Diktilitbang Gelar Workshop Model Pengembangan Kampus Islami

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah menggelar Workshop Pengembangan Kampus Islami pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Hotel Lynn Yogyakarta pada Ahad (17/12).

Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta yang terdiri dari Majelis Diktilitbang, Majelis Tarjih dan Tajdid, Majelis Tabligh, Majelis Pendidikan Kader, 50 perwakilan PTM dan internal UMY.

Lincolin Arsyad, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan, tugas Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), harus turut serta menjadi bagian dari gerakan islam amar makruf nahi munkar guna mewujudkan Islam sebenar-benarnya sebagaimana maksud dan tujuan Muhammadiyah.

“Oleh karena itu, dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi, PTM tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, melainkan juga institusi kepanjangan tangan dakwah Muhammadiyah. Terutama dakwah kepada civitas akademik yang terdiri dari dosen, karyawan, mahasiswa dan masyarakat sekitar,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan pada pembukaan acara.

Lincolin melanjutkan, maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini yakni menyamakan dan mencari titik temu pada pokok-pokok pikiran fundamental pada model pengembangan kampus islami, merumuskan model dan bentuk nilai-nilai islam dalam pengembangan kampus islami dan menyiapkan konsep yang berisi sistem model pengembangan kampus islami.

“Dalam pelaksanannya, memang beberapa PTM sudah melakukan konsep kampus islami dengan bentuk beragam, model dan mekanisme variatif. Namun, terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing PTM, tetap harus dilakukan perbaikan dan pengembangan PTM agar tetap dalam koridor islami sebagaimana karakter Muhammadiyah,” tambahnya.

Terkait strategi penyelenggaraan kampus islami ini, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah akan menyampaikan kebijakan standar pendidikan Muhammadiyah dan melakukan survei kepada pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa PTM mengenai keinginan dan kebutuhan untuk mengembangkan kampus islami.

“Setelah ini, harapan dan targetnya yakni menumbuhkan kesamaan persepsi para pengelola PTM dalam menyelenggarakan kampus islami dan menghasilkan rumusan model dan bentuk kampus islami,” tutupnya. (nisa)

 

Majelis Diktilitbang dan Majelis Dikdasmen Bersinergi Wujudkan Sekolah Unggul

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bersama Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah melakukan pembahasan pendirian “Sekolah Premium” yaitu sekolah yang unggul dalam akademik maupun keagamaan pada Sabtu (16/12) di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan ini untuk kerja sama Majelis Diktilitbang dengan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.

Lincolin Arsyad, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah selalu bergerak untuk mengantar pendidikan Muhammadiyah agar bisa mempertahankan eksistensinya di bidang apapun.

“Kami undang dan kumpulkan sekolah-sekolah Muhammadiyah pilihan untuk berkumpul dan mengorbitkan institusi pendidikan demi menjadikan lembaga yang unggul secara kualitas dan pelayanan, yang kami rancang dengan usulan nama “sekolah premium,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah pilihan itu akan bersanding dan membentuk kerjasama dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah setempat, dengan alasan-alasan yang akan dipertimbangkan.

Ada 8 PTM yang ditunjuk oleh Majelis Diktilitbang, yakni UHAMKA, UMM, UM Makassar, UM Gorontalo, UM Lampung, UM Metro, UM Bengkulu, UM Riau dan STKIP Muhammadiyah Kotabumi.

“Ada dua pendekatan penyelenggaraan sekolah premium ini yaitu, pertama, mendorong dan memfasilitasi sekolah yang sudah ada. Kedua, membangun sekolah baru yang memadai dan berlevel premium,” tambahnya.

Kemudian Bhaedowi, Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah mengatakan, dari beberapa perwakilan wilayah Muhammadiyah se-Indonesia banyak yang berharap besar untuk menetaskan pendidikan yang branded, berkeunggulan dan memiliki ciri khas.

“Kami juga berharap bisa membentuk sekolah yang punya nilai deferansiasi dan marketable. Deferensiasi yang berbasis pada keunggulan dan benar-benar ditopang oleh komitmen yang kokoh yang diimbangi dengan manajemen dan sumber daya manusia yang kompeten,” katanya.

Harapannya, dengan ditunjuknya beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk ikut bekerjasama melakukan pembinaan secara sinergis ini, bisa mendorong peningkatan kualitas sekolah-sekolah Muhammadiyah supaya dapat meraih prestasi unggul baik secara akademik maupun non akademik. (nisa)

 

Diktilitbang PP Muhammadiyah Rencanakan Bentuk SBMPTM

Muhammadiyah melalui Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah tengah menyusun rencana untuk pembentukan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah (SBMPTM). Rencana ini melibatkan beberapa pihak internal dan juga kerja sama dari Bank Syariah Mandiri (BSM).

Atas rencana tersebut, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan pertemuan dengan BSM dalam rangka mendiskusikan SBMPTM pada Sabtu sore (16/12) di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan.

Ahmad Muttaqin, Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan, alasan pengadaan SBMPTM ini, karena PTM memiliki peminat yang bagus dan meningkat setiap tahunnya. Kemudian, rencana kerja sama dengan BSM ini dilatarbelakangi karena BSM dinilai mampu, serta memiliki track record yang bagus dan terbukti.

“Perundingan Majelis Diktilitbang tentang SBMPTM yang direncanakan ini, khusus untuk fakultas kedokteran. Hal ini karena peminatan kedokteran mempunyai peluang kuat. Baru, jika prodi kedokteran ini berhasil, akan dibuat juga peminatan lainnya,” ucap Muttaqin.

Di tengah berlangsungnya diskusi, banyak masukan dari PTM untuk mendukung SBMPTM ini. Misalnya, usulan agar SBMPTM langsung dibuka untuk semua jurusan, teknis pelaksanaan terkait kapan waktu yang tepat dan lain sebagainya.

Sementara Achmad Fauzi, Group Head Institusional BSM, mengaku siap terkait usulan kerja sama untuk tahun 2018 mendatang.

“Kami BSM siap untuk dilibatkan, demi suatu terobosan baru untuk kemajuan PTM ini. Hal-hal yang harus dimatangkan itu seperti IT, bank soal, passing grade, sosialisasi dan panitia penyelenggara,” jelasnya. (nisa)

 

Diktilitbang PP Muhammadiyah Kembangkan Program Kajian Keagamaan dengan AMCF

Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar “Rapat Koordinasi Pengelolaan Ma’had Kerjasama ASIA Muslim Charity Foundation (AMCF) dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah” pada Sabtu (16/12) di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan.

Sudarnoto Abdul Hakim, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyampaikan, kerja sama antara Diktilitbang dengan AMCF ini untuk mengembangkan program kajian keagamaan demi melahirkan kader-kader yang sesuai dengan harapan Muhammadiyah.

“Inilah yang menjadi salah satu pikiran dasar karena Muhammadiyah terus bergerak sebagai gerakan Islam yang tetap menjaga watak keislaman dalam rangka menggaungkan amar makruf nahi munkar,” ujarnya.

Sudarnoto menyampaikan suatu alasan kuat lainnya atas kerja sama AMCF ini, yakni agar persyarikatan Muhammadiyah bisa melahirkan kader-kader berbasis ulama Muhammadiyah.

“Salah satu yang jadi perhatian di Muhammadiyah adalah masih sedikitnya ulama. Ulama di Muhammadiyah yang benar-benar bisa dikatakan ahli suatu ilmu itu baru sedikit sekali, sehingga melalui ma’had di PTM kita ini mampu mewujudkannya,” ucap Sudarnoto.

Harapannya, kegiatan ini mampu menjadi wadah  koordinasi yang efektif untuk memperkuat kembali PTM dalam kerjasamanya dengan AMCF.

Kegiatan ini diikuti oleh 22 perwakilan PTM yang sudah memiliki ma’had. Hadir juga sebagai narasumber, Bendahara PP Muhammadiyah Marupuji Ali dan Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas. (nisa)

 

Pimpinan PTM Kunjungi Tujuh PT di Taiwan

Sebanyak 24 Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, disertai tiga Pimpinan Majelis Diktilitbang PPM, diundang Kementerian Pendidikan Taiwan untuk merintis kerja sama dengan PT Taiwan. Ini diharapkan akan mendorong percepatan internasionalisasi PTM sehingga siap bersaing dengan PT asing, termasuk lulusannya.

“Kami berharap dari kunjungan ini ada kelanjutan dalam bentuk pertukaran dosen dan mahasiswa, kerja sama riset, termasuk pengiriman dosen untuk belajar , pada program tertentu. Misalnya, Ph.D program untuk keperawatan di sini, yang di Indonesia masih sangat langka,” kata Prof Lincolin Arsyad dalam sambutan di Universitas Huangkuang, Kamis (7/12).

Delegasi diterima Rektor University Huangkuang Dr Yueh Guay Huang. Sebelumnya delegasi mengunjungi Yuanpei of Medical Technology University, dan diterima Rektor Chih Cheng Ling. Kunjungan dengan dukungan penuh dari kementerian pendidikan Taiwan ini didampingi juga pimpinan majelis diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Edy Suandi Hamid, dan Dr Sayuti.

Menurut agenda yg dijadwalkan, delegasi PTM selama lima hari akan mengunjungi juga Asia University, Da Yeh University, Cheng Kung University, National Taipei University of nursing and Health Science, dan Sochow University. Pada akhir kunjungan akan ditandatangani MOU antara Majelis Diktilitbang PPM dengan Kementerian Pendidikan Taiwan di Taipei.

Dalam kesempatan itu, PT yang dikunjungi juga menawarkan beasiswa bagi dosen PTM. “Misalnya, mereka menawarkan tadi untuk memberikan pembebasan tuition fee kepada dosen PTM yang akan mengambil Ph.D keperawatan,”ujar Prof Edy Suandi Hamid.

Dengan 173 PTM yang dimiliki dan persaingan ketat PT, menurut Lincolin, PTM harus progresif dan berpikir jauh ke depan. Kita perbanyak kerjasama internasional untuk meningkatkan daya saing. Namun kita tetap selektif memilih mitra di luar negeri,” ujar Prof Lincolin Arsyad.

Dikemukakan, pada era disruptive technology ini maka saling belajar untuk berinovasi menjadi keniscayaan. “Dengan banyak berinteraksi secata akademik dengan perguruan tinggi manca negara yg sudah mempunyai tradisi akademik lebih maju kita mengejar ketertinggalan selama ini,” ujar Prof Lincoin.

 

Sidang Senat Terbuka UM Metro

Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, Prof. Dr. Karwono, M.Pd. pimpin sidang senat terbuka sekaligus mengukuhkan 930 wisudawan siap kerja yang bertepatan dengan milad ke-51 UM Metro.

930 wisudawan terdiri dari Program Magister 96 orang, Sarjana 750 orang, dan Ahli Madya sebanyak 84 orang. Sejauh ini, UM Metro telah memberikan kontribusi dalam proses pembangunan bangsa yakni telah meluluskan 15.441 lulusan.

Dengan predikat Magister, Sarjana dan Ahli Madya yang melekat pada diri saudara, sebagai lulusan UM Metro adalah intektual perguruan tinggi yang bernafaskan Islam, tentu harus memiliki perbedaan dalam bertindak, bersikap, maupun bergaul jika dibandingkan dengan mereka yang bukan lulusan perguruan tinggi Islam,” kata Rektor UM Metro, Prof. Dr. Karwono, M.Pd., saat memberikan sambutan di kampus I UM Metro, kamis (16/11/17).

Kekuatan ini akan menjadi bernilai tinggi bila digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan kemashalatan sosial. Janji Allah terhadap orang yang berilmu, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi,” ungkap guru besar UM Metro tersebut.

Prof. Dr. Karwono menghimbau kepada mahasiswa agar senantiasa menghargai hak-hak orang lain untuk mengantisipasi watak korup di dalam diri wisudawan. “Realitas sosial yang ada, kita akan dapati bahwa tidak semua orang meraih keberhasilan dengan membawa kebaikan bagi orang lain. Ada sebagian orang yang meraih keberhasilan dengan cara memperdaya dan mengeksploitasi orang lain. Oleh karena itu, jika sifat kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab sosial sudah melekat pada diri kita, hal ini menjadi sebuah vaksin penangkal virus korupsi,” tukasnya.

Pengukuhan wisudawan ini dihadiri koordinator perguruan tinggi Swasta Wilayah II, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gubernur Lampung, Ketua Pimpinan Wilayah Muhamamdiyah Provinsi Lampung, Walikota Metro, Ketua DPRD Kota Metro, Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri, serta sesepuh dan tamu kehormatan lainnya.

Sumber : ummetro.ac.id

PTM Kesehatan Rintis Kerja Sama di Jepang

Perguruan Tinggi Muhammadiyah mulai merintis kerja sama dengan PT di Jepang. “Untuk bidang kesehatan, lebih relevan bagi kita bekerja sama dengan PT di jepang ketimbang PT di Eropa, Australia ataupun Amerika. Penyakit dan kultur kita lebih cocok dengan Jepang,” demikian disampaikan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Lincolin Arsyad saat kunjungan delegasi PTM ke KBRI Jepang di Tokyo, Senin, 13/11.

Delegasi 38 PTM Kesehatan PP Muhammadiyah ini diterima Minister Counselor Eko Junor dan M Abas Ridwan serta Atdikbud Dr Alinda. Delegasi juga akan merintis kerjasama dengan International University of Helath anda Welfare dan JICHI Medical University.

Ditambahkan Prof Lincolin, PTM Kesehatan akan terus dikembangkan sesuai cita-cita KHA Dahlan yang igin melakukan pelayanan di bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. “Saat ini kita sudah mempubyai 10 Fakuktas Kedokteran, dan akan bertambah dua lagi, di samping puluhan prodi kesehatan,” ujar Prof Lincolin yg didampingi Wakil Ketua Prof Edy Suandi Hamid dan Sekum Sayuti.

Dalam pengantarnya Atdikbud RI di Tokyo Dr Alinda mengapresiasi kunjungan ini yang dilakukan dilakukan dengan cepat oleh Muhammadiyah. “Beberapa bulan lalu saya menawarkan untuk merintis kerja sama ini, dan itu direspons cepat oleh Muhammadiyah”. Ia mengharapkan rintisan kerja sama ini bisa diikuti dengan agenda aksi yang bermanfaat bagi PT Indonesia.

Kunjungan akan berlangsung hingga Sabtu 18/11/2017

Sumber : ESH

Universitas Muhammadiyah Bandung Siap Memajukan Peradaban

Acara peletakan batu pertama ini, turut dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nasir, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Intan Ahmad, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti Nada Marsudi, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Lincholin Arsyad.

Haedar mengatakan melalui pembangunan gedung yang memiliki luas bangunan 47.932 m2 ini merupakan komitmen Muhammadiyah dalam mewujudkan kemajuan peradaban.

“Muhammadiyah selalu punya elan vital untuk berbuat yang terbaik buat masyarakat, lewat RS, sekolah, dan berbagai macam dakwah yang sifatnya bil hal,” ucap Haedar.

Muhammadiyah, lanjut Haedar, ingin bangsa ini dapat menjadi bangsa yang unggul, dan menjadi bangsa yang tidak terlalu banyak retorika. “Namun kenyataannya kita kalah saing, tidak kuat SDM, dan tidak punya tonggak-tonggak kemajuan,” imbuh Haedar.

Sementara itu, Menristekdikti Mohamad Nasir berharap Universitas Muhammadiyah Bandung menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dan bisa menggerakkan pembangunan perekonomian Indonesia dimasa depan.

Nasir mengatakan bahwa dalam pembangunan pendidikan di Indonesia kita harus memperhatikan 12 pilar inovasi dalam ‘Global Competitiveness Index‘, karena inovasi yang dihasilkan dari kegiatan riset membuat perguruan tinggi dapat bersaing di tingkat nasional dan Internasional.

“Selain itu, mutu dan kualitas Institusi Pendidikan Tinggi menjadi faktor utama untuk pembangunan Institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia agar menjadi lebih baik.

,Jangan segan-segan melihat situasi yang ada, UM Bandung harus memanfatkaan peluang yang ada”

Nasir juga mengapresiasi rencana pembangunan kampus dengan arsitektur futuristik sehingga diharapkan mahasiswa dapat bangga belajar di kampus yang modern ini.

“UM Bandung harus mengambil inovasai, dan sangat tepat UM Bandung mengambil visi islamic technopreneur university, maka inilah terobosan yang baru,” pungkas Nashir.

Rektor Universitas Muhammadiyah Suyatno mengatakan hadirnya Universitas Muhammadiyah Bandung, merupakan bagian dari kontribusi Muhammadiyah untuk Indonesia yang berkemajuan melalui pencerdasan kehidupan bangsa, khususnya bagi SDM di Propinsi Jawa Barat.

“Kami  Universitas Muhammadiyah berkomitmen dan berintegritas, akan membangun Universitas yang baik untuk perkembangan Pendidikan di Indonesia dengan penekanan pada pengembangan wirausaha dan ekonomi pembangunan, kampus technopreneur ” tutur Suyatno.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar “Universitas Muhammadiyah Bandung harus menjadi perguruan tinggi yang berstandar sesuai dengan kebutuhan abad 21, sehingga dapat bersaing di era globalisasi saat ini,” pungkas Deddy.(Adam/AW)

 

Muhammadiyah Dilirik Pengamat Pendidikan Asal Finlandia

Dinilai sebagai organisasi yang berkemajuan di segala bidang salah satunya bidang pendidikan, Muhammadiyah melalui Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah ditawari kerja sama oleh Allan Schneitz, Chief Operating Officer (COO) aplikasi LifeLearn , yaitu aplikasi yang mendukung kegiatan e-learning, pada Jumat (29/9) di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta.

Allan yang merupakan pengamat pendidikan asal Finlandia dan pencetus Dream School Finlandia itu memandang bahwa Muhammadiyah melalui Majelis Diktilitbang memiliki peluang untuk menerapkan e-learning karena banyaknya sekolah hingga perguruan tinggi yang dimiliki oleh Muhammadiyah, juga untuk mewujudkan pengajaran yang berkemajuan.

Di era modern yang tidak lepas dari teknologi ini, Allan menawarkan solusi untuk pengadaan belajar mengajar yang pelaksanaannya tidak harus di dalam ruangan kelas.

“Melalui aplikasi ini, para tenaga pengajar bisa membagikan materi bahkan mengadakan perkuliahan secara online, sehingga belajar bisa di mana saja dan kapan saja, tidak perlu di dalam kelas, karena aplikasi LifeLearn sudah mampu mendukung pelaksanaan e-learning dengan baik,” ujarnya.

Lebih lanjut Allan menyampaikan bahwa LifeLearn menyediakan fitur pencarian tutor, berbagai macam kursus, materi-materi belajar dan komunitas-komunitas dari  berbagai  bidang.

Kemudian menanggapi tawaran tersebut, Muhammad Sayuti Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan bahwa peningkatan kualitas di bidang pendidikan memang selalu konsisten dilakukan, termasuk kegiatan belajar mengajar dari jarak jauh. Sayuti menambahkan bahwa kegiatan belajar mengajar juga sudah dilakukan oleh salah satu universitas Muhammadiyah, yakni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

“Ke depan tentunya sistem seperti ini mungkin akan dibutuhkan, agar jarak tidak menjadi penghalang untuk keberlangsungan proses belajar mengajar,” ujar Sayuti yang juga didampingi Khudzaifah Dimyati dan Ahmad Muttaqin selaku Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. (nisa)

Dongkrak Penelitian Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Adakan Workshop

Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Workshop Peningkatan Kinerja Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah (PTA)  pada tanggal 28 hingga 30 September 2017 di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Sebagai informasi, peserta yang hadir dalam workshop ini adalah 108 orang dari 55 PTMA yang belum masuk klaster.

Khudzaifah Dimyati, anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan bahwa saat ini dari 175 PTMA, yang sudah memiliki klaster yakni 84 PTMA.

“Oleh karena itu, dengan adanya workshop ini diharapkan bisa memberi pengetahuan kepada PTMA di daerah-daerah agar bisa mendorong PTMA untuk minimal bisa masuk klaster binaan,” ucap Dimyati ketika ditemui pada pembukaan workshop Kamis (28/9).

Kemudian Chairil Anwar, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan bahwa agenda ini juga didasari oleh nilai Catur Dharma PTMA yakni penelitian dan pengabdian.

Menurutnya, saat ini pihak pemerintah melalui Kemenristekdikti mulai fokus pada LPPM.

“Saat ini PTMA yang sudah mampu menjalankan LPPM dengan baik yakni UM Malang, UM Magelang, UM Metro, UM Surakarta dan Universitas Ahmad Dahlan, semoga PTMA yang lain bisa segera menyusul,” ujarnya.

Lebih lanjut Chairil mengungkapkan bahwa usaha untuk meningkatkan penelitian ini juga akan mendorong peningkatan nilai publikasi Indonesia. Saat ini di wilayah Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat ke-empat. Sehingga melalui workshop ini diharapkan dapat menjadi awal pengetahuan untuk bisa turut serta melakukan penelitian untuk kemudian bisa dipublikasi.

“Setiap prodi dapat mengembangkan penelitian dan penelitian bisa dibuat sebuah karya tulis untuk kemudian dijadikan publikasi. Sehingga para tenaga pendidik di PTMA diharapkan bisa melakukan penelitian,” pungkas Chairil. (nisa)