RS Universitas Muhammadiyah Malang Latih Perawat Tangani Sindrom Koroner Akut

PERHIMPUNAN Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Komisariat Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) mengadakan Seminar dan Workshop Keperawatan Sindrom Koroner Akut (SKA), Ahad (2/10) di Museum Tubuh Jawa Timur Park I, Malang.Kegiatan yang diikuti 70 tenaga keperawatan se-Jawa Timur ini untuk mengedukasi pentingnya kesehatan jantung sebagai alat kerja pernafasan manusia, khususnya terkait penanganan penyakit sindrom koroner akut.

Menurut dokter speasialis jantung RS UMM dr Andi Wahjono Adi SpJp, penyakit SKA merupakan salah satu penyakit pembuluh darah yang disebabkan penyumbatan dan pengurangan pasokan oksigen secara tiba-tiba. Solusinya, kata Andi, dengan memasukkan selang kateter ke dalam pembuluh darah untuk dipasangring/stent.

Andimenjelaskan, penyumbatan pembuluh darah ini dikarenakan beberapa hal, seperti merokok, hipertensi, atau keturunan keluarga. “Biasanya gejala awal yang sekaligus dapat menyebabkan kematian itu adalah angin duduk, dalam istilah masyarakat awam,” ujarnya. Solusi yang dilakukan bukan dikerok, lanjut Andi, tapi dilakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dengan memasukkan stent ke dalam tubuh tanpa pembedahan.

Materi lain yang disampaikan pada kegiatan ini yaitu tentang peran perawat dalam pelaksanaan door to balloon oleh ketua PPNI Komisariat RS UMM Teguh Santoso AMdKep. Teguh menjelaskan bagaimana seharusnya perawat berperan dalam operasi sehingga kesalahan dapat diminimalisir. Menurutnya, peran perawat sangat vital dalam tindakan PCI seperti mencegah dan mendeteksi dini potensial komplikasi, memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga serta rehabilitasi. “Riwayat pasien dan riwayat pembehan sebelumnya juga perlu diperhatikan oleh perawat sebelum tindakan PCI dilaksanakan,” ujar salah satu perawat Kateter Laboratorium tersebut.

Selepas seminar,peserta diajak mengunjungi museum jantung untuk menyaksikan secara langsung implementasi dari pemasangan kateter. Saat ini,di Malang pemasangan kateter hanya bisa dilakukan di dua RS, yaitu RSUD Saiful Anwar dan RS UMM

Menurut ketua pelaksana seminar Fandy Dharmawan SKep Ns, di Malang Raya hanya terdapat limaperawat yang khusus menguasai bidang Kateter Laboratorium. “Dua diantara limaperawat tersebut berada di RS UMM,” jelasnya.

Fandy berharap,dengan diselenggarakannya acara ini,para perawat memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang penanganan sindrom koroner akut.“Saat ini yang terserang penyakit jantung tidak hanya yang tua saja, namun yang masih muda pun sudah berpotensi terkena penyakit jantung,” pungkasnya.(jal/han)

Sumber : www.umm.ac.id

Roadshow AFI 2016, MAFI Fest Nominasi Apresiasi Festival Film Terbaik

SEBELUM nantinya acara puncak Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 digelar di kota Manado, Sulawesi Utara pada 8 Oktober 2016, AFI 2016 melakukan roadshow ke beberapa kota, yaitu Banjarmasin, Makassar, Padang, dan Malang. Di Malang, roadshow diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama dua hari, Jumat-Sabtu (30/9-1/10).

Dipilihnya UMM sebagai lokasi roadshow, menurut Kepala Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film)Kemendikbud RI Maman Wijaya,lantaran komunitas film di UMMgaungnya sudah terdengar ke seantero Nusantara. Terlebih dengan masuknya gelaran tahunan apresiasi film milik UMM, Malang Film Festival (MAFIFest) ke salah satu nominasi, yaitu apresiasi festival film.

Pada nominasi tersebut, MAFI Fest akan bersaing dengan empat festival lainnya, yaitu Denpasar Film Festival, Anti-Corruption Film Festival, Jogja-Netpac Asian Film Festival, dan Jakarta Documentary & Experimental Film Festival. Di antara kelima festival yang masuk nominasi, MAFI Fest merupakan satu-satunya festival film garapan mahasiswa, mengingat festival lainnya merupakan garapan sineas profesional.

“Ini merupakan awal kerjasama yang baik. Mudah-mudahan menghasilkan sesuatu yang lebih produktif di masa depan. Kami berharap dari Malang ini,terutama dari Malang Film Festival, akan lahir sineas-sineas unggul, yang bisa bicara di kancah nasional maupun internasional,” harap Maman.

Tahun depan, lanjut Maman, UMM dan Pusbang Film akan mengagendakan kerjasama yang lebih konkrit. “Pak menteri sangat concern, terutama dalam pengembangan film. Serta mendorong para komunitas perfilm untuk maju,” lanjut Maman.

Terkait rangkaian acara roadshow AFI 2016 di UMM, beberapa kegiatan yang digelar yaitu nonton bareng (nonbar) dan diskusi film Sepatu Dahlan bersama sang pemeran utama, Donny Damara pada Jumat (30/9) di UMM Dome, dilanjurkan nonbar film Princess, Bajak Laut dan Alien pada Sabtu (1/10) di alun-alun Kota Malang.

Film Sepatu Dahlan merupakan karya inspiratif garapan sutradara Benni Setiawan yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama mengangkat kisah sosok Dahlan Iskan. Setelah film selesai, para penonton yang mayoritas mahasiswa diajak berdiskusi terkait perkembangan perfilman tanah air.

Donny Damara yang sekaligus bertindak sebagai Ketua Panitia AFI 2016, sangat mengapresiasi kegiatan nonbar tersebut. Menurutnya, film yang baik adalah film yang tidak memiliki jarak dengan para penontonnya. Nonbar, baginya, adalah salah satu cara efektif untuk meniadakan jarak tersebut.

“Kegiatan pemutaran film seperti nonbar kali ini merupakan salah satu kesempatan langka untuk lebih mendekatkan jarak antara para sineas tanah air dengan para penikmat film. Dan seharusnya, kegiatan-kegiatan semacam ini lebih sering diadakan, sebagai wadah edukasi terhadap perfilman tanah air,ucap Donny saat ditemui di sela-sela pemutaran film.

Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyambut baik gelaran AFI 2016. “Roadshow AFI digelar di UMM, ini tidak lain dalam rangka memberikan penajaman cara berpikir kita, sehingga memperoleh sesuatu yang produktif dan edukatif. Ini bagus bagi sineas muda UMM,” kata Fauzan.(acs/han)

Sumber : www.umm.ac.id

Unggulkan Kurikulum dan Kerjasama Internasional, Prodi Biologi Pertahankan Akreditasi A

PROGRAM Studi (Prodi) Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mempertahankan akreditasi A. Sesuai surat ketetapan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) No 1699/SK/BANPT/Akred/S/VIII/2016, Prodi Biologi UMM menyandang akreditasi tertinggi itu hingga 2021.

Dengan begini, sudah dua kali berturut-turut Prodi Biologi UMM meraih akreditasi A, yang diawali pada 2011. Ketua Prodi Biologi UMM Dr Yuni Pantiwati MPd mengatakan, untuk akreditasi kali ini Biologi UMM memiliki keunggulan di bidang kurikulum. “Dalam bidang kurikulum kami mengikuti seluruh kurikulum yang diterbitkan oleh pemerintah serta melakukan implementasi kurikulum tersebut dengan baik,” ungkap Yuni.

Tidak hanya berfokus pada penerapan kurikulum, namun Biologi UMM juga terus menggenjot berbagai kerjasama dalam maupun luar negeri. Lebih lanjut, dikatakan Yuni, Biologi UMM saat ini sedang berupaya untuk meningkatkanprestasi melalui kerjasama internasional. “Kerjasama internasional ini sudah menjadi kewajiban bagi setiap Prodi untuk saat ini,” ujar dosen asal Jember tersebut.

Yuni mengaku mahasiswa dan dosen Biologi UMM beberapa kali sudah melakukan kunjungan ke tiga negara, yaitu Thailand, Malaysia, dan Singapurauntuk kepentingan benchmarking prodi. Bahkan, Biologi UMM memiliki Studi Lapang Terintegrasi (SLT). Studi ini mengajak mahasiswauntuk belajar lebih dan mencari pengalaman lebih di dunia internasional. Dosen Biologi UMM juga tengah mengembangkan penelitian hewan merayap dan tumbuhan merambat dengan salah satu perguruan tinggi di China, Guangxi University di Guilin.

Penelitian dosen, pengabdian masyarakat dan publikasi jurnal maupun oral menjadi pekerjaan rumah yang masih harus dievaluasi untuk akreditasi ke depannya. Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar,Prodi Biologi jugamenyediakan program pemagangan biologi dan nantinyasetiap mahasiswa direkomendasikan untuk magang di instansi-instansi. “Saat ini Prodi Biologi sedang  menyiapkan Memorandum of Understanding(MoU) serentak dengan semua instansi yang terkait untuk mempermudah mahasiswa dalam proses magang nanti,” jelas dosen FKIP UMM tersebut.(jal/han)

Sumber : www.umm.ac.id

UMM Diundang Perkenalkan Islam Indonesia di Taiwan

DIREKTUR Kamar Dagang Taiwan, Ismail Mae, mengundang secara khusus Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memperkenalkan Islam Indonesia kepada sejumlah lembaga pendidikan dan pemerintahan di Taiwan. MenurutIsmail,sebagai lembaga Islam terkemuka di Indonesia, UMM memiliki tradisi keilmuan yang kuat, juga nuansa keislaman yang kental.

Selain mengenalkan Islam Indonesia, UMM juga akan mempercepat kerjasama yang telah dimulai UMM sebelumnya dengan sejumlah perguruan tinggi di Taiwan. Salah satunya,pihak Taiwan akan menawarkan program magang di perusahaan Taiwan yang ada di Indonesia. “Pak Ismail Mae akan merekomendasikan perusahaan yang dituju. Pada saat yang bersamaan, mahasiswa kita juga dilibatkan disitu,” papar Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto.

Selain UMM, pimpinan perguruan tinggi yang turut diundang mengenalkan Islam di Taiwan yakni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Al-Azhar, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan UIN Medan.Tak kalah penting, tujuan berangkatnya limapimpinan universitas Islam ini juga bakal membantu memberdayakan serta membantu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. Salah satunya memperjuangkan hak libur hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha.

Saat kunjungan ke UMM, Rabu (28/9), Ismail Mae menyebut, di Taiwan setidaknya terdapat 300 ribu TKI yang tidak mendapat hak libur di duahari raya. “Di sini para rektor bisa berperan. Caranya sederhana, pimpinan perguruan tinggi yang nantinya berangkat mengusahakan, dalam kontrak TKI, dimasukannyaklausul yang bunyinya kurang lebih ‘dapat jatah libur duahari pada hari raya’. Jika berhasil, itu sudah luar biasa,” terangnya.

Rektor UMM Fauzan yang turut menjamu Ismail menyarankan untuk dibuat pusat studi Islam di sejumlah perguruan tinggi di Taiwan, dengan mengadopsi konsep American Corners dan China Corners seperti yang terdapat di UMM.

Menjelang akhir kunjungan, Ismail Mae menyempatkan diri mengunjungi American Corners dan China CornersUMM serta mahasiswa yang sedang menjalani kelas bahasa Mandarin di China Corners. Ismail juga sedikit berbasa-basi dengan sapaan “Apa Kabar” dalam bahasa Mandarin. (can/han)

Sumber : www.umm.ac.id

MoU dengan Youngsan University, Mahasiswa UMM Bisa Raih Gelar Ganda

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini memiliki banyak kesempatan untuk kuliah di kampus luar negeri melalui program kredit transfer. Terbaru, UMM baru saja menandatangani naskah kerjasama (MoU) dengan Youngsan University (YSU), Korea Selatan.

MoU dilakukan saat Rektor UMM Drs Fauzan MPd, Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi, dan Kepala Kantor Hubungan Luar Negeri Dr Abdul Haris MA mengunjungi YSU pada 17 hingga 23 September lalu. Menindaklanjuti MoU tersebut, perwakilan YSU, Prof Dr Je Dae Sik yang gantian mengunjungi UMM pada Selasa (27/9) lalu.

Abdul Haris menjelaskan, beberapa program telah disepakati antara UMM dan YSU, di antaranya yaitu program kredit transfer dan gelar ganda (double degree). “Kalau kredit transfer, mahasiswa UMM bisa menjalankan sisa SKS-nya di sana. Kalau double degree, mahasiswa yang sedang menempuh sarjana dapat kuliah dua tahun di UMM dan dua tahun sisanya di Youngsan,” jelas Haris.

Haris menambahkan, jika mahasiswa UMM melakukan program double degree, maka otomatis akan mendapat dua ijazah. Nantinya, untuk pengerjaan tugas akhir atau skripsi bisa dibimbing melalui sistem online. “Jika sudah selesai nanti yang bersangkutan akan mendapatkan ijazah dari UMM dan dari Universitas Youngsan.”

Tidak hanya mahasiswa yang sedang menempuh sarjana saja yang dapat belajar disana, namun alumni UMM juga dapat melanjutkan studinya di Youngsan dan mendapat perlakuan khusus. “Jika alumni UMM mendapat surat keterangan dari Rektor akan mendapatkan potongan biaya 50% di  Universitas Youngsan,” terangnya lebih lanjut.

Abdul Haris menyatakan, UMM sengaja mengambil kerjasama itu dalam rangka mencapai pengakuan internasional. “Kami menginginkan mahasiswa UMM bisa memiliki pengalaman internasional, karena pengalaman internasional itu dapat menjadi bekal bagi kedepannya,” ujar dosen Fakultas Agama Islam (FAI) tersebut.

Terlebih, kata Haris, YSU merupakan universitas yang berada di daerah industri. “Mahasiswa bisa dengan mudah mencari pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk biaya perkuliahannya,” jelasnya. Hingga saat ini, UMM telah banyak menjalin kerjasama dengan berbagai universitas internasional. Dengan banyaknya kerjasama ini, UMM berharap semua mahasiswa dapat terpacu keinginannya untuk memiliki pengalaman internasional.

Sementara itu perwakilan YSU Prof Dr Je Dae Sik menyatakan, rencana perkuliahan yang ditawarkan adalah mahasiswa harus menempuh 16 SKS dalam dua semester pertama dan juga harus memiliki kemahiran dalam bahasa Inggris paling tidak meiliki nilai TOEFL 530.

Tak hanya itu, Je Dae Sik menjelaskan, YSU akan memfasilitasi mahasiswa UMM yang akan melanjutkan studinya. “Studi yang bisa dilakukan S1 ataupun S2 dengan belajar di 40 Program Studi sarjana dan 5 fakultas untuk program pascasarjana,” ujarnya. (jal/han)

Sumber  : www.umm.ac.id

Lewat Program Tri-Cities, Siswa Singapura Belajar Bisnis di UMM

SEBANYAK 22 siswa Singapore Polytechnic (SP) Business School mengikuti program singkat pengembangan bisnis. Program tersebut merupakan follow up kerjasama yang dijalin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan SP-Business School. Mulai 24 September hingga 15 Oktober, para siswa ini mengerjakan proyek dari dua perusahaan multinasional,yaitu Johnson and Johnson dan Panasonic.  Mereka didampingi 8mahasiswa UMM.

Berbeda dengan program Learning Express (LEx) yang membuka kesempatan bagi siswa SP dan UMM untuk saling belajar mengeksplorasi kehidupan bermasyarakat, program Tri-Cities yang kali kedua diadakan di UMM ini lebih memfokuskan kegiatan siswanya untuk mengembangkan kapasitas keilmuan di bidang bisnis.

Selain menyelesaikan proyek, selama tigaminggu ke depan, ke-22 siswa ini akan mengikuti empatseminar seputar bisnis yaitu marketingcultural and regulatory issues,economic, dan supply chain management.  Bukan hanya itu, siswa juga diajak melakukan company visit, berkunjung ke sejumlah perusahaan farmasi dan elektronik yang berkedudukan di Malang dan daerah seputar wilayah Jawa Timur.

“Mereka akan mengerjakan proyek bisnis seperti surveiproduk ke apotik dan rumah warga, juga mendengarkan seminar-seminar dosen UMM terkait materi-materi bisnis. Termasuk marketing, pengembangan produk, dan materi seputar bisnis lainnya,” kata staf IRO UMM, Veri Kurnia Aditama.

Sementara itu, Senior Lecture SP-Business School Tan Li Chong yang turut mendampingi siswanya mengaku senang dengan atmosfer akademik di UMM. “Saya berharap program yang kedua ini dapat sukses seperti sebelumnya,” pungkas pria yang baru pertama kali berkunjung ke UMM ini. (can/han)

Sumber : www.umm.ac.id

Lagi, Kolaborasi Mahasiswa UMM-Singapura Tingkatkan Produksi Masyarakat Desa

SETELAH sukses pada lima angkatan sebelumnya, program Learning Express (LEx) kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) kembali dilakukan. Kolaborasi 24 mahasiswa UMM dan 24 mahasiswa SP ini akan mengerjakan proyek LEx selama dua pekan, yaitu sejak 26 September hingga 5 Oktober 2016.

Ke-48 mahasiswa lintas negera tersebut akan dibagi dalam tiga kelompok untuk melakukan tiga proyek berbeda, yaitu proyek manajemen sampah, mainan truckdan pembuatan panci atau oven. Lokasi pengabdian mereka dipusatkan di sejumlah desa di Kota Batu dan Kabupaten Malang.

Perwakilan Politeknik Singapura, Virendra Yadav mengatakan, LEx memang sengaja didesain agar dalam waktu singkat mahasiswa dapat belajar dari dunia nyata sekaligus memberi manfaat kongkrit bagi masyarakat setempat. Dengan cara itu, mahasiswa Singapura selain dapat terkoneksi dengan masyarakat setempat, juga sekaligus membuktikan rasa pedulinya dengan menciptakan teknologi baru yang bisa langsung dimanfaatkan untuk kepentingan produksi yang lebih efisien.

Virendra juga berpesan pada seluruh peserta LEx dari Singapura agar memanfaatkan kesempatan emas ini untuk berbagi ide, mencari pengalaman baru dan belajar lebih dari masyarakat Indonesia.“Nanti kalian akan menemukan perbedaan antara Singapura dan Indonesia. Jangan pernah membandingkan, tapi belajarlah,dan buatlah solusi agar kekurangan itu menjadi kelebihan,” paparnya saat Opening Ceremony LEx yang berlangsung di Auditorium UMM, Senin (26/9).

Sementara itu, koordinator LEx UMM Hari Obbie mengatakan, selepas opening ceremony, para mahasiswa Singapura ini terlebih dulu akan dikenalkan dengan budaya dan bahasa Indonesia, khususnya kultur dan pola hidup masyarakat yang dijadikan tempat pengabdian, yaitu di Kota Batu dan Kabupaten Malang.

Nantinya, lanjut Obbie, peserta LEx gabungan mahasiswa UMM dan SP ini akan melakukan riset terlebih dahulu untuk menganalisis kebutuhan dan cara bekerja masyarakat setempat. Setelah itu, peserta membuat teknologi yang memudahkan produksi masyarakat desa. “Di akhir proyek, akan ada presentasi dan pameran hasil pengabdian. Berdasarkan proyek-proyek sebelumnya, terlihat bahwa karya para peserta LEx sangat bermanfaat bagi produksi masyarakat setempat,” ujarnya.

Dalam sambutanopening ceremony, Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soepartomenyatakan, UMM saat ini tengah memaksimalkan kerjasama internasional guna meraih rekognisi internasional. “Menciptakan kesadaran internasional menjadi sebuah kebutuhan di zaman sekarang. LEx adalah salah satu program yang bisa mendorong kesadaran itu,” kata Soeparto.(ich/han)

Sumber : www.umm.ac.id

Festival Kedokteran Islami Angkat Isu Kesehatan Ibu dan Anak

FORUM Kajian Islam Ibnu Sina Medical Association (FK ISMA) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berada dibawah naungan Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) berkesempatan menjadi tuan rumah lomba dan seminar nasional Islamic Medical Science Festival (IMSF) ke-8, Jumat-Ahad (23-25/9)di Auditorium UMM.

Acara yang diikuti oleh berbagai universitas se-Indonesia ini diawali dengan penyaringan lomba yang dibagi dalam beberapa kategori. Diantaranya lomba karya tulis ilmiah, esai, tahfidzul-Quran, poster dan video. 50 finalis diundang untuk mempresentasikan karyanya di UMM. Seluruh perlombaan tersebut bertemakanmaternal and child health (kesehatan ibu dan anak).

Ketua Panitia IMSF Muchamad Fadil menyatakan,kesehatan ibu dan anak saat ini masih dalam tahap mengkhawatirkan menjadi salah satu alasan diangkatnya tema tersebut.

Mahasiswa FK UMM itu memaparkan adanya Millennium Development Goals (MDGs) merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kematian ibu dan anak. MDGs menargetkan pada 2015  mengurangi dua per  tiga rasio kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun serta mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan.  “Kami berharap dengan diadakannya perlombaan dan seminar nasional ini paling tidak bisa memberikan solusi untuk masyarakat sekitar atas permasalahan tersebut,” jelas mahasiswa semester 7 tersebut.

Tak hanya itu, tujuan lain diadakannya perlombaan ini, lanjut Fadil, untuk mengembalikan kejayaan islam dalam ilmu kedokteran Islam. “Sejatinya semua ilmu ada di Al-Quran, dan seluruh ilmu seharusnya mengacu pada Al-Quran,” jelas mahasiswa asal Malang tersebut.

Wakil Dekan IFK UMM, dr Mochammad Ma’roef SpOG berharap agar semua peserta lomba maupun seminar bisa menyebarluaskan ilmu yang di dapatkan di UMM. Dengan tema yang diangkat tersebut, seluruh peserta maupun panitia berniat membahagiakan orang tuanya. “Sehabis dari sini, kalian harus berjanji akan membahagiakan orang tua kalian dengan belajar dan lulus tepat waktu,” jelas dokter ahli genokologi tersebut.

Ada empatpakar yang menjadi pemateri pada seminar yang menjadi puncak IMSF 8. Mengangkat tema “Motherhood: Let’s Become a Good Parent to Create an Extraordinary Generation”, keempat pakar menyedot antusias para peserta. Adalah dr I Wayan Agung Indrawan Sp OG(K) yang mengupas tentang kehamilan, Dr dr Wisnu Barlianto MSi Med SpA(K) yang membeberkan imunisasi, pakar parenting nasional Ustadz Fauzil Adhim, serta Amelia Aziz  CHt CPC Mpsi, psikolog yang juga pengurus Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Malang yang membahas tuntas kengerian anak di zaman serba digital ini.

Wayan menjelaskan, faktor penting dari sebuah kehamilan adalah kehamilan yang diinginkan. Menurutnya, kehamilan yang tak diinginkan akan mempengaruhi perlakuan orangtua dan anak sepanjang hidupnya.

“Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami ibu hamil akan sangat berpengaruh terhadap outcome janin,” jelas Wayan.

Hal ini selaras dengan yang disampaikan Amelia Aziz. “Kekerasan pada anak yang banyak terjadi saat ini,” katanya, “berangkat dari latar belakang kesiapan orangtua untuk menjadi orang tua,” lanjutnya.

Amelia menekankan, motherhood adalah spirit keibuan, tetapi pelakunya bisa siapa saja, tak melulu ibu. Bagi seorang anak yang tinggal dengan nenek misalnya, bisa jadi motherhood datang bukan dari ibu, tapi nenek. Amelia menguraikannya melalui kasus kekerasan Angelina yang sempat mendominasi media beberapa waktu silam.

“Semua orang mengatakan bahwa pembunuh Angelina adalah ibu tirinya. Tapi, sebenarnya ada yang ‘membunuh’ sebelum ibu tirinya. Siapa? Ibu kandungnya sendiri. Mengapa? Karena ibu kandung Angelina menitipkan anaknya pada orang yang tak dikenal. Analoginya, anak dibiarkan di hutan belantara, jangan salahkan kalau ada harimau ganas di dalamnya,” bebernya.

Ia menegaskan, yang paling dibutuhkan anak adalah kasih sayang dan pengawalan orang tua. Oleh karenanya, Amelia meminta pada semua peserta yang hadir yang notabene adalah para calon orang tua untuk mengutamakan kelayakan kasih sayang yang diberikan pada anak.

“Orang tua sekarang, jika merasa perilaku anaknya bermasalah, kerap menjadikan pondok pesantren sebagai salah satu jalan keluar yang paling top. Padahal, orangtua lah yang paling berperan dalam pembentukan segala sesuatu sang anak.”

Berkaca dari kekerasan seksual yang kerap mewarnai berita akhir-akhir ini, Amelia menekankan bahwa sumber utama mental anak yang kuat berasal dari orang tuanya.

“Anak yang mentalnya kuat lahir dari orang tua yang mentalnya kuat. Penuhi hak kasih sayang anak, agar anak tak mencari kasih sayang dari luar. Tak terjadi pacaran di usia anak SD, apalagi sampai terjadi kekerasan seksual. Ini tak hanya tugas saya sebagai psikolog, tapi tugas saya dan Anda semua sebagai mahasiswa,” pungkasnya. (ich/jal/han)

Sumber : www.umm.ac.id

PUSAM UMM Cetak Aktivis HAM dan Perdamaian

RANGKAIAN kegiatan MasterLevel Course (MLC) Hak Asasi Manusia (HAM) dan Syariah yang digelar Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas  Muhammadiyah Malang (UMM) memasuki fase ketiga, yaitu presentasi riset. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini (22-23/9) merupakan kelanjutan dari kursus yang diberikan pada 24 peneliti muda terseleksi pada 30 Mei-3 Juni lalu.

Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menjelaskan, MLC merupakan program studi jangka pendek setingkat master yang fokus pada isu-isu kekinian seputar HAM dan syariah. Mulai dilaksanakan sejak 2011, hingga saat ini program MLC telah memasuki angkatan keenam. Rangkaian MLC terdiri dari kursus selama sepekan, lalu penelitian terkait isu HAM dan syariah selama tiga bulan, yang selanjutnya hasil riset itu dipresentasikan para peneliti muda tersebut.

Program ini merupakan hasil kerjasama Pascasarjana UMM dengan Oslo Coalition, sebuah organisasi yang bergerak di bidang HAM dan kebebasan beragama di bawah naungan Fakultas Hukum University of Oslo Norwegia, dan International Center for Law and Religion Studies, Bringham Young University Amerika Serikat.Tahun ini, MLC mengakat tema Sharia and Human Right, Background and Core Issues in Contemporary Indonesia.

Ada tiga pakar yang bertindak sebagai penilai pada presentasi kali ini, yakni Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin, Program Officer Islam and Development The Asia Foundation Dr Budhy Munawar-Rahman, serta Dosen Fakultas Hukum UMM Cekli Setya Pratiwi SH LLM.Peneliti muda terbaik selanjutnya akan dikirim ke Norwegia untuk mengikuti kursus tingkat advanced.

Staf PUSAM UMM, Hasyim Musthofa menegaskan, MLC diikuti oleh peserta yang merupakan hasil seleksi yang ketat.“Alhamdulillah, tiap tahun antusiasmepeserta meningkat. Tahun ini, ada lebih dari 40 pendaftar. Mereka harus mengikuti seleksi administrasi terlebih dahulu, serta membuat motivation letter,” jelas Hasyim.

Tak hanya itu, ide tentang penelitian apa yang akan digarap di fase kedua sudah harus dibeberkan di awal bersamaan dengan pengumpulan berkas administrasi. Hingga memasuki fase ketiga, tersisa 24 peserta yang tuntas mengirim artikelhasil ringkasaan riset, dan 20 di antaranya hadir untuk melakukan presentasi.

Hasyimmengatakan, MLC bertujuan untuk membumikan dan menyosialisasikan pada masyarakat bahwa antara syariah dan HAM adalah satu kesatuan yang saling berkaitan. Para jebolan MLC kini sudah berkiprah di berbagai lini. Ada yang menjadi tim mediasi konflik untuk kasus multikulturalisme, aktivis perdamaian, penyuluh isu-isu keberagamaan, peneliti, maupun pendidik. Hasyim berharap, MLC mampu menjadi salah satu muatan untuk mendorong program internasionalisasi UMM melalui pengembangan relasi lintas negara dengan berbagai kalangan akademisi,baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

Presentasi penelitian MLC yang dihelat di Aula Ki Hajar Dewantara Hotel UMM Inn ini diikuti 20 peserta yang merupakan mahasiswa Master dan Doktor dari berbagai kampus di Indonesia dan mancanegara. Kampus tersebut antara lain Central European UniversityHungaria, Universiti Kebangsaan Malaysia, Universitas Sultan Zainal Abidin Malaysia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Sebelas Maret (UNS)Surakarta, Universitas Islam Negeri (UIN)Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Alauddin Makassar, UIN Maliki Malang, IAIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH)Banten, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, Universitas Brawijaya, serta tuan rumah UMM. (ich/han)

 Sumber : www.umm.ac.id

UMM Dorong Mitigasi Pemanasan Global

SALAH satu aksi nyata yang dilakukan UniversitasMuhammadiyah Malang (UMM) untukmengurangi dampak pemanasan global telah dicanangkan lewat program Green and Clean sejak 2013. Program ini diupayakan untuk membangun kesadaran mahasiswa dan civitas akademika bahwa lingkungan yang hijau dan bersih merupakan kebutuhan hidup sehari-hari.

Untuk mendukung hal ini, Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM membuat beberapa terobosan. Kepala PSLK UMM Husamah mengatakan, selain kebijakan UMM tentang penggunaan sepeda di lingkungan kampus dan adanya kawasan konservasi Arboretum, PSLK saat ini tengah menggalakkan penanaman tumbuhan, dan reduksi sampah.

Untuk kebijakan soal sepeda, kata Husamah, memang bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor di kawasan kampus, baik oleh dosen maupun mahasiswa, serta mendorong kebiasaan jalan kaki.

“Harapannya, mampu mengurangi emisi gas karbondioksida dan karbonmonoksida yang dihasilkan kendaraan. Hal ini karena kedua gas tersebut merupakan penyumbang global warming dan perubahan iklim.”

Sedangkan tumbuhan, lanjut Husamah, selain menyerap karbondioksida, juga menghasilkan oksigen. Tumbuhan, berdasarkan perhitungan terbaru, mampu menyerap karbondioksida 123 ton per tahunnya di kawasan Kampus III UMM. Penggunaan kertas yang proporsional juga menjadi perhatian bagi UMM.  Salah satunya melalui penggunaan kertas seperlunya. Bila tidak perlu menggunakan kertas, informasi yang akan disebarluaskan bisa disiasati melalui media sosial, penggunaan kertas secara bolak-balik, atau kertas bekas yang disulap jadi amplop.

Sementara itu, arboretum merupakan kawasan di mana berbagai macam pohon ditanam untuk tujuan penelitian dan pendidikan. Di UMM, arboretum sedang difokuskan untuk penanaman tanaman langka. Saat ini, PSLK masuk pada tahap penambahan jumlah tumbuhan, termasuk tumbuhan langka. Kurang lebih ada 200 spesies tumbuhan langka yang memiliki fungsinya masing-masing. Selain menyerap polusi, juga berbuah enak. Misalnya buah jambu darsono.

“Harapannya, arboretum akan menjadi laboratorium,  selain untuk mencegah pemanasan global, juga untuk menambah angka tumbuhan langka. Tujuannya saat wisata kampus, kunjungan dari sekolah lain, wisata lain, atau daerah lain, arboretum bisa menjadi media edukasi,” urai Husamah.

Ada yang unik dan menarik dari pengembangan arboretum ini. Tahun ini, PSLK bekerjasama dengan dosen dan mahasiswa teknik tengah menciptakan QR code yang akan dipasang pada tiap-tiap tanaman. QR code ini akan dicetak pada sebuah papan dan dipasang pada pohon menggunakan kawat yang dipasang melingkari pohon.

“Jadi tak ada lagi nama pohon yang dipasang dengan paku. Paku sejatinya akan merusak pohon,” lanjut Husamah.

Terobosan QR code ini akan sangat berguna nantinya. Karena, ketika discan, akan muncul informasi akurat meliputi nama pohon, fungsi, dan deskripsi pohon tersebut. Hal ini akan memudahkan pengunjung untuk mengetahui informasi terkait semua tanaman yang ada di arboretum. Husamah menekankan, sebagai kampus berbasis teknologi, UMM harus bisa jadi pelopor. Ia mengatakan persiapan untuk ini tidak lama, hanya satu bulan, lalu mulai dikerjakan.

Keempat program yang sedang dalam proses realisasi ini, kata Husamah, terbukti mampu meningkatkan kepekaan mahasiswa UMM terhadap kesadaran membuang sampah dan menjaga lingkungan UMM. Tak hanya itu, dalam waktu dekat, PSLK bekerjasama dengan Program Penelitian dan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (P3EBT) UMM sedang bersiap untuk menggarap sampah di Tempat Pembuangan Akhir Supit Urang kota Malang untuk mengelola sampah menjadi  pupuk, energi, atau bentuk bahan bakar. (ich/han)

 

Sumber : www.umm.ac.id