UM Pontianak Tambah Jumlah Prodi

UM Pontianak Tambah Jumlah Prodi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak (UM Pontianak) resmi tambah jumlah prodi, yakni Prodi Bisnis Digital. Pada Senin (8/11) lalu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Dan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi menyataka bahwa Prodi Bisnis Digital UM Pontianak lulus hasil evaluasi. Sebelumnya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis berdiri dengan nama Fakultas Ekonomi (FE) pada 1990. Prodinya adalah Prodi Manajemen saja. Kemudian, FE berkembang menjadi FEB pada tahun 2017 dengan SK Rektor No. 058/II.3.AU/KEP/2017 tanggal 25 April 2017.

Tercetusnya Prodi Bisnis Digital merupakan perjalanan panjang. Mula-mula pimpinan FEB UM Pontianak mencari prodi dengan prospek yang sesuai pada perkembangan era digital. Selain itu, prodi yang akan terpilih perlu masuk ke dalam rumpun Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Selain itu, prodi tersebut juga harus dapat memenuhi tuntutan kebutuhan pasar dalam dunia pendidikan. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Prodi Bisnis Digital pun terpilih.

Keunggulan Program Studi Bisnis Digital Universitas Muhammadiyah Pontianak adalah adanya sinergi antara dua hal. Pertama, tren perkembangan terbaru binis digital itu sendiri. Kedua, kurikulum dengan learning platform (andragogik), students’ learning journey, employability, dan digital business ecosystem. Pengembangan kurikulum dilakukan berdasarkan benchmarking, kurikulum berbasis KKNI, keunikan program studi, dan agenda perubahan dinamis mengikuti perkembangan teknologi dan bisnis. Program studi ini dibuka untuk menghasilkan sumber daya manusia dalam bidang penguasaan start up digital, market place, big data, hingga artificial intelligence.

STIKes Muh Kuningan Gelar Wisuda ke-XI

STIKes Muh Kuningan (STIK MK) menggelar wisuda yang ke XI untuk program D-III Farmasi bertempat di Hotel Horison dengan menerapkan protokol kesehatan. Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Ketua STIK MK, apt. Wawang Anwarudin, M. Sc.

Dalam perkembangannya STIK terus berupaya dalam meningkatkan kualitas kampus dengan memberikan pembekalan terbaik untuk para mahasiswa. “STIK MK telah melakukan berbagai upaya untuk membekali mahasiswanya agar tetap dapat bersaing di dunia kerja maupun dunia usaha,” papar Humas STIKes Muh Kuningan, Rabu (10/11). Turut hadir Ketua PDM Kabupaten Kuningan Drs. Wahid. Tbk, MA, BPH STIKes Muhammadiyah Kuningan apt. Ade Irawan, S. Si, Majelis Dikti PP Muhammadiyah Mohammad Adam Jerusalem, M, T., Ph. D, LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat & Banten Yayan Mulyana, S. E., MM, dan tamu undangan lainnya.

Dalam acara wisuda yang diadakan Sabtu (23/10) tersebut STIK MK melepas 72 wisudawan program D-III Farmasi. Para wisudawan berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat, bahkan beberapa di antara mereka berasal dari luar pulau Jawa. Dari 72 wisudawan, tiga diantaranya menjadi Wisudawan Terbaik tahun ini yaitu Nia Nitiariksa, A. Md., Farm predikat Dengan Pujian, Hani Fitriyani, A.Md., Farm predikat Dengan Pujian, Elin Handayani, A. Md., Farm predikat Dengan Pujian. [] STIK MK/ Diktilitbang

Program Beasiswa Palestina Resmi Diluncurkan

Program Beasiswa Palestina Resmi Diluncurkan

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas RI), Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (Lazismu), Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah melalui donasi Ma’had Islam Rafiatul Akhyar (MIRA) pimpinan Ustadz Adi Hidayat (UAH) meluncurkan program beasiswa untuk masyarakat Palestina. Launching Program Beasiswa Palestina disiarkan melalui zoom dan youtube Baznas TV, Kamis (11/11).

Prof. Dr. Chairil Anwar selaku Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PPM menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Majelis Diktilitbang PPM untuk turut andil dalam melancarkan program ini. “Kita mengetahui bahwa saudara-saudara kita di Palestina sangat membutuhkan bantuan pendidikan ini. Beasiswa yang tadinya berasal dari berbagai macam sumber, ini akan didistribusikan ke perguruan tinggi yang dalam hal ini melibatkan 7 (tujuh) Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA),” pungkasnya. Jumlah prodi yang ditawarkan untuk batch satu diantaranya UM Yogyakarta dengan 7 Prodi, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan 3 Prodi, Unisa Yogyakarta dengan 1 Prodi, UM Surakarta dengan 4 Prodi, UM Malang dengan 3 Prodi, UM Makassar dengan 3 Prodi, dan Uhamka menawarkan 1 Prodi dengan total keseluruhan ada 22 prodi yang ditawarkan dalam bentuk S-2 (program master). “InsyaAllah setiap prodi akan diasuh langsung oleh dosen kami dengan gelar doctor dan profesor,” tambahnya.

Duta Besar Palestina, H.E. Dr. Zuhair Al Shun memaparkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh pihak yang terlibat pada program ini. “Saya berharap adanya program ini dapat meningkatkan hubungan yang baik antara Indonesia dan Palestina. Mahasiswa Palestina banyak yang tertarik pada Ilmu Sains, Teknologi, Teknik, dan Kesehatan,” pungkasnya. Ia berharap untuk ke depannya akan lebih banyak lagi kerja sama antara Palestina dan Indonesia.
Dalam sambutannya Muhammad Sabeth Abilawa, Direktur Utama Lazismu juga menyebutkan program ini menjadi salah satu terobosan baru yang diberikan pada masyarakat Palestina. “Salah satu sarana untuk membangun perdamaian adalah dengan memperbaiki kualitas SDM-nya,” paparnya. Dengan ikhtiar ini ada dua hal yang dapat dipetik dalam jangka panjang yaitu tersebarnya nilai-nilai Islam Rahmatan Lil Alamin dan agar beasiswa ini dapat menguatkan gerakan zakat dan civil society sebagai gerakan NGO disana.

Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA selaku Ketua Baznas RI memaparkan persoalan Palestina menjadi persoalan yang tidak akan pernah habis. Namun dengan adanya dukungan semua pihak Palestina dapat memperoleh kemerdekaan dan kejayaannya di masa yang akan datang. “Diantara upaya untuk mendapatkan itu tentu dengan cara membangun manusianya. Adanya program ini menjadi upaya untuk memberikan pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat Palestina,” pungkasnya. Prof Achmad turut mengucapkan terima kasih pada Quantum Akhyar Institute yang dipimpin oleh Ustadz Adi Hidayah atas bantuan yang telah diberikan.

Program beasiswa Palestina akan terbagi atas dua program yaitu Program Magister (2 tahun) dan Program Short Course (1 bulan). Daftar perguruan tinggi yang akan mengikuti program ini terbagi atas dua batch yaitu batch pertama adalah UAD, UNISA, UM Makassar, UM Malang, Uhamka, UM Surakarta, dan UM Yogyakarta. Batch kedua yaitu UM Palembang, UM Tangerang, UM Sidenreng Rappang, Unisa Yogyakarta, dan UM Jakarta. Cakupan beasiswa yang difasilitasi yaitu untuk program magister sebanyak 20 orang serta program short course sebanyak 25 orang. Adapun dana yang akan diberikan berupa dana pendidikan, biaya hidup, bridging course, biaya awal kedatangan, tiket pesawat, dana asuransi kesehatan, pembuatan visa Indonesia, dan tes PCR serta prosedur karantina.

UM Lampung Melantik Dekan PAW Periode 2019-2023

UM Lampung Melantik Dekan PAW Periode 2019-2023

Universitas Muhammadiyah Lampung (UM Lampung) menyelenggarakan pengangkatan dekan pengganti antarwaktu (PAW) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Drs Nur Islam MIP pada Senin (8/11) lalu. Kegiatan tersebut berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan. Dalam kegiatan tersebut, Rektor UM Lampung, Dr H Dalman MPd menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Dekan Pengganti Antar Waktu (PAW) bernomor 626/KEP/II.3-A.U/D/2021 Periode 2019-2023. Keputusan tersebut sesuai dengan hasil rapat senat fakultas, sebagaimana diucapkan oleh Dr Dalman.

Pada kegiatan ini, para Wakil Rektor, Kepala Biro, Dekan, Kepala Bagian, Ketua Lembaga, dan Kepala UPT turut hadir. Dr H Dalman MPd dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada Dekan PAW Fisipol UML. Selanjutnya, ia menyampaikan pesan agar para dekan terpilih dapat bekerja dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut akan menjadi sumbangsih optimal atas pikiran, tenaga, dan waktunya demi kemajuan UML dan Fisipol. “Ungkapkan rasa syukur Saudara telah menjadi dekan, dengan bekerja secara maksimal demi kemajuan UM Lampung,” pungkasnya.

Tidak hanya itu, Dr Dalman juga memanfaatkan waktu sambutannya dengan memberikan pesan kepada para CPNS untuk meraih kesuksesan. Kemudian, salah satu cara untuk meraih kesuksesan adalah dengan menunjukkan komitmen dalam menjalankan perintah dari pimpinan.

Selanjutnya, Wakil Rektor Bidang SDM, Emy Sri Purwani MSi juga mengucapkan pesan kepada Dekan PAW terlantik. “Bekerjalah dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab dalam menjaga nama baik fakultas dan universitas,” ujarnya dalam situs resmi UM Lampung. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 14.00 hingga selesai.

Unismuh Makassar Gandeng Yayasan Guru Belajar Kampanyekan "Ayo jadi Guru"

Unismuh Makassar Gandeng Yayasan Guru Belajar Kampanyekan “Ayo jadi Guru”

Unismuh Makassar berkolaborasi dengan Yayasan Guru Belajar untuk mengkampanyekan program “Ayo jadi Guru” untuk generasi muda. Hal ini bertujuan untuk mengajak kembali generasi muda Indonesia agar tergerak menjadi guru sebagai profesi mulia yang takkalah terhormat dengan profesi lainnya. Kerja sama ini ditunjukkan dengan diadakannya kunjungan Yayasan Guru Belajar ke UM Makassar yang diterima langsung oleh Prof Ambo Asse selaku Rektor. Pertemuan digelar di ruang kerja Rektor, Gedung Iqra Lantai 17 Unismuh Makassar, Selasa (9/11).

Pengurus Yayasan Guru Belajar, Mahayu Ismaniar menjelaskan bahwa Yayasan Guru Belajar merupakan lembaga pengembangan karir guru berbasis spirit merdeka belajar. “Kami percaya guru dengan kemerdekaan belajar adalah kunci perubahan pendidikan untuk mewujudkan pelajar yang kompeten, dan ekosistem pendidikan yang kolaboratif,” tambahnya. Yayasan yang berkantor di Cilandak, Jakarta Selatan ini menginisiasi program pengembangan guru, pemimpin sekolah dan pendampingan sekolah/madrasah, serta publikasi konten Pendidikan. Salah satu program yang disediakan yaitu program Magang Kampus Merdeka yang saat ini sudah berjalan.

Rektor Unismuh mengapresiasi penawaran kerja sama tersebut, Prof Ambo menjelaskan bahwa konsen Unismuh saat ini menyiapkan guru yang siap mengajar, baik di sekolah milik Pemerintah Muhammadiyah, maupun yayasan swasta lain. Hal ini dikuatkan oleh pemaparan WR I Unismuh, Dr Abd Rakhim Nanda menambahkan, program “Ayo jadi Guru” sangat tepat untuk menghalau pandangan yang menyebut guru sudah tidak dibutuhkan. “Tahun ini peminat masuk di FKIP menurun, salah satu sebabnya menyebarnya hoaks bahwa guru tidak dibutuhkan lagi. Tentu kami berkepentingan berkolaborasi dalam mengajak generasi muda menjadi guru,” ujar Rakhim Nanda. [] Unismuh/ Diktilitbang

Muhammadiyah Komitmen Lawan Kekerasan Seksual, Penolakan Permendikbud 30 Murni Karena Substansi

Muhammadiyah Komitmen Lawan Kekerasan Seksual, Penolakan Permendikbud 30 Murni Karena Substansi

Di kala kasus pelecehan seksual yang disertai dengan sulitnya akses advokasi hukum terhadap korban marak terjadi di lembaga pendidikan, pemerintah bergerak aktif dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permen Dikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Menanggapi dikeluarkannya Permendikbudristek 30 tersebut, Muhammadiyah Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah sepakat dengan tujuan Pemerintah melawan aksi kekerasan seksual.

Akan tetapi, Muhammadiyah lewat siaran pers Majelis Diktilitbang tertanggal 8 November 2021 itu mendesak agar pemerintah segera memperbaiki Permendikbud 30.Perminataan dilakukan karena Majelis Diktilitbang mendapati kecacatan formil dan materiil, yang sayangnya disalahpahami oleh berbagai kalangan sebagai aksi kontraproduktif terhadap perlindungan kekerasan seksual.

Tidak Benar Muhammadiyah Mendukung Asusila, Pelecehan dan Kekerasan Seksual

Selasa, (9/11) Sekretaris Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sayuti menegaskan bahwa Muhammadiyah telah jauh-jauh hari berkomitmen melawan aksi kekerasan seksual di 166 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia.

“Banyak pertanyaan apakah siaran pers itu bermakna bahwa Muhammadiyah itu mendukung kekerasan seksual? tentu itu tidak benar. Kami mempermasalahkan Permendikbud karena ada problem formil dan materiil di dalamnya,” kata Sayuti.

Sandungan paling krusial bagi Muhammadiyah dalam menerima Permendikbud 30 adalah kalimat di dalam Pasal 5 ayat (2) yang memuat frasa ”tanpa persetujuan korban” sehingga mengandung makna bahwa kegiatan seksual dapat dibenarkan apabila ada “persetujuan korban (consent)”. Atau dengan kata lain, Permendikbud 30 mengandung unsur legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan. Alasan inilah yang mendorong Diktilitbang PP Muhammadiyah menolak pengesahan Permendikbud 30 dan meminta pemerintah untuk segera mencabut dan memperbaikinya.

“Konteks relasi seksual yang tidak Islami (di luar pernikahan) apapun bentuknya itu tidak kemudian begitu ada persetujuan korban menjadi benar. Tetap gak benar. Itu faktor materiil terpenting kenapa kami dengan diskusi yang intensif menolak Permen ini,” imbuh Sayuti.“Kalimat, frasa ‘tanpa persetujuan’ korban itu menurut kami mendegradasi Permen itu sendiri bahwa menjadi bisa dibenarkan apabila ada persetujuan korban. Itu yang menjadi penting untuk kami catat,” tegasnya.

Permendikbud 30 Kontraproduktif dengan Iklim Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Meski Muhammadiyah adalah organisasi masyarakat keagamaan, Muhammadiyah telah satu abad lebih meringankan kewajiban negara dalam mencerdaskan anak bangsa. Dari 166 Perguruan Tinggi yang dimiliki, tak sedikit kampus Muhammadiyah unggul di skala internasional.Di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah itu, Muhammadiyah memiliki komitmen menghindarkan mahasiswa dari seks bebas dan berbagai turunannya yang dimasukkan dalam kerangka kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

“Perlu menjadi catatan semua pihak bahwa di sistem Pendidikan Tinggi Muhammadiyah itu ada 8 SKS Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang itu juga didukung dengan buku adab Mahasiswa Muhammadiyah, kegiatan Baitul Arqam dan lain-lain itu adalah dalam rangka, agar sistem pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah itu bebas dari relasi seksual yang haram, yang tidak seperti ajaran Islam tentu juga sama dengan agama-agama yang lain tidak ada yang menyetujui relasi seksual di luar framework rumah tangga atu pernikahan,” kata Sayuti.

“Tapi komitmen Muhammadiyah sebagaimana di butir 1 siaran pers itu bahwa Islam sudah sangat lengkap mengatur relasi yang bermartabat, relasi yang adil, relasi yang halal antara lawan jenis itu jelas, sangat jelas. Apalagi Al-Isra’ ayat 32 wa la taqrabu zina sehingga kami meminta bahwa Permen ini diperbaiki bukan berarti kami menolak semua ikhtiar untuk mengatasi kekerasan seksual dan kami sudah melakukannya,” tegas Sayuti.

Ada Atau Tidak Adanya Permendikbud, Muhammadiyah Tetap Konsen Lawan Pelecehan Seksual

Alasan lain Muhammadiyah menolak Permendikbud 30 menurut Sayuti karena cacat formil. Kecacatan itu antara lain tidak memenuhi asas keterbukaan dalam proses pembentukannya sebagaimana diatur oleh Pasal 5 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.Kedua, Permendikud 30 tidak tertib materi muatan.

Terlebih lagi, Permendikbud 30 mengatur norma yang bersifat terlalu rigid dan mengurangi otonomi kelembagaan perguruan tinggi.“Satgas itu bagi kami menciderai spirit Undang-Undang Perguruan Tinggi bahwa ada otonomi kampus. Di kampus ada rektor, wakil rektor, di Muhammadiyah ada lembaga AIK, di Muhammadiyah perilaku (asusila) itu pasti jadi catatan yang buruk bagi dosen, pendidik, maupun mahasiswa karena kita punya beberapa kasus yang kita berhentikan dosennya, kita skors dan lain-lain di kampus-kampus Muhammadiyah itu sudah terjadi,” ungkap Sayuti.

Lebih jauh, Sayuti menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak bertoleransi terhadap segala tindakan pelecehan seksual. Penolakan Muhammadiyah terhadap Permendikbud 30 menurutnya tidak akan mengubah sikap Muhammadiyah terhadap aksi asusila di lingkungan pendidikan tinggi.

“Kita mengkritisi dan menolak Permen yang bermasalah dari sisi formil dan materiil tapi tentu kita sepakat sebagai reminder bagi kami bahwa usaha-usaha ikhtiar untuk mencegah, mendidik mahasiswa, termasuk kalau terjadi menghukum pelakunya itu tidak ada kompromi di situ. Kami harus terus menegakkan itu dari nilai-nilai yang sangat penting itu,” ujarnya.

“Yang tentu karena Muhammadiyah dijiwai, dimoderasi dan kampus-kampus Muhammadiyah bagian dari dakwah Islam, tentu kita ada dan tidak nya Permen ini, kita berkomitmen untuk menjadikan kampus-kampus Muhammadiyah bebas dari relasi seksual di luar framework pernikahan, di luar framework halal di luar pernikahan, jadi tidak berarti kita menolak,” pungkas Sayuti. [] Sumber: Muhammadiyah.or.id

Mapala UM Palopo Laksanakan Diklatsar ke-23

Mapala UM Palopo Laksanakan Diklatsar ke-23

Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Muhammadiyah Palopo (UM Palopo) melaksanakan Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) yang ke-23 pada Sabtu (30/10) s.d. Rabu (3/11) lalu. Kegiatan tersebut terselenggara di Kelurahan Battang, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Mula-mula, peserta yang mengikut kegiatan ini yakni 21 orang. Akan tetapi, beberapa di antaranya batal mengikuti kegiatan karena sebab-sebab yang membuat mereka tidak memenuhi syarat. Akhirnya, tersisa 15 orang peserta Pendidikan dan Latihan Dasar Mapala UM Palopo.

Ketua Umum Mahasiswa Pecinta AlamUM Palopo, Jabbar Syam, mengatakan bahwa seluruh calon peserta Pendidikan dan Latihan Dasar Mahasiswa Pecinta Alam UM Palopo perlu mengikuti seluruh rangkaian Pendidikan dan Latihan Dasar dan mendapatkan izin orang tua/wali. Oleh karena itu, panitia kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar memastikan terpenuhinya persyaratan tersebut dengan menghubungi orang tua/wali setiap peserta. Apabila ada yang tidak mendapatkan izin orang tua, maka mereka tidak mengikuti pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Dasar.

Selanjutnya, sebanyak 15 orang yang mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar hingga akhir terlantik sebagai anggota Mahasiswa Pecinta Alam UM Palopo. Kepada mereka, Jabbar Syam berpesan agar ke-15 anggota dapat berproses dengan baik. Kemudian, ia juga berharap agar mereka dapat menjaga nama baik kampus dan organisasi. Ia mengatakan bahwa sekalipun jumlah 15 orang tersebut tergolong jumlah yang sedikit, tetapi ia tidak mempermasalahkannya. Ia menegaskan bahwa jumlah anggota tidak penting apabila kesemua personalia memiliki potensi dan bertahan hingga akhir. “Meskipun hanya 15 orang, kami butuh bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas,” tandasnya pada situs resmi UM Palopo.

Prof Dyah Mutiarin, Guru Besar Ilmu Pemerintahan Perempuan Pertama UMY

Prof Dyah Mutiarin, Guru Besar Ilmu Pemerintahan Perempuan Pertama UMY

“Perempuan merupakan subjek yang sangat penting baik itu di dalam keluarga, di lingkungan kerja, maupun di masyarakat. Sehingga perempuan harus dapat menunjukkan kemampuannya untuk maju, mandiri, dan berada di posisi yang setara dengan laki-laki”. Begitu pungkas Prof. Dr. Dyah Mutiarin, S.IP., M.Si., dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang baru saja meraih gelar Guru Besar dalam bidang Ilmu Pemerintahan sekaligus menjadi Guru Besar Perempuan pertama yang dimiliki UMY. Pemaparan itu cukup mematahkan stigma masyarakat terhadap peran perempuan. Bagi dyah, perempuan memang harus bisa dan memiliki posisi yang penting di dalam pengambilan keputusan, khususnya dalam membentuk masa depan universitas.

Ketertarikannya terhadap ilmu pemerintahan mengantarkan dyah untuk melakukan beberapa penelitian tentang Pemerintahan dan Kebijakan Publik. Lebih detail, penelitian yang dilakukan oleh Kepala Lembaga Riset dan Inovasi UMY ini berfokus kepada manajemen pemerintahan dan inovasi kebijakan publik yang ada di dalam pemerintahan. Menurutnya pula, pemerintahan yang adaptif, inovatif, responsible (pemerintahan cergas/agile government), sangat diperlukan dalam mengelola kebijakan publik, terlebih di masa pandemi ini. “Contohnya yaitu dalam menangani pandemi Covid-19 ini, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah membuat kebijakan, namun kebijakan tersebut sering mengalami perubahan, kemudian juga melakukan inovasi kebijakan dari pengalaman di lapangan, tentunya hal ini memerlukan model birokrasi yang cergas (giat/gesit/cekatan, red) dalam sebuah pemerintahan. Namun demikian birokrasi yang cergas ini juga memerlukan penguatan pelibatan masyarakat untuk mengontrol kebijakan tersebut,” jelasnya dilansir dari website UMY (5/11).

Dyah berharap gelar Guru Besar yang diraihnya serta status sebagai Guru Besar perempuan pertama di UMY dapat menjadi motivasi bagi dosen lainnya. “Saya juga berharap agar universitas dapat terus mendukung sumber dayanya untuk terus berkembang,” pungkasnya. [] UMY/Diktilitbang

Bisnis Digital, Prodi Baru Unismuh Palu

Bisnis Digital, Prodi Baru Unismuh Palu

Universitas Muhammadiyah Palu (Unismuh Palu) telah dipastikan membuka Program Studi Bisnis Digital pada Ahad (7/11) lalu. Program ini berada di bawah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Palu. Alasan utama pemilihan Prodi Bisnis Digital yakni adalah pesatnya perkembangan digitalisasi di dunia bisnis di Indonesia itu sendiri.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Palu, Dr Farid SE MM, mengatakan bahwa kebutuhan akan perkembangan bisnis digital tersebut perlu dapat Unismuh Palu jawab. Terutama, karena program ini masih terbilang sangat langka. Baru sedikit kampus di Indonesia yang telah menawarkan kasus ini. Apabila mendapatkan izin, maka Unismuh Palu dapat menjadi salah satunya yang tidak merasa keberatan.

Nantinya, setiap mahasiswa dapat menerima pengetahuan mengenai perkembangan ilmu manajemen, teknologi informasi, dan penerapan bisis. Kemudian, dari pengetahuan tersebut, mahasiswa perlu menerapkan konsep teoritis dalam berkarier nantinya. Terakhir, harapannya mahasiswa dapat menggagas dan mengembangkan digitalisasi di dunia bisnis dengan keunggulan sikap yang menjadi visi misi Unismuh Palu.

Selanjutnya, Kabag Humas Unismuh Palu, Ir Andi Kaimuddin ST MM IPM ASEAN Eng mengatakan bahwa ada banyak manfaat apabila belajar di Prodi Bisnis Digital. Di antaranya adalah ilmu e-commerce, pengembangan web, user experience, pemprograman, keamanan siber, dan lain-lain.

Berikutnya, Wakil Rektor 1 Unismuh Palu, Sudirman SKM MKes mengatakan bahwa Unismuh Palu telah mengajukan proposal kepada pihak Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi. Tidak hanya itu saja, Unismuh Palu telah mendapatkan rekomendasi dari LLDIKTI wilayah XVI pada 23 September 2021 lalu. Saat ini, prodi Bisnis Digital Unismuh Palu telah teregister dan terverifikasi melalui sistem informasi pengembangan Kelembagaan Perguruan Tinggi Direktorat Pedidikan Tinggi dan Direktorat Pendidikan Vokasi. “Jika sudah mendapat izin penyelenggaraan, maka pihak Unismuh Palu akan segera membuka penerimaan mahasiswa baru,” tutupnya.

Tim UM Surabaya Juarai Bridge Construction Competition

Tim UM Surabaya Juarai Bridge Construction Competition

Tim UM Surabaya berhasil menjuarai kompetisi tingkat nasional pada ajang Bridge Construction Competition (BCC) yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Infrastruktur Sipil (DTIS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan diumumkan langsung. Total nilai yang diperoleh Tim UM Surabaya dengan nilai 86,6965 tepat di atas Universitas Brawijaya.

BCC merupakan kompetisi perancangan dan pembuatan jembatan yang digelar tiap tahun. Dengan mengusung tema “Innovation of a Durable and Economic Bridge Design For Sustainable Infrastructure Development”. Tim Makarya Baja mengusung ide jembatan dengan sistem struktur rangka batang (Trutss Bridge) berjenis Pratt dengan panjang bentang jembatan yaitu 60m. Dengan tipe rangka Through Parker Truss hingga menghasilkan sistem struktur yang paling efisien. Di wakili oleh tiga anggota tim yang didaftarkan sebagai peserta lomba antara lain Lukman Hakim, Nieneng Putri Rahayu dan Emfadhil Tribruari Hadist.

Emfadhil salah satu anggota tim menyampaikan inovasi jembatan yang dirancang bertujuan untuk menciptakan infrastruktur yang ekonomis dan lebuh tahan lama. “Jembatan Gladak Kahuripan ini bertujuan untuk menciptakan sebuah desain jembatan yang inovatif, awet dan ekonomis serta membangun infrastruktur yang tahan lama,” dilansir dari website UM Surabaya, Jumat (5/11).

Junaidy Fery Effendi selaku Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Inovasi (BAKAI) mengapresiasi capaian yang telah diraih mahasiswa Fakultas Teknik UM Surabaya. Harapannya lebih banyak lagi kompetisi yang diikuti baik secara nasional maupun internasional. []UM Surabaya/ Diktilitbang