Webinar Diktilitbang Bahas Optimalisasi Emergency Relief

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkolaborasi dengan Minhaj Welfare Foundation menyelenggarakan webinar ketiga dari serial “Disaster Management” pada Jum’at (2/12). Tema dari webinar kali ini adalah “Lessons Learned from Disaster: Good Governance and Public Accountability” bersama narasumber, Nurhadi, Ph.D. Kegiatan ini terselenggara secara daring melalui Zoom dan YouTube Majelis.

Dalam webinar ini hadir beberapa pihak, di antaranya perwakilan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC); Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan PP Muhammadiyah; perwakilan dari Kedutaan Besar UK di Jakarta; Adnan Sohail, Direktur Operasional Minhaj Welfare Foundation; serta perwakilan dari PP Muhammadiyah.

Fitri Arofiati, S.Kep., Ns., MAN., P.hD. dalam opening speech-nya mengatakan bahwa momen ini menjadi kesempatan untuk belajar memanajemen dan mengorganisasikan sumber daya dalam merespons kebencanaan yang terjadi. Kemudian, ia menutup dengan berharap agar seluruh partisipan dapat memperoleh manfaat dari webinar ini. “Urgensi pemulihan bencana bukan urusan agama ataupun politik, tetapi kemanusiaan,” tegasnya.

Webinar #3: Good Governance and Public Accountability

Pembicara pertama, Faisal Hussain yang sekaligus merupakan Direktur Utama Minhaj Welfare Foundation, membuka dengan mengapresiasi kerja-kerja MDMC dalam hal penanganan kebencanaan. Manhaj Welfare Foundation sendiri banyak bergerak di bidang pendidikan sebab mereka percaya bahwa ilmu dapat menjadi modal memutus rantai kemiskinan. “Tapi, kami pun kemudian sadar bahwa bergerak di bidang kemanusiaan berarti tidak membatasi diri terhadap satu sektor saja. Maka, MWF pun mengembangkan program-program lainnya di luar pendidikan, salah satunya Program Pemulihan Kebencanaan,” tambah Faisal.

Kemudian, Faisal menerangkan bahwa manajemen pemulihan kebencanaan dapat optimal dengan memastikan supply untuk para korban kebencanaan siap kapan saja. Cara untuk mengunci kepastian ini adalah dengan memiliki donatur bulanan yang akan memberikan sumbangan secara berkala. “Jadi, ketika tiga bulan kemudian ada bencana, maka sumbangan yang telah kami himpun akan kami kirim ke sana,” sambungnya. Hal ini untuk mencegah terkucurnya dana dari naiknya harga obat-obatan, pakaian, dan lain-lain yang jadi meningkat karena meroketnya kebutuhan di daerah tersebut.

Pembicara kedua yakni Rahmawati Hussein, MCP, Ph.D., Wakil Ketua MDMC berbagi tentang pengalaman yang Muhammadiyah lakukan dalam penanganan kebencanaan. Ia mengenalkan skema yang menjadi keberhasilan Muhammadiyah dalam menangani bencana, yakni OMOR: One Muhammadiyah, One Response. Skema OMOR ini menjadi cara Muhammadiyah memfokuskan komando untuk menyatukan langkah menghadapi bencana.

Rahmawati turut menegaskan bahwa dalam menyalurkan sumbangan kepada korban bencana, Muhammadiyah tidak memandang latar belakang dari para korban. “Sebab, kita bergerak karena alasan kemanusiaan,” pungkasnya.

Webinar I Internasionalisation from Islamic Organisation Perspective

Webinar I Internasionalisation from Islamic Organisation Perspective

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyelenggarakan webinar pertama dari Serial “Internasionalisation from Islamic Organisation Perspective” pada Jumat (14/10) lalu. Dalam kegiatan webinar ini hadir Prof Dr Abdul Mu’ti, Sekretaris PP Muhammadiyah; dan Prof Dr Hussain Mohi-ud-Din Qadri, Presiden Minhaj Ul Quran International. Moderator dari kegiatan ini ialah Ida Puspita MARes dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebelum kegiatan ini memasuki agenda utama, Prof Edy Suandi Hamid MEc memberi sambutan mewakili Prof Lincolin Arsyad MSc PhD, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.

Opening Speech Prof Edi Suandi Hamid MEc

Dalam sambutannya, Prof Edy berharap webinar ini dapat memberi pengetahuan dan manfaat bagi setiap partisipan yang hadir. Selain itu, ia juga berterima kasih kepada Minhaj Welfare Foundation atas kesediaan bekerja sama. “Semoga Minhaj Welfare Foundation bersedia terus berkolaborasi pada kesempatan mendatang,” ujarnya.

Selanjutnya, beliau juga mengenalkan bahwa Muhammadiyah memiliki keinginan untuk melebarkan sayap ke ranah internasional. Misi ini telah mengalami progres melalui pembukaan sekolah-sekolah Muhammadiyah di Australia dan Malaysia. “Ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah menuju ranah internasional. Sekaligus, untuk menyambut Muktamar ke-48 di Surakarta,” tutupnya.

Speech Prof Dr Abdul Mu’ti MEd
Speech Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed

Pada speech Prof Dr Abdul Mu’ti MEd, beliau mengatakan bahwa topik tentang internasionalisasi Muhammadiyah ini relevan bagi tema Muktamar ke-48 “Memajukan Muhammadiyah, Mencerahkan Semesta”. Beliau menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang penting bagi seluruh umat di dunia, dan Muhammadiyah hadir sebagai organisasi yang mengamalkan ajaran Islam sebenar-benarnya.

Kemudian, beliau mengatakan bahwa alasan tersebut menjadi latar belakang Muhammadiyah untuk berniat melebarkan sayap dakwah ke ranah internasional. “Saat ini, banyak pandangan bahwa Islam merupakan agama yang radikal dan erat dengan kekerasan. Maka, Muhammadiyah bermaksud untuk menegaskan sebaliknya. Dalam penerapannya, ini memiliki tantangan-tantangan sendiri,” ujar Prof Abdul Mu’ti.

Speech Prof Dr Hussain Mohi-ud-Din Qadri
Speech Prof. Dr. Hussain Mohi-ud-Din Qadri

Tantangan-tantangan tersebut juga hadir dalam speech Prof Dr Hussain Mohi-ud-Din Qadri. Tantangan tersebutlah yang dalam upaya penyelesaiannya menjadi alasan pendirian Minhaj Ul Quran International. Hal ini terlihat dalam prinsip-prinsip yang ada dalam Minhaj Ul Quran, yang kebanyakan bergerak di bidang pendidikan. Salah satu prinsip utamanya adalah mendukung kesempatan masyarakat dalam mengakses pembelajaran yang modern dan agamis.

“Prinsip lainnya adalah untuk mendorong kesatuan umat manusia yang damai dan harmonis melalui peneladanan kehidupan Rasulullah Saw,” ujar beliau. Selanjutnya, Prof Hussain juga menegaskan bahwa Minhaj Ul Quran mendukung pengembangan dan pemenuhan hak serta potensi bagi kaum muda dan perempuan di tengah-tengah masyarakat di dunia.

Webinar ini terselenggara melalui Zoom Meeting dan streaming YouTube Majelis. 

Launching Kampus Virtual Universitas Siber Muhammadiyah

Launching Kampus Virtual Universitas Siber Muhammadiyah

Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu) menyelenggarakan launching kampus virtual Universitas Siber Muhammadiyah pada Rabu (5/9). Kegiatan ini terselenggara sebagai bagian dari peringatan Milad 1 Tahun SiberMu sejak mendapatkan izin operasional dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Dalam kegiatan ini hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.; Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah; Ketua BPH Universitas Siber Muhammadiyah, Prof Dr Chairil Anwar; Rektor Universitas Siber Muhammadiyah,  Dr. Ir. Bambang Riyanta, S.T., M.T..; sivitas akademika, mitra, kolega, dan tamu undangan yang hadir secara virtual maupun luring.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Sang Surya”, kegiatan berlanjut dengan sambutan dan pengenalan dunia imersif dari Dr Bambang Riyanta. Ia membuka kegiatan dengan melaporkan tentang kondisi SiberMu sejak memperoleh izin operasional. Baginya, SiberMu menjadi ruang dan kesempatan untuk menyaksikan teknologi imersif di mana realitas maya menjadi sama dengan realitas nyata. Dalam pemaparan beliau pula, SiberMu saat ini telah memperoleh lebih dari 1.200 pendaftar dari 34 provinsi.

Sambutan Rektor Universitas Siber Muhammadiyah,  Dr. Ir. Bambang Riyanta, S.T., M.T..
Sambutan Rektor Universitas Siber Muhammadiyah,  Dr. Ir. Bambang Riyanta, S.T., M.T..
Pengenalan Dunia Imersif Universitas Siber Muhammadiyah

Dr Bambang Riyanta menjelaskan bahwa SiberMu akan menggunakan pengembangan layanan berbasis teknologi imersif. “Ini basisnya adalah virtual reality, augmented reality, dan mixed reality,” jelasnya. Dorongan yang menjadi latar belakang dari pengembangan konsep ini adalah jargon-jargon dari para raksasa teknologi yang ramai berbicara tentang metaverse.

Selanjutnya, beliau memberikan tayangan tentang kampus virtual Universitas Siber Muhammadiyah yang sedang dalam pengembangan. Kampus virtual tersebut lengkap dengan gedung rektorat, perpustakaan, dan gedung-gedung fakultas. “Harapannya, ini akan menjadi ruang berinteraksi antarmahasiswa SiberMu berbasis virtual reality. Nanti, ada pula penggunaan mikroskop HoloLense untuk mendesain laboratorium berbasis augmented reality yang membutuhkan aspek psikomotorik,” paparnya.

Kampus virtual inilah yang menjadi konsep launching virtual SiberMu. “Ini membutuhkan dukungan Muhammadiyah, karena bisa menjadi babak baru dari value Muhammadiyah berkemajuan,” ujarnya. Dalam launching tersebut, Prof Dr KH Haedar Nashir meresmikan kampus virtual SiberMu dengan bacaan basmalah.

Pengenalan dunia imersif di Universitas Siber Muhammadiyah
Pengenalan dunia imersif di Universitas Siber Muhammadiyah
Amanat Ketua Umum PPM, Prof Dr KH Haedar Nashir

Dalam amanat tersebut, beliau menyampaikan tentang pelajaran-pelajaran terhadap konsep metaverse yang menjadi instrumen dunia virtual agar menjadi lebih nyata. Ia menegaskan bahwa teknologi ini perlu menjadi resapan dan membawa kebermanfaatan kepentingan-kepentingan yang positif. “Jangan kita isi  dengan kepentingan yang bisa merusak relasi peradaban manusia. Ini tergantung pada kita sebagai khalifah di muka Bumi,” ujarnya.

Selanjutnya, Prof Haedar Nashir juga menjelaskan tentang tiga nilai dalam IslamPertama, bayani sebagai sistem pengetahuan Islam yang bertitik tolak dari nas sebagai sumber pengetahuan dasar. Kedua, burhani sebagai sistem pengetahuan yang berbasis pada akal (al-‘aql) dan empirisme (al-tajribah). Ketiga, irfani sebagai  sistem pengetahuan yang bertitik tolak pada al-‘ilm al-hudluri, yang artinya manusia hendaknya memaksimalkan potensi akalnya bukan hanya untuk menciptakan kemasalahatan di dunia tetapi juga untuk keselamatan di akhirat.

Kemudian, beliau juga menjelaskan bahwa koridor makna kehidupan di Islam mengenai dunia sebagai “permainan” yang mula-mula serbanegatif akan berubah dengan teknologi ini. “Dunia ini cenderung kita waspadai karena serbamaterialistik dan hedonistik. Tapi, kini kita bisa menarik tafsir baru di mana dunia metaverse bisa menjadi bentuk yang positif. Kita menghadirkan dunia, yang notabene penuh permainan, tapi kita konstruksi menjadi bermakna,” ujarnya. Ia melanjutkan, hal ini akan mengubah pandangan tentang kehidupan, karena kehidupan saat ini multidimensi dan multiperspektif.

Tiga nilai Islam yang beliau paparkan akan menjadi pondasi dari bertahannya beradaban bangsa. “Nilai kehidupan akan menyelamatkan manusia,” tegasnya. Untuk dapat mempertahankan hal tersebut, beliau menambahkan, perlu memastikan bahwa agama dan Pancasila dipahami dengan perspektif yang luas dan mendalam. Sebab, ketika dua paham yang fundamental dalam state of mind justru salah dipahami, maka dampaknya akan luas ke dalam kehidupan yang hakiki. “Jangan berhenti belajar dan berkutat dari pikiran sendiri. Gunakan dunia imersif ini untuk kepentingan dakwah yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menyelamatkan kehidupan nan alam semesta. Di sinilah rahmat Islam rahmatallil alahmin,” tutupnya.

Rakornas AIK PTMA Hasilkan Tiga Deklarasi bagi Muhammadiyah

Rakornas AIK PTMA Hasilkan Tiga Deklarasi bagi Muhammadiyah

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) PTMA telah terselenggara pada Rabu (6/7). Rakornas telah merilis sejumlah rekomendasi sebagai rujukan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Ke depannya, rekomendasi-rekomendasi Rakornas AIK PTMA ini menjadi acuan bagi pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan se-PTMA. Hasil Rakornas AIK di Surabaya ini menjadi deklarasi bahwasanya Al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah jiwa, roh, living values, serta rujukan perilaku dan driving force PTMA. Oleh karenanya, Rakornas PTMA bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan mendeklarasikan tiga komitmen PTMA.

Pertama, menempatkan AIK sebagai arus utama pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini menjadi bagian dari pelaksanaan catur dharma PTMA. Kedua, menjadikan PTMA sebagai pusat gerakan dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah. Ketiga, melakukan integrasi keilmuan AIK dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini terlaksana untuk mewujudkan kemanusiaan semesta.

Hasil Rakornas AIK PTMA yang merupakan deklarasi ini telah Majelis Diktilitbang terima. Kemudian, harapannya adalah Majelis Diktilitbang dapat meneruskan kepada PP Muhammadiyah. Hal ini dapat menjadi salah satu agenda pembahasan dalam Tanwir dan Muktamar.

Sambutan penutup Rektor UM Surabaya, Dr dr Sukadiono MM
Sambutan penutup Rektor UM Surabaya, Dr dr Sukadiono MM.

Kemudian, Rektor UM Surabaya, Dr dr Sukadiono MM, memberikan sambutan dalam penutupan. Ia berharap agar Rakornas selama tiga hari ini dapat mempermudah, memperindah, dan mempercepat proses kulturisasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di PTMA. “Ini menjadi langkah nyata bagi pengejawantahan tujuan Muhammadiyah dalam mengelola AUM. Pengelolaan AUM ini dapat menjadi basis pembentukan masyarakat Islam sesuai cita-cita sebagai kader pencerah umat dan bangsa,” demikian ujarnya.

Ia kembali melanjutkan harapannya agar target capaian, strategi, dan metode terbaik bagi PTMA ini tidak hanya menjadi mata kuliah wajib PTMA saja. Akan tetapi juga sebagai living values bagi PTMA. “Semoga Rakornas juga mejadi perekat kerja sama sekaligus membangun komitmen dan kepentingan bersama. Hal ini dalam rangka menyukseskan tujuan persyarikatan dan keunggulan lembaga,” tutup Sukadiono.

Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data

Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah berkolaborasi dengan BPJS Kesehatan menyelenggarakan Kuliah Umum daring “Analisis Big Data dalam Jaminan Kesehatan Nasional” pada Rabu (20/4). Narasumber dalam Kuliah Umum kali ini yakni Donni Hendrawan MD MPH, Deputi Direksi Bidang Manajemen Data dan Informasi BPJS Kesehatan. Muhammad Sayuti MPd MEd PhD, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah memberikan sambutan dalam kegiatan ini. Pemberi sambutan lainnya yakni dr Andi Afdal MBA AAK, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum BPJS Kesehatan.

Dalam sambutannya, Muhammad Sayuti mengatakan bahwa dalam kerja sama dengan BPJS Kesehatan, PTMA terbuka memberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi lebih lanjut, terutama bagi teman-teman duta BPJS Kesehatan. Tawaran tersebut disambut baik oleh Dr Andi Afdal yang membuka kesempatan kolaborasi bagi PTMA untuk bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, terutama pada kesempatan pengolahan analisis big data yang menjadi tema Kuliah Umum saat ini. Menyambut sambutan Sayuti PhD, BPJS Kesehatan juga sangat terbuka untuk menjalin koordinasi dalam banyak aspek, di antaranya pemanfaatan data-data, melakukan joint research, collaborative research, kesempatan magang baik mahasiswa atau lulusan, publikasi-publikasi, dan kolaborasi dalam capacity building.

Selanjutnya, Dr Andi Afdal mengatakan bahwa pemerintah menargetkan 2024–2025 mendatang menargetkan sebanyak 97% dari total populasi Indonesia telah ter-cover BPJS Kesehatan. Ia juga mengantarkan pematerian narasumber mengenai big data dengan mengatakan bahwa ada dua juta transaksi BPJS Kesehatan setiap harinya. “Data-data ini bisa menunjukkan perilaku orang Indonesia ketika sakit dan mengakses layanan kesehatan. Ini menarik untuk memprediksi apa layanan yang bisa kita berikan,” terangnya.

Kuliah Umum Donni Hendrawan
Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data
Donni Hendrawan

Dalam pembukaannya, Donni Hendrawan menyampaikan mengenai prinsip dari BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan dalam kerja-kerjanya mengupayakan tiga hal. Pertama, tersedianya akses bagi seluruh masyarakat Indonesia agar dapat mengakses layanan kesehatan ketika membutuhkan. Kedua, memastikan masyarakat yang mengakses layanan kesehatan terlindungi secara finansial. Ketiga, memberi layanan kesehatan yang berkualitas. “Bahwasanya layanan yang ada mengacu pada dimensi keselamatan, efektivitas, efisiensi,” tambahnya.

Materi Kuliah Umum kali ini membahas tentang peluang untuk melakukan analisis big data dengan data-data yang ada di BPJS Kesehtaan. BPJS Kesehatan menyimpan data pribadi peserta BPJS Kesehatan dengan prinsip-prinsip pelindungan data pribadi yang membutuhkan tata kelola yang aman dan komprehensif. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya, pertama, mengumpulkan data secara hukum, adil, dan atas sepengetahuan pemiliki. Kedua, memproses data pribadi sesuai dengan tujuannya. Ketiga, memproses data dengan menjamin hak pemilik data. Keempat, akurat, lengkap, tidak menyesatkan, mutakhir, dan BPJS Kesehatan dapat mempertanggungjawabkannya. Kelima, BPJS Kesehatan melindungi keamanan data pribadi. Keenam, memberitahukan tujuan dan aktivitas pemrosesan juga kegagalan PDP. Ketujuh, BPJS Kesehatan memusnahkan dan menghapus data sesuai masa retensi yang berlaku.

Peluang Analisis Mahasiswa PTMA dengan Data Sampel BPJS Kesehatan
Kuliah Umum dari BPJS Kesehatan Buka Peluang Analisis Big Data
Data Sampel BPJS Kesehatan

Data yang ada dalam JKN sangat banyak, di antaranya 236 juta peserta, 320 ribu badan usaha, 650 ribu akses pembayaran iuran, 27 ribu fasilitas kesehatan, 300 ribu tenaga medis, dan 30 kerja sama strategis. Dari keseluruhan data tersebut, BPJS memiliki data sampel yang terbuka kepada publik. Dari tahun ke tahun meningkat, 2019 4,4 juta, 2020 9,4 juta, dan 2021 28,1 juta. Data-data ini adalah periode pelayanannya sejak 2015–2020. Total data 41,9 juta data dengan 17,3 juta di antaranya merupakan data kontekstual diabetes melitus.

Data sampel inilah yang BPJS Kesehatan harapkan dapat dimanfaatkan oleh PTMA. BPJS Kesehatan membuka kolaborasi bagi akademia agar adanya pemerolehan pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan operasional JKN, mewujudkan inovasi yang bermanfaat, dan mewujudkan kemitraan strategis. “Tentu perlu mempertimbangkan data privacy dan data protection. BPJS Kesehatan ada ruang publikasi bagi penelitian-penelitian yang dalam analisisnya menggunakan data sampel BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan sangat terbuka untuk berkolaborasi,” tutupnya.

Prof Haedar Nashir Beri Amanat Lawan Ekstremitas

Prof Haedar Nashir Beri Amanat Lawan Ekstremitas

Prof Dr H Haedar Nashir MSi melakukan penandatanganan kerja sama (MoU) pada Jumat (1/4) lalu. MoU tersebut antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang. Pihak KBRI di Tokyo, Jepang, yakni Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang, Ir Heri Akhmadi, menghadiri secara virtual. Area kerja sama meliputi pelatihan kependidikan dan inisiatif kolaborasi bersama, riset, pendidikan, kolaborasi antara institusi Muhammadiyah dengan industri terkait di Jepang, dan kerja sama lainnya. 

Penandatanganan MoU PP Muhammadiyah dengan KBRI di Tokyo, Jepang

Kegiatan penandatanganan MoU dilanjutkan dengan pemberian amanat Prof Haedar Nashir melalui pemaparan Kuliah Umum. Prof Haedar menyebutkan tiga landasan demi Indonesia yang kokoh dan berkemajuan, di antaranya berpancasila, beragama, dan berbudaya. “Pancasila menjadi dasar dan ideologi negara yang sesuai dengan Indonesia juga menjadi orientasi kita bersama untuk maju. Di sisi lain, agama hendaknya tetap menjadi inspirasi Ilahiah dan kekuatan ruhaniah bangsa yang di dalamnya memiliki kebudayaan luhur sebagai karakter dan kepribadian Indonesia,” jelasnya.

Prof Haedar Nashir menyebutkan tiga pantangan ekstremitas yang hadir di tengah-tengah kita sebagai dampak dari globalisasi, postmodernisme, hingga era disrupsi. Pertama, keekstreman yang anti dengan perubahan dengan segala konsekuensinya. “Jenis keekstreman ini membuat kita menjadi bangsa yang jumud dan berpandangan miopik. Akibatnya, akan ada kecenderungan untuk menarik diri di tengah perubahan dan menjadi kelompok yang reaktif juga separatis,” papar Prof Haedar Nashir.

Kedua, jenis keekstreman yang larut dalam perubahan itu sendiri tanpa menyaring informasi yang diterima hingga menjadi radikal liberal. Ketiga, jenis keekstreman pragmatis yang membolehkan perubahan-perubahan radikal selama ada kegunaannya bagi kelompok. “Ekstremitas-ekstremitas demikian bisa-bisa menggerus kepribadian bangsa kita,” ujarnya. Pada akhir pemaparannya, Prof Haedar MSi menutup dengan menegaskan bahwa bangsa Indonesia tetap membutuhkan kemajuan untuk meningkatkan daya saing dan kualitas pendidikan, tetapi tetap perlu berbasis pada kepribadian bangsa agar tidak mencerabut akar sejarah Indonesia yang berpancasila, beragama, dan berbudaya.

Kegiatan Leadership Training Angkatan ke-7 Berakhir

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Majelis Diktilitbang PPM) menutup kegiatan Leadership Training Angkatan ke-7 pada Sabtu (27/3) lalu. Dalam kegiatan ini hadir Prof Dr H Chairil Anwar, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PPM. Kegiatan terlaksana di Hotel Grand Rohan Jogja. Sebanyak 47 peserta dari 29 PTMA mengikuti penutupan Leadership Training ini.

Perwakilan peserta memberikan kesan pesan dalam jalannya kegiatan Leadership Training selama seminggu. “Materi yang kami terima sangat bermanfaat sebagai bekal untuk kami implementasikan di tempat kerja masing-masing,” ujar Dr Abubakar Muhammad Nur dari UM Maluku Utara (UMMU). Selanjutnya, Wasiti dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) menyampaikan terima kasih kepada Majelis. Ia juga berpesan pada peserta agar bekal ini tidak terbatas pengaplikasiannya di lingkungan kampus. “Bisa kami amalkan juga dalam peran-peran yang lain,” tambahnya.

Kemudian, Muhammad Samsudin dalam laporan Leadership Training menekankan bahwa Majelis akan terus memperbaiki penyelenggaraan Leadership Training dengan lebih baik lagi ke depannya. Ia membacakan laporan impresi para peserta terhadap berbagai aspek pelaksanaan, seperti fasilitator, Imam of Training, Director of Training, hingga sarana prasarana. Ada juga pembacaan award kepada peserta, salah satunya peserta peraih nilai tertinggi, yakni Yuanita MPd dari UM Bangka Belitung.

Sambutan Prof Dr H Chairil Anwar

Selanjutnya, Prof Dr H Chairil Anwar menyampaikan sambutannya. Ia mengawali dengan mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan Leadership Training ini menjadi bentuk kepercayaan bahwa sikap kepemimpinan merupakan hasil tempa dan pelatihan (nurture) bukan alamiah (nature). “Dalam pelaksanaannya, Leadership Training ini menghadirkan simulasi-simulasi dalam berbagai macam kegiatan kehidupan sehari-hari dalam menangani perguruan tinggi,” jelasnya.

Prof Chairil Anwar menyampaikan terima kasih kepada pimpinan perguruan tinggi yang menjadi tempat kunjungan dalam pelaksanaan Leadership Training. Ia juga menyambung dengan harapan agar seluruh PTMA nantinya dapat memiliki kualitas yang relatif sama. “Ibaratnya seperti keberhasilan pendidikan sebuah negara, kita sebut berhasil ketika kualitas pendidikannya relatif sama,” demikian ia memaparkan analogi. Oleh karena itu, beliau menyambung, perlu ada kolaborasi, kerja sama, dan taawun demi kemajuan PTMA di Indonesia.

Leadership Training Angkatan ke-7 Majelis Diktilitbang PPM Resmi Dibuka

Leadership Training Angkatan ke-7 Majelis Diktilitbang PPM Resmi Dibuka

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan Leadership Training Angkatan ke-7 untuk para pimpinan PTMA. Kegiatan ini akan terselenggara selama enam hari, yang bermula Senin (21/3) lalu hingga Sabtu (26/3) mendatang. Leadership Training ini terselenggara secara luring di Hotel Grand Rohan Jogja, Bantul.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Irwan Kurniawan dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Sang Surya”, kegiatan berlanjut pada Laporan Leadership Training. Direktur, Dr Muhammad Samsudin MPd, mengucapkan selamat datang kepada total 47 peserta yang berasal dari 29 PTMA ini. “Leadership Training ini bertujuan untuk menyiapkan pemimpin PTMA masa depan yang siap menghadapi tantangan dalam lingkup internal kampus, persyarikatan, nasional, maupun global,” ujarnya. Selama enam hari ke depan, peserta akan menerima materi komplet sesuai tema dari Leadership Training kali ini yakni “Menuju PTMA Unggul dalam Era Industri 4.0”, mulai dari analisis diri pimpinan PTMA, masa depan PTMA, hingga kepemimpinan Muhammadiyah.

Pemateri dalam Leadership Training kali ini di antaranya Prof Dr H Haedar Nashir MSi; Suwarsono Muhammad MA; Prof Lincolin Arsyad MSc PhD; dr H Agus Taufiqurrahman MKes SpS; Prof Dr Bambang Setiaji; Amin Wibowo PhD; Prof Dr Abdul Mu’ti MEd; Prof Dr Gunawan Budianto MP; Dr Rustamadji MSi; Prof Fathul Wahid PhD; Prof Djamaluddin Ancok PhD; Hary Prasetyo MT PhD; Prof H Johni Najwan MH PhD; dan Prof Dr Widodo Muktiyo.

Sambutan Prof H Lincolin Arsyad MSc PhD, Ketua Majelis Diktilitbang PPM

Selanjutnya, Prof H Lincolin Arsyad MSc PhD, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, memberikan sambutan. Ia mengharapkan kepemimpinan PTMA mempunyai wawasan luas, tidak hanya di Muhammadiyah saja, tetapi juga di luar Muhammadiyah untuk memberikan pelajaran dan pengajaran kepada mahasiswa. Prof Lincolin juga mengingatkan bahwa perubahan perilaku karena pandemi Covid-19 janganlah sampai hilang begitu saja. “Pengajaran daring di tengah pandemi adalah bentuk kemajuan teknologi, jadi, janganlah lupakan sistem daring. Dari 14 kali pertemuan, bisa buat tiga di antaranya daring,” pesannya.

Akan tetapi, Prof Lincolin juga mengatakan bahwa masih ada hambatan di dunia pendidikan mengenal evaluasi di tengah pandemi ini. Ia menyebutkan hambatan tersebut dengan sistem ujian yang terpaksa open book karena minim pengawasan. Hal ini menjadi kekurangan bagi mahasiswa, terutama mahasiswa S-1.

Puncak dari kegiatan adalah pembukaan secara resmi Leadership Training oleh Prof Lincolin. Selanjutnya, kegiata berlanjut dengan prosesi penyerahan peserta secara simbolis dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti MPd MEd PhD, kepada Direktur Leadership Training Angkatan ke-7, Muhammad Samsudin.

Majelis Diktilitbang Adakan LAMDIK Camp Tingkatkan Prodi Pendidikan

Majelis Diktilitbang Adakan LAMDIK Camp Tingkatkan Prodi Pendidikan

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Majelis Diktilitbang PPM) mengadakan kegiatan LAMDIK Camp pada Sabtu-Ahad (22-23/01). Kegiatan terlaksana di Jayakarta Hotel Yogyakarta dengan mengundang Unsur Penjaminan Mutu, Unsur UPPS, dan Unsur Prodi dari beberapa PTMA. Dalam kegiatan tersebut hadir Prof Dr Harun Joko Prayitno MHum, Prof Dr Joko Nurkamto MPd, Prof Ahmad MPd, dan Okti Sri Purwanti SKepNs MKep SpKebMB.

Muhammad Sayuti MPd MEd PhD memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Ia mengawali sambutannya dengan menegaskan urgensi adanya LAMDIK Camp sebagai tindak lanjut dari adanya launching Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) pada 31 Desember 2021 lalu. “Hal ini menjadi penting bagi kita semua. Sebab, dari sebanyak 1.826 program studi di PTMA, hampir 500 di antaranya adalah prodi pendidikan. Ini menjadi bidang terbanyak di PTMA, kemudian baru menyusul bidang kesehatan,” jelas Sayuti.

Selanjutnya, Sayuti menjelaskan permasalahan turunnya minat terhadap pendidikan. “Satu-satunya cara mengatasinya adalah meningkatkan kualitas prodi kita. Tidak ada cara lain,” tegasnya. Oleh karena itu, LAMDIK Camp ini terselenggara untuk menyiapkan PTMA agar dapat beradaptasi dengan LAMDIK pada 31 Maret mendatang.

Salah satu poin dalam LAMDIK adalah indikator mewujudkan besaran jumlah doktor tiap universitas sebanyak 60% dari total tenaga didik. Sementara itu, dari sebanyak 17.000 dosen yang ada di PTMA, hanya 112 orang di antaranya merupakan Guru Besar, dan sekitar 2.300 lainnya bergelar Doktor. “Artinya, selama berkegiatan di LAMDIK Camp dalam dua hari ini, mari kita percepat kemajuan PTMA. Hal ini dalam rangka membangun kualitas dan akreditasi prodi yang baik ke depannya,” sambung Sayuti.

Terakhir, Sayuti berpesan kepada unsur-unsur dalam PTMA dalam ruangan untuk tidak perlu sungkan meminta bantuan dukungan pembinaan dari Majelis Diktilitbang PPM apabila membutuhkan.

Pada saat pelatihan LAMDIK, setiap unsur dari PTMA yang terundang terbagi ke dalam empat kelompok. Di antaranya Kategori Penjaminan Mutu, Prodi Pendidikan Saintek, Prodi Pendidikan Sosial-Bahasa, dan Prodi Kependidikan Agama.

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Diktilitbang PP Muhammadiyah) menyelenggarakan webinar "Strategi PTMA terhadap Kebijakan Implementasi Jaminan Produk Halal".

PTMA di Tengah Implementasi Jaminan Produk Halal

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Diktilitbang PP Muhammadiyah) menyelenggarakan webinar “Strategi PTMA terhadap Kebijakan Implementasi Jaminan Produk Halal“. Narasumber dalam kegiatan Rabu (28/12) ini adalah Dr H Anwar Abbas MM MAg, Wakil Ketua Umum MUI periode 2020–2025. Kemudian, Muhamad Nadratuzzaman Hosen PhD, Direktur Utama Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thoyyiban (LPH-KHT) PP Muhammadiyah. Selanjutnya, Prof Dr apt Nurkhasanah MSi, Ketua Halal Center Universitas Ahmad Dahlan. Ada pula Prof Dr Ir Elfi Anis Saati MP, Kepala Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UM Malang.

Dr H Anwar Abbas MM MAg

Dr H Anwar Abbas MM MAg memberi apresiasi terhadap adanya lembaga pengkajian halal yang ada di universitas-universitas Muhammadiyah. “Ini menandai adanya tekad yang niat dan semangat yang tinggi dalam Muhammadiyah. Harapannya, keterbatasan-keterbatasan yang ada tidak memperlambat lembaga ini untuk terus maju.” Dengan becermin pada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) lembaga ini dapat melakukan gerakan-gerakan lainnya.

Selanjutnya, Nadra Hosen menyampaikan tentang keberadaan Halal Center dan LPH dalam model sertifikasi halal. Halal Center akan memainkan peranan strategis sebagai pendamping bagi UMKM-UMKM memperoleh akses pendaftaran sertifikasi produk halal ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJBH). “Jadi, layak halal bisa terjadi apabila UMKM bekerja sama dengan Halal Center sehingga bisa mendaftar ke BPJBH,” tegasnya.

Peran PTMA

Kemudian, salah satu poin yang Prof Nurkhasanah sampaikan adalah peranan perguruan tinggi di dalamnya. “Perguruan tinggi Muhammadiyah dapat berperan dalam sertifikasi halal dengan membuat lembaga pemeriksa halal dan pengadaan kajian halalan toyyiban,” ujarnya.

Urgensi adanya kajian halalan toyyiban dipertegas oleh Prof Elfi Anis Saati. “Selama ini, masyarakat Indonesia masih cenderung memilih makanan yang enak sebagai bahan konsumsi, tetapi melupakan keamanannya. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya makanan yang juga meningkatkan kesehatan tubuh. Di PTMA, kita bisa bersama-sama melakukan riset mengenai hal ini,” papar Prof Elfi.

Prof Dr H Chairil Anwar, Wakil Ketua Majelis, membenarkan pentingnya pengawalan kebijakan implementasi jaminan produk halal dalam sambutannya. “Isu ini tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga seluruh dunia. Tidak juga terkait dengan makanan dan minuman saja,” tegasnya.