UM Yogyakarta Wisuda 1.316 Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mengadakan wisuda Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana periode I di Sportorium Kampus Terpadu UMY, Sabtu (22/10). Pada periode pertama ini,  UMY meluluskan mahasiswanya sebanyak total 1.316 Wisudawan/Wisudawati yang terdiri dari Program Vokasi sebanyak 39 Wisudawan/Wisudawati, Program Sarjana sebanyak 1.198 wisudawan dan Program Pascasarjana sebanyak 79 Wisudawan/Wisudawati.

Wisudawan terbaik untuk jenjang S1 kali ini diraih oleh Hanif Nafiah, S.P dari program studi Agribisnis  dengan IPK 3,97. Sedangkan untuk jenjang S2, wisudawan terbaik diraih olehMaria Putri Sari Utami, M.Kep dari program studi Magister Keperawatan dengan IPK 3,96. Pada pelaksanaan wisuda kali ini terbagi menjadi dua waktu yaitu pagi dan siang untuk mengantisipasi massa yang menumpuk di Sportorium.

Rektor UMY, Prof. Bambang Cipto MA dalam sambutannya menyatakan kebanggaannya terhadap mahasiswa UMY. Beliau berpesan kepada para mahasiswa untuk bersiap menghadapi dunia yang sesungguhnya. “Saya sangat senang melihat mahasiswa yang kurang lebih empat tahun menempuh di UMY ini. Hari ini UMY akan segera ditinggalkan oleh kalian, Kami berharap pembelajaran yang telah didapat, khususnya Al-Islam dan Kemuhammadiyahan harus tetap diterapkan dan diamalkan karena menjadi modal dalam menghadapi tantangan yang lebih besar yang menanti didepan,” ungkapnya.

Beliau juga berpesan dua hal kepada lulusan UMY agar bersemangat dalam menciptakan inovasi. “Jadilah insan yang inovatif yang senantiasa menciptakan hal-hal baru. Dan juga jadilah orang yang mempunyai jiwa entrepeneurship. Dua hal tersebut,dapat membuat kita bisa mandiri. Kita harus menjaga semangat itu karena dapat memberi kemudahan pada orang lain,” tuturnya.

Sementara itu Asep Suryana, S.IP, dalam sambutannya mewakili wisudawan priode kali ini, menyatakan rasa bangganya dengan UMY. “Menempuh pendidikan di UMY merupakan suatu kebanggaan karena UMY termasuk salah satu perguruan tinggi yang terkreditasi A di Indonesia. Selain itu,UMY juga memgang teguh nilai-nilai islami dan pengembangan ilmu pengeahuan,”ujar Finalis Mahasiswa Berprestasi Nasional 2016 ini.

Ia juga menyerukan kepada wiisudawan/wisudawati lainnya untuk melanjutkan perjuangan masing-masing . “Untuk teman-teman wisudawan/wisudawati, perjuangan kita masih panjang dan tidak berakhir di wisuda kali ini. Hari ini justru merupakan awal perjuangan yang sesungguhnya. Semoga kita bertemu lagi saat sukses nanti,” harapnya.

Sumber : www.umy.ac.id

Calon Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Telah Terpilih

Anggota Senat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (20/10) telah memilih Bakal Calon Rektor UMY untuk periode 2016 – 2020. Bertempat di Ruang Sidang Komisi Gedung AR Fachruddin A Lantai 5 Kampus Terpadu UMY, sebanyak 52 orang anggota senat menghadiri “Rapat Senat UMY Pemilihan Calon Rektor Defenitif” yang dipimpin langsung oleh Ketua Senat UMY, Prof. dr. H. Moh. Anwar, M.Med., Sc., Sp.OG (K).

Dari empat nama yang terjaring, terpilih calon rektor definitif yakni nama Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., dan Dr. Mukti Fajar, ND., M.Hum. Para calon rektor tersebut dipilih oleh 52 anggota senat UMY, yang tiap individu diberikan hak untuk memilih tiga dari total empat calon rektor UMY. Hasil pemilihan rektor tersebut kemudian akan disampaikan ke Majelis Pendidikan Tinggi, Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk kemudian dipilih sosok yang akan memimpin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta selama 4 tahun mendatang.

Sebelum pemilihan, setiap para calon rektor menyampaikan program-program yang akan mereka lakukan ketika terpilih menjadi rektor. Keempat calon semuanya memiliki program yang hampir sama, berkaitan dengan peningkatan standar UMY sebagai World Class University. Salah satu program yang sama tersebut adalah peningkatan mutu pendidikan dan kualitas dosen UMY.

Prof. Bambang Cipto menyampaikan beberapa strategi kedepan antara lain pembaharuan tata organisasi, fokus pengembangan SDM, meningkatkan kerjasama internasional, meningkatkan kemampuan dosen, meningkatkan jumlah profesional, dan meningkatkan kajian Al Islam dan Kemuhammadiyahan. “Selain itu sudah saatnya bagi UMY untuk meningkatkan enterpreneur mahasiswa. Karena universitas standar QS seperti Stanford dan National University of Singapore (NUS) yang memiliki ranking tinggi, memiliki kualitas mahasiswa yang bagus dalam bidang enterpreneurship,” jelas Bambang.

Dr. Achmad Nurmandi ingin meningkatkan perolehan ranking UMY di kancah Internasional dengan meningkatkan mutu SDM di UMY, ” Kinerja setiap prodi atau fakultas meningkat, ditunjukkan dengan akreditasi tiap fakultas banyak yang naik. Berarti meski fakultas meningkat, secara keseluruhan di tingkat universitas menurun. Oleh karenanya harus meningkatkan Sumber Daya Manusia salah satunya para Doktor di UMY harus menjadi motor perubahan yang tidak hanya memikirkan prodi tetapi juga universitas secara menyeluruh.”

Dr. Gunawan Budiyanto menyampaikan beberapa programnya salah satunya adalah percepatan strategi peningkatan skor AIPT-2017 agar UMY tetap berpredikat A dan percepatan peningkatan jumlah lektor kepala dan guru besar. “Program selanjutnya yaitu percepatan pencapaian jumlah doktor di UMY, dimana 30% dari semua dosen harus bisa bergelar doktor. Juga peningkatan fasilitas pembelajaran terutama seperti laboratorium eksak maupun sosial,” ujar Gunawan.

Sedangkan Dr. Mukti Fajar, dalam bidang akademik ia mentargetkan setiap dosen memiliki minimal satu publikasi per tahunnya. “Dalam bidang SDM, semua dosen nanti harus ada peningkatan. Program profesorisasi harus dikelola sebagai sebuah sistem dan bukan dilakukan oleh pribadi masing-masing saja. Dan jika UMY mentargetkan 4 tahun lagi ingin menjadi Perguruan Tinggi level Asia, maka harus ada percepatan kerja,” ujar Mukti.

Sumber  : www.umy.ac.id

Workshop Pelatihan Asesor Batch 4 Yogyakarta

Peltihan asesor kerjasama antara Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia yang ke empat di lakukan di Hotel Arjuna Jl. P. Mangkubumi No. 44 Yogyakarta Indonesia 5523 selama lima hari, tangal 18-22 november2016. Peserta dihadiri sebanyak 25 peserta dari berbagai PTM/A se Indonesia.

Acara di buka langsung oleh direktur Kerjasama & pemberdayaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia  Bapak Ir.R.M.Dudi Suryo L,MM. Turut hadir perwakilan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Bapak Dr.Muh Samsudin,S.Ag.,M.Ed dan perwakilan dari Balai Diklat Surabaya.

Pekan Budaya Masuk Kampus sebagai Wujud dari Konsep Budaya 3K

Pekan Budaya Masuk Kampus (PBMK) yang akan digelar mulai Selasa (11/10) hingga Jum’at (14/10) resmi dibuka pada Selasa malam (11/10) di pelataran Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. PBMK sendiri dinilai sebagai oportuniti bagus untuk melestarikan budaya di Yogyakarta, sebagai wujud dari konsep budaya 3K.

Pemaparan tersebut yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pemda DIY, Umar Priyono saat membuka PBMK. Konsep budaya 3K sendiri merupakan Kraton, Kampung dan Kampus, dimana kebudayaan yang ada di Yogyakarta harus mampu meliputi ketiga aspek tersebut. Dengan begitu, kebudayaan di Yogyakarta diupayakan dapat memberikan elemen ke seluruh lapisan masyarakat Yogyakarta.

Umar melihat potensi budaya di DIY sangat luar biasa. “Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya komunitas-komunitas budaya yang dibentuk oleh masyarakat. Seperti contohnya Ikatan Mahasiswa yang ada di DIY yang membentuk kegiatan bernama Selendang Sutra,” jelas Umar.

Kepala Dinas Kebudayaan Pemda DIY tersebut juga berharap besar pada peran kampus dalam melestarikan budaya di Yogyakarta. “Kampus sebagai sebuah institusi selalu dinilai sebagai agent of change. Selain sebagai agent of change, maka harusnya kampus juga dapat menjadi agent of culture,” harap Umar.

Selain itu Umar juga berharap Yogyakarta harus selalu pro-culture. Karena dengan meningkatkan kegiatan kebudayaan, juga akan berimbas pada peningkatan pariwisata di Yogyakarta yang lebih baik.

Senada dengan Umar, Rektor UMY, Prof. Bambang Cipto, M.A. menyampaikan bahwa PBMK dapat mempengaruhi citra kota Yogyakarta. “Kebudayaan merupakan sesuatu yang sangat lembut dan tidak kelihatan, tetapi kita butuhkan. Mudah-mudahan dengan adanya PBMK ini, kita bisa menjadikan kota ini tidak hanya sebagai kota pelajar saja, namun juga bisa menjadi kota budaya yang inovatif dan kreatif dengan seni,” ungkap Bambang.

Bambang menambahkan agar merambahnya budaya tidak hanya di Kota Jogja saja, tetapi juga dapat menyebar ke kota lain di DI Yogyakarta seperti Bantul, Sleman dan lainnya. Dan dengan diselenggarakannya PBMK di UMY, Bambang berharap akan memberikan manfaat bagi mahasiswa UMY.

“Dengan adanya kegiatan Pekan Budaya Masuk Kampus, mahasiswa jadi dapat melihat langsung pelaku seni, dan menyaksikan budaya adi luhung yang tampil modern dan mengesankan. Karena yang ditampilkan juga bukan hanya budaya lokal saja, namun juga ada budaya asing, dan empat hari ke depan juga masih banyak kejutan-kejutan penampilan lainnya,” ujar Bambang.

PBMK yang digelar di UMY selama empat hari ini juga terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Selain itu, kegiatan kebudayaan yang akan digelar dalam acara PBMK ini seperti Festival Dolanan Anak, Lomba Kethoprak Ringkes Anak-anak se-DIY, Panggung Gamelan Anak, Pentas Seni-Budaya Nusantara, Tarian Nusantara, Musik Etnik Nusantara, Workshop, Pentas Seni Lintas Agama dan Keyakinan, serta One Night Jazz.

Sumber : www.umy.ac.id

LTC Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Hadirkan Kelas Italia Gratis Bagi Mahasiswa UMY

Language Training Centre (LTC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam kurun waktu satu tahun mendatang, menghadirkan kelas Bahasa Italia secara gratis. Kelas yang dikhususkan bagi mahasiswa maupun mahasiswi UMY tersebut akan dibimbing langsung oleh warga kebangsaan Italia, Daniele Santucci. Selain kelas Bahasa, LTC turut menghadirkan kursus memasak makanan Italia yang langsung dibimbing oleh Daniele. Dengan adanya kelas gratis tersebut, sebagai bentuk pengenalan Bahasa dan budaya italia, sehingga para mahasiswa lebih terbuka wawasannya dan bisa lebih berpikir secara fleksibel.

Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh Noor Qomaria Agustina, S.Pd., M.Hum saat memberikan sambutan pada acara presentasi kelas Bahasa dan budaya Italia, Selasa (11/10) di Mini Teater LTC, Gedung D lantai 4 UMY. “Untuk pengenalan Bahasa dan budaya Italia, kami mencoba mencari peluang dengan menghadirkan warga asli Italia untuk mengajar di LTC. Dan ini menjadi kesempatan bagi para mahasiswa dan mahasiswi UMY untuk terus belajar bahasa asing. Biasanya untuk mencari beasiswa maupun peluang kerja, banyak yang tertuju kepada negara-negara yang tidak asing lagi, seperti Amerika. Padahal Negara Italia memiliki banyak peluang dan beasiswa untuk kuliah lanjutan,” paparnya.

Kepala LTC UMY yang biasa disapa Ari tersebut mengatakan lebih lanjut bahwa kelas gratis tersebut akan rutin diadakan selama 2 kali sepekan, dengan durasi setiap pertemuan 90 menit. Meskipun tidak dipungut biaya, sebagai bentuk komitmen pihak LTC yang bekerjasama dengan SAC (Self Access Center) tersebut, peserta diharuskan membayar uang muka yang telah ditentukan. “Program ini memang gratis, hanya saja sebagai bentuk komitmen dalam kursus ini peserta membayar deposit dengan nominal yang telah ditentukan. Setelah program selesai, deposit tersebut akan dikembalikan kepada peserta,” jelas Ari.

Sementara itu, Daniele Santucci selaku pembicara inti dalam acara tersebut mengatakan bahwa Bahasa Italia merupakan bahasa yang telah bersertifikat C.I.L.S (Certuficatione di Italiano Come Lingua Straniera) yang diakui di seluruh dunia oleh berbagai lembaga pendidikan dan perusahaan. “Italia telah memiliki C.I.L.S sebagai standar untuk menunjukkan tingkat kemampuan Bahasa Italia sebagai bahasa asing yang diakui dunia. Sertifikat ini ditujukan bagi siapapun yang mau belajar, bekerja, maupun sebagai bukti keahlian berbahasa Italia, serta sebagai bukti bagi siapapun yang akan melanjutkan studi di salah satu universitas di Italia,” ujarnya.

Daniele menambahkan, dalam kompetensi Bahasa Italia bagi yang ingin melanjutkan studi maupun mencari peluang kerja, Daniele menyebutkan bahwa terdapat enam level dalam uji kompetensi. Keenam level tersebut yaitu CILS A1, CILS A2, CILS UNO-B1, CILS DUE-B2, CILS TRE-C1, CILS QUATTRO-C2. “Dalam tingkatan level bagi yang ingin bekerja ke Italia, harus memenuhi kompetensi level A2. Sedangkan bagi yang ingin melanjutkan studi ke salah satu universitas di Italia, harus memenuhi kompetensi level B2,” tambahnya.

Sumber : www.umy.ac.id

Industri Rumah Tangga Beri Ketahanan Krisis Ekonomi

Saat krisis ekonomi yang melanda dunia tahun 1997 lalu, sebagian besar kelompok industri rumah tangga mampu bertahan, sementara industri menengah dan besar justru banyak yang gulung tikar. Hal ini karena keberlangsungan hidup keluarga pelaku industri ini sebagian besar tergantung dari usaha yang dikelola tersebut. Pernyataan ini merupakan paparan dari dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Triwara Buddhi Satyarini. MP saat memberikan penjelasan dalam diskusi publik, Sabtu (8/10) di AR Fachruddin A lantai 5 UMY.

Dalam pemaparannya, Dr. Triwara menyampaikan bahwa kelompok industri rumah tangga bisa menjadi salah satu solusi dalam menghadapi krisis ekonomi. Selain itu, industri yang mampu bertahan ketika terjadi krisis ekonomi yaitu industri pengolahan. Pada kelompok industri ini mereka mengandalkan hasil pertanian sebagai bahan baku produk, baik yang harus diimpor maupun berupa hasil pertanian lokal. “Pada dasarnya dalam industri pengolahan ini, para pelaku industri melakukan kegiatan dengan mengubah suatu bahan dasar secara mekanis, kimia, maupun dengan tangan langsung sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi. Dengan ini maka barang yang diolah tersebut dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya,” paparnya.

Di sisi lain, Dr. Triwara melanjutkan, meskipun industri rumah tangga mampu bertahan di saat terjadinya krisis ekonomi, namun rata-rata industri rumah tangga tidak bisa mengelola usahanya dengan baik. “Mengelola usaha merupakan salah satu pengetahuan umum yang harus dikuasai oleh seorang pelaku usaha. Manajemen yang baik adalah kunci kesuksesan. Dalam hal ini yang bertindak sebagai manajer harus mampu merencanakan pekerjaannya, mengatur pegawainya dan sumber daya lainnya untuk mendukung pekerjaan, mengarahkan pegawai, dan mengendalikan serta mengevaluasi pekerjaan. Selain itu juga pelaku industri tersebut harus diberi pendampingan,”ujarnya.

Sementara itu Dr. Ir. Gatot Supangkat. MP salah satu pembicara pada diskusi publik tersebut mengatakan bahwa industri rumah tangga yang mengandalkan hasil pertanian, pemerintah perlu memberikan dukungan dalam regenerasi petani. Jika program ini berhasil, maka akan menanggulangi kemiskinan pertanian. “Upaya untuk mencapai kecukupan pangan dan bahkan swasembada pangan telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya pembuatan varietas padi unggul baru. Namun kenyataan di lapangan, jumlah varietas yang berkembang di petani tidak banyak. Penyebab minimnya jumlah varietas padi yang berkembang di lapangan antara lain faktor geofisik, teknologi, budaya petani, dan kebijakan,” jelas dosen agroteknologi UMY tersebut.

Dalam hal tersebut, Dr. Gatot mengatakan bahwa untuk menjaga keberlanjutan varietas atau usaha tani, maka diperlukan kebijakan kemandirian petani melalui penyediaan benih, pembuatan varietas baru dan penyediaan pupuk organik sendiri. “Untuk membangun kemandirian petani, fasilitas pemerintah harus diarahkan sepenuhnya langsung kepada petani, bukan kepada perusahaan negara. Permasalahan utama keberlanjutan usaha tani yakni ketersediaan benih. Oleh karena itu, maka sebaiknya perlu ditumbuhkan kemandirian petani dalam pengembangan perbenihan dan pembuatan varietas baru tanaman,” tutupnya.

Sumber : www.umy.ac.id

Migas Harus Dikuasai Negara Untuk Sejahterakan Rakyat

Migas (minyak dan gas) merupakan Sumber Daya Alam strategis dan merupakan komoditas vital yang menguasai hidup orang banyak. Sektor migas juga mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional, sehingga sektor tersebut harus dikuasai oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Sulistiowati, Dosen Hukum UGM, dalam Focus Group Discussion (FGD) Menemukan Desain Konstitusional Tata Kelola Migas, di Ruang Sidang Hukum gedung E lantai 3, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu (8/10). Agenda FGD tersebut merupakan kerjasama Fakultas Hukum UMY, Pusat Studi Hukum dan Kesejahteraan Masyarakat UMY, dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Dalam pemaparannya Sulis juga menyampaikan bahwa industri sektor migas sangatlah vital sehingga pengelolaan terhadapnya pun harus maksimal. “Karena industri ini sangat vital, maka harapannya pengembangan industri bisa untuk pembangunan nasional. Oleh karena itu pengelolaannya oleh pemerintah harus maksimal,” jelas Sulis.

Dalam penjelasannya, Sulis juga menerangkan dua fase tahapan pengelolaan migas, yakni fase upstream (hulu) dan fase downstream (hilir). “Tahap upstream merupakan tahap eksplorasi, dan menggali. Mencari dimana lokasi-lokasi yang terdapat minyaknya. Kalau ada minyaknya, baru dilifting atau diangkat. Setelah itu delivery, diangkut dengan shipping dengan kapal,” jelas Sulis.

Proses pengangkatan minyak yang pertama kali, disebut Sulis sebagai First Step Petrolium. “First Step Petrolium itu yang harus digunakan untuk konsumsi domestik. Istilahnya Domestic Market Obligation (DMO), atau kewajiban untuk mensupply pasar-pasar domestik. Baru kalau sudah memenuhi kebutuhan domestik dan ada sisa, itu akan di ekspor,” jelas Sulis.

Dalam putusan MK No.36/PUU-X/2012 dijelaskan bahwa penguasaan migas dimaknai dalam lima hal. Pertama mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan dan tindakan pengurusan, pengaturan, pengelolaan, dan pengawasan untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kedua fungsi pengaturan oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan legislasi oleh DPR bersama Pemeritnah dan regulasi oleh Pemerintah. Ketiga, fungsi pengurusan (bestuursdaad) oleh Negara dilakukan oleh Pemerintah dengan kewenangannya untuk mengeluarkan dan mencabut fasilitas perijinan (vergunning), lisensi (licentie), dan konsesi (consessie).

“Sedangkan makna keempat adalah fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme pemilikan saham (share-holding) dan/atau sebagai instrumen kelembagaan yang melaluinya negara, lebih spesifik lagi pemerintah, mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber kekayaan. Kelima, fungsi pengawasan oleh negara dilakukan oleh negara, atau pemerintah, dalam rangka mengawasi dan mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas sumber-sumber kekayaan dimaksud benar-benar dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat,” tutup Sulis.

Ketua pusat studi hukum dan kesejahteraan masyarakat, Fakultas Hukum UMY, Dr. Mukti Fajar Nur Dewata, SH., M.Hum., menjelaskan tujuan dari diadakannya FGD tersebut oleh Pusat Studi Hukum dan Kesejahteraan Masyarakat FH UMY.

“Diskusi ini diadakan berdasarkan pada fakta-fakta normatif dimana semua bangsa membangun negara untuk menciptakan kesejahteraan. Maka siapa yang bertanggung jawab? Ekonomi, politik, atau hukum? Dari Hipotesis ini kami adakan FGD ini untuk mengkritisi dan menganalisis regulasi apakah punya dampak pada kesejahteraan sosial,” jelas Mukti.

Sumber : www.umy.ac.id

Public Relations Harus Punya Etika dan Moral Tinggi

Profesi Public Relations (PR) sejatinya menuntut seseorang untuk memiliki etika dan moral yang tinggi dalam menjalankan pekerjaannya. Seorang PR harus bisa memegang etika yang diset dengan tinggi. Karena itulah, seorang PR tersebut harus bisa memisahkan hobi dengan strategi dalam pekerjaan.

Hal tersebut diungkapan Muchamad Husni, salah seorang Praktisi Public Relations PT. Astra Argo Lestari yang hadir dalam Sharing Class : Public Relations and Ethics bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, Jum’at (7/10) di Ruang Mini Theater Gedung D Kampus Terpadu UMY. Sharing Class ini juga menghadirkan pembicara lain yaitu Dyah Rachmawati Sugiyanto, Pranata Humas dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam pemaparannya, Husni juga mengatakan bahwa seorang PR itu harus jujur dan memberi informasi yang jelas. ” Seorang PR itu harus mempunyai etika dan moral yang tinggi. Selain itu, juga harus bersikap jujur dan bisa memberikan informasi yang jelas. Senjata utama PR terletak pada inner beautynya yang biasa ditunjukkan sehari-hari,” tambahnya.

Namun Husni juga mengakui bahwa bekerja sebagai PR itu menyenangkan. “Bekerja menjadi Public Relation itu bikin happy. Bisa membuat awet muda karena selalu menemukan hal baru, bertemu orang baru dan insya allah punya amalan yang banyak karena menjalin silaturahmi dengan orang-orang baru.”

Dalam sharing class ini, Husni juga menceritakan pengalamannya menjadi Public Relations (PR) di perusahaan swasta. Menurutnya, menjadi PR di perusahaan swasta khususnya di perusahaan minyak kepala sawit menemui banyak tantangan. Namun begitu justru di situlah keseruannya. “Minyak kelapa sawit dalam industri minyak selalu dicitrakan negatif. Kami banyak menghadapi kampanye negatif soal minyak kelapa sawit. Industri sawit itu membunuh orang utan, minyak sawit tidak sehat karena dapat menambah kolesterol, dan masih banyak lainnya. Untuk itu, sebagai PR kita menjelaskan bahwa perusahaan sawit itu tidak seburuk yang diberitakan, bahkan bisa dibilang baik. Kelapa sawit bisa menjadi potensi nasional Indonesia yang luar biasa,” paparnya.

Dalam menjalani pekerjaan sebagai PR, Husni juga mengaku sangat menikmatinya. “Saya selalu menikmati keseharian pekerjaan saya. Kita bisa melihat potensi Indonesia yang luar biasa besarnya. Saya banyak kenal orang baru dan menambah pengalaman seru,”ujar Husni tersenyum.

Senada dengan Husni, Dyah Rachmawati Sugiyanto selaku Pranata Humas LIPI juga menekankan etika menjadi PR yang juga harus siap mental dan menjaga idealisnya. “Menjadi PR harus siap mental karena kita kerja di lapangan menghadapi langsung client, harus siap kerja dimanapun, kapanpun dan juga harus tetap menjaga idealisnya sebagai PR,”tuturnya.

Selain itu, menjadi seorang PR juga dituntut memiliki kemauan belajar yang tinggi. ”PR butuh belajar semua hal. Tidak cuma ilmu komunikasi, ilmu politik, ilmu ekonomi dan segala bidang lain harus dipelajari. Untuk itu perlu kemauan belajar yang tinggi. Selain itu, PR juga harus mempunyai sifat berani mencoba, bisa bekerja dalam tim dan juga pandai membangun jaringan,” tambahnya.

Sementara itu, satu pembicara lagi dalam Sharing Class tersebut namun berhalangan hadir dan membagikan pengalamannya lewat video, Suharjo Nugroho yang menjabat sebagai Managing Director IMOGEN Public Relations berpesan agar mahasiswa komunikasi lebih giat lagi belajar. Pasalnya saat ini, Profesi PR lebih banyak dari sarjana di luar Ilmu Komunikasi. “Saat ini Praktisi PR lebih banyak dari lulusan Ilmu Komunikasi. Karena pada kenyataannya memang kebutuhan industri berbeda dengan apa yang diajarkan di kelas. Maka, untuk menjembatani hal tersebut kami harap lulusan ilmu komunikasi agar magang terlebih dahulu sebelum terjun ke dunia PR,”jelasnya.

Sumber : www.umy.ac.id

Pekan Budaya Masuk Kampus Harus Berikan Ruang Bagi Anak Muda

PBMK atau Pekan Budaya Masuk Kampus harus memberikan ruang bagi anak muda. Dengan melibatkan anak muda ini maka PBMK memberikan ruang untuk berekspresi, terutama bagi anak muda yang belum mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan bakat. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Pakualam IX kepada panitia PBMK saat memberikan arahan di Kantor Wakil Gubernur Komplek Kepatihan DIY.

“Kegiatan ini perlu diperhatikan, bagaimana memberi ruang kepada anak muda yang masih belum ada saluran yang menarik untuk mereka. Dengan memberikan ruang ini akan membentuk karakter secara langsung kepada anak-anak muda, namun tentunya harus sesuai dengan standar dan passion yang dimiliki. Banyak anak muda saat ini yang bingung menyalurkan bakatnya. Kegiatan semacam ini harus memberikan ruang kepada anak muda, terutama bagi mereka yang belum terkenal,” paparnya dalam audiensi panitia PBMK, Kamis (06/10).

Terkait kegiatan PBMK yang akan dilaksanakan pada 11 hingga 14 Oktober 2016 mendatang di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Wakil Gubernur DIY memberikan apresiasi atas gagasan PBMK yang melibatkan mahasiswa di Yogyakarta. “Pada jaman sekarang ini, anak muda lebih banyak menguasai hardskill daripada softskillnya. Hardskill sangat luar biasa, namun softskill sangat kering. Keringnya softskill ini juga akibat dari kerusakan sistematis pada orang tuanya. Orang tua lebih banyak menekankan pada keahlian akademik daripada bakat yang dimiliki anak. Saya setuju adanya acara ini yang lebih menekankan pada softskill,” ujarnya.

Kegiatan PBMK yang nantinya melibatkan 65 kelompok kesenian hingga hampir 1000 orang pementas mulai dari anak-anak hingga dewasa, Wagub berpesan supaya acara pekan budaya tersebut memberikan manfaat kepada pementas maupun penonton yang hadir. “Kegiatan nanti jangan hanya terfokus kepada kegiatan saja, namun juga bagaimana mencerdaskan audiensi, seperti bagaimana bertindak sopan saat acara berlangsung. Selain itu harapannya kegiatan ini memiliki identitas yang terstandar,” harapnya.

Sementara itu ketua pelaksana, Puji Qomariyah. S.Sos., M.Si mengatakan bahwa tema besar yang diangkat pada tahun ini adalah “Among Budaya Among” dengan mengambil sub-tema “Diaspora Oschestra,” yang akan mementaskan Pentas Seni Budaya Nusantara. “PBMK ini mengajak mahasiswa di Yogyakarta yang berkegiatan teater dan seni pertunjukan untuk melakukan sebuah kegiatan donasi budaya melalui kampus sebagai salah satu pusat terjadinya transformasi ilmu pengetahuan,” jelasnya kepada Wagub DIY.

Puji menyebutkan, PBMK 2016 ini akan mementaskan seni pertunjukkan, tari – sendratari, sebanyak 25 grup dan 4 festival dolanan anak. Selain itu juga turut menampilkan panggung musik nusantara yang diisi musik etnik nusantara sebanyak 5 grup penampil, panggung gamelan anak sebanyak 3 penampil, One Night Jazz sebanyak 7 grup, lomba ketoprak anak III sebanyak 11 grup, Pentas Seni Lintas Agama dan Keyakinan sebanyak 7 grup, serta workshop dan bazar.

“Dengan keterlibatan banyak pihak diharapkan bisa menumbuhkan semangat gumregah, sawiji, greget, sengguh. Ora mingkuh dalam menumbuhkembangkan budaya konstruktif melalui dialog multi arah di wilayah Yogyakarta khususnya, dan Indonesia pada lingkup lebih luas. Selain itu kegiatan ini salah satunya memberikan ruang bagi pengembangan ketoprak sebagai salah satu pertunjukkan seni tradisi dan teater rakyat, serta pelestarian pengembangan adat yang melengkapi pengembangan tradisi yang sudah berjalan,” harap Puji. (hv)

Sumber : www.umy.ac.id

Belajar Cara Kelola Jurnal, UNPAR Kunjungi UMY

Dalam rangka memperkuat kapasitas kelembagaan terkait tata pengelolaan jurnal, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung, belajar ke Lembaga Pengembangan Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Rabu (5/10). Dalam kunjungan tersebut diikuti oleh Kepala Jurusan administrasi publik, administrasi bisnis, kepala jurusan Hubungan Internasional, kepala pusat studi bisnis, serta kepala pusat studi Hubungan Internasional.

Kepala pusat studi Hubungan Internasional, Elisabeth Dewi, Ph.D mengatakan bahwa UMY telah memiliki jurnal terakreditasi yang jumlahnya cukup banyak. Sehingga pengelola jurnal di UNPAR ingin belajar lebih jauh bagaimana mengelola jurnal hingga mendapatkan pengakuan nasional bahkan internasional. “Dalam kunjungan ke UMY ini kami memiliki mimpi untuk memiliki jurnal terakreditasi. Maka kami memutuskan untuk berkunjung ke UMY yang telah memiliki beberapa jurnal yang telah terakreditasi. Sehingga kami ingin belajar hingga proses akreditasi,” papar dosen Fisipol UNPAR saat diwawancarai di sela-sela berlangsungnya kegiatan kunjungan tersebut.

Sementara itu kepala LP3M, Hilman Latief, Ph.D mengatakan bahwa UMY saat ini telah memiliki empat jurnal yang telah terakreditasi, seperti Jurnal Fakultas Agama Islam yang disebut jurnal Afkaruna, Jurnal GDP dan Jurnal Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Jurnal Media Hukum. “Adanya jurnal yang telah terakreditasi yang dimiliki oleh UMY ini, maka mereka berkonsultasi ke UMY terkait bagaimana mengelola jurnal dan berbagai aspek yang perlu diketahui terkait pengelolaan jurnal itu sendiri,” ujar Hilman.

Hilman melanjutkan, dalam kunjungan tersebut terdapat beberapa aspek yang dibahas. Diantara aspek-aspek tersebut yaitu aspek kebijakan, teknis pengelolaan, serta bagaimana struktur kelembagaan. Dalam penyampaiannya, Hilman mengaku meskipun UMY telah memiliki 4 jurnal yang telah terakreditasi, namun ada hal yang masih belum diperhatikan terkait pengelolaan jurnal. “Di UMY sendiri belum terlalu kuat dari segi investasi dalam pengelolaan jurnal. Investasi ini masih kurang diperhatikan, dan ini menjadi salah satu agenda kami dalam pengelolaan jurnal kedepan,” tambahnya.

“Kami berharap pada tahun depan akan semakin banyak jurnal yang terakreditasi, karena jika semakin banyaknya jurnal yang terakreditasi, maka akan semakin banyak ruang yang lebih luas. Dan tentunya dapat bermanfaat kepada universitas-universitas lain yang mau belajar terkait tata kelola jurnal. Sehingga akan menjalin keakraban dan silaturahim,” harapnya. (hv)

Sumber : www.umy.ac.id