Pengumuman Seleksi Administrasi MSPP Batch III

Berdasarkan hasil penilaian dan seleksi administrasi oleh tim yang dibentuk oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maka kami beritahukan bahwa nama-nama terlampir dinyatakan:

L U L U S  S E L E K S I  A D M I N I S T R A S I

Peserta yang dinyatakan lulus akan diwawancarai melalui telepon antara tanggal 15-21 November 2019. Hal-hal terkait dengan pelaksanaan seleksi wawancara, akan diberitahukan melalui Whatsapp ke nomor handphone peserta yang lulus seleksi berkas administrasi.

Yogyakarta, 11 November 2019

Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

 

Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D.

NBM : 763796

Lampiran:

surat bisa didownlod di sini

Kerja Sama dengan Kemenkes, PTMA Siap Realisasikan Kampus Sehat

Sabtu (2/11), Majelis Diktilitbang PPM bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Kemenkes Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dalam melakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama dan Perjanjian Kerja Sama Program Kampus Sehat. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung program pencegahan dan pengendalian penyakit serta meningkatkan derajat kesehatan di seluruh sivitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah.

Dimulai pada pukul 6.00 WIB, kegiatan ini dibuka dengan senam pagi dan bersepeda keliling kampus bersama Rektor UMY, Dirjen P2 Kemenkes, Ketua Majelis Diktilitbang PPM, Kepala Dinas Kesehatan DIY beserta jajaran dan sivitas akademika UMY.

Dalam sambutannya, Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM menyambut baik kerja sama. “Dengan 166 PTMA harus dikembangkan kerja sama seperti ini. Tidak harus menunggu menjadi besar untuk jadi kampus yang sehat, justru kesahatan itu harus dimulai sejak kecil karena kesehatan itu adalah perilaku yang harus dibiasakan. insyaAllah PTMA lain akan mengikuti program kampus sehat ini, ” paparnya.

Di lokasi yang sama, Dr Ir Gunawan Budiyanto MP selaku Rektor UMY sependapat, “Kementrian kesehatan datang di tempat yang tepat, InsyaAllah UMY menjadi pintu bagi 165 PTMA lainnya. Agar program kampus sehat dan bersih ini bisa diinisiasi di kampus PTMA lainnya.”

Anung Sugihantono M Kes selaku Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI memaparkan guna mewujudkan kampus sehat diperlukan 3 pilar yang harus dilaksanakan. “Yaitu pilar Kebijakan Institusi, Perubahan Perilaku Mahasiswa, dan Pelayanan Kesehatan.”

Pilar pertama pada ranah kebijakan untuk merubah perilaku yang lebih sehat. Pilar kedua yaitu mengupayakan lingkungan lebih sehat dengan menjadikan mahasiswa sebagai bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional, lingkungan fisik yang sehat, psikososial, dan lingkungan pembelajaran yang sehat pula. “Pilar ketiga adalah pelayanan kesehatan dengan pendidikan kesehatan, screening, ciptakan lingkungan sehat,” lanjutnya.

Diakhir, Anung berpesan agar mempertemukan 166 PTMA lainnya dengan Dinas Kesehatan di daerah setempat. “Agar program ini dapat kita kelola bersama mendukung kampus sehat untuk melahirkan pemimpin negara di masa yang akan datang,” tutupnya.

Setelah melakukan penandatanganan MoU dan MoA, acara dilanjutkan dengan Launching Kampus Sehat, Kampus Senyaman Taman dengan Parameter Green Campus, Smoke Free Campus, Ramah Disabilitas, dan Halalan Thoyyiban oleh Dirjen, dan Rektor UMY.

Selain senam dan jalan sehat, turut diadakan cek kesehatan, sarapan sehat bersama serta pembagian secara gratis botol, alat kampanye green campus berupa kotak makan, tumblr dan tas sebagai alternatif mengurangi pemakaian plastik.

Pembukaan Rakornas Bidang Akademik dan AIK PTMA

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan Rapat Koordinasi Nasional Bidang Akademik dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) PTMA di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Jumat (18/10). Dibuka langsung oleh Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM, kegiatan ini diadakan selama tiga hari dari Jumat sampai Minggu (18-20/10).

Turut hadir membuka acara Prof Haedar Nasir selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah, pimpinan dan pengurus Majelis Diktilitbang PPM, Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah dan Pimpinan PTA, serta Narasumber dan Undangan Khusus yang kesuluruhannya mencapai kurang lebih 300 peserta.

Pada sambutannya Prof Haedar Nashir menjelaskan bahwa karakter Muhammadiyah adalah pendidikan islam modern yang mengintegrasikan antara iman dan kemajuan. Oleh sebab itu, PTMA harus mampu mencerdaskan pikiran bangsa dengan mengeluarkan pemikiran alternatif yang dapat menjadi solusi.

Prof Lincolin menambahkan, sebagai PTMA harus menerapkan akhlatul kharimah, yang terdiri dari tata kelolanya, transparannya, SDM dan recruitment yang sesuai dengan kompetensi. “Kalau PTMA sehat, insyaAllah persyarikatan kita sehat. Kalau PTMA sakit saya tidak menjamin persyarikatan kita sehat,” tutupnya.

 

Prof Lincolin Arsyad: 9 Tantangan PTMA

“Akreditasi baik institusi maupun prodi menjadi indikator terbaik di Indonesia karena berkaitan dengan kualitas Perguruan Tinggi. Sehingga kita perlu mempersiapkan akreditasi dengan sebaik-baiknya,” papar Prof Lincolin Arsyad saat memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Bidang Akademik dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) PTMA di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Jumat (18/10).

Prof Lincolin melanjutkan, ada 9 isu pokok yang menjadi tantangan PTMA kedepannya, “Ini menjadi tantangan yang sangat krusial dan harus kita hadapi bersama di masa yang akan datang,” paparnya.

Pertama, adalah sistem akreditasi baik pada Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 4.0 maupun Akreditasi Instrumen Perguruan Tinggi (AIPT) 3.0. Ia menegaskan, akreditasi merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika termasuk pimpinan tertinggi universitas. Ia mengibaratkan, rektor harus selalu berdekatan dengan admisi yang berhubungan dengan jumlah mahasiswa, lembaga penjaminan mutu, dan KUI.

Kedua, cepatnya perubahan regulasi perguruan tinggi dan pemerintahan terutama bagian otonomi. Untuk itu kita perlu mempersiapkan diri dan meningkatkan fleksibilitas pada PTMA.

Ketiga, pengembangan branding PTMA pada wilayahnya karena branding dan rebranding dapat menciri khaskan PTMA. “Branding kita tidak hanya pada AIK tapi harus paham betul AIK dengan memiliki ciri khas lain pula,” tegasnya.

Keempat, adalah kualitas SDM baik dosen maupun tenaga pengajar di PTMA. “Khususnya dosen jenjang pendidikan yang bergelar dokter kurang lebih 11%, dan ini harus ditingkatkan lagi harapan kita 2025 sudah 30%.”

Kelima, perbaikan sistem kelembagaan di struktur organisasi dan tata kelola. “Misalnya dengan jumlah warek dan pembagian kerja yang jelas serta perlunya pencetakan kader yang harus dikembangkan.” PTMA menjadi driving force Muhammadiyah, oleh sebab itu pimpinan harus mempunyai jiwa entrepreneur. “Pemimpin itu harus memiliki jiwa dan semangan entrepreneurship yang bukan hanya memiliki jiwa bisnis tetapi juga harus visioner, progresif, inovatif, pandai melihat peluang, dan memiliki semangat fastabiqul khairat.”

Keenam, penerapan IT Base dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang harus disiapkan dengan serius.

Ketujuh, persaingan yang harus dipandang dengan positif. Ia berpesan sudah seharusnya PTMA melihat maju kedepan tanpa menilai dan memikirkan apa yang ada di belakang.

Kedelapan, peningkatan peran PTMA sebagai media dakwah yang dapat direalisasikan melalui Asrama PTMA. “Ini harus didukung oleh rektor dengan memilih pengelola Asrama yang berkualitas pula, minimal harus memahami satu bahasa asing.” tutupnya.

Dibukanya Rakornas Bidang Akademik dan AIK PTMA ditandai dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM. Di akhir acara, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bersama Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah me-launching dua buku filsafat dengan judul buku Jejak Filsafat Pendidikan Islam “Menggagas Paradigma Pendidikan Muhammadiyah” dan Jejak Filsafat Pendidikan Islam “Membangun Basis Etis Filosofis bagi Pendidikan”.

Turut hadir, Prof Haedar Nasir selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah, pimpinan Majelis Diktilitbang PPM, Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah dan Pimpinan PTA, serta Narasumber dan Undangan Khusus yang kesuluruhannya mencapai kurang lebih 300 peserta.

Wisuda UM Purworejo ke-61, Wujudkan Intektual Bermoral dan Bereligius Tinggi

Universitas Muhammadiyah (UM) Purworejo menggelar Wisuda Sarjana ke-61 di Auditorium Kasman Singodimejo, Rabu (2/10). Sebanyak 426 wisudawan yang terdiri dari 65 mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), 5 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa (PBSJ), 68 mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), 60 mahasiswa Pendidikan Ekonomi, 83 mahasiswa Pendidikan Matematika, 21 mahasiswa Pendidikan Fisika, 35 mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Otomotif, 50 mahasiswa Manajemen, 14 mahasiswa Agribisnis, 7 mahasiswa Peternakan, 17 mahasiswa Teknik Sipil, dan 1 mahasiswa Psikologi mengikuti rapat senat terbuka.

Dekan Fakultas Pertanian selaku Ketua Panitia Wisuda, Ir Zulfanita MP, menyebutkan bahwa sebelum diwisuda, seluruh lulusan telah mendapatkan pembekalan selama dua hari. Dua pemateri dari UM Purworejo yaitu Faruq Iskandar MSi membawakan materi “Strategi Sukses Memasuki Bursa Kerja” dan Ir Didik Widiyantono MAgr dengan materi “Sukses Membangun Bisnis dan Jaringan”. Satu pemateri dari UAD yakni Prof. Dr. Ir. Dwi Sulisworo, M.T dengan materi “Strategi Sukses Meraih Beasiswa Studi Lanjut S-2”.

Dalam sambutannya, Rektor UM Purworejo, Dr Rofiq Nurhadi MAg berharap agar wisudawan yang baru lulus dapat menyesuaikan diri menghadapi tantangan era Revolusi Industri 4.0. Lulusan UM Purworejo harus memiliki jiwa kewirausahana dan tidak pernah berhenti untuk menuntut ilmu. “Sarjana lulusan UMP harus menunjukkan sikap seorang intelektual yang memiliki moral dan etika luhur serta religiusitas tinggi yang mencerminkan akhlakul karimah sesuai dengan visi UMP yaitu Unggul dalam Ilmu, Mulia dalam Akhlak,” tegasnya.

Berita Duka dari Kader IMM Kendari

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah turut berduka atas berpulangnya Muhammad Randi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) saat melakukan aksi demonstrasi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo meninggal dunia karena tertembak di dada kanan.

Menanggapi kejadian ini, Haedar Nashir selaku Ketua Umum Muhammadiyah dengan tegas menyatakan untuk mengusut tuntas kasus ini serta menyelesaikan secara hukum dengan  seadil-adilnya. “Ditindak secara hukum dengan tegas dan berat karena menyangkut nyawa anak manusia dan warga negara yang mestinya dilindungi, ” paparnya melalui media online muhammadiyah.or.id.

Din Syamsudin selaku mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah juga berpesan agar segenap warga Angkatan Muda Muhammadiyah tetap tenang dan tidak terhasut untuk melakukan tindakan anarkisme, serta selalu bersatu padu berjuang sesuai jadi diri Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah dan Amar Makruf Nahyi Munkar. Tak lupa, ia mengajak untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT agar almarhum memperoleh husnul khatimah.

Majelis Diktilitbang PP Muh Terima Kunjungan dari Kedutaan Besar Republik Iran

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menerima kunjungan dari Kedutaan Besar Republik Iran yang diwakili oleh Mehrdad Rakhshandeh selaku cultural counsellor bertempat di PP Muhammadiyah Cik Ditiro, Rabu (25/06). Bertujuan untuk menjalin silaturahmi kunjungan ini diterima langsung oleh Prof Chaeril Anwar, Prof Sjafri Sairin, Muhammad Sayuti, Ahmad Muttaqin, dan Robby Habiba Abror.

“Kami berterimakasih atas diperkenankan untuk berdialog dengan Muhammadiyah,” papar Mehrdad menepis anggapan Iran bukan bagian dari Syiah. Mengapresiasi kunjungan tersebut, Prof Chaeril Anwar mengucapkan terima kasih.  “Secara inklusif, Muhammadiyah menerima adanya perbedaan, bagi kami adanya perbedaan kami anggap menjadi perspektif dari masing-masing umat,” ujarnya.

Lebih lanjut, direncanakan akan diadakan kerja sama antara kedua belah pihak. “Direncanakan akan diadakan konferensi untuk para akademisi serta Scholarship.” tutupnya

 

Gottingen University German Pelajari Muhammadiyah Lebih Dalam

Sabtu, (07/09)-PP Muhammadiyah menerima kunjugan dari delegasi Gottingen University German bertempat di PP Muhammadiyah Cik Ditiro. Ahmad Muttaqin selaku perwakilan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyampaikan adanya kunjugan ini bertujuan untuk menambah wawasan lebih dalam mengenai Islam melalui Muhammadiyah. “Program ini untuk mengenalkan pada mereka bahwa islam tidak hanya model dan versi yang muncul di Timor Tengah. Mereka belajar lebih dalam mengenai wawasan Islam ala Muhamamdiyah, Sejarah Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah dan kontribusi Muhammadiyah terhadap negara,” paparnya.

Muttaqin menambahkan, kunjugan diikuti secara antusias oleh peserta yang terdiri dari sembilan orang tersebut. “Ada sesi tanya jawab mengenai agama islam hingga program apa saja yang sudah dilakukan Muhammadiyah, dan mereka sangat antusias,” lanjutnya.

Delegasi Gottingen University German ini sebelumnya sudah melakukan kunjugan serupa di UIN Sunan Kalijaga. Rencananya, kunjugan akan berlangsung selama satu minggu dimulai pada tanggal 4 September hingga 11 September 2019.

Tiga Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Goes to Australia

Tiga dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Bojonegoro, Gombong dan Ciamis lolos dalam seleksi penerimaan beasiswa Program Retooling Kompetensi Pendidikan Tinggi Vokasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Perguruan Tinggi.

Sebanyak 30 peserta dari Indonesia yang mendapatkan beasiswa program retooling dosen vokasi dalam bidang health and community service. Tiga diantaranya dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yaitu Afriza Umami dari Stikes Muhammadiyah Bojonegoro (kanan), Ike Mardiati Agustin dari Stikes Muhammadiyah Gombong (kiri) dan Andan Firmansyah dari Stikes Muhammadiyah Ciamis (tengah).

Program retooling ini dilakukan dalam rangka meningkatan kapasitas dan kapabilitas dosen pendidikan tinggi vokasi agar relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri sebagai upaya menjawab tantangan kebutuhan penyediaan lulusan perguruan tinggi yang mampu bersaing di pasar kerja internasional.

Kegiatan retooling dosen vokasi dilaksanakan di Kangan Institute dan Bendigo TAFE selama bulan Juli sampai Oktober 2019. Kegiatan disetiap minggunya selain materi dan observasi akan dilaksanakan visit ke beberapa kampus besar dan ternama seperti Victoria University, Melbourne University, La Trobe University dan kampus di Essendon.

Kegiatan retooling ini juga memberikan fasilitas bagi peserta untuk turun langsung dan mengobservasi di beberapa rumah sakit, baik rumah sakit umum diantaranya Royal Melbourne Hospital, western Hospital, Royal Park Hospital, St Vincen’t Hospital dan rumah sakit swasta diantaranya Brunswick Private, North Park Private Hospital, Knox Private Hospital. Diakhir pertemuan akan dilaksanakan assessment bagi seluruh peserta retooling.

Harapannya kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kapabilitas dosen dalam bidang health and community service, meningkatkan kualitas institusi sekolah tinggi muhammadiyah dalam persiapan menghadapi globalisasi, dan meningkatkan daya saing lulusan dalam mendapatkan pekerjaan secara global.

AIK? Jangan Sekedar Teori

“Terdapat empat nilai Islam progresif yaitu berpikir logis, aktif memperbaiki diri, bekerja keras, dan meyakini kemampuan diri . Diskusi ini bertujuan untuk melihat pengaruh empat nilai tersebut kepada mahasiswa melalui AIK,” ujar Anisia Kumala Masyhadi saat menjelaskan hasil penelitiannya dalam forum diskusi berkala tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, di PP Muhammadiyah Cik Ditiro pekan lalu.

Lebih jelasnya Anisia menjelaskan rumusan masalah penelitiannya merujuk pada tiga pertanyaan yaitu apakah keyakinan pada nilai-nilai Islam progresif berpengaruh pada inisiatif pertumbuhan diri mahasiswa PTM? Bagaimana profil nilai Islam progresif mahasiswa PTM, adakah nilai tertentu yang mendorong mereka untuk melakukan perbaikan diri?. “Dan yang terakhir darimana atau dari siapa mahasiswa PTM memperlajari dan memperoleh nilai-nilai Islam progresif?” tambah Anisia.

Data menunjukan, dari 285 mahasiswa dari seluruh PTMA yang tersebar di Indonesia, 6,4% tercatat memiliki inisiatif pertumbuhan diri atau upaya aktif untuk maju dan berkembang. Hasil ini menyimpulkan, empat nilai islam memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap inisiatif diri mahasiswa di PTMA. “Ada sekian puluh persen yang bukan berasal dari nilai Islam, dan itu berasal dari sumber yang lain,” lanjutnya.

Di antara empat nilai Islam progresif, dua nilai yang berpengaruh yaitu berpikir logis dan memperbaiki diri. Sedangkan dua lainnya tidak memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi diri. Dengan kata lain nilai Islam progresif tidak serta merta menjadi nilai penting bagi pertumbuhan diri mahasiswa. “Ada faktor lain yang berperan di luar empat nilai ini yang tidak tergali melalui penelitian ini,” tegas Anisia.

Jika dilihat dari tokoh yang berperan dalam menanamkan nilai Islam, peran pengajar masih tergolong kecil. Jika diasumsikan, pengajaran keislaman di perguruan tinggi belum optimal menggali dan menanamkan pentingnya nilai dan aktifitas yang berorientasi pada perubahan dan kemajuan. “Sementara dosen mata kuliah agama (AIK) belum berperan secara kuat dalam mengenalkan atau memberi penguatan pada nilai-nilai kemajuan ini.

Adanya fakta ini memunculkan keresahan bagi Prof Lincolin Arsyad selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM, ia memandang AIK melalui perspektive kaderisasi. “Saya mengamati, kaderisasi kita relatif lambat, adanya kader yang paripurna masih kurang,” paparnya.

Pengamatannya memunculkan beberapa solusi antara lain upaya untuk meningkatkan potensi kaderisasi seperti melakukan kerjasama dengan Lazismu dan fokus untuk menjadikan asrama PTMA sebagai tempat kaderisasi. “Jangan anggap enteng Aslama, Aslama harus menggunakan kurikulum yang baik dengan berbagai ilmu yang mumpuni pula,” lanjutnya.

Ia menambahkan generasi Muhammadiyah berkemajuan itu harus memperbaiki diri dan meningkatkan keilmuwannya. Karena kader sekarang itu tidak cukup hanya dengan AIK saja, namun harus diimbangi dengan ilmu lainnya. “AIK menjadi pondasi dan ditambah ilmu lainnya sebagai pelengkap,” tutupnya.

Tidak hanya itu, Prof Lincolin juga memberikan penekanan bahwa penanaman nilai AIK harus melibatkan seluruh dosen. Harapannya dosen dapat memberikan pengajaran dengan konsep ethic mainstreaming yang dikenal dengan sebutan meta learning approach. Jangan sampai AIK hanya dipahami sebagai ilmu namun tidak ada afektif dan psikomotoriknya. “Al Maun tidak hanya di tafsirkan, namun bagaimana diamalkannya. Penanaman etika juga diperlukan, hal ini harus dipegang oleh semua dosen,”pesannya.