UMP Raih Medali Emas dan Perunggu di Kancah Internasional

UM Purwokerto berhasil meraih 1 medali emas dan 2 perunggu dalam kancah Internasional yang di gelar di Sritex Arena, Senin-Kamis (1-5/09). Diikuti sekitar 547 atlet beladiri dari 14 negara diantaranya Aljazair, Timor Leste, Singapura, Mesir, Taiwan, Pakistan, Jerman, Uganda, Maroko, Thailand, Sudan, Lalestina, Lebanon, dan Indonesia.

“Medali emas pada kejuaraan dunia ini dipersembahkan dalam katergori bebas beregu atas nama Wildan Nur Faiz, sementara dua perunggu di kategori perorangan yakni Sartono dan Wildan Nur Faiz,” papar Yudha Febrianta selaku Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga dan Tapak Suci UMP.

Sebelumnya Wildan dan Sartono sudah pernah meraih juara di POM Rayon dan POM Prov. “Sartono dapat emas di POMPROV dan besok tanggal 19 September akan ke POMNAS,” lanjutnya

Minang Entrepreneurship Award II, Mahasiswa UMSB Raih Juara 3

Padang, 03 September 2019- Dewan Juri ajang kompetisi kewirausahaan tingkat mahasiswa Minang Entrepreneurship Award II secara resmi mengumumkan mahasiswa yang terpilih sebagai pemenang. Berdasarkan hasil penilaian dari presentasi, wawancara dan presentasi produk maka tampil sebagai sebanyak 12 kelompok dari dua kategori yaitu eksisting bisnis dan usaha rintisan. Sebanyak 34 perguruan tinggi dari Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau dan Jambi berkompetisi pada ajang Minang Entrepreneurship Award II untuk memperebutkan hadiah total Rp300 juta. Dari 34 perguruan tinggi yang ikut terdiri atas 11 perguruan tinggi negeri dan 26 swasta dengan 259 proposal yang diterima panitia.

Pada kegiatan tersebut Mahasiswa UMSB (Waradzi Mustakim) kembali berprestasi membanggakan kampus dengan mengenakan Jas Merahnya, meraih juara III penganugerahan hadiah yang langsung diberikan oleh Wakil Presiden RI Bapak Yusuf Kalla di auditorium universitas Negeri Padang. []Humas UMSB

FGD MIHI UMY, Quo Vadis Papua dan Aceh dalam Struktur NKRI

Demonstrasi dan gejolak politik pasca kasus rasisme yang terjadi pada mahasiswa asal Papua yang berada di Jawa Timur semakin nyaring gaungnya. Keinginan untuk melepaskan diri dari NKRI pun semakin santer disuarakan. Magister Ilmu Hubungan Internasional (MIHI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencoba merespon gejolak politik tersebut dari sudut pandang akademisi dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana Lantai 1 UMY, Rabu (4/8).

Membawakan tema Quo Vadis Papua dan Aceh dalam Struktur NKRI, FGD dipantik oleh Ali Muhammad, Ph.D dan Dr. Takdir Ali Mukti. Hadir dalam kegiatan diskusi, dosen-dosen UMY dan sejumlah mahasiswa pascasarjana.

FGD dibuka dengan pemaparan dari Ali Muhammad mengenai separatisme di Papua. Menurut Ali permasalahan separatisme ini bukanlah hal yang baru. Negara-negara maju seperti Inggris, Kanada, dan Spanyol pun melalui itu semua. “Tapi saya melihat akar separatisme di Papua ini sangat kompleks dan serius. Ada tiga hal yang mendasari itu, pertama adalah sejarah, kedua adalah identitas, dan ketiga adalah kegagalan pembangunan ekonomi.”

Ali berpandangan bahwa sejarah Papua sudah rumit sejak awal. Orang-orang Papua tidak menerima hal tersebut dan menyatakan itu illegal. Belum lagi berbicara tentang identitas. Tidak jarang orang-orang Papua merasa berbeda dengan identitasnya orang Indonesia pada umumnya. “Ini menjadi masalah karena adanya masalah integrasi nasional yang belum terselesaikan tersebut. Jelas Indonesia bukan bangsa yang berdasarkan ras. Bangsa Indonesia itu berbeda-beda namun tetap satu. Tetapi mereka memang masih merasa kurang nyaman, itu dia tantangannya. Bagaimana membuat mereka bisa nyaman,” ujarnya.

Ali juga menambahkan diskriminasi dan rasisme itu ada meskipun secara tidak sadar dilakukan. Kemudian perlunya menilik lebih lanjut kebermanfaatannya bagi Papua dalam pembangunan ekonomi. “Pembangunan itu jelas ada, tapi kemudian pembangunan itu untuk siapa?”. Menurutnya perlu dicari lagi model pemberdayaan ekonomi yang lebih cocok untuk Papua.

Sementara itu Takdir Ali Mukti menjelaskan dari sisi kontestasi konstruksi sejarah Ke-Indonesia-an, Ke-Aceh-an, dan, ke-Papua-an. “Adanya miss dalam konstruksi sejarah versi Negara, versi GAM  dan OPM.” Ia menjelaskan, tokoh OPM mengatakan Belanda tidak menjajah Papua tapi menyelamatkan dan mendidik Papua. “Jika sampai menyebutkan Belanda ini penjajah, maka akan berlaku prinsip hukum internasional utis possedutis yang menentukan batas negara merdeka yang mewarisi bekas kolonial,” tambahnya. Sedangkan versi NKRI, Papua sudah dijajah oleh Belanda pada tahun 1828 sejak didirikannya benteng Fort du Bus. Sehingga pada tahun 1945 Bung Karno dapat menyebutkan bahwa NKRI terdiri dari Sabang sampai Merauke yang berdasar atas utis possedutis.

Versi GAM, menyebutkan Belanda tidak pernah menjajah Aceh, karena adanya kepemimpinan Wali, dan Ulama sampai dengan mengundang Jepang di Malaka. Awalnya, Aceh sendiri mendukung adanya kemerdekaan NKRI, namun ia tetap berpendapat bahwa Aceh tetap menggunakan hukum syariah. Masa pergolakan, Bangsa Aceh merasa terkhianati oleh RI, karena adanya penghapusan pemberlakuan hukum Islam dan menekankan adanya Indonesia Nasionalis. Sehingga menimbulkan adanya perlawanan Rakyat Aceh terhadap kebijakan tersebut.

Takdir menyimpulkan bahwa ada dua permasalahan dari isu ini yaitu Nation Bulilding yang belum selesai sejak kemerdekaan dan konsep NKRI Harga Mati harus direnungkan kembali. “Karena Federalisme No, NKRI itu harga hidup,” tegasnya.

Aceh dan Papua dari Berbagai Sisi

Prof Tulus menambahkan ada dua persamaan antara kedua daerah ini, karena adanya modal geo-politik dalam sejarah. “Keduanya berlokasi di pinggiran, dan keduanya menggunakan aspek Belanda sebagai orang white,” paparnya. Ia mengajak untuk membuka mata dan memilah mana sejarah yang baik untuk memformat menjadi hal yang baik untuk kedua wilayah. “Marilah kita melihat Indonesia sebagai nation state modern untuk kita hadapi itu, serta kita lihat Aceh dengan bentuk baru pula,” paparnya.

Muhammad Azhar menambahkan perlu adanya pendekatan keagamaan, karena pemahaman Muhammadiyah juga semakin direduksi. Ia menyimpulkan problem pertama karena masjid dan tempat keagamaan lain belum bisa menjembatani pusat elit lokal, problem kedua adalah pejabat yang menikmati Papua. Selain itu perlu kita lakukan pendekatan milenialis melalui iklan yang dapat menjadi keyakinan juga. “Contohnya seperti black is beautiful,” paparnya.

Dr Hasse, J., M.A menyebutkan stigma orang Papua itu bodoh dan terbelakang sama sekali tidak benar, karena justru apa yang dilakukan oleh orang Papua sebagai bagian dari negosiasi mereka. “Masalah Surabaya kemarin itu bukan hal yang baru, karena itu selalu terjadi setiap 17 Agustus,” paparnya. Tegasnya, jangan mengukur Papua, Sulawesi dll dengan perspektif Jawa. Apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang adalah bagian pinggir yang di bawa ke center “Bagaimana jalan tol diperbaiki dan sinyal internet yang mendukung juga,” ini adalah bagian dari negosiasi orang Papua namun jika papua menyatakan untuk berpisah, ini akan menimbulkan perang saudara karena Papua terdiri dari banyak etnis.

Di penutup, Takdir kembali menegaskan bahwa adanya peta kontestasi tersebut jangan sampai justru membuat semakin hancur. Perspektif-perspektif tersebut seharusnya memantik hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. “Federalisme no NKRI hidup, itu maksudnya adalah sovereignty. Jadi dilenturkan. Batasnya ditarik lebih luas lagi itu yang saya maksud dengan jalan ketiga”. Ia menambahkan adanya urgensi mendiskusikan kembali perspektif ke-Indonesia-an yang lebih dinamis. Seperti apa nasionalisme di jaman milenial ini. Definisi mengenai NKRI, apakah berlaku terus atau perlu direvisi. “Model Inggris itu saya masih anggap yang paling available. Bukan merubah tapi lebih memodifikasi,” pungkasnya.

UM Buton Berikan Pembekalan Magang Untuk 1190 Mahasiswa

“Magang adalah upaya pengembangan pengetahuan, pembentukan keterampilan, dan peneguhan sikap yang dilakukan melalui belajar dengan berbuat (learning by doing). Prinsip magang adalah pengenalan secara dini (early exposure) kepada mahasiswa calon guru dan bertahap,” papar Dr Wa Ode Alzarliani dalam sambutannya pada pembukaan pembekalan magang Tahun Akademik 2019/2020 di Aula Kampus UM Buton, Rabu (4/9).

Diikuti 1190 mahasiswa FKIP dan FAI, kegiatan magang terbagi atas dua yaitu magang ke-1 untuk 550 mahasiswa dan magang ke-2 untuk 640 mahasiswa. Bertujuan untuk untuk meningkatkan kompetensi guru profesional, kegiatan ini diharapkan dapat menambah bekal mahasiswa terkait tugas dan kewajiban ketika berada di sekolah penempatan.

Program magang 1 dan magang 2 ini, akan dilaksanakan secara terpisah selama 7 hari. Dengan melibatkan 64 dosen pembimbing untuk memantau program magang yang tersebar di berbagai sekolah baik di Kota Baubau maupun Kabupaten Buton yang terdiri dari 4 SMA, 21 SMP, 21 SD dan 18 TK”, ujar Maryam Nurlaila, S.S.,M.Pd selaku Sekertaris Panitia melalui rilis yang kami terima.

UMSU Adakan Training BUMDes

Mengusung Tri Darma Perguruan Tinggi, UM Sumatera Utara (UMSU) bekerjasama dengan Sekolah Manajemen BUMDes (SMB) untuk menggelar “Training of Trainers Pemdamping BUMDes”. Bertempat di Auditorium FKIP UMSI, kegiatan ini diikuti 38 peserta dari dosen seluruh fakultas yang ada di UMSU.

Dalam sambutannya Dr Agussani selaku rektor UMSU memberikan apresiasi pada kegiatan pengabdian ini. “UMSU akan terus membangun kerja sama dan bersinergi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah,”paparnya.

Rudy Suryanto selaku Sekretaris Jenderal Forum BUMDes Indonesia menyampaikan BUMDes menjadi hak sepenuhnya bagi seluruh masyarakat desa. Setiap desa telah diberikan anggaran untuk dikelola secara pribadi. Ia melanjutkan, hingga Desember 2018, 61 persen desa telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau terbentuk 45.549 unit BUMDes di Indonesia. Jumlah ini meningkat tajam dari tahun 2014 yang hanya memiliki 1.022 BUMDes. “Dalam konteks ini kita sangat memerlukan partisipasi perguruan tinggi untuk bisa memberikan pencerahan dan pemberdayaan agar SDM BUMDes ini bisa ditingkatkan,” tutupnya.

STKIP Muh Aceh Tengah adakan Masa Ta’aruf Mahasiswa

STKIP Muhammadiyah Aceh Tengah mengadakan kegiatan Masa Pengenalan Kampus  mulai tanggal 28 s.d 30 Agustus 2019, kegiatan tersebut yakni MASTAMA (Masa Ta’aruf Mahasiswa) yang bertempat di Gedung Kampus STKIP Muhammadiyah, Kampung Mampak, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah (8/30).

“Serangkaian kegiatan sudah dilakukan selama beberapa belakangan ini, alhamdullilah acara Mastama berjalan dengan lancar, pengenalan kampus juga sudah diarahkan kepada mahasiswa baru bergabung dengan keluarga besar STKIP Muhammadiyah Aceh Tengah”, Ungkap Ketua BEM Mawardi

Syamsul Bahri sebagai Ketua Panitia Mastama mengharapkan setelah selesainya Mastama mahasiswa baru bisa menyesuaikan diri dalam menghadapi perkuliahan dan dapat mengikuti seluruh civitas akademik kampus dengan baik, jika terdapat kendala nantinya, kami dari BEM siap membantu adik-adik dan tidak perlu sungkan-sungkan.

Kurikulum PTMA, Innovate or Die

Berbicara mengenai kurikulum, masih banyak diantara kita yang hanya menganggap kurikulum hanya sekedar daftar mata kuliah saja. Beberapa PTM masih menaggap kurikulum hanya sebagai kewajiban regulator dan sekedar memenuhi permintaan pemerintah semata. Begitulah pemaparan Prof Edy Suandi Hamid saat membuka Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah, di Hotel Santika Premiere, Jumat (30/08).

Prof Edy melanjutkan, evaluasi kurikulum bukan hanya sekedar laporan administrasi secara formal namun harus terencana dan memenuhi beberapa aspek di dalamnya. “Ketika mahasiswa lulus dari PTMA, kita harus tahu sejauh mana mahasiswa menyerap apa yang sudah kita rencanakan dari kurikulum itu,” paparnya.

Artinya, mahasiswa dapat menyerap berbagai kompetensi yang terdiri dari knowledge, skill, dan akhlak. “Dalam konteks akhlak, bagaimana kurikulum tersebut dapat mengandung karakteristik Muhammadiyah yaitu Al-Islam Kemuhammadiyahan.” Ia melanjutkan, kurikulum harus selalu dinamis, hal ini terkait beberapa aspek yaitu kurikulum sebagai tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan serta mahasiswa, masyarakat, dan stakeholder yang juga menuntut kita untuk terus melakukan evaluasi.

Prof Edy menegaskan, dosen harus belajar serta terus melakukan inovasi, “Innovate or die, kalau kita selalu statis maka kita akan tergilas oleh seleksi alam. Perguruan kita, prodi kita akan dikalahkan dengan yang lain,” tegasnya.

Bekerjasama dengan UM Surabaya, pelatihan ini juga dihadiri, Dr. dr. Sukadiono, MM selaku Rektor UM Surabaya beserta wakil rektor, Ketua BPH UM Surabaya, dan jajaran lainnya. “Saya yakin ini akan menjadi dampak yang baik pada kita sebagai PTMA, saya merasa banyak keberkahan yang kita dapat dari bersedianya kita untuk memberikan kontribusi pada persyarikatan,” tutup Dr. dr. Sukadiono.

Audiensi dengan Kemenkes RI dan MTCC : Galakkan Kampus Sehat

Jumat (30/8), Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menerima kunjungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan Muhamamdiyah Tobacco Control Center (MTCC) di PP Muhammadiyah Cik Ditiro. Kunjungan ini dalam rangka audiensi inisiasi kerja sama Kampus Sehat. Hadir dalam acara Mohammad Adam Jerussalem, S.T., S.H., M.T., Ph.D. (Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ., MPH (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Kemenkes RI),  Wiwi Triani, S.Kp., MKM (Kepala Seksi Gangguan Metabolik, Sub-Direktorat Penyakit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Kemenkes RI), Dr.Masitah Sari Dewi, M.Epid (Staff Subdit Penyakit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Kemenkes RI), Dianita Sugiyo, S.Kep., MHID (Vice Director MTCC), Afriansyah Tanjung, S.H., M.Kn, dan Elvin Lazuardi, S.E.

Latar belakang audiensi ini ialah temuan-temuan dan catatan yang menunjukkan bahwa tingkat kesehatan keluarga di Indonesia masih rendah. Oleh karenanya, Kemenkes ingin bergegas menindaki melalui gerakan Kampus Sehat. “Salah satu turunan gerakan masyarakat sehat yang kita harapkan punya komunitas yang spesifik, yaitu akademik dalam hal ini kampus. Karena di situ adalah wadah-wadah orang intelektual, orang yang tentu dari sisi kecerdasan dan pengetahuan mestinya sudah tidak lagi buta akan informasi-informasi tentang kesehatan,” jelas dr. Fidiansjah.

Dianita Sugiyo  menambahkan bahwa MTCC sendiri sudah mulai menginisiasi gerakan atau program kampus sehat, nyaman, tertib, dan aman (Kampus Senyaman Teman). Ada tujuh kriteria  yang ditetapkan, termasuk salah satunya adalah bagaimana UMY mampu melindungi civitas academica dari bahaya zak adiktif Napza termasuk di dalamnya adalah penggunaan rokok.

Mohammad Adam selaku perwakilan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menyambut baik inisiasi ini. “Audiensi ini mengingatkan bagaimana pentingnya menyediakan suatu lingkungan yang sehat bagi civitas academica. Insyaallah akan kami tindak lanjuti, akan kami bawa ke pimpinan untuk dibicarakan lebih lanjut. Minimal untuk tujuan sosialisasi bisa kami berikan surat menginformasikan hal ini ke PTMA yang ada di Indonesia,” pungkasnya.

Tiga Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Goes to Australia

Tiga dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Bojonegoro, Gombong dan Ciamis lolos dalam seleksi penerimaan beasiswa Program Retooling Kompetensi Pendidikan Tinggi Vokasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Perguruan Tinggi.

Sebanyak 30 peserta dari Indonesia yang mendapatkan beasiswa program retooling dosen vokasi dalam bidang health and community service. Tiga diantaranya dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yaitu Afriza Umami dari Stikes Muhammadiyah Bojonegoro (kanan), Ike Mardiati Agustin dari Stikes Muhammadiyah Gombong (kiri) dan Andan Firmansyah dari Stikes Muhammadiyah Ciamis (tengah).

Program retooling ini dilakukan dalam rangka meningkatan kapasitas dan kapabilitas dosen pendidikan tinggi vokasi agar relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri sebagai upaya menjawab tantangan kebutuhan penyediaan lulusan perguruan tinggi yang mampu bersaing di pasar kerja internasional.

Kegiatan retooling dosen vokasi dilaksanakan di Kangan Institute dan Bendigo TAFE selama bulan Juli sampai Oktober 2019. Kegiatan disetiap minggunya selain materi dan observasi akan dilaksanakan visit ke beberapa kampus besar dan ternama seperti Victoria University, Melbourne University, La Trobe University dan kampus di Essendon.

Kegiatan retooling ini juga memberikan fasilitas bagi peserta untuk turun langsung dan mengobservasi di beberapa rumah sakit, baik rumah sakit umum diantaranya Royal Melbourne Hospital, western Hospital, Royal Park Hospital, St Vincen’t Hospital dan rumah sakit swasta diantaranya Brunswick Private, North Park Private Hospital, Knox Private Hospital. Diakhir pertemuan akan dilaksanakan assessment bagi seluruh peserta retooling.

Harapannya kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kapabilitas dosen dalam bidang health and community service, meningkatkan kualitas institusi sekolah tinggi muhammadiyah dalam persiapan menghadapi globalisasi, dan meningkatkan daya saing lulusan dalam mendapatkan pekerjaan secara global.

Raker STIE Muh Mamuju: Mengajar adalah Kegiatan Amal Saleh

“Motivasi terbaik untuk mengelola kampus adalah kampus menjadi tempat kita beramal sholeh. Mengajar merupakan amal saleh kita kepada Allah SWT,” papar Muhammad Sayuti saat membuka kegiatan Rapat Kerja (Raker) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Mamuju, di kampus setempat, Selasa (27/08).

Sayuti melanjutkan, sebagai dosen kita harus melandasi niat untuk mengajar sebagai kegiatan amal saleh. Mengutip dari Surah An-Nahl: 97 yang menyatakan orang yang beramal saleh akan diberikan kehidupan yang sebaik-baiknya. “Maka mengajar dan mengelola kampus harus dikelola dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.

Raker yang dilakukan juga mendapatkan apresiasi dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, hal ini dikarenakan STIE Muh Mamuju telah menyelenggarakan raker secara rutin dari tahun ke tahun. “STIE Muh Mamuju telah melakukan raker keuangan dan program secara rutin, dan saya sangat mengapresiasi itu,”ujarnya.

Ia melanjutkan, PTMA itu punya kesempatan untuk memperpendek masa untuk mencapai kampus yang unggul, hal itu dapat dilakukan dengan cara sesama PTMA dapat saling belajar dan sharing pengalaman. Sehingga kampus kecil dapat cepat tumbuh menyusul yang besar. “Saya mendokan agar STIE Muh Mamuju dapat belajar dari tingkat pimpinan, prodi, dosen dan mahasiswa,” tutupnya.

Turut hadir, seluruh dosen, kaprodi, PDM, dan BPH dengan jumlah keseluruhan 30 orang.