa dipandang sebagai tokoh bangsa yang sangat tegas mengawal gerakan moral dan kemanusiaan.

Syafii memulai pendidikannya pada Sekolah Rakyat (SR) di Sumpur Kudus pada 1942. Pada saat itu, selain mengikuti sekolah formal, ia juga belajar agama di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah sore harinya dan belajar mengaji di surau malam harinya. Ia tamat SR pada 1947, namun karena beban ekonomi, ia baru bisa meneruskan sekolahnya di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Balah Tengah, Lintau, Sumatera Barat, pada 1950, dan berlanjut di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta hingga tamat pada 1956. Berbekal ilmu dari Muallimin, Syafii merantau ke Lombok Timur dan mengabdi selama setahun di sekolah Muhammadiyah.

Gelar Sarjana Muda diraih Syafii dari Universitas Cokroaminoto pada 1964, sedangkan gelar Sarjana ia peroleh dari IKIP Yogyakarya (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta/UNY) empat tahun kemudian. Selanjutnya, gelar Master of Arts diraihnya dari Ohio University, Amerika Serikat (AS) pada 1979 dan gelar doktoralnya diperoleh dari University of Chicago di negara yang sama pada 1983. Selama di Chicago inilah, Syafii secara intelektual dibimbing tokoh pembaharu Islam Fazlur Rahman serta terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang juga tengah belajar di tempat yang sama. Kepakarannya kian lengkap setelah menjadi Guru Besar Ilmu Sejarah pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Yogyakarta (sekarang Fakultas Ilmu Sosial UNY).

Sekalipun memiliki akar Muhammadiyah yang kuat, Syafii baru benar-benar aktif di persyarikatan pada 1985 saat diajak Amien Rais menjadi anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Lima tahun setelahnya, yaitu saat Muktamar ke-42 di Yogyakarta pada 1990, ia terpilih dalam formatur 13 PP Muhammadiyah dan kemudian diangkat sebagai bendahara PP. Saat itu PP Muhammadiyah dipimpin Ahmad Azhar Basyir hingga wafat pada 1994 dan bola kepemimpinan jatuh pada Amien Rais di mana Syafii lantas dipercaya sebagai salah satu wakil ketua.

Sejak Desember 1998, yaitu saat Sidang Tanwir PP Muhammadiyah di Bandung, Syafii diberi amanah sebagai ketua umum PP Muhammadiyah setelah Amien memimpin PAN. Praktis, terhitung hingga Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Juli 2005, ia telah memimpin Muhammadiyah selama tujuh tahun. Selama masa itu, ia begitu energik mengunjungi warga Muhammadiyah hingga pelosok wilayah Indonesia. Ia juga menjadi payung intelektual yang menginspirasi lahirnya para pemikir muda Muhammadiyah hingga banyak di antaranya yang saat ini menjadi pemikir kaliber nasional.

Di mata para kolega, baik dari kalangan Muhammadiyah, NU, maupun tokoh-tokoh non-muslim, Syafii dikenal sebagai sosok jujur dan kukuh menjaga moral. Itulah sebabnya, ia dapat dengan mudah diterima semua kalangan, termasuk oleh kelompok politik di negeri ini sehingga nasehat-nasehatnya selalu didengar sebagai landasan moral pengambilan berbagai kebijakan.

Sifat-sifat itu pula yang menginspirasi berbagai tokoh untuk mendirikan Maarif Institute for Culture and Humatity yang concern pada gerakan ilmu, pemikiran, budaya dan kemanusiaan. Sebuah lembaga yang didirikan untuk menyebarluaskan pemikiran Syafii dalam konteks keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Kisah hidupnya yang inspiratif, membuat masa kecil Syafii dinovelkan oleh sutradara Damien Dematra dengan judul “Si Anak Kampoeng”. Novel ini telah difilmkan dan meraih enam penghargaan pada American International Film Festival (AIFF). (han)

Sumber : www.umm.ac.id

Sempat Gadaikan SK PNS untuk Mendirikan Muhammadiyah

Merintis suatu organisasi bukanlan pekerjaan yang mudah, Daniel Saalddin salah seorang perintis STIE Muhammadiyah. Ia sempat Gadaikan SK PNS untuk mencukupi biaya mendirikan Muhammadiyah.

Usianya memenang sudah tidak muda lagi namun semangatnya untuk selalu aktif dibidang pendidikan tidak pernah surut, ia berprinsip mungkin Allah masih memberikan kesempatan pada dirinya untuk terus mengabdi dibidang pendidikan. Namun secara langsung ia tidak lagi mengaja, hanya saja mencetuskan konsep-konsep pendidikan yang akan diterapkan, khusnya di STIE Muhammadiyah.

Setelah Pensiun dari Universitas Jambi pada tahun 2011 lalu, saat ini Prof. Ir. H. Daniel Saalddin mantan Pembantu Rektor dan dekan di Pertanian Universitas Jambi (Unja) masih aktif didunia pendidikan. Ia memilih STIE Muhammadiyah sebagai tempat untuk terus mentranfer ilmu yang dimilikinya, ia dipercaya sebagai Badan Pembina Harian yang berfungsi mewakili pimpinan pusat Muhammadiyah di Jambi, ini juga didukung karena ia merupakan salah satu perintis berdirinya STIE Muhammadiyah.

Mantan pembantu Rektor II dua periode dari tahun 1985 sampai dengan tahun 1995 ini menceritakan awal berdirinya Muhammadiyah sempat mengalami masa-masa  yang sulit, bahkan sampai kekurangan biaya. Beberapa orang pendiri Muhammadiyah pada waktu itu termasuk dirinya berinisiatif dengan iklas menggadaikan SK PNS untuk mencukupi biaya mendirikan organisasi Muhammadiyah pada tahun 1969. “Awal berdirinya Muhammadiyah berbentuk Akademi Keuangan dan Perbanka (AKUBANK) barulah pada tahun 2004 disepakatimenjadi STIE Muhammadiyash,” jelasnya.

Menggadaikan SK untuk mecukupin biaya mendirikan organisasi Muhammadiyah pada waktu itu memang pilihan yang sulit, namun itu merupakan satu-satunya jalan halal yang dapat ditempuh untuk medapatkan biaya. Setelah berdiri Perguruan Tinggi Muhammadiyah barulah perlahan mahasiswa banyak yang medaftar dan hingga saat ini sudah terbilang  cukup baik.

Pria yang genap berusia 72 tahun pada tahun 2014 ini menambahkan, pada saat masih aktif di Universitas Jambi, dirinya sempat menjadi dekan di Fakultas Pertanian selama dua periode, yaitu dari tahun 1979 sampai dengan tahun 1985. Namun ia mulai aktif mangajar yaitu dari tahun 1969, dan juga sempata mencalokan diri sebagai salah satu kandidat Rektor Unja pada tahun 2009. “Mungkin karena belum ada nasib untuk menjadi rektor,” tandasnya. (*)

Sumber dan Penulis : BAKAR / Jambi Ekspres

Jadi Wakil Indonesia di YSEALI, Mahasiswa PBI UMY Pelajari Demokrasi dan Bertemu Barack Obama

Muhammad Abas, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMY menjadi salah satu dari dua wakil Indonesia dalam Young East Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang digelar di Myanmar, 10 hingga 17 November lalu. Dalam program yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, telah berhasil mengumpulkan dua puluh orang pemuda dari negara-negara ASEAN untuk bertukar pikiran tentang berbagai macam hal seputar negaranya, khususnya masalah demokrasi. Setelah bertukar pikiran dengan wakil pemuda dari berbagai negara tersebut, pemuda yang akrab dispa Abas itu merasa Indonesia merupakan negara yang unggul dan sangat diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. Dari forum diskusi yang ia lakukan pada ajang tersebut, ia merasa Indonesia telah berada pada jalur yang benar. Sebab begitu banyak hal yang telah dilakukan Indonesia sejak dulu pada berbagai bidang seperti pendidikan dan demokrasi justru baru dipikirkan oleh negara lain seperti Myanmar dan negara ASEAN lainnya. “Beruntung banget jadi Warga Negara Indonesia. Karena yang terjadi di sana sudah terjadi di Indonesia pada masa lalu. Sekarang kita sudah ada di right track jauh di depan mereka,” katanya saat ditemui di Biro Humas dan Protokol beberapa waktu yang lalu.

Menurut mahasiswa angkatan 2010 itu, demokrasi dan hak warga negara untuk menyampaikan pendapat di Indonesia berada jauh di depan seluruh negara se-ASEAN. Hal tersebut, lanjutnya, tidak akan mudah ditemukan di beberapa negara ASEAN lainnya. Di sisi lain ia menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh negara ASEAN masih sama diseputar pemerataan pembangunan. Sehingga peserta lain pada forum tersebut begitu penasaran dan tertarik ketika dirinya menceritakan tentang Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dijalani mahasiswa Indonesia dengan diterjunkan ke pelosok-pelosok. “Permasalahan utama adalah masalah pemerataan pembangunan. Kita lebih bagus, program seperti Indonesia mengajar kita sudah ada lama, mereka baru mulai. Mendengar cerita KKN mereka heran,” sambung pengidola Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Ia mengatakan begitu banyak hal positif yang ia dapatkan selama mengikuti kegiatan itu. Selain berbagi cerita seputar negara masin-masing dengan peserta lain, ia juga mendapatkan pengetahuan dari pakar-pakar yang menjadi pembicara pada kegiatan itu. Ia berharap kegiatan itu akan makin mempererat persaudaraan pemuda di ASAEN. Terlebih negara Asia Tenggara tidak lama lagi akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, sehingga pemuda antar negara sangat perlu untuk saling mengenal agar tidak terjadi shock culture. “Ini untuk meningkatkan kolaborasi antar negara Asia Tenggara khususnya pemuda. Memfasilitasi tukar pikiran untuk persiapan AEC. ketika anak muda sudah memahami kebudayaan satu sama lain, dan tidak mengalami shock culture karena sudah saling mengerti. Ke depan kita akan buat program di Indonesia, saya akan undang mereka ke sini,” ujarnya.
Bertemu Barack Obama

Abas merasa seperti tengah bermimpi ketika sosok Presiden Barack Obama memasuki ruangan tempatnya berkumpul. Pasalnya panitia sengaja merahasiakan kedatangan Obama yang menjadi tamu istimewa dalam ajang tersebut. Mendapatkan kejutan dengan melihat Presiden AS secara langsung bagi Abas adalah kesempatan yang amat langka, pasalnya cerita dari teman-temannya di Amerika Serikat, bahwa tidak mudah untuk bertemu dengan orang nomor 1 di AS itu. Selain itu ia begitu bangga ketika Obama berkali-kali menyebut Indonesia sebagai negara yang demokrasinya paling terlihat dan terbuka sembari mengacungkan jari telunjuk ke arahnya.

“Seperti sedang bermimpi ketika ketemu Obama. Pengalaman yang susah dilupakan itu Ketika Obama menunjuk kami dan menyebutkan Indonesia. Orang yang sekolah di Amerika aja bilang belum tentu bisa ketemu Obama,” ungkap pemuda kelahiran Lebak, Banten, 22 Februari 1993 itu.

Sumber : www.umy.ac.id

Mahasiswa Asing UAD Raih Juara II dalam International Student Summit 2014

Yulia, begitu mahasiswa cantik dari Tiongkok ini biasa dipanggil. Bernama asli Wang Yan, Yulia merupakan mahasiswa peserta program 3+1 yang belajar di Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan selama satu tahun. Sebelumnya, ia telah belajar selama tiga tahun di universitas Xiangsihu College, Guangxi University for Nationalities, Tiongkok.

Yulia bersama dua mahasiswa internasional lain dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yaitu Phuong Uyen Le (Yeni) dan Thanh Thao Truong (Tika) dari Vietnam, menjadi perwakilan mahasiswa asing UAD dalam agenda International Student Summit (ISS) 2014 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Grand Quality Hotel, Yogyakarta, pada 13-16 November 2014. Salah satu program ISS adalah lomba esai dengan tema “Kiprah Negara Berkembang dalam Memainkan Peran dan Kepemimpinan Global” yang diikuti oleh sekitar 60 mahasiswa asing dari 20 perguruan tinggi Indonesia.

“Dalam ISS tahun ini, UAD mengirimkan tiga esai yang ditulis oleh tiga mahasiswa asing. Satu dari Tiongkok dan dua dari Vietnam. Selain lomba esai, ada juga focused group discussion, presentasi, pemilihan pengurus Indonesia International Student Association (IISA), dan kunjungan ke Borobudur,” papar Dessy Kamila Sari, S.S., bagian Kemahasiswaan Asing KUI UAD.

Dari tiga esai, terpilih 2 yang menjadi 10 esai terbaik. Kedua esai itu ditulis oleh Yulia dan Tika. Selanjutnya, mereka bersama delapan mahasiswa lainnya diberi kesempatan untuk mempresentasikan esainya dan harus menjawab dua pertanyaan dari dewan juri. Sebagai hasil akhir, Yulia terpilih menjadi juara II dalam lomba tersebut.

“Dalam esai itu, saya bilang kalau Indonesia dan Tiongkok adalah negara berkembang. Tetapi ekonomi Tiongkok saat ini sudah banyak berkembang dari negara-negara lain karena Tiongkok lebih open kerja sama dengan perusahaan asing. Saya mendengar presiden baru Indonesia, Pak Joko Widodo, juga open investasi dari luar. Saya yakin ekonomi Indonesia juga bisa lebih maju dan lebih baik,” ujar Yulia.

Yulia mengaku terkejut dan tidak menyangka bisa menjadi juara II karena ia merasa teman-teman mahasiswa asing lain memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang lebih baik darinya.

“Saya berterima kasih kepada UAD karena memberi saya kesempatan untuk ikut acara ini. Saya tidak menyangka mendapat juara II. Saya merasa senang sekali.”

Selain menceritakan pengalamannya mengikuti lomba esai, Yulia juga menceritakan kuliahnya di UAD. Ia merasa senang kuliah di UAD karena para dosen sangat peduli dan perhatian kepada mahasiswa.

“Di Tiongkok, saat kuliah banyak mahasiswa senang bermain handphone, tidur, atau bermain QQ. Mereka tidak mendengarkan dosen, tetapi banyak juga dosen yang tidak peduli dengan mahasiswa, dosen hanya berbicara sendiri. Di UAD berbeda, satu kelas hanya 20 mahasiswa dan dosen sangat perhatian kepada mahasiswa. Mahasiswa harus mendengarkan dosen, tidak boleh tidur atau bermain sendiri,” tutur Yulia. (Dok)

Sumber : uad.ac.id

Republik Seychelles berminat bantu Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Republik Seychelles  adalah sebuah negara kepulauan yang mencakup 115 pulau di Samudera Hindia, sekitar 1.600 km sebelah timur daratan Afrika, dan sebelah timur laut Madagaskar. Populasi di Negara ini sekitar 86.525, memiliki populasi terkecil di Afrika. Meskpiun demikian,. Seychelles adalah Negara dengan indeks pembangunan manusia tertinggi di Afrika. Sedangkan pendapatan perkapitanya berada pada urutan ke-2 terbesar di Afrikan setelah Libya. Sumber pendapatan negaranya saat ini adalah sektor pariwisata, tetapi sangat berpengalaman di sektor perkebunan.

Dalam rangka perluasan kerjasama, maka Rektor Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMP), Drs. Bulkani, M.Pd beserta rombingan secara khusus bertemu dengan Duta Besar Republik Seychelles di Jakarta, Mr Nico Barito, pada tanggal 3 Desember 2014. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan beberapa kemungkinan kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Salah satu point penting pertemuan tersebut adalah bahwa, pihak Seychelles menyatakan berminat untuk membantu UMP melalui berbagai program pengembangan dan pengelolaan kawasan serta community development masyarakat sekitar hutan, khususnya di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang telah dimiliki UMP. Salah satu program yang mungkin misalnya melakukan penanaman kembali pada wilayah-wilayah hutan yang sudah rusak akibat pertambangan masyarakat, dengan tanaman yang bisa membantu penyediaan energi alternative masa depan seperti Kemiri Sunan. Hal ini sejalan dengan konsep yang ingin dikembangkan oleh UMP melalui program Green Islamic Campus yang mendorong peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya penyelamatan lingkungan dan konversi serta konservasi energi untuk masa depan. “Kita tetap berkomitmen untuk pengelolaan hutan berbasis community development, dengan prinsip berkelanjutan, serta mampu mendorong tumbuhnya pemahaman tentang konsep go green pada masyarakat. Dan saya kira Republik Seychelles punya pengalaman bertahun-tahun dalam hal itu ” kata Bulkani.

Sumber : www.um-palangkaraya.ac.id