Rakornas AIK PTMA Hasilkan Tiga Deklarasi bagi Muhammadiyah

Rakornas AIK PTMA Hasilkan Tiga Deklarasi bagi Muhammadiyah

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) PTMA telah terselenggara pada Rabu (6/7). Rakornas telah merilis sejumlah rekomendasi sebagai rujukan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Ke depannya, rekomendasi-rekomendasi Rakornas AIK PTMA ini menjadi acuan bagi pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan se-PTMA. Hasil Rakornas AIK di Surabaya ini menjadi deklarasi bahwasanya Al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah jiwa, roh, living values, serta rujukan perilaku dan driving force PTMA. Oleh karenanya, Rakornas PTMA bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan mendeklarasikan tiga komitmen PTMA.

Pertama, menempatkan AIK sebagai arus utama pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini menjadi bagian dari pelaksanaan catur dharma PTMA. Kedua, menjadikan PTMA sebagai pusat gerakan dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah. Ketiga, melakukan integrasi keilmuan AIK dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini terlaksana untuk mewujudkan kemanusiaan semesta.

Hasil Rakornas AIK PTMA yang merupakan deklarasi ini telah Majelis Diktilitbang terima. Kemudian, harapannya adalah Majelis Diktilitbang dapat meneruskan kepada PP Muhammadiyah. Hal ini dapat menjadi salah satu agenda pembahasan dalam Tanwir dan Muktamar.

Sambutan penutup Rektor UM Surabaya, Dr dr Sukadiono MM
Sambutan penutup Rektor UM Surabaya, Dr dr Sukadiono MM.

Kemudian, Rektor UM Surabaya, Dr dr Sukadiono MM, memberikan sambutan dalam penutupan. Ia berharap agar Rakornas selama tiga hari ini dapat mempermudah, memperindah, dan mempercepat proses kulturisasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di PTMA. “Ini menjadi langkah nyata bagi pengejawantahan tujuan Muhammadiyah dalam mengelola AUM. Pengelolaan AUM ini dapat menjadi basis pembentukan masyarakat Islam sesuai cita-cita sebagai kader pencerah umat dan bangsa,” demikian ujarnya.

Ia kembali melanjutkan harapannya agar target capaian, strategi, dan metode terbaik bagi PTMA ini tidak hanya menjadi mata kuliah wajib PTMA saja. Akan tetapi juga sebagai living values bagi PTMA. “Semoga Rakornas juga mejadi perekat kerja sama sekaligus membangun komitmen dan kepentingan bersama. Hal ini dalam rangka menyukseskan tujuan persyarikatan dan keunggulan lembaga,” tutup Sukadiono.

Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data

Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah berkolaborasi dengan BPJS Kesehatan menyelenggarakan Kuliah Umum daring “Analisis Big Data dalam Jaminan Kesehatan Nasional” pada Rabu (20/4). Narasumber dalam Kuliah Umum kali ini yakni Donni Hendrawan MD MPH, Deputi Direksi Bidang Manajemen Data dan Informasi BPJS Kesehatan. Muhammad Sayuti MPd MEd PhD, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah memberikan sambutan dalam kegiatan ini. Pemberi sambutan lainnya yakni dr Andi Afdal MBA AAK, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum BPJS Kesehatan.

Dalam sambutannya, Muhammad Sayuti mengatakan bahwa dalam kerja sama dengan BPJS Kesehatan, PTMA terbuka memberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi lebih lanjut, terutama bagi teman-teman duta BPJS Kesehatan. Tawaran tersebut disambut baik oleh Dr Andi Afdal yang membuka kesempatan kolaborasi bagi PTMA untuk bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, terutama pada kesempatan pengolahan analisis big data yang menjadi tema Kuliah Umum saat ini. Menyambut sambutan Sayuti PhD, BPJS Kesehatan juga sangat terbuka untuk menjalin koordinasi dalam banyak aspek, di antaranya pemanfaatan data-data, melakukan joint research, collaborative research, kesempatan magang baik mahasiswa atau lulusan, publikasi-publikasi, dan kolaborasi dalam capacity building.

Selanjutnya, Dr Andi Afdal mengatakan bahwa pemerintah menargetkan 2024–2025 mendatang menargetkan sebanyak 97% dari total populasi Indonesia telah ter-cover BPJS Kesehatan. Ia juga mengantarkan pematerian narasumber mengenai big data dengan mengatakan bahwa ada dua juta transaksi BPJS Kesehatan setiap harinya. “Data-data ini bisa menunjukkan perilaku orang Indonesia ketika sakit dan mengakses layanan kesehatan. Ini menarik untuk memprediksi apa layanan yang bisa kita berikan,” terangnya.

Kuliah Umum Donni Hendrawan
Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data
Donni Hendrawan

Dalam pembukaannya, Donni Hendrawan menyampaikan mengenai prinsip dari BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan dalam kerja-kerjanya mengupayakan tiga hal. Pertama, tersedianya akses bagi seluruh masyarakat Indonesia agar dapat mengakses layanan kesehatan ketika membutuhkan. Kedua, memastikan masyarakat yang mengakses layanan kesehatan terlindungi secara finansial. Ketiga, memberi layanan kesehatan yang berkualitas. “Bahwasanya layanan yang ada mengacu pada dimensi keselamatan, efektivitas, efisiensi,” tambahnya.

Materi Kuliah Umum kali ini membahas tentang peluang untuk melakukan analisis big data dengan data-data yang ada di BPJS Kesehtaan. BPJS Kesehatan menyimpan data pribadi peserta BPJS Kesehatan dengan prinsip-prinsip pelindungan data pribadi yang membutuhkan tata kelola yang aman dan komprehensif. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya, pertama, mengumpulkan data secara hukum, adil, dan atas sepengetahuan pemiliki. Kedua, memproses data pribadi sesuai dengan tujuannya. Ketiga, memproses data dengan menjamin hak pemilik data. Keempat, akurat, lengkap, tidak menyesatkan, mutakhir, dan BPJS Kesehatan dapat mempertanggungjawabkannya. Kelima, BPJS Kesehatan melindungi keamanan data pribadi. Keenam, memberitahukan tujuan dan aktivitas pemrosesan juga kegagalan PDP. Ketujuh, BPJS Kesehatan memusnahkan dan menghapus data sesuai masa retensi yang berlaku.

Peluang Analisis Mahasiswa PTMA dengan Data Sampel BPJS Kesehatan
Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data
Data Sampel BPJS Kesehatan

Data yang ada dalam JKN sangat banyak, di antaranya 236 juta peserta, 320 ribu badan usaha, 650 ribu akses pembayaran iuran, 27 ribu fasilitas kesehatan, 300 ribu tenaga medis, dan 30 kerja sama strategis. Dari keseluruhan data tersebut, BPJS memiliki data sampel yang terbuka kepada publik. Dari tahun ke tahun meningkat, 2019 4,4 juta, 2020 9,4 juta, dan 2021 28,1 juta. Data-data ini adalah periode pelayanannya sejak 2015–2020. Total data 41,9 juta data dengan 17,3 juta di antaranya merupakan data kontekstual diabetes melitus.

Data sampel inilah yang BPJS Kesehatan harapkan dapat dimanfaatkan oleh PTMA. BPJS Kesehatan membuka kolaborasi bagi akademia agar adanya pemerolehan pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan operasional JKN, mewujudkan inovasi yang bermanfaat, dan mewujudkan kemitraan strategis. “Tentu perlu mempertimbangkan data privacy dan data protection. BPJS Kesehatan ada ruang publikasi bagi penelitian-penelitian yang dalam analisisnya menggunakan data sampel BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan sangat terbuka untuk berkolaborasi,” tutupnya.

Prof Haedar Nashir Beri Amanat Lawan Ekstremitas

Prof Haedar Nashir Beri Amanat Lawan Ekstremitas

Prof Dr H Haedar Nashir MSi melakukan penandatanganan kerja sama (MoU) pada Jumat (1/4) lalu. MoU tersebut antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang. Pihak KBRI di Tokyo, Jepang, yakni Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang, Ir Heri Akhmadi, menghadiri secara virtual. Area kerja sama meliputi pelatihan kependidikan dan inisiatif kolaborasi bersama, riset, pendidikan, kolaborasi antara institusi Muhammadiyah dengan industri terkait di Jepang, dan kerja sama lainnya. 

Penandatanganan MoU PP Muhammadiyah dengan KBRI di Tokyo, Jepang

Kegiatan penandatanganan MoU dilanjutkan dengan pemberian amanat Prof Haedar Nashir melalui pemaparan Kuliah Umum. Prof Haedar menyebutkan tiga landasan demi Indonesia yang kokoh dan berkemajuan, di antaranya berpancasila, beragama, dan berbudaya. “Pancasila menjadi dasar dan ideologi negara yang sesuai dengan Indonesia juga menjadi orientasi kita bersama untuk maju. Di sisi lain, agama hendaknya tetap menjadi inspirasi Ilahiah dan kekuatan ruhaniah bangsa yang di dalamnya memiliki kebudayaan luhur sebagai karakter dan kepribadian Indonesia,” jelasnya.

Prof Haedar Nashir menyebutkan tiga pantangan ekstremitas yang hadir di tengah-tengah kita sebagai dampak dari globalisasi, postmodernisme, hingga era disrupsi. Pertama, keekstreman yang anti dengan perubahan dengan segala konsekuensinya. “Jenis keekstreman ini membuat kita menjadi bangsa yang jumud dan berpandangan miopik. Akibatnya, akan ada kecenderungan untuk menarik diri di tengah perubahan dan menjadi kelompok yang reaktif juga separatis,” papar Prof Haedar Nashir.

Kedua, jenis keekstreman yang larut dalam perubahan itu sendiri tanpa menyaring informasi yang diterima hingga menjadi radikal liberal. Ketiga, jenis keekstreman pragmatis yang membolehkan perubahan-perubahan radikal selama ada kegunaannya bagi kelompok. “Ekstremitas-ekstremitas demikian bisa-bisa menggerus kepribadian bangsa kita,” ujarnya. Pada akhir pemaparannya, Prof Haedar MSi menutup dengan menegaskan bahwa bangsa Indonesia tetap membutuhkan kemajuan untuk meningkatkan daya saing dan kualitas pendidikan, tetapi tetap perlu berbasis pada kepribadian bangsa agar tidak mencerabut akar sejarah Indonesia yang berpancasila, beragama, dan berbudaya.

Kegiatan Leadership Training Angkatan ke-7 Berakhir

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Majelis Diktilitbang PPM) menutup kegiatan Leadership Training Angkatan ke-7 pada Sabtu (27/3) lalu. Dalam kegiatan ini hadir Prof Dr H Chairil Anwar, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PPM. Kegiatan terlaksana di Hotel Grand Rohan Jogja. Sebanyak 47 peserta dari 29 PTMA mengikuti penutupan Leadership Training ini.

Perwakilan peserta memberikan kesan pesan dalam jalannya kegiatan Leadership Training selama seminggu. “Materi yang kami terima sangat bermanfaat sebagai bekal untuk kami implementasikan di tempat kerja masing-masing,” ujar Dr Abubakar Muhammad Nur dari UM Maluku Utara (UMMU). Selanjutnya, Wasiti dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) menyampaikan terima kasih kepada Majelis. Ia juga berpesan pada peserta agar bekal ini tidak terbatas pengaplikasiannya di lingkungan kampus. “Bisa kami amalkan juga dalam peran-peran yang lain,” tambahnya.

Kemudian, Muhammad Samsudin dalam laporan Leadership Training menekankan bahwa Majelis akan terus memperbaiki penyelenggaraan Leadership Training dengan lebih baik lagi ke depannya. Ia membacakan laporan impresi para peserta terhadap berbagai aspek pelaksanaan, seperti fasilitator, Imam of Training, Director of Training, hingga sarana prasarana. Ada juga pembacaan award kepada peserta, salah satunya peserta peraih nilai tertinggi, yakni Yuanita MPd dari UM Bangka Belitung.

Sambutan Prof Dr H Chairil Anwar

Selanjutnya, Prof Dr H Chairil Anwar menyampaikan sambutannya. Ia mengawali dengan mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan Leadership Training ini menjadi bentuk kepercayaan bahwa sikap kepemimpinan merupakan hasil tempa dan pelatihan (nurture) bukan alamiah (nature). “Dalam pelaksanaannya, Leadership Training ini menghadirkan simulasi-simulasi dalam berbagai macam kegiatan kehidupan sehari-hari dalam menangani perguruan tinggi,” jelasnya.

Prof Chairil Anwar menyampaikan terima kasih kepada pimpinan perguruan tinggi yang menjadi tempat kunjungan dalam pelaksanaan Leadership Training. Ia juga menyambung dengan harapan agar seluruh PTMA nantinya dapat memiliki kualitas yang relatif sama. “Ibaratnya seperti keberhasilan pendidikan sebuah negara, kita sebut berhasil ketika kualitas pendidikannya relatif sama,” demikian ia memaparkan analogi. Oleh karena itu, beliau menyambung, perlu ada kolaborasi, kerja sama, dan taawun demi kemajuan PTMA di Indonesia.

Leadership Training Angkatan ke-7 Majelis Diktilitbang PPM Resmi Dibuka

Leadership Training Angkatan ke-7 Majelis Diktilitbang PPM Resmi Dibuka

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan Leadership Training Angkatan ke-7 untuk para pimpinan PTMA. Kegiatan ini akan terselenggara selama enam hari, yang bermula Senin (21/3) lalu hingga Sabtu (26/3) mendatang. Leadership Training ini terselenggara secara luring di Hotel Grand Rohan Jogja, Bantul.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Irwan Kurniawan dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Sang Surya”, kegiatan berlanjut pada Laporan Leadership Training. Direktur, Dr Muhammad Samsudin MPd, mengucapkan selamat datang kepada total 47 peserta yang berasal dari 29 PTMA ini. “Leadership Training ini bertujuan untuk menyiapkan pemimpin PTMA masa depan yang siap menghadapi tantangan dalam lingkup internal kampus, persyarikatan, nasional, maupun global,” ujarnya. Selama enam hari ke depan, peserta akan menerima materi komplet sesuai tema dari Leadership Training kali ini yakni “Menuju PTMA Unggul dalam Era Industri 4.0”, mulai dari analisis diri pimpinan PTMA, masa depan PTMA, hingga kepemimpinan Muhammadiyah.

Pemateri dalam Leadership Training kali ini di antaranya Prof Dr H Haedar Nashir MSi; Suwarsono Muhammad MA; Prof Lincolin Arsyad MSc PhD; dr H Agus Taufiqurrahman MKes SpS; Prof Dr Bambang Setiaji; Amin Wibowo PhD; Prof Dr Abdul Mu’ti MEd; Prof Dr Gunawan Budianto MP; Dr Rustamadji MSi; Prof Fathul Wahid PhD; Prof Djamaluddin Ancok PhD; Hary Prasetyo MT PhD; Prof H Johni Najwan MH PhD; dan Prof Dr Widodo Muktiyo.

Sambutan Prof H Lincolin Arsyad MSc PhD, Ketua Majelis Diktilitbang PPM

Selanjutnya, Prof H Lincolin Arsyad MSc PhD, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, memberikan sambutan. Ia mengharapkan kepemimpinan PTMA mempunyai wawasan luas, tidak hanya di Muhammadiyah saja, tetapi juga di luar Muhammadiyah untuk memberikan pelajaran dan pengajaran kepada mahasiswa. Prof Lincolin juga mengingatkan bahwa perubahan perilaku karena pandemi Covid-19 janganlah sampai hilang begitu saja. “Pengajaran daring di tengah pandemi adalah bentuk kemajuan teknologi, jadi, janganlah lupakan sistem daring. Dari 14 kali pertemuan, bisa buat tiga di antaranya daring,” pesannya.

Akan tetapi, Prof Lincolin juga mengatakan bahwa masih ada hambatan di dunia pendidikan mengenal evaluasi di tengah pandemi ini. Ia menyebutkan hambatan tersebut dengan sistem ujian yang terpaksa open book karena minim pengawasan. Hal ini menjadi kekurangan bagi mahasiswa, terutama mahasiswa S-1.

Puncak dari kegiatan adalah pembukaan secara resmi Leadership Training oleh Prof Lincolin. Selanjutnya, kegiata berlanjut dengan prosesi penyerahan peserta secara simbolis dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti MPd MEd PhD, kepada Direktur Leadership Training Angkatan ke-7, Muhammad Samsudin.

Majelis Diktilitbang Adakan LAMDIK Camp Tingkatkan Prodi Pendidikan

Majelis Diktilitbang Adakan LAMDIK Camp Tingkatkan Prodi Pendidikan

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Majelis Diktilitbang PPM) mengadakan kegiatan LAMDIK Camp pada Sabtu-Ahad (22-23/01). Kegiatan terlaksana di Jayakarta Hotel Yogyakarta dengan mengundang Unsur Penjaminan Mutu, Unsur UPPS, dan Unsur Prodi dari beberapa PTMA. Dalam kegiatan tersebut hadir Prof Dr Harun Joko Prayitno MHum, Prof Dr Joko Nurkamto MPd, Prof Ahmad MPd, dan Okti Sri Purwanti SKepNs MKep SpKebMB.

Muhammad Sayuti MPd MEd PhD memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Ia mengawali sambutannya dengan menegaskan urgensi adanya LAMDIK Camp sebagai tindak lanjut dari adanya launching Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) pada 31 Desember 2021 lalu. “Hal ini menjadi penting bagi kita semua. Sebab, dari sebanyak 1.826 program studi di PTMA, hampir 500 di antaranya adalah prodi pendidikan. Ini menjadi bidang terbanyak di PTMA, kemudian baru menyusul bidang kesehatan,” jelas Sayuti.

Selanjutnya, Sayuti menjelaskan permasalahan turunnya minat terhadap pendidikan. “Satu-satunya cara mengatasinya adalah meningkatkan kualitas prodi kita. Tidak ada cara lain,” tegasnya. Oleh karena itu, LAMDIK Camp ini terselenggara untuk menyiapkan PTMA agar dapat beradaptasi dengan LAMDIK pada 31 Maret mendatang.

Salah satu poin dalam LAMDIK adalah indikator mewujudkan besaran jumlah doktor tiap universitas sebanyak 60% dari total tenaga didik. Sementara itu, dari sebanyak 17.000 dosen yang ada di PTMA, hanya 112 orang di antaranya merupakan Guru Besar, dan sekitar 2.300 lainnya bergelar Doktor. “Artinya, selama berkegiatan di LAMDIK Camp dalam dua hari ini, mari kita percepat kemajuan PTMA. Hal ini dalam rangka membangun kualitas dan akreditasi prodi yang baik ke depannya,” sambung Sayuti.

Terakhir, Sayuti berpesan kepada unsur-unsur dalam PTMA dalam ruangan untuk tidak perlu sungkan meminta bantuan dukungan pembinaan dari Majelis Diktilitbang PPM apabila membutuhkan.

Pada saat pelatihan LAMDIK, setiap unsur dari PTMA yang terundang terbagi ke dalam empat kelompok. Di antaranya Kategori Penjaminan Mutu, Prodi Pendidikan Saintek, Prodi Pendidikan Sosial-Bahasa, dan Prodi Kependidikan Agama.

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Diktilitbang PP Muhammadiyah) menyelenggarakan webinar "Strategi PTMA terhadap Kebijakan Implementasi Jaminan Produk Halal".

PTMA di Tengah Implementasi Jaminan Produk Halal

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Diktilitbang PP Muhammadiyah) menyelenggarakan webinar “Strategi PTMA terhadap Kebijakan Implementasi Jaminan Produk Halal“. Narasumber dalam kegiatan Rabu (28/12) ini adalah Dr H Anwar Abbas MM MAg, Wakil Ketua Umum MUI periode 2020–2025. Kemudian, Muhamad Nadratuzzaman Hosen PhD, Direktur Utama Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thoyyiban (LPH-KHT) PP Muhammadiyah. Selanjutnya, Prof Dr apt Nurkhasanah MSi, Ketua Halal Center Universitas Ahmad Dahlan. Ada pula Prof Dr Ir Elfi Anis Saati MP, Kepala Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UM Malang.

Dr H Anwar Abbas MM MAg

Dr H Anwar Abbas MM MAg memberi apresiasi terhadap adanya lembaga pengkajian halal yang ada di universitas-universitas Muhammadiyah. “Ini menandai adanya tekad yang niat dan semangat yang tinggi dalam Muhammadiyah. Harapannya, keterbatasan-keterbatasan yang ada tidak memperlambat lembaga ini untuk terus maju.” Dengan becermin pada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) lembaga ini dapat melakukan gerakan-gerakan lainnya.

Selanjutnya, Nadra Hosen menyampaikan tentang keberadaan Halal Center dan LPH dalam model sertifikasi halal. Halal Center akan memainkan peranan strategis sebagai pendamping bagi UMKM-UMKM memperoleh akses pendaftaran sertifikasi produk halal ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJBH). “Jadi, layak halal bisa terjadi apabila UMKM bekerja sama dengan Halal Center sehingga bisa mendaftar ke BPJBH,” tegasnya.

Peran PTMA

Kemudian, salah satu poin yang Prof Nurkhasanah sampaikan adalah peranan perguruan tinggi di dalamnya. “Perguruan tinggi Muhammadiyah dapat berperan dalam sertifikasi halal dengan membuat lembaga pemeriksa halal dan pengadaan kajian halalan toyyiban,” ujarnya.

Urgensi adanya kajian halalan toyyiban dipertegas oleh Prof Elfi Anis Saati. “Selama ini, masyarakat Indonesia masih cenderung memilih makanan yang enak sebagai bahan konsumsi, tetapi melupakan keamanannya. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya makanan yang juga meningkatkan kesehatan tubuh. Di PTMA, kita bisa bersama-sama melakukan riset mengenai hal ini,” papar Prof Elfi.

Prof Dr H Chairil Anwar, Wakil Ketua Majelis, membenarkan pentingnya pengawalan kebijakan implementasi jaminan produk halal dalam sambutannya. “Isu ini tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga seluruh dunia. Tidak juga terkait dengan makanan dan minuman saja,” tegasnya.

Mengelola Perubahan, Buku tentang Kisah Sukses Rektor PTMA

“Mengelola Perubahan”, Buku tentang Kisah Sukses Rektor PTMA

Leadership menjadi salah satu kunci penting dalam mengembangkan kemajuan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA). Hal ini turut diwujudkan oleh Majelis Diktilitbang PPM dengan mengadakan leadership training sebanyak lima kali. Muhammad Sayuti MPd MEd PhD menyampaikan hal tersebut saat mengisi sambutan, Kamis (9/12). Kegiatan tersebut merupakan seri Dialog Kepemimpinan Perguruan Tinggi #2 dengan judul “Mewujudkan Inovasi dan Kreativitas Menjadi Kenyataan“. Narasumber dalam webinar tersebut yakni Prof Dr Bambang Setiaji, Rektor Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Kemudian hadir pula Dr Rustamadji MSi, Rektor Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong.

Pada sambutannya, Muhammad Sayuti sebagai Sekretaris Diktilitbang PP Muhammadiyah menyampaikan informasi mengenai proses penerbitan buku yang dikelola selama pandemi. Buku tersebut berjudul Mengelola Perubahan: Jalan Sukses Pemimpin Perguruan Tinggi. Saat ini, prosesnya sudah tahap percetakan. Buku tersebut mengisahkan cerita 10 orang Rektor PTMA dalam mengelola perubahan dalam menghadapi pandemi. “Kami harap seluruh pimpinan dapat membaca buku Mengelola Perubahan ini. Lebih-lebih apabila menjadikan buku Mengelola Perubahan sebagai inspirasi dalam membawa PTMA maju, pesat, menjadi pilar penting persyarikatan,” ujarnya.

Sayuti menekankan bahwa kunci kemajuan PTMA adalah leadership. “Kita harus terus melahirkan pimpinan baru agar PTMA maju,” demikian tegasnya. Selain itu, Sayuti juga berpesan kepada setiap pimpinan PTMA menyelenggarakan baitul arqam untuk para pimpinan. Tujuannya adalah agar metode kepemimpinan leadership keislaman dapat menjadi satu napas antar-PTMA. “Kami berharap seluruh PTMA dapat terus belajar. Hanya dosen yang terus belajarlah yang boleh terus mengajar. Artinya, pimpinan PTMA yang terus belajar memimpinlah yang boleh terus memimpin.”

Prof Haedar Nashir Beri Enam Poin Perhatian untuk PTMA

Ketua Umum PP Muhammadiyah Beri Enam Poin Perhatian untuk PTMA

Dalam kegiatan Pembinaan Pimpinan PTMA dan Persemian Kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah pada Senin (22/10), Prof Dr KH Haedar Nashir MSi, Ketua Umum PP Muhammadiyah memberikan 6 poin perhatian kepada seluruh PTMA dan komponen-komponennya.

PTMA Perlu Kembangkan Kualitas AIK, Keilmuan, Riset, dan Program Unggulan

Pertama, peneguhan dan pengembangan kualitas Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) seluruh PTMA. Hal ini perlu menjadi bagian penting dan fundamental yang menyatu dengan catur dharma PTMA. Pimpinan PTMA dapat mengembangkan dan membina AIK agar menjadi basic values atau internalisasi nilai-nilai yang sesuai dengan Manhaj Tarjih Muhammadiyah. “Al Islam dan Kemuhammadiyahan adalah islam berkemajuan. Hal ini perlu menjadi proses institusionalisasi dalam bentuk identitas PTMA,” ujar Prof Haedar Nashir.

Kedua, membangun dan mengembangkan epistemologi keilmuan. Prof Haedar memberi apresiasi kepada dosen-dosen bergelar doktor dan guru besar di PTMA. Berikutnya, epistemologi yang perlu terbangun dalam lingkungan PTMA adalah kerangka pikir yang holistik dan integratif. “Termasuk ketika bicara tentang epistemologi islam, kita jangan terjebak pada normativisme ayat-ayat dan hadits saja. Kita cukup mengambil substansinya, dan kita kembangkan kemudian,” lanjutnya.

Ketiga, mengembangkan pusat-pusat riset yang multidisiplin. “Kepada PTMA yang telah berhasil memiliki lembaga riset janganlah jalan sendiri-sendiri. Sebab, antar-PTMA dapat bersinergi melalui kolaborasi,” pesan Prof Haedar. PTMA-PTMA yang besar memang telah memiliki pengembangan riset yang unggul, tetapi hal ini masih menjadi awal dan PTMA lainnya perlu mengikuti demi terciptanya kesatuan kekuatan.

Keempat, menciptakan pusat-pusat dan program unggulan sesuai dengan kekhasan masing-masing PTMA. “Perlu ada akselerasi tentang hal ini secara bersama-sama oleh 165 PTMA,” tegasnya. Ia menambahkan, keunggulan-keunggulan tersebut termasuk di bidang pengembangan bisnis PTMA pula agar tidak hanya tergantung pada kekuatan mahasiswa saja.

PTMA Dapat Berkontribusi pada Pengembangan SDM dan Masyarakat

Kelima, sumber daya manusia. Prof Haedar Nashir menyarankan agar PTMA menggali potensi kader-kader angkatan muda Muhammadiyah. “Negara yang maju akan memiliki SDM yang berkualitas,” ujar Prof Haedar. Ia menyampaikan bahwa Indonesia berada di posisi ke-6 dalam pemeringkatan Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia) se-Asia Tenggara. Akan tetapi, posisi ini bukan berarti bahwa Indonesia tidak memiliki potensi, tetapi tidak adanya proses akselerasi. “Bidang pendidikan sibuk dengan urusan-urusan yang tidak sesuai di bidangnya. Dunia perguruan tinggi harus bebas dari proyek-proyek politik atau proyek lainnya yang tidak mengalami kemajuan IPTEK.”

Keenam, mengembangkan masyarakat ilmu. Muhammadiyah telah mempelopori pengembangan gerakan keilmuan yang memerlukan strategi-strategi praktis, termasuk dalam dunia digital. Baik ilmu mengenai nilai-nilai dasar seperti agama, Pancasila, dan kebudayaaan, maupun dasar-dasar ilmu itu sendiri. “Dalam menerapkan sikap berpendapat, para kader dan pimpinannya Muhammadiyah perlu berpendapat berdasarkan ilmu. Yang terpenting adalah dasar logika yang lurus,” tutup Prof Haedar Nashir.

Peresmian Kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

Prof Haedar Nashir Beri Enam Poin Perhatian untuk PTMA

Prof Haedar Nashir juga memimpin peresmian melalui simbolis prosesi pemotongan tali di depan Kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Senin (22/11). Dalam amanatnya selain 6 poin perhatian untuk seluruh pimpinan PTMA, Prof Haedar mengucapkan tahniah atas penyelesaian gedung Majelis Diktilitbang PPM.

Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Masa Krisis dalam Webinar

Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Masa Krisis dalam Webinar

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyelenggarakan Dialog Kepemimpinan Perguruan Tinggi pada Rabu (3/11). Webinar kali ini bertajuk “Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Masa Krisis: Pengalaman UII dan UMY”. Prof Dr Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia dan Dr Gunawan Budiyanto MP IPM, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi narasumber dalam webinar kali ini.

Sebelum memasuki inti kegiatan, Wakil Ketua Majelis, Prof Dr H Chairil Anwar menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang telah berkenan hadir. “Harapannya, para pimpinan yang hadir dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk menimba ilmu dan mendengarkan cerita-cerita positif dari para narasumber,” ujar Prof Chairil Anwar.

Selanjutnya, Prof Fathul Wahid membuka presentasinya dengan paparan tentang rencana strategis UII sepanjang 2018-2022, yakni digitalisasi universitas. Adanya pandemik Covid-19 menjadikan penerapan rencana strategi ini lebih cepat dan kemudian berubah. “Sebelum pandemi, kita menjaga kualitas akademik dan keberlangsungan organisasi. Tetapi, ketika pandemi, kami menurunkan prioritas pada kedua aspek tersebut. Kami memprioritaskan keselamatan jiwa dan keberlangsungan akademik,” ujar Prof Fathul Wahid. Pada saat itu pula, UII memiliki fokus mitigasi keselamatan, mitigasi risiko operasi, dan mitigasi risiko finansial terhadap adanya penyebaran Covid-19.

Berikutnya, Dr Gunawan Budiyanto menyampaikan strategi kepemimpinan UMY dalam masa pandemi Covid-19, yakni mencapai tujuan menjaga keberlanjutan (sustainability). Aspek keberlanjutan tersebut meliputi bidang akademik, SDM, keuangan, kemahasiswaan, dan kerja sama baik nasional maupun internasional. “Aktivitas kampus harus tetap berjalan dengan penerapan protokol kesehatan prima. UMY juga tidak lupa untuk tetap mengejar posisi dan pasar yang lebih baik dalam konteks pembukaan mahasiswa baru,” jelasnya.

Kegiatan selanjutnya adalah kesempatan berdiskusi. Sebab, sesuai perkataan M Adam Jerusalem ST SH MT PhD selaku Wakil Sekretaris Majelis yang menjadi moderator kali ini, dialog kepemimpinan yang terselenggara secara daring ini menjadi upaya Majelis Diktilitbang dalam melaksanakan program leadership training sebagai wujud peningkatan akselerasi PTMA.