Din Syamsuddin Narasumber Dialog Ideopoliter di UMSU

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menjadi narasumber kunci pada dialog idiologi, politik dan organisasi (Idiopolitor) regional 7 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

“Acara yang akan diikuti oleh PW, PD Muhammadiyah,PW dan PD Aisyiah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat,Riau dan Kepulauan Riau akan berlangsung mulai 23-25 April,” kata Ketua Pelaksana Drs, Bahril Datuk, MM kepada wartawan di Medan, Selasa.

Dijelaskan dia, dialog Idiopolitor dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan menyambut Muktamar Muhammadiyah di Makasar Agustus mendatang. Dasar pemikirannya sendiri berangkat dari berbagai peristiwa di Indonesia yang menunjukkan semakin rapuhnya sendi-sendi dan nilai-nilai kehidupan dan moralitas bangsa.

“Konflik horizontal-komunal yang terjadi di berbagai wilayah, menurunnya tingkat kepercayaan terhadap aparat birokrasi, runtuhnya wibawa penegak hukum, korupsi merupakan masalah yang dipandang perlu segera disikapi,” katanya.

Lebih lanjut, carut marut kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang terjadi juga mengindikasikan runtuhnya nilai-nilai keagamaan, pandangan hidup dan kemanusiaan. Karena itu bagi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amal makruf nahi mungkar, tajdid, krisis multi dimensi itu menjadi tantangan tersendiri.

“Untuk itu perlu upaya serius dan sistematis guna mngambil bagian dalam menyelesaikan baik di level, nasional, wilayah dan daerah,” katanya.

Dalam perspektif idiologi dijelaskan Bahril, saat ini banyak bermunculan idiologi baru, baik mengatasnamakan agama maupun pemikiran rasional.Idiologi baru itu menghasilkan prilaku ekonomi dan politik yang tidak selalu berpihak pada terciptanya kehidupan yang berkeadilan.

Ideologi global neo-liberalisme, umpanya telah mendorong negara untuk lebih percaya diri menarik diri dari peran sentral menyejahterakan masyarakat, membiarkan atau bahkan memfasilitasi pemegang modal.Indonesia sebagai Negara Muslim terbesar dunia, juga tidak terlepas dari pengaruh berkembangnya ideologi tersebut.

“Maka dalam menghadapi persoalan yang semakin kompleks tersebut, upaya untuk memperkuat basis ideologis dan keorganisasian Muhammadiyah perlu dilakukan dari berbagai sisi,” tegas Bahril Datuk.

Dijelaskan dia, dalam dialog nantinya, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin akan membawakan makalah dengan tema” Transformasi Gerakan Muhammadiyah dalam Dinamika Ideologi Organisasi dan Politik Kontemporer”. Narasumber lainnya yang akan tampil diantaranya,Prof Yunahar Ilyas, MAg, Prof Dr H Ahmad Jaenuri, MA dan Prof Dr H Amin Abdullah.

Melalui kegiatan dialog tersebut diharapkan, dapat memberikan pemahaman bagi pimpinan dan kader Muhammadiyah tentang peta mutakhir ideologi politik, ekonomi dan gerakan keagamaan yang berkembang di Indonesia. Selain itu juga memperkuat basis ideologis bagi pimpinan dan kader Muhammadiyah dalam menghadapi persoalan-persoalan sosial, ekonomi dan politik Indonesia kontemporer yang berimbas pada kehidupan di daerah.

Sumber : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Bahasa Indonesia Alat Pemersatu Bangsa

bertepatan dengan ulang tahun Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (IMABSI) seluruh indonesia yang ke-11 pada (06/05), Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sastra Indonesia (Himadiksatria) mengadakan aksi “Gerakan Cinta Basaha dan Sastra Indonesia” yang dilaksanakan di Depan Laboratuium Terpadu Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP) dan di Bundaran Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), aksi tersebut berlangsung dari pukul tiga sore hingga petang berupa pembacaan puisi dan orasi berlangsung ramai.

Aksi yang menggalakan Gerakan Cinta Bahasa dan sastra Indonesia ini berlangsung atas himbauan Sekjen pusat IMABSI kepada seluruh anggota IMABSI di seluruh Indonesia. “Aksi ini merupakan himbauan dari sekjen pusat IMABSI kepada seluruh anggota IMABSI di seluruh indonesia agar menyelenggarakan aksi serentak pada 6 mei bertepatan dengan ulang tahun IMABSI ke-11,” ungkap koordinator lapangan (korlap) Itsnan Fauzan.

Tidak hanya itu, lewat aksi yang diselenggarakan Himadiksatria, orator sekaligus bersosialisasi kepada seluruh mahasiswa UMP untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “kami berinisiatif untuk tidak hanya membacakan puisi saja tapi kami juga menghimbau kepada seluruh mahasiswa UMP untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar misalnya menggunaan kata sekedar menjadi sekadar, tergantung menjadi bergantung dan masih banyak lagi,”ungkap Itsnan.

Tema yang dingkat dalam pembacaan puisi beraneka ragam. Dari nasionalisme, kedaulatan rakyat, hingga romantisme mahasiswa diera revormasi 1998. Walaupun dengan tema yang beraneka ragam para orator memfokuskan untuk masalah nasionalisme. Seperti yang terdapat pada teks sumpah pemuda “Kami putra dan putri indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” Himadiksatria berupaya untuk mengalakan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. “Disini kami tidak hanya berbicara bagaimana menggunakan bahasa yang baik dan benar, tapi juga bagaimana menaggapi budaya dengan benar. Karena dari dulu nasionalisme hanya berkutat dengan tanah air dan bangsa. Padahal bahasa juga sebagai alat pemersatu bangsa,” tandasnya.(Nur)

Sumber : UMP

Dinkes dan RS UMM Sepakat Setop Pemasungan di Malang

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang menggandeng rumah sakit (RS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menanggulangi fenomena pemasungan yang dilakukan keluarga terhadap penderita sakit jiwa. Kedua pihak melakukan rapat koordinasi (rakor) bersama camat dan petugas kesehatan se-kabupaten, di auditorium RS UMM, Selasa (5/5).

Acara yang dibuka Wakil Direktur Pelayanan Medis RS UMM dr Thontowi Djauhari tersebut dihadiri seluruh petugas kesehatan dan puskesmas kecamatan di seluruh Kabupaten Malang. Hadir pula, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang dr Abdurrachman, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Abdul Malik.

Kadinkes Abdurrachman menyebut, di Kabupaten Malang masih banyak masyarakat yang memasung anggota keluarganya yang mengalami penyakit kejiwaan. “Mereka masih dianggap berbahaya jika dibiarkan. Selain itu, masyarakat beranggapan jika mereka dibawa ke rumah sakit membutuhkan biaya yang mahal,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Republika.

Untuk itu, Dinkes Kabupaten Malang menggelar rapat koordinasi untuk menyamakan persepsi mengenai penyakit jiwa ini beserta cara penanganannya. “Di sini kita juga akan menyamakan data dari seluruh daerah di Kabupaten agar data mengenai masyarakat yang mengalami penyakit kejiwaan dan mengalami pemasungan bisa valid,” kata Abdrurachman.

Pemberantasan pemasungan di Kabupaten Malang, menurutnya, untuk mewujudkan program Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yakni Indonesia Bebas Pasung 2019. Khusus di Jawa Timur, ditargetkan Desember 2015 sudah terealisasi Jawa Timur Bebas Pasung. “Untuk Kabupaten Malang sendiri lebih cepat, yaitu Agustus 2015 Kabupaten Malang bebas pasung,” terang Abdurrachman.

Dia menjelaskan, bersama puskesmas, perawat, dan rumah sakit yang ada di Kabupaten Malang, Dinkes akan mensosialisasikan agar masyarakat mau membawa keluarganya yang dipasung untuk dirujuk ke rumah sakit.

“Mereka akan dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang dan RS Saiful Anwar (RSSA). Tentunya, seluruh biaya akan ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Jika sudah terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, maka akan ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan,” jelasnya.

Abdurrachman berharap masyarakat tidak lagi menggunakan pasung jika ada keluarga yang mengalami penyakit kejiwaan. Dia menyarankan untuk membawa saja ke RS atau melaporkan kepada petugas kesehatan di sekitar lingkungan tempat tinggal.

“Supaya program Indonesia Bebas Pasung bisa terealisasikan. Jika sudah sembuh dari penyakit kejiwaannya, mohon untuk ikut memantau perkembangannya. Jika penyakitnya kembali kambuh, jangan dipasung lagi tapi bawa kembali ke RS.”

Sumber : REPUBLIKA

Mahasiswa FKIP UAD Ikuti Pelatihan Antikorupsi

Sebanyak 250 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengikuti training for trainer (TOT) pendidikan antikorupsi yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kampus UAD, selama tiga hari 5-8 Mei 2015.

Selain mahasiswa, para guru PPKN di DIY juga ikut dalam training tersebut. Penutupan TOT diakhiri dengan seminar nasional tentang pendidikan anti korupsi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Wakil Dekan FKIP UAD, Suparman mengatakan training tersebut sengaja digelar pihak kampus bersama KPK untuk memberikan bekal pengetahuan, sikap dan perilaku anti korupsi bagi mahasiswa UAD.

“Setelah lulus mahasiswa kita akan terjun sebagai pendidik di semua wilayah, sehingga bekal sikap, pengetahuan dan perilaku antikorupsi ini penting agar bisa mereka tularkan pada anak didik mereka kelak,” katanya.

Melalui TOT ini pihaknya juga membekali sikap bagaimana memasukkan materi anti korupsi dalam pembelajaran di kelas melalui internalisasi pelajaran PPKN.

“Langkah ini juga sesuai dengan visi dan misi UAD. Sehingga ke depan mahasiswa ini bisa menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” katanya.

Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu Gumilar Prana Wilaga dan Dony Mariantono dari Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK.

Sumber : REPUBLIKA

Pengabdian Kepada Masyarakat Singorojo Kendal oleh Ormawa Unimus

Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan kegiatan pengabdianmasyarakat (Pengabmas) di Dusun Kaligedang Singorojo Kendal. Organisasi mahasiswa yang terlibat diantaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan melibatkan sejumlah mahasiswa Unimus lainnya.

[fusion_builder_container hundred_percent=”yes” overflow=”visible”][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”no” center_content=”no” min_height=”none”]

Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan Kesehatan

Pengabdian masyarakat dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut, mulai hari Jum’at sampai Minggu. Agenda pertama adalah silaturrahim dan perkenalan dengan perangkat desa untuk mengkoordinasikan kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya. Hari kedua kegiatan dimulai dengan melaksanakan opening ceremonial yang dihadiri oleh perangkat Desa Kalirejo, tim penyelenggara dari UNIMUS dan diikuti oleh masyarakat setempat dan dilanjutkan dengan memberikan penyuluhan cara mencuci tangan dan sikat gigi yang baik kepada anak-anak SDN 1 Kalirejo. Anak-anak SD terlihat sangat antusias ketika mengikuti serangkaian acara yang diselenggarakan panitia mulai dari penyuluhan sikat gigi dan mencuci tangan, semua tampak ceria mengikuti instruksi dari mahasiswa. Hal ini juga nampak ketika mahasiswa mengajar di kelas, para siswa aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar yang dipimpin mahasiswa. “Rangkaian kegiatan pengabmas ini merupakan salah satu bentuk aplikasi Tridharma perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh mahasiswa”, hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor III (Dr. Djoko Setyo, SE., SH., MM.,MH.).

Kegiatan lainnya yang dilaksanakan bagi warga adalah demonstrasi memasak yang melibatkan ibu-ibu PKK setempat. Kegiatan tersebut meliputi tutorial membuat roti dan puding dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar Dusun Kaligedang Desa Kalirejo. Menurut salah satu Ibu PKK, kegiatan seperti ini harus sering diadakan sebagai ajang pelatihan dan referensi kegiatan ibu-ibu PKK. Selain kelompok ibu, kegiatan juga melibatkan kelompok bapak yaitu penyuluhan bagi kelompok tani Kaligedang dengan pemateri Bapak Zulkifli, S.Pt. (Staff ahli DPRD kota Semarang). Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan baru bagi kelompok tani mengenai ilmu bertani dan bercocok tanam. Peserta nampak antusias meskipun mengalami sedikit kendala bahasa tapi dapat diantisipasi oleh mahasiswa yang bertindak sebagai fasilitator.

[/fusion_builder_column][fusion_builder_column type=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”no” center_content=”no” min_height=”none”]

Penyerahan Sumbangan Unimus oleh WR III (Dr. Djoko Setyo, SE., SH., MM.,MH.)
Penyerahan Sumbangan Unimus oleh WR III (Dr. Djoko Setyo, SE., SH., MM.,MH.)

Kegiatan hari ketiga sebagai puncak acara, diawali dengan kegiatan senam pagi yang diikuti warga setempat kemudian dilanjut dengan pembagian sembako dan pemeriksaan kesehatan gratis. Pemeriksaan kesehatan meliputi pemeriksaan kolestrol darah, kadar asam urat dalam darah, tekanan darah, dan konsultasi gizi. Seluruh warga antusias mengikuti serangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Ormawa Unimus. Tercatat lebih dari 100 warga yang hadir untuk memeriksakan kesehatan mereka, tutur Guntur, penanggungjawab stand pemeriksaan kesehatan. Hasil pemeriksaan diperoleh bahwa mayoritas warga memiliki kadar kolesterol dan asam urat yang tinggi sehingga hal tersebut disampaikan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat sebagai rekomendasi penanganan lebih lanjut. Kegiatan pemeriksaan kesehatan dilanjutkan dengan penutupan.

Harapan dari kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa Unimus adalah agar mahasiswa lebih kritis dan aware terhadap kebutuhan masyarakat yang tinggal jauh dari perkotaan. Selain itu kegiatan ini juga sekaligus menjadi ajang promosi kepada masyarakat tentang keberadaan Unimus dengan melibatkan diri kedalam kegiatan masyarakat. (ukm-komunikasi&humas-jipc).

Sumber : UNIMUS

[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Tiga Mahasiswa UMY Manfaatkan Limbah Tebu Untuk Bahan Pembuatan Beton

Umumnya, limbah tebu tidak pernah dijadikan bahan olahan lain oleh kebanyakan orang. Kebanyakan dari kita pun mungkin juga tidak pernah berfikir bahwa limbah tebu tersebut ternyata dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan olahan untuk pembangunan. Inilah yang kemudian menjadikan Hernawan Fajar, Aditya Wibawa Mukti, dan Alfi Arifai (mahasiswa Teknik Sipil UMY) memanfaatkan limbah tebu tersebut untuk campuran pembuatan beton.

Hasil inovasi dan kreativitas dari mereka bertiga pun membawa kemenangan untuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam ajang Concrete Competition D’Village 5th Edition yang diselenggarakan pada 24-26 April 2015 di Institut Teknologi Surabaya (ITS). “Ide memanfaatkan limbah tebu ini sebenarnya kita dapat dari mas Aditya, yang waktu itu membaca 3 jurnal, di mana dalam jurnal tersebut menyarankan ketiga limbah ini untuk digabung karena nantinya akan menghasilkan beton yang baik, akhirnya dari si​tulah kami membuat beton dari limbah tebu. Pemanfaatan limbah ini juga didukung dengan tema yang ada, yaitu memanfaatkan limbah lokal, “ jelas Hernawan Fajar saat di wawancarai pada Jum’at (7/5) di BHP UMY.

Fajar menambahkan, bahwa limbah tebu yang digunakan ada 3 macam, pertama, satu beton ditambahkan dengan abu ampas tebu. Kedua, satu beton ditambahkan abu ampas tebu teraketel, dan ketiga, satu beton ditambahkan dengan molase atau cairan gula yang sudah dikristalkan berulang-ulang yang tidak bisa digunakan lagi. “Dari ketiga campuran limbah tersebut akhirnya kita jadikan satu dan dicampurkan dengan beton, “ tambahnya.

Dalam pembuatan beton ini ada beberapa hal yang harus diperhitungkan, yaitu kekuatan dan juga ketepatan. “Untuk total pembuatan beton ini kami hanya diberi waktu 30 hari, untuk pembuatan beton ini kami hanya membutuhkan waktu satu hari saja untuk membuat adonannya. Namun, bukan hanya berhenti di situ saja, kita tetap harus melakukan pengujian kekuatan dan ketepatan beton tersebut. Waktu pengujian kita lakukan pada hari ke-14 yang kita uji di laboratorium UMY dan hari ke-28 kita lakukan pengujian di ITSnya, “ jelasnyanya.

Fajar kemudian menambahkan bahwa, awalnya mereka agak pesimis dengan hasil pengujian pada hari ke-14 yang dilakukan di laboratorium. Karena hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan yaitu hanya 16-17 Mpa padahal pada ketentuan lomba kekuatannya harusnya 30 Mpa. “Pada hari ke-28 akhirnya beton itu diuji lagi, namun kali ini langsung di ITS waktu lomba dan ketika diuji hasilnya sangat mencengangkan karena target yang kita buat malah melebihi yaitu 30-37 Mpa. Di situ kita merasa sangat senang sekali, “ tambahnya gembira.

Namun, bukan hal mudah untuk Fajar, Alfi, dan Aditya untuk bisa mencapai kemenangan itu ada beberapa hambatan yang mereka temui. “Untuk hambatannya tentu ada, misalnya soal waktu kita merasa kesulitan untuk menyamakan waktu karena kami punya kesibukkan masing-masing. Selain itu waktu lombanya juga mepet jadi kekurangan waktu. Untuk bahan pembuatannya kami sedikit memiliki hambatan, karena waktu itu kita survey ke madukismo untuk minta bahan untuk tebunya tapi perizinannya sulit. Akhirnya kita dapat bahan itu di laboratorium kampus, jadi sebuah keberuntungan buat kami selalu diberi jalan keluar setiap ada kesulitan, “ terang Fajar.

Alfi Arifai juga menjelaskan, bahwa dalam kompetisi ini ada 2 tahap yang dilalui, pertama pengumpulan proposal yang akhirnya hanya terpilih 5 Unversitas di Indonesia yang pada saat itu UMY adalah satu-satunya Universitas Swasta yang masuk dalam 5 besar. “Kedua, pengujian beton yang dibawa langsung ke ITS dan akhirnya kita mendapatkan juara pertama dan berhasil mengalahkan Universitas Negeri Jember (UNEJ), Universitas Negeri Malang (UNM), Universitas Negeri Bangka Belitung (UBB), dan Universitas Indonesia (UI), “ jelasnya.

Dengan kemengan yang sangat apik ini membuat Fajar, Alfi dan Aditya mengubah pandangannya tentag kualitas Universitas Swasta dan Negeri. “Setelah berhasil mengalahkan Universitas Negeri saya jadi merubah pandangan saya, bahwa sebenarnya dari segi kualitas tidak beda jauh, yang membedakan kalau kita terus berusaha tentunya kita akan berada di depan mereka. Jadi, jangan pernah merasa minder kalau kalian kuliah di Universitas Swasta yang menentukan kualitas itu ya dirimu sendiri, “ timpal Fajar lagi.

Alfi juga berharap bahwa kemengan ini tentunya tidak akan membuat mereka untuk terus puas, sebab masih banyak kompetisi-kompetisi lain yang dapat mengembangkan kemampuan mereka. “Bagi adik-adik kelas yang nantinya akan mengikuti lomba, kami sarankan untuk bisa menggunakan nama tim kami yaitu “Yogyakarya”. Karena nama tim ini juga sebenarnya bisa dijadikan sebagai branding untuk Prodi Teknik Sipil di UMY ini, “ tutupnya.

Sumber : UMY

UM MAGELANG HADIAHKAN BEASISWA

Lomba Kompetensi Siswa (LKS) untuk SMK se-Kabupaten Magelang yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (disdikpora) Kabuupaten Magelang bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Magelang telah berakhir pada Kamis 30 April 2015.

10 bidang yang dilombakan, telah berhasil ditetapkan beberapa peserta yang menjadi pemenang dari juara 1, 2 dan 3. Bidang Akuntansi, juara 1 diraih Siti Azizah (SMK Muhammadiyah Salaman), juara 2 diraih Shofia Rahayu Zulfa (SMK Satya Pratama), juara 3 diraih Anisah Wulandari (SMK Abdi Negara Muntilan).

Bidang Pemasaran, juara 1 diraih Ulung Khasanah & Ari Suharyati (SMKN 1 Ngablak), juara 2 Triana Febriyanti & Wahyu Tri Lestari (SMK Satya Pratama), juara 3 Siti Nur Latifah & Mufarikhah (SMK Abdi Negara Muntilan).

Bidang Adminidtrasi Perkantoran, juara 1 diaraih Hesti Yuliastanti (SMK Muhammadiyah Samalaman), juara 2 Puput Selviana A ( SMK Muhammadiyah 1 Borobudur), juara 3 Ika Kritian (SMK Muhammadiyah II Muntilan).

Abdul Rahman (SMK Muhammadiyah Sawangan), juara 3 M.Kholik Setiawan (SMK Muhammadiyah Salaman).

Bidang Design Grafis, juara 1 diraih M.Fika A (SMK Syubbabul Wathon), juara 2 Feriadi ( SMK Muhammadiyah Sawangan), juara 3 M.Noky H (SMK Muhammadiyah Salaman).

Bidang Software Aplikasi, juara 1 diraih oleh Afif Budi Setyawan (SMK Syubbanul Wathon), juara 2 Latif Hidayatullah (SMK Muhammadiyah II Muntilan), juara 3 Deri M Ramadhan (SMK Muhammadiyah Salam).

Bidang Animasi, juara 1 diraih SMK Syubbanul Wathon, juara 2 SMK Ma’arif Walisongo, juara 3 SMK Muhammadiyah Salaman.

Bidang Networking Support, juara 1 diraih M.Dzaki Mubarok (SMK Syubbanul Wathon), juara 2 Ahmad Muflikhun (SMK Muhammadiyah Bandongan), juara 3 Ina Mila Sirli (SMK Muhammadiyah Muntilan).

Bidang Kendaraan Ringan, juara 1 diraih SMKN 1 Windusari, juara 2 SMK Pangudi Luhur, juara 3 SMK Muhammadiyah 1 Salam.

Bidang Teknik Mesin, juara 1 diraih SMK Muhammadiyah Mungkid, juara 2 SMK Pangudi Luhur, dan juara 3 diraih SMK Muhammadiyah 1 Salam.

Zamzin, S.Pd perwakilan Disdikpora Kab.Magelang mengatakan, para pemenang masing-masing mendapatkan tropi+uang pembinaan dari Disdikpora Kabupaten Magelang, dan beasiswa studi lanjut Perguruan Tinggi dari UM Magelang.(RIFA’I-HUMAS)

Sumber : UMMGL.AC.ID

Memaknai Wasiat Bung Karno kepada Muhammadiyah

“Bungkuslah mayat saya dengan bendera Muhammadiyah.”

Begitulah wasiat Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia kepada pemimpin Muhammadiyah, seperti yang ditulis oleh mantan ketua KPK, Dr. H.M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. dalam makalahnya. Hal itu disampaikan pada pengajian pemimpin Muhammadiyah DIY, Ahad (26/42015) malam, di kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Menurutnya, wasiat tersebut menunjukkan bahwa Soekarno jatuh cinta kepada Muhammadiyah. Fakta ini dapat dikaitkan dnegan istri Soekarno, Ny. Fatmawati, yang lahir di kalangan kultur Muhammadiyah Bengkulu.

Muhammadiyah dipandang Busyro sebagai organisasi nonpolitik praktis yang tidak memiliki ambisi kekuasaan. Sebaliknya, dinilai mampu mengisi kekuasaan dengan nilai-nilai keutamaan-kemaslahatan yang bersifat universal.

“Saatnya Muhammadiyah memproklamasikan warga dan pimpinannya untuk menjaga, mempertahankan independensi dan marwah organisasi, serta gerakan Islam dakwah amar makruf nahi munkar. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah tajdid untuk rekonstruksi akhlak umat dan bangsa,” kata Busyro.

Sementara itu, ketua PWM DIY, Dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes, Sp.S., mengatakan, Muhammadiyah dapat berkembang hingga saat ini berkat perjuangan dan kegigihan K.H. Ahmad Dahlan, termasuk juga dengan generasi penerusnya yang terus membantu untuk mewujudkan cita-cita yang ditetapkan oleh Muhammadiyah.

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Oleh karena itu, bagi warga Muhammadiyah, hukumnya wajib mencari ilmu mengkaji al-Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidup umat Islam. Tujuannya untuk menegakkan akidah, ibadah, serta untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat,” tutup Agus Taufiqurrahman.

Sumber : UAD.AC.ID

Kembalikan Semangat Ki Hajar Dewantara

Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang ditetapkan oleh Pemerintah pada tanggal 2 mei diperingati setiap tahun di Indonesia untuk mengenang pahlawan nasional sekaligus bapak pendidikan nasional pendiri Lembaga Pendidikan Tamansiswa Ki Hajar Dewantara. Pribumi berdarah biru ini dengan berani menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak keturunan Belanda dan orang kaya saja yang bisa mengenyam pendidikan pada masa itu. Oleh karena itu tanggal 2 mei yang merupakan hari lahir Ki Hajar Dewantara diperingati sebagai hari pendidikan nasional.

Pada umumnya perayaan HARDIKNAS  dilakukan oleh lembaga pendidikan dengan upacara bendera. Begitu juga yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). UMP yang dulunya merupakan Institusi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Purwokerto ini melaksanakan upacara  bendera dengan khitmad. Upacara yang dilaksanakan pada (2/5) di lapangan UMP diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) beserta dosen dan karyawan.

Sesuai dengan surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Replubik Indonesia, peringatan HARDIKNAS kali ini bertema “Pendidikan Sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila” mengharapkan pendidikan di Indonesia selalu menumbuhkan kesadaran pentingnya karakter pancasila. “Sudah digariskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab,” ungkap inspektur upacara Dr. Syamsuhadi Irsyad, M.H.

Peringatan HARDIKNAS kali ini mengajak seluruh lembaga pendidikan untuk mengembalikan semangat dan konsep Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara yang menyebut sekolah sebagai taman, taman yang berarti sekolah harus menjadi tempat belajar yang menyenangkan. “Sekolah yang menyenangkan memiliki berbagai karakter antaranya sekolah melibatkan semua komponennya dalam proses pembelajaran, pembelajaran yang relevan dengan kehidupan, memiliki ragam pilihan dan tantangan, dan sekolah yang memiliki makna jangka panjang bagi peserta didiknya,” tandasnya. (Nur)

Sumber : UMP.AC.ID

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Upaya Tingkatkan Kualitas Guru Yang Profesional

Saat ini guru menjadi tokoh penuntun dan panutan yang berfungsi sebagai uswatun hasanah bagi siswa dan lingkungannya. Guru juga berperan sebagai figur pentransfer nilai, moral, serta ilmu dan teknologi kepada generasi di bawahnya. Untuk itu seorang guru perlu meningkatkan kemampuannya melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pentingnya guru melakukan PTK ini tidak lain adalah untuk mencipatakan guru yang professional. Karena, jika kemampuan pembelajaran guru meningkat maka hal itu akan berdampak pada peningkatan kompetensi kepribadian, sosial, dan professional guru. Selain itu hal ini juga akan membentu pemerintah untuk bisa meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Untuk menciptakan guru professional ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk mencipatakan guru professional. Salah satunya adalah mengadakan Workshop Penelitian Tindakan Guru Bimbingan dan Konseling SMK Se-Bantul. Kegiatan yang berlangsung pada hari Rabu (29/4) di Ruang Sidang Theater Lt. 4 Gedung Pascasarjana UMY ini, merupakan bentuk kerja sama antara Program Studi Megister Studi Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Se-Kabupaten Bantul. Hal tersebut dijelaskan oleh Dr. Arif Budi Raharjo, M.Si saat memberikan sambutannya.

Dr. Nawari Ismail, M. Ag selaku pemateri pada workshop ini menjelaskan bahwa, saat ini guru memiliki peran yang sangat luas, di mana jabatan fungsional seorang guru ini dituntut untuk bisa membuat artikel ilmiah, modul pembelajaran, dan penelitian. “Ketiganya ini memiliki siklus yang tentunya saling berkesinambungan. Apalagi jika dilihat dari guru BK ini sebenarnya kan banyak peran yang bisa dimainkan contohnya terkait dengan sikap dan perilaku siswa ketika berada disekolah, “ terangnya.

Pembuatan PTK ini sebenarnya ada manfaat-manfaat yang bisa didapat, manfaat yang didapat ini tentunya juga akan berdampak bagi guru dan juga siswanya. “Banyak manfaat yang kita dapat dari PTK. PTK ini bisa menghasilkan sebuah artikel ilmiah dan juga modul pembelajaran. Artikel ilmiah ini bisa dikirim ke media bisa juga dijadikan sebuah buku untuk dana bisa mengajukan ke pemerintah. Namun, PTK ini juga perlu diimplementasikan agar nantinya PTK tersebut mengalami perkembangan, “ ujar Nawari lagi.

Sementara Untuk melakukan PTK ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dilakukan agar nantinya PTK ini memiliki nilai yang baik dan dapat diimplementasikan. “Ciri-ciri dari PTK ini ada tiga yaitu, dipicu dengan permasalahan praktis, bertujuan untuk memperbaikki pengajaran secara praktis, untuk melakukan itu semua kita bisa melakukan kolaborasi antar guru dan dengan peneliti. Untuk menemukan masalah dalam PTK ini sangat mudah yang terpenting tujuannya adalah untuk memperbaiki sistem pembelajaran, misalnya dengan melihat keaktifan, minat, dan perhatian siswa dalam mata pelajaran tertentu, “ jelas Dr. Akif Khilmiyah, M.Ag selaku pembicara.

Dr. Akif melanjutkan, bahwa dalam melakukan PTK ini tentunya perlu adanya pendampingan, agar dalam mengerjakan PTK ini bisa berjalan dengan lancar dan tidak tersendat. “Sebenarnya, jika Perguruan Tinggi saling berkolaborasi dengan Sekolah, banyak hal yang bisa dikembangkan. Jadi melakukan amal sholeh ini bisa kita lakukan dengan membuat penelitian, “ ungkapnya.

Dr. Akif dan Dr. Nawari berharap kegiatan ini bukan hanya berhenti sampai workshop saja, tetapi kegiatan ini bisa terus berlangsung sampai peserta bisa menemukan sebuah ide untuk diteliti. Kemudian ditulis dan hasil akhirnya bisa menghasilkan sebuah produk karya tulis ilmiah. Tentunya karya ilmiah ini juga bisa dipublikasikan baik itu dijadikan sebuah buku, dimasukan di jurnal, dan juga dikirim ke media. (ica)

Sumber : UMY.AC.ID